LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Rawa Gede Kecamatan Tanggeung

dya-iganov

On

Situ Rawa Gede merupakan salah satu danau yang berada di Kabupaten Cianjur. Situ Rawa Gede terletak di Desa Rawagede, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Untuk mencapai lokasi danau, ada beberapa akses yang dapat dilalui, diantaranya:

Melalui Jalur Cianjur-Sukanagara-Takokak-Kadupandak-Cijati-Rawagede

Jalur Utama Rancabali-Sinumbra-Cipelah-Pasirkuda-Tanggeung

Rancabali-Cibuni-Balegede-Naringgul-Malati-Cidaun-Sindangbarang-Cikadu-Cibinong-Tanggeung

Sukabumi-Baros-Purabaya-Pabuaran-Cijati-Tanggeung

Sebenarnya masih banyak ruas jalan yang dapat dijadikan akes masuk menuju Situ Rawa Gede, tetapi karena kondisi jalannya yang tidak bagus dengan fungsi jalannya yang berupa jalan kolektor sekunder dibawah wewenang pemerintah Kabupaten Cianjur, bahkan lokal primer.

Rute pergi yang dibahas kali ini adalah Rancabali melalui Cipelah dan Pasirkuda. Di butuhkan waktu kurang lebih dua jam hingga memasuki Kecamatan Pasirkuda dengan melewati berbagai jenis kondisi jalan. Jalur yang dilalui pertama-tama setelah memasuki Kecamatan Rancabali yaitu mengambil yang menuju areal perkebunan teh PTPN VIII Perkebunan Sinumbra. Medan yang dilalui sepanjang jalur ini cukup beragam, dimulai dengan kondisi jalan dengan aspal yang cukup baik hingga baik pada awal jalur, tepatnya sepanjang kawasan permukiman hingga percabangan pabrik teh Sinumbra dengan arah yang menuju Desa Cipelah. Pada ruas jalan ini, kondisi jalan berliku-liku dan berupa turunan memiliki aspal yang cukup baik dengan pemandangan yang cukup indah hingga memasuki kawasan permukiman dan pabrik Perkebunan Sinumbra. Begitu memasuki kawasan permukiman Perkebunan Sinumbra, kondisi jalan sebagian berupa aspal yang sudah mengelupas di bagian atasnya tetapi sudah mulai datar, tidak ada lagi tikungan tajam ataupun turunan curam. Keluar dari kawasan permukiman, kondisi jalan semakin memburuk, lubang cukup dalam dan lebar dengan batu-batu kerikil berukuran sedang memenuhi hampir semua bagian jalan, sehingga pengguna kendaraan yang melintas di sini harus berhati-hati agar tidak terjatuh ataupun bertabrakan dengan kendaraan lainnya ketika menghindari lubang. Kondisi tersebut akan semakin diperparah dengan kabut cukup tebal yang sering turun ketika menjelang sore, hujan (curah hujan di daerah ini cukup tinggi), serta tidak adanya penerangan jalan. Dengan kondisi tersebut, tidak di sarankan untuk melintasi jalur ini setelah hari gelap.

Kondisi jalan setelah keluar dari areal perkebunan Sinumbra didominasi oleh turunan dengan kondisi aspal yang semakin memburuk, bahkan ketika hampir memasuki blok 22 hingga memasuki Desa Cipelah, aspal sudah menghilang dan kondisi jalan digantikan dengan jalan berbatu yang ketika hujan akan menjadi sangat licin. Ketika hujan, selain menjadi sangat licin, ruas jalan ini pun akan dipenuhi dengan genangan air, sehingga menutup lubang. Hal ini, tentu akan sangat berbahaya, terlebih ketika hari sudah mulai gelap. Selain kondisi jalan yang rawan, sepanjang jalan selepas permukiman Perkebunan Sinumbra pun sudah sangat jarang di temui rumah-rumah penduduk, jarak desa terdekat pun cukup jauh dari jalan utama. Permukiman penduduk baru akan ditemui kembali ketika memasuki Desa Cipelah. Perjalanan melalui jalur ini akan melewati areal perkebunan teh Sinumbra, menyusuri lereng perbukitan dengan jurang yang cukup dalam, menyeberangi aliran sungai yang cukup deras, jalan yang kondisinya semakin memburuk, kabut tebal yang sering turun, jalanan yang sepi ketika menjelang sore hari. Dengan kondisi demikian, tidak heran jika jalur ini masih sangat sepi dan tidak banyak diketahui oleh orang banyak. Padahal, jalur ini bisa saja menjadi jalur alternatif penghubung antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur, khususnya yang berada di tengah, bukan di pesisir Selatan ataupun Cianjur kota.

