LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Satu Sungai Tiga Air Terjun

dya-iganov

On

Nama Kecamatan Cikatomas mungkin sudah dikenal oleh sebagian orang sebagai lokasi dari niagara mini dari Selatan Tasikmalaya. Siapa sangka, potensi wisata di Kecamatan Cikatomas masih banyak yang belum terkespose, salah satunya yang berada di Desa Linggalaksana. Potensi objek wisata berupa tiga tingkatan air tejun dari satu aliran sungai yang sama yang sampai saat ini masih merupakan wisata lokal. Aliran Sungai Ciwatin mengalir dari Desa Pakemitan hingga ke Desa Linggalaksana dan kemudian menyatu dengan aliran utama Sungai Ciwulan hingga bermuara di pesisir Tasikmalaya, yaitu di Kecamatan Cikalong. Sepanjang aliran Sungai Ciwatin, tepatnya di Desa Linggalaksana memiliki tiga aliran air terjun, yang masing-masing bernama Curug Koja di tingkatan paling atas, Curug Cibakom di tingkatan kedua, dan Curug Ciwatin di tingkatan ketiga. Meskipun berada dalam satu aliran sungai yang sama, tetapi karakteristik dan morfologi ketiga air terjun ini memiliki ciri khas sendiri, baik dari segi aliran air, morfologi jatuhan air terjun, morfologi dinding air terjun, hingga area dan medan trekking masing-masing air terjun.

Akses menuju ketiga air terjun ini dapat dibilang lebih mudah dibandingkan dengan yang menuju Curug Dengdeng yang berada di perbatasan Kecamatan Cikatomas denga Kecamatan Pancatengah. Titik awal dapat diambil dari Kota Tasik, baik bagi yang datang dari arah Bandung, Jakarta, Garut, Majalengka, dan sekitarnya. Dari Kota Tasikmalaya, pertama-tama ambil arah menuju Cipatujah hingga patokan kedua, yaitu alun-alaun Kecamatan Sukaraja dan Polsek Sukaraja. Kondisi jalan dari Kota Tasikmalaya hingga Kecamatan Sukaraja sudah cukup baik dan akan sedikit terhambat di sekitar Kecamatan Kawalu, tepatnya di sepanjang jalan utama menuju arah Selatan. Hambatan lalu lintas umumnya disebabkan banyaknya area pertokoan dengan jalan yang cukup sempit dan lahan parkir yang tidak memadai. Sora hari menjelang malam, lalu lintas akan bertambah padat dengan banyaknya truk pengangkut kayu atau pasir yang melintas di sini. Selepas Kecamatan Kawalu, tepatnya memasuki Desa Urug, arus lalu lintas akan kembali sepi dan jalan mulai berkelok-kelok. Desa Urug ini merupakan salah satu lokasi pengumpulan kayu sehingga bila menjelang malam akan cukup banyak truk yang melintas ataupun yang melakukan bongkar muat di sepanjang jalur ini. Selain itu, di Urug ini juga terdapat objek wisata Urug yang sebagian besar lebih banyak dikhususkan bagi penggemar offroad.

Memasuki Kecamatan Sukapura, akan ditemui papan penunjuk arah menuju Kecamatan Cikatomas dan Salopa, tetapi jalan yang lebih banyak digunakan adalah jalan yang berada setelah alun-alun Kecamatan Sukapura. Tidak jauh dari alun-alun dan Polsek Kecamatan Sukapura, tepatnya setelah menyeberangi jembatan yang cukup lebar, akan ada pertigaan. Papan penunjuk arah akan menunjukan Kecamatan Salopa dan Cikalong, serta ada papan penunjuk menuju Objek Wisata Danau Lemona, sebaiknya ambil jalur ini menuju Kecamatan Cikatomas. Jalan akan sedikit lebih kecil namun kondisinya masih cukup baik. Jalan ini akan melewati Kecamatan Jatiwaras. Tepat di perbatasan Kecamatan Jatiwaras dengan Kecamatan Salopa akan banyak lubang kecil namun cukup dalam di sepanjang jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Tidak ada penerangan jalan di sepanjang jalur ini kecuali di pusat-pusat kota kecamatan yang akan sangat sepi menjelang malam. Arus lalu lintas di jalur ini akan lebih didominasi oleh bus kecil dan truk pada sore hari. Kecamatan Salopa, Cikatomas, Pancatengah memang dikhususkan sebagai lahan budidaya pertanian dan pertambangan, sehingga di sepanjang jalur ini akan banyak ditemui perkebunan baik milik pemerintah, swasta, ataupun warga, tambang galian tipe C, serta beberapa areal sawah. Guna lahan ini akan berpengaruh terhadap karakteristik lalu lintas yang pada umumnya akan lebih banyak dilalui oleh truk pengangkut barang. Selanjutnya karaktersitik lalu lintas akan sangat berpengaruh terhadap kondisi dan kualitas jalan. Hal ini cukup penting sebagai acuan dasar bagi yang pertama kali bepergian ke tempat-tempat yang cukup jauh dan asing sebelumnya sebagai antisipasi dan mempersiapkan kondisi kendaraan. Untungnya, di sepanjang jalur Jatiwaras – Cikatomas sudah cukup baik, sehingga bila menggunakan mobil jenis mini bus pun masih bisa.

