LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Wae rebo, Sayang.Gua Rangko, Cantik.

gemdra

On

While listening John Gold - Vampire’s Kiss in the middle of gloomy day here in surabaya i started to write down my story about Wae Rebo. Wae Rebo merupakan desa adat suku manggarai yang terletak di dataran tinggi di kelilingi oleh gunung yang masih menjaga ke asrian dan adat istiadat leluhur. Yuk baca cerita perjalanan saya ke desa adar Wae Rebo – Flores Indonesia.

Setelah turun dari pendakian kami di Gunung Rinjani – Lombok – NTB (Baca Disini) kami melanjutkan perjalanan kami ke Labuan Bajo – Flores.

1st September 2014

Setelah beristirahat dan tidur di selasar masjid Aikmal, kami di bangunkan oleh langkah kaki dan suara masjid yang sudah berkumandang subuh itu pukul 04.15 WITA subuh itu lumayan banyak orang yang sholat subuh di masjid. Segera kami bertiga saya oza dan ody bangun untuk mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah sholat subuh. Setelah sholat subuh kami kembali membereskan barang barang kami selagi membangunkan edo, sambil mengobrol dengan bapak bapak setelah sholat subuh kami memberi tahu kemereka tentang pak narno tapi sayangnya pak narno tidak sholat subuh di masjid pada subuh itu jadi kami tidak sempat untuk berpamitan. Kira – kira pukul 05.00 WITA kami berpamitan ke salah satu penjaga masjid dan meninitip salam ke pak narno kemudian kami berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkutan,

For Your Info. 
Untung nya karena pada saat itu masih pagi kami di tawarkan dengan harga yang murah karena semua angkutan elf tersebut menuju ke arah lombok dan mandalika untuk mengambil penumpang jadi hitunganya mereka dapat bonus jika dari aikmal – mandalika kalau mereka start pagi hari. 20rb untuk ongkos elf tersebut di pagi hari Aikmal – Mandalika

Kira – kira 2 jam perjalanan kami sampai kembali di terminal mandalika. Belum turun dari angkutan kami sudah di kejar kejar calo yang naik motor di sebelah angkutan elf kami. Setelah turun dari elf dan membayar ongkos elf 80rb untuk 4 orang kami langsung di banjiri pertanyaan dari beberapa calo bus. Akan tetapi kami memutuskan untuk makan pagi dulu di warung makan sulawesi untuk ketemu ibu fatma orang yang menolong kami sebelum melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Setelah sampai di rumah makan Sulawesi di terminal mandalika, sambil makan pagi kami tetap di ikuti oleh salah satu calo dengan terus memaksa kami untuk membeli tiket di dia. Setelah makan kami mennayakan agen resmi untuk membeli tiket bus Lombok – Labuan Bajo untuk mengindari hal hal penipuan dari si calo. Sempat ter jadi crash antara kami dan beberapa calo di Terminal kala itu di karenakan kami tidak membeli tiket dengan mereka.

For Your Info. 
Jujur aja kala itu Kita ber empat di palak sampai 2 kali !!!. Calo pertama marah dan ajak ribut kami karena kami tidak membeli tiket dari dia. Dengan nada tinggi sang calo membentak dan meminta duit paksa dari masing masing kami 50rb katanya dengan logat lombok…

“Kalau kalian tidak kasih saya uang jangan harap kalian bisa naik bus berangkat!”

Sambil kami juga tidak menyerah berusaha debat untuk untuk menuntut hak kami, tapi pada saat itu kami kasian dengan ibu fatma jangan sampai karena keributan ini berpengaruh dengan warung ibu fatma dan bisa merugikan bu fatma sendiri. Akhirnya kami memutuskan untuk memberikan calo itu uang 100rb untuk kami ber4 agar menghindari hal hal yang tidak di inginkan yang mungkin saja terjadi pada kita dan dampaknya ke bu fatma. Disini ibu fatma juga marah se marah marahnya sampai tetep ngoceh dia memarahi beberapa calo dengan tujuan membela kami. Sambil nada marah bu fatma berusaha meyakin kan kami bahwa kami akan selamat sampai kami naik bus katanya kita tidak perlu khawatir. Kira kira 2 jam setelah kejadian itu kami di datangi lagi oleh orang yang mengaku dirinya preman dan meminta uang ke kami 20rb per orang. Disini bukan bu fatma lagi yang marah tapi kita ber4 yang langsung dengan nada tinggi menolak permintaan orang itu. Dia pun mengancam kami, tapi karena kami pikir kami ber4 dia cuma satu orang aja yaa kami mikirnya ayo ayo aja kalau mau jotor jotoran.

Kedengaranya sedikit lebay yah kejadian di atas ? tapi itu bener bener terjadi pada kami. Ini ke jadian yang bener bener bikin saya berfikir apakah orang lombok se jahat ini pada pendatang/backpacker atau hanya calo aja ?? setelah saya sadar ternyata ini beberapa oknum calo saja yang seperti itu melihat kebaikan ibu fatma yang menolong kami pada saat itu. Di tulisan saya sebelumnya saya udah jelasin kalau lo lagi di terminal mandaliak Lombok silahkan datang ke Warung Makan Sulawesi dan temui ibu fatma (0853 382 40 943).

