LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

‘Si Cantik’ di Hutan Latimojong

kakituli

On

Sembari kubuka ikatan tali sepatu yang jika gumpalan tanah lengket di telapaknya ini disatukan bisa untuk menanam jagung, kuletakkan kerilku yang berat. Aku lalu merebah di atas batu yang lebar dan cukup bersih sembari menunggu teman-teman yang masih di perjalanan menuju tempat ini.

Tebak, di manakah aku? Haha, iya, tebakan kalian benar. Aku naik gunung lagi. Ya, di mana lagi kalau bukan di Gunung Latimojong? Dan sekarang aku baru saja tiba di pos 2, tempat istirahat yang bisa digunakan untuk berteduh tanpa repot memasang tenda jika tidak bisa melanjutkan perjalanan, ataupun jika tiba-tiba turun hujan. Tempat istirahat ini juga punya sumber air berlimpah dengan aliran air dan bebatuan besar.

Aku rebahan cukup lama di batu ini berhubung teman-teman yang lain sepertinya masih berada cukup jauh dibelakang. Bukannya sok jagoan ataupun sok kuat, tapi aku tidak sanggup berjalan berlama-lama sedangkan keril yang kugendong ini lumayan berat. Sehingga aku memilih berjalan di depan.

Nah, dalam tulisan kali ini aku tidak akan menjelaskan tentang rute perjalanan menuju puncak Rantemario dan bagaimana itinerary perjalanannya, karena di tulisanku sebelumnya yang berjudul "Puncak Nenemori dan Jejak Anoa" sedikit banyak aku sudah menjelaskan tentang jalur pendakiannya. Tapi, kali ini aku mau bercerita tentang sebuah air terjun yang merupakan sumber dari aliran sungai yang terdapat di pos 2 ini.

Belakangan ini, teman-teman penggiat alam yang tertarik untuk melakukan pendakian ke Gunung Latimojong semakin banyak. Tetapi tidak banyak dari mereka yang tahu mengenai keberadaan air terjun cantik di atas aliran sungai di pos 2 ini. Aku punya hasrat yang begitu besar untuk bisa mendatangi air terjun itu. Meskipun sudah beberapa kali melakukan pendakian ke sini, aku belum pernah memperoleh kesempatan untuk memecahkan rasa penasaranku akan air terjun itu.

Hari mulai sore dan jam tangan menunjukkan pukul 16.10 WITA, dan teman-teman yang lain rupanya juga sudah sampai di pos 2. Sembari beristirahat dan mengatur nafas, kami berdiskusi dan melakukan pemungutan suara. Untuk apa? Ya, tentu saja untuk memutuskan lokasi mendirikan tenda dan beristirahat.

Hari sebentar lagi gelap. Sebagian dari teman-temanku yang berjumlah 12 orang dari Jakarta ini sudah kelelahan, lapar, dan mengantuk. Pertimbangan kami, jika akan mendirikan tenda sebaiknya di pos 5 saja yang areanya cukup luas dan terdapat sumber air. Namun untuk menuju ke pos 5 membutuhkan waktu tempuh yang relatif lama, berkisar 3-4 jam dari pos 2. Akhirnya suara terbanyak adalah berhenti sementara di pos 2, dan melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.

Setelah selesai menyiapkan tempat beristirahat seperti matras untuk tidur di bawah tebing batu dan tenda untuk mengganti baju, salah seorang porter kami mengajak untuk mengeksplor air terjun di atas aliran sungai itu. Sontak aku kaget sekaligus senang. Sudah lama aku ingin melihat air terjun itu. Tapi rupanya teman-teman yang lain memilih tinggal di pos 2 untuk beristirahat. Maka akhirnya aku memutuskan pergi berdua dengan om porter, tentunya setelah mempertimbangkan waktu dan jarak menuju lokasi.

"Cuma 15 menit kok, jadi kalau kita pergi sekarang masih sempat untuk mengambil gambar dan pulang ke tenda sebelum magrib" begitu katanya.

Berangkatlah kami menyusuri tepian aliran sungai berbekal tas kecil berisi handphone seluler untuk mengabadikan momen, juga tidak ketinggalan sebungkus rokok. Sekitar 10 meter pertama masih aman menurutku. Ya, hanya jalan berbatu yang tidak begitu terjal. Tetapi om porter berjalan sangat cepat dan kemudian menghilang dari pandanganku. Aku beberapa kali harus berteriak memanggilnya dan berlari mengejarnya.

Sialnya aku harus membuka sepatu karena harus turun menyeberangi sungai. Aku tidak mau besok harus berjalan dengan sepatu basah. Sungguh tidak nyaman berjalan di air yang dingin tanpa alas kaki. “Tapi tidak apa, yang penting rasa penasaranku ini bisa terbayarkan”, itu yang terus terlintas dibenakku.

Banyaknya pohon tumbang, ranting patah, dan tumbuhan api yang perihnya tidak main-main jika menyentuh kulit menambah drama perjalanan ini. Tetapi itu belum apa-apa. Selanjutnya, aku harus berhenti di tepi batu yang cukup tinggi dan licin, yang mungkin bisa terlepas jika aku salah berpijak. Sialnya, aku harus berdiam diri di sini karena tidak ada jalan selain melompat ke bebatuan lain. Sedang posisiku sekarang berada di tepian sungai di ketinggian 8 meter. Jantungku berdebar kencang karena pijakan kakiku ini merupakan batu yang tidak begitu lebar, sedangkan aliran sungainya sangat deras di bawah sana. Bisa kupastikan aku akan terseret arus dan aku tidak tahu kesialan apa lagi yang lebih buruk.

Setelah membatin cukup lama, aku melihat pepohonan ternyata tidak lagi terkena sinar matahari.

"Sial sudah hampir gelap", begitu kataku.

Sepertinya aku harus menggunakan tali jika ingin menyeberang ke batu sebelah, tapi aku tidak membawa apa-apa kecuali tas kecil yang menggantung di pundakku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke tenda dan tidak bisa memaksakan keadaan. Kecewa? Sudah pasti. Sebab aku belum bisa memecahkan rasa penasaranku. Tapi tidak apa-apa, belum rezeki sepertinya.

Setibanya di tenda, aku tertawa sendiri menutupi rasa kecewa dan menceritakan pada teman-temanku bagaimana jalur menuju air terjun cantik yang teramat susah itu. Spontan mereka tertawa.

"Untung aku nggak ikut", kata mereka mengejek.

Akhirnya malam datang dan suhu udara sudah terasa dingin. Aku bergegas mengganti pakaianku yang basah karena menyeberangi sungai tadi dan aku bahkan sempat terpeleset di batu licin. Setelah itu aku memasak ransum untuk tim dan tidur, tentunya setelah melaksanakan agenda ngopi malam.

Pos 2 Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan

-Kakituli-



0 Comments

Be the first to comment.