Rute yang dilalui setelah Kecamatan Sukapura yaitu Kecamatan Jatiwaras – Kecamatan Salopa – Kecamatan Cikatomas. Di jalur ini hanya ada satu persimpangan yang menuju Kecamatan Manonjaya melalui Kecamatan Gunungtanjung di dekar Polsek Salopa. Selebihnya, hanya ada satu jalur besar, sehingga rutenya tidak terlalu sulit. Ikuti jalan utama hingga tiba di Kecamatan Cikatomas. Tepat setelah alun-alun Kecamatan Cikatomas, ambil jalan di kanan menuju Desa Linggalaksana. Bila bingung, tanyakan saja pada warga sekitar jalur menuju Desa Linggalaksana. Kondisi jalan menuju Desa Linggalaksana sangat baik dan medan yang harus dilalui berupa turunan hingga tepat memasuki Desa Linggalaksana. Jalan akan terus turun hingga akhirnya berakhir di sebuah tanjakan sekaligus pertigaan. Di titik inilah jalur menuju Curug Ciwatin dengan Curug Koja dan Curug Cibakom berbeda.

Curug Koja dan Curug Cibakom

Selepas turunan panjang yang berakhir pada sebuah tanjakan sekaligus pertigaan, ambil jalan di kiri tanjakan. Jalannya merupakan jalan desa dengan kondisi aspal yang sedikit lebih jelek dibandingkan aspal di jalan utama Desa Linggalaksana. Ikuti terus jalannya hingga tiba di gapura. Setalah gapura akan ada percabangan. Di kanan percabangan akan ada sebuah SD, ambil jalan yang sebelah kiri setelah melewati gapura. Setelah belok ke arah kiri, kondisi jalan akan semakin menyempit tetapi akan berubah menjadi jalan beton yang cukup untuk satu buah mobil dengan medan yang menanjak. Dari jalan ini disarankan untuk bertanya lokasi dan patokan menuju Curug Koja dan Curug Cibakom karena tidaka da patokan ataupun papan penunjuk menuju Curug Koja dan Curug Cibakom. Sekitar 3 dusun dari pertigaan setelah gapura, akan ada rumah dengan cat warna hijau di kanan jalan dan di seberangnya ada Musholla, disinilah perjalanan menggunakan kendaraan berakhir. Selain bertanya pada warga, sebaiknya setelah menemui lokasi jalan masuk ke Curug Koja, minta izinlah pada waga untuk menitipkan kendaraan, karena memang tidak ada lahan parkir dan dusunnya cukup sepi. Pada pagi hingga siang hari sebagian besar warga di dusun ini pergi ke kebun sehingga akan cukup berisiko jika tidak menitipkan dan meminta izin pada warga untuk menyimpan kendaraan.

Curug Koja

Jalan menuju Curug Koja dari dusun ini akan melewati kebun milik warga, sebaiknya diantar oleh warga agar perjalanan lebih aman dan lebih cepat, karena di dalam kebun masih harus mencari jalur dan sedikit membuka jalur. Curug Koja ini memang belum dibuka sebagai objek wisata, sehingga akses menuju air terjun pun hanya mengandalkan jalur sehari-hari warga untuk mengangkut kayu dan hasil kebun, sehingga tidak akan nyaman dan mudah. Tepat setelah memasuki jalan setapak, ambil jalan kecil di kanan jalan yang kaan langsung turun dan akan sangat licin bila hujan. Jalan setapak kecil ini akan terus turun hingga areal sawah. Setelah jalan setapak tadi habis, ambil jalan berupa pematang sawah yang menuju pinggir tebing, jangan sampai ke tengah pematang sawah. Jalan kemudian harus sedikit melipir tebing untuk bisa menyeberang menuju jalan setapak di seberang areal sawah. Pijakan ketika melipir tebing masih tidak stabil dan cukup sempit sehingga harus berhati-hati agar tidak terperosok ke sawah dan aliran parit kecil. Setelah tiba di ujung pematang sawah, ambil jalan setapak yang akan terus menajak memutari bukit.