13.15 WITA waktu itu setelah mendapatkan tiket dari agen resmi bus dengan tujuan Lombok – Labuan Bajo, bus berangkat pada pukul 15.00 WITA. Kami di warung sulawesi sambil makan siang kami juga mandi dan membersihkan badan di warung sulawesi itu. Setelah makan saya memutuskan untuk mencari apotik untuk membeli beberapa obat obatan khusus untuk sinus saya dan obat luka bakar untuk Edo, Oza dan Ody. Saya naik ojek kenala bu fatma kala itu saya di anter ke salah satu apotek yang lumayan besar di kota lombok tapi tetap mereka tidak punya obat racikan resep sinusitis saya -___- dan sampai akhirnya kami menemukan Apotek kimia farma. Setelah saya membeli obat pribadi saya saya juga beli salep untuk di oleskan di bibir yang pecah pecah setelah mendaki kemarin kalau kalian sering naik gunung pasti tau permasalahan klasik ini.

For Your Info.
Nih saya kasih foto obatnya untuk mempercepat penyembuhan bibir kita para pendaki yang sering banget kebakar :
Dan untuk mengatasi kulit yang terbakar sebaiknya lo kalau mendaki pas terik matahari gunakan sunblock dan kaca mata hitam untuk melindungi muka dan permukaan kulit lainya.

Setelah memenuhi persediaan obat obatan saya kembali ke terminal mandalika untuk packing kembali dan siap siap berangkat. Kira kira pukul 14.45 WITA bus kami dengan tujuan Labuan Bajo sudah datang dan sudah siap untuk berangkat (saya lupa nama busnya). Segera ibu fatma mengantarkan kepergian kami untuk memastikan tidak ada gangguan dari ancaman calo calo bis tadi hingga kami duduk manis di dalam bus. Tepat pada pukul 15.10 WITA bus kami beragkat menuju pelabuhan Khayangan. Terimakasih ibu Fatma semoga kebaikan ibu di balas oleh yang maha kuasa.

17.00 WITA kami sampai di Pelabuhan Khayangan untuk menyebrang ke pelabuhan Poto Tano Sumbawa. Perjalanan menyebrang kurang lebih 1 jam pukul 18.20 WITA kami sampai di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa (Hello Sumbawa) Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus yang sama. Bus yang kami naiki lumayan nyaman dan bagus kam membayar dengan ongkos 275rb dari mandalika dengan tujuan Labuan Bajo. Karena kondisi bus yang nyaman kami semua tertidur lelap selama perjalanan selagi mengisi tenaga agar ke esokan harinya tetap sehat untuk melanjutkan perjalanan.

2nd September 2014

Pukul 03.00 WITA kami sampai di terminal Dara Bima – NTB, 

Ternyata kami harus pindah ke bus yang lebih kecil saat itu di karenakan perjalanan menuju Pelabuhan Sape tidak bisa di lewati oleh bus yang besar. Pada saat itu dini hari di terminal Dara Bima begitu tenang terlihat beberapa warga sekitar sedang bermain kartu dan berbincang, segera kami membeli secangkir kopi dan turut membaur bersama beberapa masyarakat sambil menunggu mini bus kami berangkat.

For Your Info.
Dari Terminal Dara Bima NTB kita harus naik bus lagi kurang lebih 3 – 4 jam perjalanan untuk sampai di Pelabuhan Sape dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik Kapal Ferry dengan tujuan Labuan Bajo itu semua sudah include dengan harga bus yang kami bayar di terminal Mandalika 275rb.

Setengah jam duduk dan berbincang sambil menikmati kopi mini bus kami sudah siap untuk berangkat. Kami menaikan tas carier kami ke atas bus, kala itu untungnya keadaan penumpang di mini bus kami cuma sedikit jadi tidak sebegitu padat dan bisa di bilang lebih nyaman. Perjalanan kami lanjutkan kala itu seperti biasa Edo, Oza, Ody tidur terlelap sedangkan saya tetap bangun sambil mendengerkan music di ipod dan menikmati subuh di perjalanan menuju Pelabuhan Sape. Kurang lebih sudah 2 jam perjalanan melewati pedesaan dan pegunungan akhirnya matahari mulai menunjukan dirinya sambil merekam beberapa video dan mengambil beberapa foto untuk bisa meng abadikan sunrise nan indah di perjalanan menuju Pelabuhan Sape.

Kami sampai di Pelabuhan Sape sekitaran pukul 06.40 WITA kami turun dari bus kala itu kami tidak di izinkan langsung masuk ke kapal ferry dulu akhirnya kami membeli makan untuk sarapan di sekitaran pelabuhan di sini makanan masih hitunganya murah 10rb kami bisa dapat nasi campur dengan berbagai macam lauk khas makanan indonesia. Setelah sarapan kira kira jam 08.30 WITA kami menaiki kapal ferry dengan tulisan “We Love Indonesia” sambil menunggu muatan kapal ferry penuh dengan berbagai macam angkutan mulai dari truck, mobil Pick Up, mobil pribadi, logistik, dan lain sebagainya. 

