LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

The Sublime Beach of Lombok 

irenebarlian

On

Pantai- pantai berpasir putih dengan hamparan laut biru yang luas. Suasana hening, dengan udara laut yang sepo-sepoi menyapu wajah. Dimulai dari pantai surga bagi para peselancar di Lombok selatan sampai dengan Gunung Rinjani. Desa wisata yang sekaligus tempat tinggal asli Suku Sasak sampai dengan pusat turistik di Senggigi. Pulau Gili Trawangan, yang sekarang sedang popular dikunjungi oleh anak muda Jakarta sampai dengan pantai yang belum terjamah di Lombok Timur.

Lombok, tetangga dari Pulau Bali yang menawarkan keeksotisan serta energi yang unik. Banyak cara untuk menikmati Pulau ini, namun misi utama saya kali ini adalah untuk menjelajahi pulau-pulau di Lombok timur yang konon salah satunya memiliki pantai yang berpasir pink.

Akses menuju Lombok terbilang cukup mudah. Dua jam perjalanan saya tempuh dengan menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Sekitar pukul delapan pagi saya sudah tiba di Bandara Udara Internasional Lombok. Bergegas menuju mobil, tidak sabar untuk mengeksplorasi pulau ini.

Tujuan pertama saya adalah Desa Sade, tempat tinggal suku asli Sasak yang sekarang merangkap menjadi desa wisata. Saya sangat bersemangat untuk melihat desa ini. Perjalanan dari bandara menuju Desa Sade tidaklah jauh, hanya 30 menit. Sesampainya disana, saya disambut oleh seorang pemandu lokal yang merupakan suku asli Sasak.

Meski terletak di pinggir jalan utama, suasana tradisional yang kental sangat terasa ketika saya memasuki pintu masuk desa ini. Atap rumah terbuat dari jerami, dinding dari ayaman bambu, dan lantai dari semen tradisional. Dari informasi sang pemandu, ternyata semen yang mereka gunakan telah dicampur dengan kotoran kerbau. Binatang kerbau adalah binatang yang dianggap suci oleh Suku Sasak. Mereka bahkan menggunakan kotoran kerbau sebagai bahan untuk membersihkan rumah mereka.

Disini, mereka terus mempertahankan dan menjalankan kepercayaan serta adat istiadat yang diajarkan secara turun temurun oleh nenek moyang. Suku Sasak hanya boleh menikah dengan sesama suku. Tradisi culik gadis, dimana seorang laki-laki harus menculik wanita yang ingin dinikahinya masih terus dijalankan. Hal ini dilakukan demi mendapatkan restu dari orang tua sang wanita. Selama berada disini, pikiran saya tak luput dari bayangan gambar-gambar di buku sejarah Indonesia yang saya pelajari ketika berada di bangku sekolah dasar. Seolah kembali ke masa lalu, di masa Indonesia pada tahun 70-an.

Meninggalkan desa, saya meluncur ke Tanjung Aan yang terletak di daerah Lombok Selatan. Sudah tidak sabar rasanya ingin berenang dan bersantai di pasir putih. Perjalanan selama 45 menit kembali saya tempuh dari Desa Sade. Sesampainya disana, saya takjub dengan pemandangan pasir putih berbatasan dengan laut biru dekelilingi oleh bukit-bukit kecil lengkap dengan bilik-bilik tempat peristirahatan bagi para turis di sepanjang bibir pantai.

Selepas Tanjung Aan, saya menuju Pantai Mawun. Letaknya tidak jauh, hanya 15 menit perjalanan. Jalan berlika liku, naik turun, lanskap pantai yang diapit oleh buki terlihat dari kejauhan. “Itu pantai Mawun.” kata supir yang mengantar saya, menyela lamunan saya. Pantai unik dengan bibir pantai yang berbentuk setengah lingkaran. Dikelilingi oleh bukit-bukit, dengan pasir putih yang halus. Di pantai ini, ada dua jenis pasir, yakni pasir halus dan pasir merica. Bentuknya persis seperti namanya. Aneh rasanya mendapatkan dua jenis pasir yang berbeda di satu bibir pantai yang sama. Teriknya matahari siang tidak mengurungkan niat saya untuk berjalan mengelilingi pantai ini. Setelah mendapatkan tempat bersantai yang cocok, saya memilih untuk bersantai menikmati keunikan pantai ini, sambil sesekali berenang bermain ombak yang ukurannya cukup besar, cukup membuat saya tergulung. Saya kira pantai ini adalah pantai yang cocok untuk kegiatan berselancar.