Kondisi jalan setapak ini jauh lebih sempit, akan sangat licin ketika hujan, tertutp semak belukar, dan beberapa ada yang longsor sehingga harus sedikit melipir. Ada juga yang tidak rata (sedikit miring) sehingga harus berhati-hati agar tidak terpeleset ke jurang. Dasar jurang yang berada di sisi kanan ini merupakan bagian atas aliran Sungai Ciwatin yang sudah jatuh menjadi Curug Cibakom. Jalan setapak akan berakhir di sebuah aliran sungai yang cukup lebar. Berikutnya kita harus sedikit menuruni tebing dan menuju ke arah sungai. Ambil arah ke hulu sungai, yang artinya harus berjalan di sungai dengan melawan arus sungai. Sungai ini merupakan Sungai Ciwatin sekaligus bagian atas Curug Cibakom. Sungai Ciwatin di bagian ini ketika kemarau atau tidak turun hujan beberapa hari rata-rata hanya akan setinggi mata kaki hingga setengah betis. Ada juga beberapa bagian yang dalam bahkan ada ditemukan juga beberapa Pothole dengan beragam ukuran kedalaman. Dasar sungai akan terlihat sangat jelas, sehingga mudah untuk memilih mana bagian sungai yang dalam, yang berjeram kuat, dan yang dangkal. Batuan dasar Sungai Ciwatin merupakan batupasir sehingga tidak terlalu licin untuk dilewati. Meskipun demikian, bila musim hujan, sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada warga apakah aman untuk menuju Curug Koja atau tidak, karena lokasinya cukup jauh dari permukiman warga dan aliran sungainya akan terus mengalir melalui areal kebun dan sawah hingga akhirnya bertemu dengan aliran utama Sungai Ciwulan yang sudah berstadia dewasa. Salah satu ciri sungai berstadia dewasa adalah sungai yang sangat lebar, arus kencang, meander berkurang, mulai ada daerah genangan, banyak aliran masuk dari anak-anak atau percabangan sungai sehingga akan semakin dalam dan akan langsung menuju muara yang umumnya menjadi habitat bagi hewan-hewan muara. Di sepanjang perjalanan menuju hulu Sungai Ciwatin menuju Curug Koja kita akan disuguhi oleh kolam-kolam kecil bewarna tosca yang sebetulnya adalah bagian dasar sungai yang lebih dalam. Karena debit Sungai Ciwatin yang kecil, sehingga bagian sungai yang sedikit lebih dalam ini akan terlihat menyerupai kolam berair tenang dan jernih, bahkan berwaran tosca dari kejauhan. Waktu tempuh yang diperlukan untuk trekking ke Curug Koja sekitar 40 menit untuk pergi dan sekitar 1 jam untuk perjalanan kembali ke Desa Linggalaksana karena medannya dominan berupa tanjakan.

Setelah berjalan menuju hulu Sungai Ciwatin selama kurang lebih 15 menit, tibalah di areal Curug Koja. Areal di sekitar Curug Koja cukup sempit, bahkan ketika airnya besar, akan cukup sulit mendapatkan areal yang tidak tergenang air. Curug Koja termsuk ke dalam tipe Block Waterfall, Segmented Waterfall dan Fan Waterfall sebagai klasifikasi dominannya. Sedangkan pada saat volume jatuhan air kecil, klasifikasi dominanya adalah Segmented Waterfall, Fan Waterfall, dan Horsetail Waterfall. Pada saat volume jatuhan airnya besar, tipe dominan di Curug Koja adalah Block Waterfall, Fan Waterfall, dan Horsetail Waterfall. Sungai Ciwatin pada aliran Curug Koja berukuran lebar, sehingga berpengaruh terhadap lebar Curug Koja. Bentuk dinding Curug Koja yang masih memiliki area landai dari bagian tengah hingga bawah sehingga menyebabkan adanya pelebaran pada jatuhan air. Lumut yang timbuh di dinding Curug Koja dari ujung tebing hingga hampir di seluruh permukaan dinding Curug Koja menjadi pembatas alami aliran jatuhan Curug Koja. Pemisahan aliran jatuhan di dinding air terjun akan terlihat sangat jelas pada saat volume jatuhannya kecil.