Kapal ferry kami berangkat meninggalkan NTB pada pukul 9.32 WITA dengan tujuan Labuan Bajo. Perjalanan memangkan waktu kurang lebih 6 jam berlayar.

Setelah melalui perjalanan di atas laut selama kurang lebih 6 jam akhirnya dari jauh nampak gugusan kepulauan dan jejeran kapal kapal besar dan kecil berbaris seakan menyambut kedatangan kami sore itu di labuan bajo. Senang sekali rasanya melihat pemandangan yang hampir belum pernah kami liat sebelumnya. Gugusan Pulau Pulau Kecil beserta hamparan pasir putih yang terlihat dari kejahuan, beberapa kapal Phinisi besar Yang mewah, jejeran kapal kapal kecil di antaranya dengan sinar matahari yang hampir tenggelam sore itu di ujung labuan bajo di tambah suara besar yang di keluarkan oleh kapal ferry kami sebagai pertanda untuk kapal kapal sekitar memberi jalan dan untuk memberi kode ke pelabuhan Labuan Bajo bahwa kami akan segera berlabu di Labuan Bajo.

Bergegas saya dan oza kala itu masuk ke deck kapal untuk bersiap turun dan mengemas barang barang kami dan membangunkan Edo dan Ody. Setelah sampai di Pelabuhan Labuan bajo yang kami cari terlebih dahulu ialah penginapan Murah. Menurut artikel yang kami baca di dekat pelabuhan ada satu penginapan yang lumayan murah namanya Penginapan Pelangi. Setelah berkeliling akhirnya kami menemukan Penginapan Pelangi tersebut kemudian kami masuk untuk bertanya tanya mengenai harga. Mungkin karena kami adalah segerombolan anak soleh ternyata yang punya penginapan itu adalah orang Bugis – Makassar akhirnya karena ada darah bugis dikit akhirnya saya ajaklah ngomong ibunya dengan sedikit logat makassar dan bahasa bugis.

For Your Info. 
Di labuan bajo mayoritas warga yang tinggal di daerah pesisirnya ialah orang perantau yang membuka lapangan pekerjaan jadi jangan heran kalau disini kalian bisa menemukan multi kultural mulai dari suku padang, bugis, Jawa campur aduk di Labuan Bajo.

Akhirnya kami dapat potongan harga dengan penginapan AC dan kamar mandi dalam kami di kasih dengan Harga 75rb/orang (Lumayan Murah sih). Setelah beres beres di kamar penginapan, sebelum gelap kami memutuskan untuk bertanya tanya mencari informasih sambil mengatur perjalanan kami ke Desa Wae Rebo. Kami mendapatkan informasih jalan akses ke desa denge (desa sebelum pendakian ke Wae Rebo) lagi dalam proses pembangunan sehingga tidak ada angkutan pada saat itu dengan tujuan Desa Denge. Setelah bernegoisasi kami bertemu dengan Abang Frengky (0822 37371444) abang Frengky ialah driver yang bisa mengantar ke desa denge. Setelah nego harga dan segalanya yang telah di sepakati oleh kedua bela pihak akhirnya kami janjian untuk mulai perjalanan ke Wae Rebo besok pagi hari. Kami bergegeas untuk istrahat untuk berangkat besok menuju wae rebo. (Untuk Rincian Harga transport akan saya jelasin detilnya di akhir tulisan).

3rd September 2014

Setelah tidur ganteng, kami bangun pagi jam 06.15 WITA ternyata kami di berikan sarapan gratis dengan ibu pemilik penginapan :). Setelah mandi dan sarapan kami memutuskan untuk langsung CekOut dari penginapan untuk menekan biaya kami karena kami akan menginap semalam di desa werebo. Setelah CheckOut dari kamar penginapan kami meminta tolong untuk menitipkan tas carier kami di penginapan pelangi karena kami hanya membawa pakaian secukupnya beserta alat komunikasi dan kamera saja untuk ke wae rebo.

Perjalanan pun kami lanjutkan setelah isi bensin mobil langsung kami di bawa di jalan yang mulai menanjak ke arah pegunungan. Perjalanan kala itu melawati jalan yang memang masih dalam pembangunan banyak alat alat berat dan banyak longsor dan tumpukan tanah tanah karena jalan ini merupakan satu satunya jalan trans utama di flores jadi pemerinta dalam proyek pelebaran dan perbaikan transportasi umum. Di jalan pun kami mampir untuk menjemput penumpang yang akan ikut yang nantinya mereka turun di desa sebelum denge, kala itu ialah ibu muda dan anak perempuanya yang masih ber umur kira kira 6 tahun. Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam akhirnya kami sampai di tempat tujuan dari ibu itu setelah menurunkan ibu dan anaknya kami sempatkan untuk membeli camilan di jalan raya panjang nan kering setelah melewati pegunungan. Yang perlu kalian ketahui ialah jalan trans antar provinsi dan antar kota di flores tidak sebagus di jawa yah jangan harap ada rest area atau warung makan yang bisa di singgahi untuk ber istirahat. Setau saya satu satunya tempat makan dan per istirahatan di perjalanan menuju denge ini hanya setelah jalan raya yang gersang ini, setelah itu tidak ada lagi tempat makan ataupu tempat ber istirahat.