Memasuki Desa Cipelah, desa yang yang menjadi pusat kegiatan lokal di areal perkebunan Sinumbra bukan berarti kondisi jalan ataupun fasilitas kelengkapan jalan lainnya dan juga kondisi permukimannya menjadi lebih baik. Desa Cipelah sendiri hanya merupakan desa kecil tepat di lereng Gunung Gedongan dan juga jejeran perbukitan Zona Pegunungan Selatan. Letak geografis Desa Cipelah di dukung oleh kondisi lapisan tanah dan batuan yang menurut beberapa ahli kurang cocok untuk dibangun jalan seperti yang ada sekarang ini. Hal ini dapat dilihat dari kondisi jalan utama penghubung Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur yang berupa turunan sangat curam dengan perkerasan jalan berupa batuan licin dan mudah lepas hingga ke dasar lereng tanpa sarana kelengkapan jalan seperti lampu jalan, pembatas jalan dengan jurang, rambu-rambu, cermin cembung, dan yang terpenting, kondisi jalannya sendiri sangat tidak layak untuk dilalui, bahkan untuk kendaraan roda dua.

Setelah melewati turunan curam hingga ke dasar lereng, jalanan kemudian akan kembali menanjak. Tanjakan tersebut dikombinasikan dengan batu yang cukup besar dan licin ketika musim hujan serta lubang cukup dalam sehingga menyulitkan semua pengguna jalan. Kendala lainnya, masih sama dengan di Perkebunan Sinumbra, yaitu kabut tebal yang sering turun ketika sore hari, curah hujan yang cukup tinggi terutama setelah jam satu siang, tidak adanya penerangan jalan, jarangnya rumah warga, serta tepian jalan yang langsung jurang berupa lahan sawah penduduk dan gawir-gawir saluran irigasi yang cukup dalam. Kondisi jalanan yang cukup sulit ini akan sedikit teralihkan dengan pemandangan yang sangat indah sepanjang perjalanan. Bila cuaca sedang bagus, terutama pada musim hujan, maka akan terlihat tebing-tebing yang curam dengan beberapa aliran air terjun permanen dan non permanen menghiasinya, beberapa di antaranya adalah Curug Cipelah, Curug Cisabuk, Curug Ngebul, Curug Citambur, Curug Bidadari, dan beberapa air terjun non permanen yang memang tidak atau belum diberi nama. Selain air terjun, di sekitar areal ini juga cukup banyak ditemui danau-danau kecil ataupun rawa, yang hampir semuanya diberi nama dengan awalan ‘Rawa’. Beberapa di antara danau ini ada yang dimanfaatkan sebagai objek wisata, budidaya ikan, sumber air, bahkan didiamkan saja tanpa dimanfaatkan selain untuk pengairan lahan pertanian. Kondisi jalan tidak mengalami perubahan, bahkan tepat di perbatasan Desa Cipelah dengan Desa Cisabuk ada tiga turunan (bila datang dari arah Rancabali-Cipelah) yang sangat curam dengan kondisi yang sangat tidak layak untuk dilalui. Secara umum, ketiganya berupa turunan yang sangat curam, cukup panjang, bahkan satu disertai dengan tikungan tajam. Kondisi ini diperparah dengan perkerasan jalan yang seluruhnya berupa batuan cukup besar, licin bila hujan, berlubang di sebagian besar permukaan jalan, cukup sempit, tidak ada penerangan ketika gelap, tepian jalan langsung berupa jurang yang cukup dalam.

Salah satu dari turunan tersebut di beri nama ‘Tanjakan Puspa’ oleh warga setempat. Tidak ada penjelasan resmi mengenai pemberian nama “Tanjakan Puspa”. Nama “Tanjakaan Puspa” bukan merupakan nama resmi pemberian pemerintah setempat. Salah satu alasan pemberian nama tersebut, karena dulu di sepanjang tanjakan tersebut, bahkan hingga di jurangnya banyak sekali ditemui tumbuhan puspa.