Curug Koja memiliki kolam yang cukup dalam dan akan berwana tosca pada saat cuaca cerah. Bagian kolam yang biasa digunakan untuk berenang adalah yang berada tepat di aliran paling kiri Curug Koja, sekaligus merupakan bagian yang memiliki volume jatuhan air terbesar. Pada saat musim kemarau, bagian inilah yang masih memiliki jatuhan air. Areal di sekeliling Curug Koja pada umumnya masih alami, meskipun sampah berupa ranting pohon, daun, bahkan beberapa sampah plastik bekas pengunjung masih akan ditemui. Masih renahnya tingkat kunjungan ke Curug Koja menjadikan sampah alami masih mendominasi areal di sekitar Curug Koja. Batu-batu yang ada di sekitar Curug Koja ada yang berupa bongkahan dan kerikil. Jenis batuan yang cukup banyak ditemukan disini adalah breksi. Batuan breksi di sekitar Curug Koja banyak ditemukan dalam bentuk bongkahan. Hal ini menunjukan bahwa pernah ada gunungapi purba di sekitar Curug Koja yang melontarkan materialnya hingga ke Curug Koja.

Curug Cibakom

Curug Cibakom merupakan air terjun tingkatan kedua. Bagian atas Curug Cibakom menjadi jalur trekking menuju Curug Koja, sehingga terdapat dua jalur menuju Cuurg Cibakom. Jalur pertama yaitu melalui jalan setapak tepat di samping bagian atas Curug Cibakom hingga ke bagian bawah Curug Cibakom. Jalurnya tidak berbeda jauh dengan kondisi dari perkebunan warga ke Sungai Ciwati, jalan setapak kecil, licin ketika hujan, turunan, dan tertutup semak belukar. Jalan setapak ini akan muncul tepat di samping Curug Cibakom, tepatnya dari aliran parit kecil di antara dinding Curug Cibakom dengan areal sawah. Jalan masuk lainnya yaitu mengambil jalan setepak tepat disamping rumah berwarna hijau di dusun. Ikuti jalan setapak hingga masuk ke kebun warga dengan medan yang berupa turunan curam dan akan berlumpur jika hujan sampai ke pematang sawah. Dari pematang sawah, ambil jalan menuju aliran sungai. Tidak ada jalan darat, sehingga untuk sampai di jalan setapak menuju Curug Cibakom harus menyeberangi sungai sebanyak dua kali.

Aliran sungai ini merupakan Sungai Ciwatin. Tidak ada jembatan untuk menyeberang, sehingga kita harus memilih pijakan berupa batuan berukuran kerikil dan kerakal di dasar sungai. Aliran Sungai Ciwatin tidak terlalu deras serta batuan di dasar sungai lebih stabil. Ketinggiannya bervariasi, dari yang semata kaki hingga sebatas betis. Sungai yang harus diseberangi tidak terlalu lebar. Setelah menyeberang dari pematang sawah ke pematang sawah lainnya. Ikuti jalan di pematang sawah ke arah hulu Sungai Ciwatin. Setelah tiba di ujung pematang sawah, seberangi lagi sungainya hingga ke jalan setapak di seberang. Setelah tiba di jalan setapak, Curug Cibakom sudah mulai terlihat. Untuk mendapatkan spot terbaik ataupun berteduh di saung, maka harus menyeberang sungai satu kali lagi. Areal di sekitar Curug Cibakom sedikit lebih terbuka dan sedikit lebih luas dibandingkan Curug Koja. Beberapa pohon dan saung yang ada di area sawah menjadi tempat yang bisa digunakan bila matahari mulai terik. Di sekitar Curug Cibakom kebanyakan sampah berupa batang kayu dan daun. Masih jarang terlihat sampah bekas pengunjung. Curug Cibakom memiliki kolam yang sedikit lebih kecil dari Curug Koja. Bagian kolam yang dalamnya pun hanya sedikit dari keseluruhan kolam Curug Cibakom. Bongkahan batu di sekitar Curug Cibakom lebih sedikit dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan yang ada di areal sekitar Curug Koja. Keunikan Curug Cibakom selain bentuknya yang lebar, adalah areal sawah di sekitarnya, sehingga memberikan kesan yang sangat alami. Waktu yang diperlukan untuk tiba di Curug Cibakom dari jalur yang berbeda dengan ke Curug Koja sekitar 15 menit pergi dan seitar 40 menit untuk kembali ke desa karena medannya berupa tanjakan.