Setelah jalan Raya nan gersang yang panjan kira kira setelah 3 jam lagi perjalanan di lanjutkan melewati banyak desa, kami sampai di gugusan pematang sawah di jalan trans di Ruteng, setelah dari ruteng kami menuruni pegunungan lagi disini bener bener jalanya hanya bisa di lewati 1 mobil saja. Setelah turun dari ruteng kami langsung di hadapkan dengan pantai laut selatan flores dan melewati Pulau Mules kira kira 1 jam perjalanan lagi setelah melewati Pulau Mules kami naik ke pedesaan dan sampai lah kami ke desa Denge. Pada Gambar di bawah akan saya jelasin sedikit tentang Jalur yang saya dan temen temen lewati ketika menuju ke Wae Rebo.

(Dari Labuan Bajo Titik Merah melewati jalur ber warna kuning menuju Ruteng Titik Biru kemudian di lanjutkan ke pinggiran pantai bagian selatan Flores. Setelah Melewati Pulau Mules Titik Putih kita ke arah atas tidak jauh dari pantai kita sudah sampai di desa Denge Titik Oranye kemudian perjalanan di lanjutkan dengan Trekking selama kurang lebih 2 jam menuju wae rebo Titik Kuning)

For Your Info.
Sebenarnya ada alternatif lain ketika kita sudah sampai di ruteng kita bisa naik oto kayu untuk mencapai desa denge. Tapi kita harus tau jam jam pastinya oto kayu ini tidak setiap jam ada Oto kayu ini juga mengangkut banyak barang bawaan mulai dari logistik sampai hewan ternak.

Setelah naik gunung turun gunung melewati lembah dengan gaya menyetir dari abang frangky yang bener bener ngerasain The Whole new drive experience akhirnya pukul 13.41 WITA kami sampai di tempat satu satunya homestay dan tempat untuk melapor terakhir kami sebelum melakukan perjalanan mendaki.

For Your Info. 
Selama perjalanan pun setiap kami bertemu dengan penduduk lokal kami selalu di sapa dengan sapaan khas dari mereka “Hai Mr” karena memang mayoritas yang berkunjung kesini adalah turis asing jadi kami di sambut seperti turis asing (lumayan dikira bule ala ala).

Di kantor administrasi dan homstay tersebut di desa denge kami bertemu koordinator nya langsung yang bernama Pak Blasius (0812339350775) pak blasius memberitahukan kami bahwa kalau mau berkunjung ke wae rebo harus di sertai oleh orang Manggarai asli karena ada tata cara dan aturan khusus adat istiadat di Wae Rebo yang harus di wakili oleh orang manggarai asli dan orang orang suku manggarai di wae rebo pun sebagian belum bisa berbahasa indonesia yang baik terutama para petua disana. Jadi kami di carikan guide oleh pak basius, nah pada saat itu abang frangky yang seharusnya langsung kembali ke Labuan Bajo setelah men drop kami di Denge malah mengajukan diri untuk menjadi guide kami yaaah untung juga bagi kami karena kami bisa menebeng pulang dengan mas frangky nanti untuk kembali ke Labuan Bajo walau tetep ada tambahan Biaya untuk transport. Pada saat itu abang Frengky menawarkan harga guied untuk kami ber4 sebesar 250rb kemudian kami tawar dengan alasan karena kita balik juga bareng dia jadi harusnya bisa lebih murah lagi jadi kami tawar 150rb dan BOOM akhirnya abang frangky setuju pada saat itu. Sebelum berangkat trekking kami di buatkan makanan oleh Pak Blasius yaitu Indomie Goreng overcook yang udah benyek seperti bubur dan nasi tapi karena pada saat itu laper banget yaah enak enak aja rasa makanannya yang lebih mengagetkan jiwa dan raga kami ialah harga makanan untuk 4 orang dengan jenis makanan tersebut adalah 200rb (Gak Masuk Akal).

For Your Info.
Untuk Ongkos menginap 1 malam di Wae rebo ialah 250rb/orang. Harga yang lumayan mahal tapi kita dapat menikmati 1 hari penuh kehidupan masyarakat di Wae rebo. Sepertinya harga yang sangat sebanding untuk satu kali pengalaman hidup yang mungkin tidak semua orang bisa merasakanya. Kalau misalnya mau ongkos yang lebih murah kita bisa datang pagi hari langsung naik ke desa Werebo dan kemudian pada siang hari bisa langsung turun jadi kita tidak harus membayar untuk uang penginapan per-malamnya.

