LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Sunda Kelapa, Saksi Sejarah yang Terabaikan

yantaofficial

On

Diawali dengan niat hunting foto untuk kebutuhan posting di Instagram, saya searching mengenai tempat-tempat keren di Jakarta. Akhirnya saya memilih Pelabuhan Sunda Kelapa setelah melihat beberapa foto. Lagian tempat-tempat seperti Monas, TMII dan Kota Tua menurut saya sudah terlalu mainstream.

Pada Hari sabtu, 2 Mei 2015, saya dan ketiga rekan saya berangkat menuju Pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan KRL dan dilanjutkan dengan naik angkot 15. Ada beberapa alternatif menuju Pelabuhan tersebut. Selain Angkot 15 dengan trayek Kota-Tj. Priok; ada juga Bus Kopami 02 dengan Trayek Ps. Senen-Muara Karang. Jika menggunakan kedua angkutan tsb, kita akan diturunkan tepat di depan pintu masuk Pelabuhan.

Untuk masuk ke dalam, setiap pejalan kaki dikenakan biya Rp. 2.500. Saya sempat mangamati bahwa banyak juga orang yang masuk tanpa membayar. Mungkin mereka memang orang kapal. So, bagi kita yang ingin masuk ke dalam, alangkah baiknya kita membayar retribusi meskipun ada orang dalam yang kita kenal atau mengajak kita untuk masuk ke dalam. Bukankah dengan membayar retribusi, kita ikut andil dalam kemajuan bangsa ini? Think smart!

Begitu sampai di galangan kapal, kami disambut dengan deretan kapal-kapal kayu tradisional atau lebih dikenal dengan sebutan kapal Pinisi. Ketika saya bertanya, ternyata pemilik dari kapal-kapal ini sebagian besar adalah orang Bugis. Yap, dari beberapa artikel yang saya baca, suku Bugis memang pelaut yang handal. Mereka mempunya keahlian untuk membuat kapal Pinisi dengan peralatan dan pengetahuan seadanya. Ilmu itu mereka pelajari secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Pagi itu terlihat beberapa kapal melakukan aktivitas bongkar muat. Ada semen, material bangunan, beras, dan produk-produk dalam kardus. Bongkar-muatnya masih dilakukan dengan cara manual (lempar-tangkap), namun sudah ada beberapa yang menggunakan alat derek.

Pelabuhan Sunda Kelapa memang masih digunakan untuk pengangkutan logistik antar pulau di Indonesia. Tentu saja pengangkutan dengan kapal kayu ini jauh lebih murah dibandingkan dengan kapal kargo dari tanjung priok. Kenapa bisa lebih murah? Karena kapal Pinisi di buat menggunakan material kayu yang harganya terjangkau.

Saya sempat menanyakan ke salah satu pemilik kapal yg kapalnya paling besar saat itu, bahwa kapal Pinisi miliknya bisa memuat logistik sampai 1200 Ton. Wow! Dan melayani pengantaran Logistik ke Kalimantan dan Sumatera.

Sebenarnya ada 2 posisi strategis Sunda Kelapa sekarang:

1. Sebagai sarana pelabuhan pengangkutan logistik antar pulau yang terjangkau. Selain itu lokasinya sangat strategis, dekat dengan Glodok, Mangga Dua, Pasar Baru, dan pusat perbelanjaan lainnya, sehingga jika dioptimalkan dengan bagus, termasuk pelayanan pelabuhan yang canggih, bisa mempercepat arus barang antar pulau

2. Sebagai tujuan wisata, karena pelabuhan ini antik banget, sudah dikenal sejak abad 12! Bayangkan! Pelabuhan ini mengalami pasang surut, dapat serangan mulai dari Portugis, Belanda, Demak, Mataram, tetapi tetap masih utuh. Bayangkan nilai kesaksian sejarah dari pelabuhan Sunda Kelapa ini!

Seharusnya PT. Pelindo II selaku pengelola, mengelola Pelabuhan Sunda Kelapa ini secara Profesional sehingga menjadi lebih baik dan karena pelabuhan ini memiliki potensi Wisata yang sangat besar.

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi saksi kejayaan Bahari Indonesia, yang menguasai laut hingga ke ujung dunia.

Dan kesaksian sejarah teranyar adalah ketika seorang calon presiden terpilih, Joko Widodo - Jusuf Kala menaiki sebuah kapal Pinisi di Sunda Kelapa, dan mengucapkan pidato yang begitu berkesan. Jokowi memiliki ide mengenai Indonesia sebagai poros maritim dunia. Mengoptimalkan fungsi laut sebagai sarana mobilisasi barang yang cepat dan tangguh, tanpa macet (cuman badai aja, hehee), wisata pantai & laut, optimalisasi kekayaan laut sebagai sumber pendapatan rakyat.

Semoga Moto atau Seruan "Jalesveva Jayamahe" dapat kita wujudkan kembali dan tidak hanya menjadi angan-angan bangsa Ini. Salam lestari



0 Comments

Be the first to comment.