Curug Cibakom memiliki klasifikasi dominan Block Waterfall, Slide Waterfall, Fan Waterfall, dan Horsetail Waterfall. Bentuk dinding Curug Cibakom memberikan kesan yang lebih ‘kasar’ dibandingkan Curug Koja yang batuan dinding air terjunnya meberikan kesan ‘licin’ dan ‘mengkilap’. Dengan adanya rongga pada batuan penyusun dinding Curug Cibakom, bila volume jatuhan airnya sedang kecil, dapat memanjat hingga permukaan yang sedikit datar. Bentuk dinding Curug Cibakom cukup lebar, karena memang lintasan aliran Sungai Ciwatin yang lebar. Bentuk dinding air terjun Cibakom semakin lebar pada bagian bawahnya. Jatuhan air terjunnya terus menerus memberikan kontak pada permukaan dinding air terjun yang tidak terlalu vertikal, tetapi memiliki kemiringan, berbeda denga Curug Koja yang setengah dinding air terjunnya vertikal dan setengahnya lagi sedikit melandai. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Curug Cibakom adalah pagi dan sore hari, karena bila siang hari akan cukup sulit mengambil gambar. Selain itu, areal di sekitar Curug Cibakom cukup terbuka.

Curug Ciwatin

Jalur menuju Curug Ciwatin sedikit berbeda dari kedua aliran air terjun sebelumnya. Dari alun-alun Kecamatan Cikatomas, ambil jalan setelah alun-alun di kanan jalan. Ikuti terus jalan hingga Kantor Desa Linggalaksana dengan medan yang berupa turunan dengan kondisi yang baik. Tepat di ujung jalan yang sekaligus tanjakan dan peritgaan, ikuti jalan utama (ke arah kanan) hingga ke pertigaan besar dengan jembatan besar diatas Sungai Ciwulan. Ambil jalan ke arah kantor Desa Linggalaksana, bukan yang ke arah jembatan. Setelah tiba di depan kantor desa Linggalaksana, ikuti terus jalan hingga tiba di samping Sungai Ciwulan. Kondisi jalan setelah kantor Desa Linggalaksana akan sedikit lebih kecil dan dibeton tanpa lapisan aspal. Kondisi jalan yang sudah cukup baik dan patokan yang tidak terlalu sulit ini menjadikan akses menuju Curug Ciwatin menjadi lebih mudah dijangkau dibandingkan Curug Koja dan Curug Cibakom.

Ikuti jalan dari depan kantor Desa Linggalaksana hingga jembatan. Simpan motor di samping jembatan, setelah itu ikuti jalan setapak kecil melalui kebun warga di samping jembatan. Jalan setapak kecil di samping jembatan inilah akses masuk menuju Curug Ciwatin. Tidak ada areal parkir, tidak ada penanda ataupun petunjuk lokasi Curug Ciwatin, sedikit jauh dari permukiman penduduk, sehingga perlu berhati-hati menyimpan kendaraan dan tidak menghambat pengguna jalan lainnya. Trekking menuju Curug Ciwatin merupakan yang tersingkat dan termudah. Hanya perlu sekitar 10 menit untuk tiba tepat di depan Curug Ciwatin. Areal di sekitar Curug Ciwatin jauh lebih luas dan lebih terbuka dibandingkan Curug Koja dan Curug Cibakom. Areal di sekitar Curug Ciwatin sudah bukan berupa tumpukan batu kerikil, batu berukuran bongkahan, ataupun tumpukan kayu dan sawah, tetapi berupa areal cukup datar dengan semak belukar yang pendek.