Setelah makan kami melakukan perjalanan Tepat pada pukul 14.32 WITA kami mulai jalan. Kalau kata Pak Blasius perjalanan Trekking kalau cepat normalnya memakan Waktu 2 – 3 jam dan kalau misalnya banyak berhenti dan istirahat bisa sampai 3 – 5 jam trekking. Tapi karena mungkin saya dan yang lain begitu semangat menggebu gebu dan baru aja makan indomienya pak blasius yang lumayan mahal itu kami hanya menempuh perjalanan total 1 jam 45 menit untuk sampai Pos terakhir Wae Rebo. Kalau untuk para pendaki jalur trekking menuju Wae rebo relatif bagus karena dominan jalurnya adalah batuan ada juga sebagian jalan yang sudah di semen dan di cor beton. Bahkan pada awal trek dari kantor administrasi waktu itu masih dalam pembuatan jalur kendaraan bermotor sepertinya sekarang jalur itu sudah jadi.

Setelah Sampai di Pos Sebelum memasuki desa kami di Haruskan membunyikan Sejenis Pentungan untuk menandakan Bahwa ada Tamu yang ingin berkunjung agar ritual penyambutan di persiapkan di Rumah Adat utama. Berikut ada view pemandangan dari Pos terakhir sebelum akhirnya kami sampai di Wae Rebo.

Dengan sedikit penasaran dan ingin tau kira kira kita bakalan di apain nantinya kami melanjutkan perjalanan untuk turun ke Mbrau Niang yang utama. Sesampainya di pintu gerbang desa kami dilarang untuk ber foto foto karena kami belum dapat restu dari leluhur mereka (itu kepercayaan yang di beritahu ke kami). Sesampainya di depan Mbrau Niang yang utama kami berjabat tangan dengan para petua pada saat itu yang menyambut kami dan mereka langsung mempersilahkan kami masuk langsung ke dalam Mbrau Niang Utama. Setelah masuk kemudian kami di suruh duduk di tempat yang tersedia dan ritual pun di mulai. Seperti layaknya ritual para petua yang berjumlah 4 orang membacakan bacaan yang pastinya kami tidak mengerti artinya yang jelas intinya ialah mereka meminta ijin kepada leluhur agar menerima kami sebagai tamu di wae rebo. Setelah kami resmi selesai dengan ritual tersebut kami di perbolehkan untuk mengambil gambar, maka kami putuskan untuk mengambil gambar pertama kami di Wae rebo bersama para petua yang telah melakukan ritual kepada kami.

17.45 WITA setelah ritual kami di persilahkan untuk memasuki Mbrau Niang yang di buat khusus untuk tamu. Jadi di Wae rebo Terdapat 7 Mbaru Niang 6 masih di tinggali oleh keluarga asli dan 1 lagi di khususkan untuk tamu (CMIIW). Setelah masuk ternyata kami tidak sendiri di situ kami tinggal dan tidur bersama para turis asing dan juga kami bertemu teman teman dari UI dan UGM yang kebetulan semuanya seumuran ama saya dan ody. Setelah meletakkan peralatan kami, kami langsung berkenalan dengan turis asing yang berasal dari argentia (Mariano) vivi (Brazil) Yoske (Jepang) dan temen temen dari UGM Made Pisikologi, Trevi Hubungan Internasional, Stev Akuntansi kemudian dari UI Cathrina Komunikasi. Seketika itu juga suasan langsung cair dan membaur jadi satu, karena kami datang 30 menit lagi adalah waktu makan malam kami mengorol banyak malam itu bersama vivi mariano cathrina stev sampai hampir tengah malam bahkan setelah makan malam perbincangan pun masih terus berlanjut. Banyak hal yang kami bicarakan mulai dari bagaimana pandangan para turis asing tentang indonesia apa latar belakang kehidupan kami gimana kami memaknai hidup sampai gimana kondisi politik kekinian.

Yang membuat saya pribadi suka berkelana sebenarnya bukan untuk mendapat pemandangan yang indah atau sekedar foto foto. Tapi yang paling buat ketagihan ialah ketemu orang baru dan mengenal orang baru.

Beberapa dari kita mungkin tinggal di suatu lingkup yang dimana kita di kelilingi oleh orang orang yang super sibuk keadaan lingkungan yang selalu ramai oleh hiruk pikuk perkotaan, sedangkan di sisi lain kita bisa liat kehidupan yang cuma mengandalkan hasil alam untuk bertahan hidup dan menikmati hidup namun mereka tidak dalam tekanan :).

It makes me more humble and open minded ! bener banget jujur seluruh perjalanan yang telah saya lakuin saya semakin menjadi orang yang bisa menerima perbedaan. Semakin terbuka atas opini orang lain tau bagaimana berhadapan dengan sifat orang yang berbeda beda. Hal ini bisa jadi latihan bagi kita kelak dalam menghadapi berbagai sifat berbeda dari tiap orang yang kita temuin dalam pekerjaan kita nanti. Tantangan adalah suatu hal yang menarik untuk saya selesaikan.

Because for me money i spent on my journey that will make me happier than money i spent on material goods.

Perbincangan malam itu kami akhiri pada kira kira pukul 23.35 WITA untuk selanjutnya beristirahat agar besok bisa bangun pagi dan menikmatin matahari terbit di Werebo.