Dibalik kondisi jalan yang cukup ekstrim, pemandangan di sepanjang jalur ini hingga memasuki perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur didominasi oleh tebing curam yang merupakan bagian paling ujung dari tebing yang sama dengan sebagian besar Perkebunan Sinumbra di sisi Selatan dan tebing yang merupakan bagian dari Gunung Gedongan di sisi Utara, sekaligus juga merupakan bagian dari Perkebunan teh Citambur. Ada beberapa ELF dengan jurusan Sukanagara, Cipelah, Cijati yang lewat di jalur ini, tetapi tidak terlalu banyak dan akan sangat jarang ditemui bila sudah menjelang sore. Truk pengangkut kayu merupakan kendaraan pengangkut barang yang paling dominan di jalur ini. Truk tersebut pada pagi hingga sore hari mengangkut barang dari dan ke arah Kecamatan Pasirkuda, tetapi bila sudah menjelang malam, hampir jarang di temui truk yang beroperasi, terutama yang menuju Kecamatan Pasirkuda. Kalaupun ada truk yang melintas pada malam hari, hanya untuk berhenti.

Memasuki Kabupaten Cianjur, kondisi jalan akan menjadi sangat jauh berbeda. Jalan yang sebelumnya merupakan batu-batuan yang cukup besar di tambah dengan tanjakan dan turunan curam akan berubah menjadi tanjakan dan turunan curam dipadukan dengan tikungan tajam tetapi dengan kondisi jalan yang cukup baik. Kondisi jalan sepanjang Kecamatan Pasirkuda-Kecamatan Tanggeung dapat dikatakan cukup baik, bahkan sangat baik mengingat lokasi dan klasifikasi jalannya yang termasuk jalan Arteri Primer dan Arteri Sekunder dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang di dominasi oleh karakteristik lalu lintas lokal. Kondis jalan dengan aspal yang baik bukan berarti tingkat keamanannya diabaikan. Kondisi jalan yang mulus menutupi sulitnya tanjakan dan turunan yang dipadukan dengan tikungan tajam dengan jurang dan tebing yang rawan longsor pada ke dua sisi jalan yang minim penerangan dan sarana kelengkapan lainnya. Apabila tidak cukup hati-hati bukan tidak mungkin kendaraan akan jatuh ke jurang yang berupa areal sawah, aliran sungai yang cukup deras, bahkan rawa.

Kondisi jalan akan relatif cukup baik sampai di pertigaan Tanggeung-Sukanagara. Terdapat papan penunjuk arah di pertigaan ini dengan keterangan Sindangbarang 23 Km dan Cianjur 79 Km, ambil arah menuju Sindangbarang. Kondisi jalan dari pertigaan hingga ke pertigaan Kadupandak-Sindangbarang-Tanggeung cukup baik dengan tikungan yang tajam, tetapi sudah tidak akan ditemui tanjakan dan turunan curam. Kondisi lalu lintas di jalur ini apabila pagi hingga sore cukup ramai. Jalur ini berfungsi sebagai jalur utama penghubung Kota Cianjur dengan Kecamatan Sindangbarang di pesisir Selatan, sehingga angkutan umum, dalam hal ini ELF, melintas di jalur ini selama 24 jam dengan berbagai jurusan. Selain kendaraan umum, ada juga kendaraan pengangkut barang, yang paling dominan di jalur ini adalah truk pengangkut hasil hutan (kayu) karena sebagian besar wilayah hutan, terutama di daerah Sukanagara dan Pagelaran merupakan kawasan hutan produksi serta terdapat tempat pengumpulan hasil penebangan kayu di Kecamatan Pagelaran. Truk pengangkut kayu paling banyak beroperasi pada siang hingga larut malam. Truk pengangkut hasil kebun, dalam hal ini perkebunan teh yang tersebar di Kecamatan Campaka, Sukanagara, serta Pagelaran beroperasi terutama pagi hingga sore hari. Selain itu, lalu lintas lokal yang didominasi oleh angkutan antara desa, angkutan kota, sepeda motor, serta pick up akan cukup ramai pada pagi menjelang siang hingga sore hari. Hanya terdapat 2 SPBU, yaitu di Kecamatan Pagelaran dan di Kecamatan Tanggeung, selebihnya hanya pedagang bensin eceran yang cukup sulit didapatkan pada malam hari, begitu pula dengan tambal ban.