Keesokan harinya saya memilih untuk bersantai menikmati daerah Senggigi. Daerah Senggigi merupakan pusat turistik kota Lombok. Bayangkan versi Pulau Bali yang lebih sepi dan tenang, seperti itulah suasana daerah ini. Belum sampai 15 menit berjalan kaki meninggalkan hotel, saya sudah bisa menyaksikan pantai. Banyak café- café yang menawarkan makanan internasional dengan view pantai, tempat-tempat yang menawarkan tur diving ataupun hiking, dan toko-toko kerajinan tangan yang berjajar di sepanjang jalan utama.

Ketika melihat Pura Batu Bolong, saya memutuskan untuk masuk. Ukuran pura ini terbilang kecil namun pura ini berdiri kokoh di atas batu karang yang memiliki lubang di tengahnya, sesuai dengan namanya. Atmosfir spiritual yang kuat saya rasakan ketika memasuki daerah pura yang berhadapan langsung dengan selat Lombok ini. Legenda masayarakat setempat mengatakan bahwa Pura Batu Bolong merupakan tempat yang digunakan untuk persembahan.

Berjarak sekitar setengah jam dari Pura Batu Bolong, terdapat pasar seni Senggigi. Tempat ini menampung berbagai macam kerajinan tangan khas Lombok. Dimulai dari baju, tas, gelang, pahatan perunggu, ayaman tembikar untuk keperluan dapur, semua lengkap. Berbelanja sambil menyokong perekonomian penduduk setempat. Saya menghabiskan sisa hari itu dengan berkeliling dan bersantai menunggu matahari terbenam di Pantai Senggigi.

Dibutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua jam untuk mencapai Lombok timur dari tempat penginapan yg berlokasi di Senggigi, Lombok Barat. Selepas sarapan, saya memulai perjalanan menuju Lombok Timur dengan menggunakan mobil.

Sebenarnya ketika saya melakukan reaserch, ada dua pilihan penjelajahan pulau atau yang lebih dikenal dengan islands hopping yang menarik perharian saya. Yang pertama adalah island hopping tiga Gili yang meliputi Gili Air, Gili Trawangan, dan Gili Meno yang terkenal dengan keindahan terumbu karang dan manta ray point-nya. Yang kedua adalah islands hopping di Lombok Timur yang meliputi Pantai Tangsi, Gili Petelu, Pantai Sebui. Keduanya sunggung menggoda, namun saya akhirnya memilih untuk melihat Pantai Pink yang berlokasi di Lombok Timur ini.

Panorama perjalanan sepanjang jalan membius mata, Pantai-pantai yang dipenuhi dengan pohon kelapa terihat dari jalan utama, hamparan sawah yang luas namun kering dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan, serta pasar-pasar tradisional yang ramai dikunjungi oleh warga lokal. Sungguh pemandangan yang menyenangkan untuk disaksikan.

Tepat pukul sepuluh pagi, sampailah saya di desa nelayan Tanjung Luar. Dari pelabuhan inilah saya akan melakukan penyebrangan dengan menggunakan kapal nelayan setempat. Desa nelayan Tanjung Luar tak cuma menjadi arena transaksi hasil laut, tapi juga objek wisata. Saya dapat menyaksikan proses bongkar muat hasil laut, bernegosiasi membeli ikan yang niatnya akan saya santap untuk makan siang, serta menyelami geliat hidup nelayan lokal.