Akses dan kondisi di sekitar Curug Ciwatin yang jauh lebih mudah dijangkau dan nyaman membuat Curug Ciwatin memiliki potensi lebih besar untuk dikembangakan sebagai objek wisata andalan di Desa Linggalaksana. Meskipun dari segi bentuk air terjun, Curug Ciwatin merupakan yang terpendek dan tidak selebar kedua air terjun lainnya, tapi Curug Ciwatin memiliki daya tarik tersendiri, yaitu kolamnya yang lebih luas dan airnya yang sangat tenang dan jernih. Bila volume jatuhan air sedang kecil, maka air kolam akan sangat jernih, tapi jika volume jatuhan air besar, maka warna air kolam akan menajdi sedikit berwarna tosca terang. Bila sore hari, akan banyak anak kecil warga setempat yang berenang di sini, jadi air terjun ketiga ini bisa dibilang yang paling ramai dikunjungi oleh warga lokal.

Curug Ciwatin memiliki kalsifikasi dominan sebagai air terjun bertipe Slide Waterfall, Horsetail Waterfall, dan Block Waterfall. Dinding air terjun pada Curug Ciwatin cukup landai dengan jatuhan air yang terus mempertahankan kontak dengan dinding air terjun. Kebanyakan anak-anak yang tinggal di sekitar sini berenang dan sesekali melompat dari ujung dinding air terjun terendah ke dalam kolam yang memang cukup dalam dan bersih dari batu-batu berukuran bongkahan. Batu yang ada di sini hampir semuanya berupa kerikil dan kerakal. Aliran Sungai Ciwatin setelah keluar dari kolam Curug Ciwatin memiliki beberapa cekungan berarus tenang, sehingga menjadi seperti kolam-kolam kecil di tengah sungai. Aliran Sungai Ciwatin setelah keluar dari kolam Curug Ciwatin memiliki lintasan yang tidak terlalu panjang hingga bertemu dengan aliran utama Sungai Ciwulan. Tepat setelah jembatan arus dari Sungai Ciwulan akan masuk ke aliran Sungai Ciwatin dan bertabrakan dengan arus Sungai Ciwatin yang akan masuk ke aliran utama Sungai Ciwulan. Daerah ini cukup berbahaya, sehingga tidak disarankan untuk bermain dekat mulut pertemuan anak sungai dengan sungai induk.

Kecamatan Cikatomas merupakan bagian ujung dari deretan perbukitan di Tasikmalaya Selatan yang berbatasan dengan wilayah pesisir, sehingga, meskipun berada di perbukitan, tapi curah hujan dan suhu udara di sini terkadang hampir mirip dengan karakteristik pesisir. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Curug Koja dan Curug Cibakom adalah pada saat akhir musim hujan awal peralihan musim hujan ke musim kemarau. Cuaca yang tidak dapat diprediksi mengharuskan kita lebih jeli dan peka terhadap kondisi cuaca di daerah sekitar lokasi air terjun. Hal ini mengingat medan trekking kedua air terjun ini yang harus menyususri sungai ke arah hulu yang akan cukup berbahaya jika debitnya sedang besar atau tiba-tiba ada air bah. Curug Ciwatin sendiri, cocok dikunjungi pada musim apapun, karena memang yang menjadi daya tarik Curug Ciwatin selain bentuk air terjunnya, ada kolam berair jernih yang dapat membayar perjalanan jauh menuju Curug Ciwatin. Ketiga air terjun ini masih belum dikelola oleh siappun, bahkan warga pun tidak ada yang secara khusus mengelola. Beberapa pendapat mengatakan bahwa keberadaan ketiga air terjun ini sebaiknya tetap apa adanya karena dikhawatirkan kebersihannya akan berkurang seiring meningkatnya jumlah pengunjung. Di sisi lain, dari segi pendapatan dan promosi daerah, tempat seperti inilah yang banyak dicari untuk pengembangan daerahnya.

Kecamatan Cikatomas dan Desa Linggalaksana

Desa Linggalaksana merupakan satu dari sembilan desa yang berada di Kecamatan Cikatomas dengan luas sekitar 875,509 Ha. Kecamatan Cikatomas berada pada pada ketinggian 360 m atas muka laut, sehingga suhu udara dan iklim disini sudah merupakan peralihan dari perbukitan dengan pesisir. Luas Kecamatan Cikatomas sekitar 15.032,83 Ha yang sebagian besar lahannya didominasi peruntukan hutan (4.244,665 Ha), lahan terbangun (3.625,480 Ha), dan padang rumput/pengangonan (2.004,241 Ha). Sebagian besar penduduk di Kecamatan Cikatomas memiliki mata pencaharian sebagai buruh tani (31.346 orang).

Sumber Lainnya:

https://anirahma.wordpress.com/2010/01/31/cikatomas/

CURUG KOJA



0 Comments

Be the first to comment.