Pertigaan menuju Situ Rawa Gede tidak terlalu sulit, pertigaan yang di maksud ialah pertigaan pertama setelah SPBU di Kecamatan Tanggeung. Pertigaan tersebut menuju ke Cukanggaleuh, Cijati, dan Kadupandak. Ikuti jalur tersebut menyusuri tebing Gunung Bengbreng di sisi kiri, serta jurang dengan pemandangan dasar jurang berupa Sungai Cibuni yang sudah mulai menunjukan Meander serta stadia dewasa di sisi kanan. Pada musim hujan, kabut akan turun lebih cepat. Daerah ini masih termasuk daerah dengan curah hujan cukup tinggi. Rata-rata, di atas jam dua belas siang sudah tidak ada sinar matahari. Kondisi jalan kembali menjadi tidak terlalu baik dengan lubang dan batu-batu yang sudah lepas menjadi kondisi jalan utama menuju Situ Rawa Gede. Medan jalannya sendiri, tidak terlalu sulit, tidak ada lagi tikungan tajam serta tanjakan-turunan curam dan panjang seperti yang banyak di temui di Kecamatan Pasirkuda, hanya saja, bila hujan, pada beberapa titik jalan akan menjadi cukup licin karena adanya tanah merah di permukaan jalan. Dari awal pertigaan hingga dekat Situ Rawa Gede akan cukup jarang ditemui rumah penduduk, di kanan dan kiri jalan didominasi oleh perkebunan serta tebing Gunung Bengbreng dan juga tidak terdapat penerangan jalan, sehingga pada malam hari kondisi jalanan akan sangat gelap dan cukup rawan. Sebagai tambahan, jalur Cianjur-Sindangbarang, terutama dimulai dari Kecamatan Campaka hingga desa Cikadu merupakan daerah yang rawan tindak kriminal pada malam hari. Pada malam hari, tepatnya di atas pukul 18.00 sudah hampir tidak ada sepeda motor ataupun kendaraan pribadi lain yang melintas, hanya ada beberapa ELF yang kebanyakan dari arah Kota Cianjur, serta beberapa truk dari berbagai daerah pada kedua arah. Kegiatan masyarakat yang ada pun hanya rumah makan yang ada di Kecamatan Tanggeung, Pagelaran, dan Sukanagara, beberapa tambal ban dan vulkanisir ban. Untuk mengisi bahan bakar, dapat dicoba di tempat vulkanisir ban dan hanya sedikit penjual bahan bakar eceran yang buka hingga di atas pukul 20.00 selain di Kecamatan Cibinong, Tanggeung, Sukanagara, serta Cibeber. Oleh karena itu, apabila pertama kali melintas di jalur ini, disarankan untuk tidak melintas di atas pukul 18.00 atau setidaknya tidak melintas sendiri.

Situ Rawa Gede merupakan salah satu sumber air permukaan yang ada di Kabupaten Cianjur, Situ Rawa Gede berada di wilayah administrasi Kecamatan Tanggeung yang merupakan daerah resapan rendah dan sedang. Situ Rawa Gede memiliki luas 4 Ha dan merupakan salah satu potensi air permukaan yang sebagian dimanfaatkan untuk pengairan sawah dan mengalir ke Sungai Cikawung. Lokasi Situ Rawa Gede cukup tersembunyi, tidak seperti situ-situ yang sudah menjadi objek tujuan wisata yang dikelola seperti Situ Patenggang di Kabupaten Bandung, Situ Cibeureum dan Situ Gede di Kabupaten Tasikmalaya, Situ Buleud di Kota Purwakarta dan situ lainnya. Letak Situ Rawa Gede sedikit lebih tingga dari permukaan jalan dan berada di belakang permukiman. Selain Situ Rawa Gede, sebenarnya beberapa meter sebelum lokasi Situ Rawa Gede, ada juga Rawa Tande, tetapi luas dan volume airya jauh lebih kecil dari Situ Rawa Gede. Rawa Tande lebih di manfaatkan sebagai pengairan dan areal peternakan ayam. Lokasi Situ Rawa Gede berada tepat di tepi tebing Gunung Bengbreng dan sekelilingnya masih berupa hutan dan lahan perkebunan, jarang di temui permukiman penduduk selain beberapa rumah yang berada tepat di depan Rawa Tande dan Situ Rawa Gede.