Selesai melakukan tawar menawar dengan nelayan setempat, saya memutuskan untuk berangkat menyebrang dengan menggunakan kapal. Dengan harga Rp. 750.000,- saya cukup terkejut melihat kapal yang disediakan. Kapal yang cukup untuk menampung 8-10 orang ini dilengkapi dengan karpet, gorden, dan musik yang dapat diputar melalui tenaga matahari. Kapalnya pun terlihat kuat dan stabil. Dengan perlahan namun pasti, bermanuver menerjang ombak kapal ini mengantar saya menuju Pantai Tangsi. Selama perjalanan, saya melihat banyak rumah-rumah yang terbuat dari kayu dengan tiang bambu berdiri di tengah laut. Nelayan kapal yang membawa saya mengatakan bahwa itu adalah tempat untuk memancing lobster yang didirkan oleh para nelayan setempat.

Pulau pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Pink I. Dari pelabuhan, dibutuhkan waktu 20 menit untuk dapat sampai di pulau ini. Dari kejauhan saya sudah dapat melihat pulau ini memiliki warna pasir yang ke-merahan (pink). Konon, pasir pink berasal dari terumbu karang yang bewarna merah yang terhempas ombak dan kemudian menyatu dengan pasir. Pasir pink pun akan lebih nyata terlihat bila matahari sedang terik-teriknya.

Panasnya matahari tidak menyurutkan niat saya untuk mengeksplorasi pulau itu. Pasir halus yang berwarna pink, barisan bukit-bukit yang tinggi, hamparan air laut yang jernih dengan gradasi warna hijau tosca sampai dengan kebiruan berbatasan dengan langit biru luas. Sungguh sebuah pemandangan ideal yang saya dambakan. Saya memutuskan untuk berjalan naik menelusuri bukit. Cukup dengan melakukan trekking selama 15 menit saya sudah sampai di puncak bukit. Sungguh pemandangan yang membuat hati saya berdegup kencang. Sejauh mata memandang, hanya ada laut, pasir, dan bukit. Di tepian laut terdapat dinding bukit yang terkikis, menjorok masuk membentuk lekukan indah. Tidak jarang saya melihat pantai kecil di tengah lekukan tersebut. Saya merasa seperti dikepung oleh megahnya alam.

Selesai menelusuri pantai, saya memutuskan untuk snorkeling. Sayang rasanya jika melewatkan kesempatan melihat keindahan alam bawah laut yang dimiliki oleh pulau ini. Terumbu karang yang bewarna warni terpapar dengan indahnya. Ikan-ikan kecil yang berenang di sekililing saya. Sesekali saya melihat lobster dan bahkan ikan pari yang kecil. Kehidupan biota laut yang sehat. Senang rasanya dapat melihat keaadaan laut yang masih terjaga. Warga dan alam hidup dengan rukun, saling menjaga satu sama lain.

Pulau kedua yang menjadi tujuan kedua saya adalah Gili Petelu. Sebuah pulau yang ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Pulau Tangsi. Sebuah diving spot yang strategis. Kembali menceburkan diri saya ke dalam laut. Tidak lama kemudian, arus laut tiba-tiba terasa begitu kencang. Untungnya kali ini saya memakai pelampung jadi tidak terasa melelahkan berenang menerjang ombak yang kuat. Arus laut yang cukup kencang menghambat saya untuk berlama-lama snorkeling disini. Saya bahkan harus bergelantungan di ambang kapal demi berenang melewati arus dan akhirnya kembali naik ke kapal. Pengalaman yang cukup mendebarkan.

Persinggahan saya yang terakhir adalah Pulau Sebui atau yang dikenal dengan Pantai Pink II oleh warga lokal. Letaknya persis bersebrangan dengan Gili Petelu. Kapal kembali menembus ombak yang terasa lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Terik matahari pun sudah mulai meredam. Seakan menyambut kehadiran saya.

Ukuran pantai ini lebih kecil dibandingkan dengan Pantai Tangsi. Pantai ini juga memiliki pasir berwarna merah muda dengan tekstur dan warna yang lebih halus. Sesekali saya melihat warga lokal yang sedang memancing. Hanya ada beberapa orang pelancong selain saya. Beralaskan pasir, beratapkan langit, pemandangan laut tak berbatas, dengan suara debur ombak yang halus. Menenangkan diri, menyatu dengan alam, sambil menikmati indahnya matahari terbenam di beralaskan karpet pink alami.



0 Comments

Be the first to comment.