For Your Info. 
Dari perjalanan Labuan Bajo ke desa denge Sinyal dan jaringan susah banget hampir tidak pernah dapet sinyal. Seingat saya sinyal cuma ada di Pinggiran Pantai Sebelum naik ke desa denge. Sesampai di desa denge bener bener tidak ada sinyal. Jadi Buat lo yang berencana menghubungi Pak Blasius lebih baik sms dan tunggu balasanya.

4th September 2014

Pagi itu saya sengaja bangun lebih pagi untuk menikmati matahari terbit. Pagi itu belum ada yang bangun baik dari turis asing dan juga dari kami. Segera saya keluar menyusun tripod untuk menggambil gambar time-lapse. Matahari terbit di tutupi oleh gunung terpampang pemandangan siluet gunung yang perlahan mulai terlihat jelas oleh hadirnya sinyal matahari pagi.

Setelah mendirikan tripod dan mengatur posisi kamera saya kembali ke dalam Mbaru Niang untuk membangunkan teman teman yang lain. Setelah Bangun, segera mereka keluar untuk menikmati indahnya matahri terbit berlatarkan pegunungan dan rumah adat Mbrau Niang. Setelah matahari agak meninggi beberapa turis pun keluar sambil menikmati hangatnya mentari. Sambil mengobrol kami juga menikmati bersosialisasi dengan beberapa warga yang bisa berbahasa indonesia kami memanggil mereka bapa untuk laki laki dewasa dan mama untuk wanita. Teman teman dari UGM dan UI mereka agak terlambat bangun karena mereka sebelumnya sudah menikmati matahri terbit, mereka sudah tinggal selama 3 hari di Wae rebo. Setelah mereka bangun kami melakukan banyak aktifitas bersama pagi itu mulai dari hiruk pikuk para warga yang mengeluarkan kopi untuk di jemur, ada yang mulai menenun kain khas Wae rebo dan anak anak keluar untuk bermain bersama kami.

Setelah bercengkrama pagi itu mereka berencana langsung kembali kedenge 4 teman kami dari UGM UI dan 3 orang turis asing kembali ke denge kira kira pukul 10.00 WITA. Sebelum mereka berangkat kami sempat kan untuk berfoto bersama di tengah tengah dengan latar belakang Mbrau Niang

Setelah yang lain kembali ke Denge kami ber4 merencanakan pergi ke Air terjun yang berada di bawah Wae rebo untuk sekedar merasakan segarnya air pegunungan. Kira kira 30 menit menuruni bukit dari desa Wae rebo kami sampai di air terjun itu tanpa basa basi gue ody dan edo kala itulangsung buka baju dan langsung menceburkan diri ke air.

Setelah puas ber main air di air terjun kami kembali ke desa Wae rebo untuk makan siang terakhir kami dan kemudian kembali ke denge. Pukul 12.15 WITA kami sampai kembali di Wae rebo dan berkemas barang kemudian menikmati santap siang bersama. Setelah makan siang kami di persilahkan menggunakan pakaian adat khas Wae rebo untuk berfoto bersama Bapa Petua di Mbrau Niang Utama. Segera kami berfoto bersama dan mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh keluarga di Wae rebo Beserta leluhur mereka yang sudah menyambut kami di Wae rebo dengan sangat hangat.

Setelah berpamitan kami mengganti baju kami kembali dan meninggalkan Werebo :”). 14.27 WITA kami memulai perjalanan menuju turun kembali ke Desa Denge kantor administrasi atau homestay Pak Blasius. Sampai di Denge pukul 15.55 WITA kami sampai di denge dan berencana langsung balik ke labuan bajo. Di denge kami bertemu teman teman Stev, Cat, Made, Trev, Yoske vivi dan mariano sedang ebristirahat kala itu. Sebelum kami berangkat kembali rencananya Yoseke (Jepang) mau berencana balik bareng kita karena dia mau melanjutkan perjalanan mendaki ke Gunung Rinjani. Akana teteapi karena biaya pendakian di gunung rinjani tidak murah apalagi untuk Turis asing, setelah yoske menjelaskan mengenai keuanganya yang pas pasan saja kami menyarankan dia untuk menunda dulu perjalananya ke Rinjani karena biaya yang bakalan dia keluarkan di sana akan memakan banyak biaya. Berkat saran dari kami dan temen temen UGM dan UI akhirnya yoske memutuskan untuk berangkat ke bali kemudian mengambil penerbangan menuju kuala lumpur untuk selanjutnya mengambil penerbangan ke jepang. But we promise if he paid another visit to Indonesia (Surabaya) we’ll go hiking together to Mt. Semeru.

Setelah itu kami akhirnya balik tanpa yoske, yoske akhirnya tetap bersama teman teman UGM dan UI untuk menginap 1 malam lagi di Denge yang nanti ke esokan paginya mereka naik Oto Kayu dari denge tujuan Ruteng. Kami berangkat meninggalkan denge pada pukul 16.45 WITA dan sampai di Labuan Bajo pukul 22.20 WITA segera kami kembali ke penginapa pelangi untuk cek in dan ber istirahat.