Pada musim kemarau, di pinggir Situ Rawa Gede akan ditumbuhi oleh tumbuhan Eceng Gondok tetapi airnya tidak akan sampai surut dan tidak menjadi kecoklatan. Kondisi beton di sepanjang Situ Rawa Gede sebagian besar kondisinya sudah tidak terlalu baik, bahkan banyak sampah daun dan plastik berserakan, beton dan beberapa bagian dari saluran air yang tidak berfungsi. Terdapat jembatan sekaligus dermaga sederhana yang terbuat dari bambu yang kondisinya sudah sangat tidak layak untuk digunakan. Dermaga ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai dermaga pada umumnya. Dermaga ini hanya terbuat dari 3 buah bambu yang diikatkan seadanya dan sudah sangat rapuh. Dermaga ini dibuat dengan tujuan agar rakit-rakit yang biasa di gunakan oleh para nelayan dapat bersandar. Selain dermaga terdapat juga saung kecil yang kondisinya juga sudah tidak layak. Tiang-tiang penyangga saung tersebut sudah cukup rapuh, tidak ada penerangan. Suasana di sekitar Situ Rawa Gede cukup sejuk, tenang karena jauh dari jalan utama.

Tidak banyak yang dapat dilakukan di Situ Rawa Gede pada hari-hari kerja, karena kebanyakan warga datang ke Situ Rawa Gede pada hari Minggu, meskipun tidak terlalu ramai dan hanya merupakan warga sekitar. Kondisi Situ Rawa Gede cukup tidak terurus dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal apabila dikelola lagi, tidak menutup kemungkinan Situ Rawa Gede menjadi daerah tujuan wisata alternatif selain untuk keperluan pengairan daerah setempat.

Rute pulang yang diambil yaitu melalui jalur utama Kecamatan Sindangbarang-Kota Cianjur. Jalur yang dilalui kondisi jalannya sudah cukup bagus, sudah dilakukan perbaikan jalan, terutama sepanjang Kecamatan Pagelaran – Kecamatan Campaka. Sebelum perbaikan jalan, kondisi jalannya berlubang dan hampir terdapat di seluruh permukaan jalan. Lubang yang ada tidak terlalu besar tetapi cukup dalam dan cukup membahayakan pengguna jalan, terutama pada malam hari. Daerah tertinggi pada jalur ini terdapat tepat di Perkebunan Teh Sukanagara, suhu udara di sini pada malam hari akan menjadi sangat dingin ditambah dengan kabut tebal yang sering turun. Jalur sepanjang Tanggeung-Pagelaran juga merupakan jalur yang berada di daerah yang cukup tinggi dengan tikungan tajam, jalan sempit, tebing batu yang rawan longsor di sisi jalan dan jurang yang sangat dalam dengan aliran Sungai Cibuni dan bebatuan sungai yang sangat besar di sisi jalan lainnya. Kondisi ini diperparah dengan turunnya kabut, lalu lintas truk pada malam hari pada ke dua arah, tidak adanya penerangan dan pembatas jalan, serta jarangnya permukiman penduduk. Beberapa faktor tersebut menjadikan jalur ini daerah yang rawan kecelakaan dan juga rawan tindak kriminal.

CATATAN PERJALANAN

RUTE PERGI

Bandung – Soreang – Ciwidey – Rancabali – Perkebunan Teh Sinumbra – Desa Sukaati – Desa Cipelah – Desa Cisabuk – Kecamatan Pasirkuda – Desa Karangjaya – Kecamatan Tanggeung – Desa Rawagede – Rawa Tande – Situ Rawa Gede

RUTE PULANG

Situ Rawa Gede – Desa Rawagede – Kecamatan Tanggeung – Kecamatan Pagelaran – Perkebunan teh Pagelaran – Kecamatan Sukanagara – Kecamatan Campaka – Perkebunan teh Panyairan – Kecamatan Cibeber – Kecamatan Cilaku – Terminal Pasirhayam – Kota Cianjur – Kecamatan Ciranjang – Kecamatan Rajamandala – Cipatat – Citatah – Ciburuy- Padalarang – Cimahi – Kota Bandung

 ITINERARY

08.00-10.00 Bandung – Ciwidey

10.00-13.00 Ciwidey – Desa Karangjaya

13.00-14.00 Desa Karangjaya

14.00 – 15.00 Desa Karangjaya – Kecamatan Tanggeung

15.00-16.00 Kecamatan Tanggeung

16.00-16.30 Kecamatan Tanggeung – Situ Rawa Gede

16.30-18.00 Situ Rawa Gede

18.00-19.00 Situ Rawa Gede – Desa Gelaranyar

19.00-22.00 Kecamatan Tanggeung – Kecamatan Sukanagara

22.00-23.00 Kecamatan Sukanagara – Rajamandala

23.00-00.30 Rajamandala – Bandung

LOKASI SITU RAWA GEDE KECAMATAN TANGGEUNG



0 Comments

Be the first to comment.