Dua hari setelah Wae Rebo

Setelah Wae Rebo kami punya waktu kosong 3 hari sebelum perjalanan kami selanjutnya. Karena kami masih lama di Labuan Bajo kami ingin menekan pengeluaran terkhusus di penginapan kami merasa bahwa 75 rb/ orang itu masih termasuk mahal akhirnya kami memutuskan untuk pindah. Sementara edo dan oza mencari penginapan Murah gue dan ody udah janjian dengan Stev dan Chatrin untuk mengunjungi gua batu cermin kala itu sebelumnya oza dan edo kala itu sudah kami tawarkan untuk ikut tapi mereka menolak untuk tetap di labuan bajo saja untuk mencari penginapan.

Akhirnya saya dan ody mencoba mencari motor yang bisa kami rental per harinya dan ternyata kala itu mantan penginapan kami penginapan pelangi punya motor untuk di rental karena saya dengan logat makassar akhirnya kami dapat 50rb/hari untuk rental motor. Setelah dapat motor segear saya dan ody beserta stev dan chatrin berangkat menuju Gua Batu Cermin. Sempat ter sesat 30 menit akhirnya kami sampai di Gua Batu Cermin. Gua batu cermin adalah gua atau terowongan yang terdapat di bukit batu yang gelap di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas gua ini 19 hektar, dan tingginya sekitar 75 meter. Sinar matahari masuk ke gua melalui dinding-dinding gua, dan memantulkan cahayanya di dinding batu sehingga merefleksikan cahaya kecil ke areal lain dalam gua sehingga terlihat seperti cermin. Stalagtit dan stalagmit dalam gua terlihat berkilauan saat disinari cahaya senter maupun cahaya matahari. Kilauan ini disebabkan oleh kandungan garam di dalam air yang mengalir di saat turun hujan. Hal inilah yang membuat masyarakat sekitar menyebut gua ini denga gua batu cermin (Wikipedia).

Setelah puas berkeliling di Gua batu cermin akhirnya kami berpisah dengan Stev dan Cathrin mereka kembali ke Penginapan Mereka sedangkan saya dan ody melanjutkan perjalanan mencari arah Pulau Rangko untuk selanjutnya mencari Gua Rangko (Rangko Cave / crocodile cave). Letak dari Gua Ranko / Rangko Cave ini berada di kampung rangko dan masih di pulau flores. Untuk aksesnya sendiri lewat jalan darat dan di lanjutkan dengan naik kapal kecil langsung dari kampunng Rangko, tapi bisa juga langsung naik kapal dari pelabuhan di Labuan Bajo. Rangko Cave adalah Gua yang di dalamnya terdapat kolam air asin jernih dan bening bagai kaca.

For Your Info. 
Kalau menurut saya, berangkat langsung dari pelabuhan di labuan bajo adalah jalan terbaik dan termudah tapi belum tentu setiap saat bisa dan karena tidak perlu ganti kendaraan lagi. Karena saya dan ody sudah terlanjur merental motor dengan terpaksa kami menggunakan motor. Waktu terbaik ke sana adalah pukul 14.00 – 15.00 sore pada jam tersebut, bila tidak hujan dan tertutup awan, sinar matahari langsung menyinari dan masuk ke dalam Gua.

Setelah melakukan perjalanan naik motor dan modal tanya tanya dari warga sekitar akhirnya kami memasuki jalan yang bener bener rusak berbatu dan sangat jelek hanya bisa di lalui oleh motor trail dan motor gede. Karena modal niat akhirnya saya dan ody memaksakan motor matic honda beat yang kami rental untuk melewati jalan berbatu, tak jarang kami turun dan mendorong motor karena tidak mampu menanjak. Kira kira pukul 13.40 WITA kami akhirnya sampai di kampung rangko, segera kami mencari kendaraan transport yaitu kapal kecil untuk mengantarkan kami. Akhirnya kami berkenalan dengan warga sekitar yaitu Bang Udin bang udin umurnya masih sekitaran 23 dia yang mengantarkan kami menuju Gua Rangko. Dengan hanya kapal kecil kami di antar ke Gua Rangko hari itu untungnya cerah kata bang udin guanya bisa keliatan bagus sekali PERFECTO!!. Setelah sampai di bibir pantai kami membuang jangkar agar kapal kecil kami tidak terbawa arus. Setelah itu kami berjalan kurang lebih 15 menit untuk sampai di Rngko Cave dengan melewati hutan dan semak belukar.

Setelah sampai dan menuruni Gua suasana mendadak menegangkan dan sedikit menakutkan sedikit terlintas di pikiran “kalau renang ada hewan gitu gak sih” wajar sih tapi setelah saya liat lebih dekat lagi maka saya putuskan kala itu bahawa saya akan 10000000% renang di kolam air asin nan jernih ini.

Setelah puas akhirnya kami kembali karena kalau sudah sore hari cahaya yang masuk semakin sedikit dan sangat berbahaya soalnya batuannya bener bener belum ter urus kita harus sedikit memanjat. Sebelum balik ternyata salah satu peralatan kamera kami tertinggal di Gua dan akhirnya abang udin yang mengambilkan untuk kami padahal hari pada saat itu sudah mulai gelap. Terimakasih abang udin, sepertinya dia pantas untuk masuk blog saya here he is abang udin.

Ini kontak nomor tlp bang Udin (081244470352) Sangat di sarankan sms aja soalnya para nelayan di kampung rangko baru dapat sinyal ketika melaut karena di kampung Rangko sendiri tidak terjangkau oleh sinyal. 

Kami kembali di temani dengan pemandangan matahari terbenam sore itu. Sekian, to be continued…..

Berikut Gue kasih list harga (per-orang) perjalanan saya ke Wae Rebo dari Labuan Bajo Dan beberapa informasih tentang Rangko Cave (Gua Rangko) semoga bisa jadi bahan refrensi kalian berikutnya :

Untuk Warebo kemarin, karena trasnport ke desa denge masih sangat sulit dan kemarin ada perbaikan jalan jadi kami hitunganya carter mobil untuk ber4 kami kena per orangnya 200rb +/- PP. Untuk kalau misalnya lebih banyak yang ikut ongkos biaya bisa lebih di tekan dan tetap bisa nego juga. DI atas sudah saya cantumkan nomor dari drivernya (Abang Frengky)

Untuk yang berencana menginap di Wae rebo yang perlu di ingat bahwa ongkos penginapanya tidak murah perorangnya 250rb/malam. Mahal sih tapi kalau menurut saya WORTH IT !

Sangat rekomen bagi yang mau ke wae rebo datang subuh dan mulai trekking subuh dini hari aja jadi bisa langsung pulang siangnya dan tidak perlu menginap. Tapi semua tergantung dari kalian dan budget yang kalian punya. Di atas sudah saya cantumkan nomor dari Pak Blasius koordinator di Desa Denge.

Untuk Guide yang mengantar Trekking bisa di Nego Sesuai Budget Kalian. Jangan pernah malu untuk TAWAR HARGA NO MATTER WHAT !!

Untuk penginapa di Pelangi kami tidak rekomendasikan karena hitunganya masih mahal. Kalau masih mau cari masih banyak penginapan murah kalau pinter nawar dan pinter nyarinya. Salah satu yang saya rekomendasikan Hotel Mutiara ini adalah hotel pilihan untuk kaum backpacker karena harganya yang terjangkau, letak strategis, langsung dekat pelabuhan, dan kamarnya pun bersih. SANGAT SANGAT Recommended! Kemarin kami cuma habis 45rb/orang/malam !! #HEAVEN

Menurut saya kalau dalam perjalnan ataupun liburan tidak penting hotel/penginapan yang bagus ! Karena kita datang bukan untuk tidur :)

Kalau di Wae rebo kudu harus coba Kopinya ! Saya kopi LOVER jadi bener bener enak dan asli. Kalau bisa kalian bisa pesan pada mereka dan bisa beli kopi yang fresh yang baru selesai di giling.

Pastikan kalau anda ingin berkunjung ke Gua Rangko Tepat pada pukul 13.00 – 16.00 (Selambat Selambatnya) untuk mendapatkan kondisi air yang di sinari oleh matahari. Di atas sudah saya cantumkan nomor tlp salah satu nelayan di kampung Rangko.

Kemarin saya dan Ody di perjalanan dari kampung Rangko malam hari setelah jam 6 sore. Di perjalanan Kami ketemu Babi Hutan (Sebesar Motor) hati hati kalau pulang melwati jalur darat karena akses ke kampung ranko masih minim fasilitas dan tidak ada sinyal provider apapun. Buat kalian yang berencana ke Gua Rangko Sangat di sarankan lewat jalur laut lewat pelabuhan di labuan bajo lebih aman.

All you need is weekend Getaway, one short trip can change you and can make history of your life.

Kalau ada yang belum saya jelasin dan masih butuh info banyak. Dengan senang hati saya bisa jawab disini

Tujuan selanjutnya, KOMODO HERE WE GO. Read Here www.gemadrakel.com

Thank You

Semoga Bermanfaat

Best Regards

Moh Gema Perkasa Drakel



9 Comments

  • elsprim - 2 years ago
    suka bgttttt
  • erlinel - 2 years ago
    Wah, Wae Rebo masih masuk daftar impian nih. Makasih untuk cerita superlengkapnya!
  • erlinel - 2 years ago
    Wah, Wae Rebo masih masuk daftar impian nih. Makasih untuk cerita superlengkapnya!
  • Ahmadrizalq - 2 years ago
    Bener juga ya kata temen saya kalo di lombok banyak preman sekaligus orang" malak, untung kmrn gak jadi jalan sendirian ke lombok
    • gemdra - 2 years ago
      a lot of things might happens bro kalau lo dateng sendiri tapi kalau lo berani sebenarnya gak ada salahnya di coba. lombok juga masih indonesia kok
  • anggariezky - 2 years ago
    traveldiarynya mantap gem, beberapakali ke lombok tapi nggak pernah kesampean ke waerebo
    • gemdra - 2 years ago
      terimakasih masnya hehe tempatnya waerebo di NTT mas pulau flores hehe