LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Puncak Nenemori dan Jejak Anoa

kakituli

On

Jauh di dalam belantara hutan Pegunungan Sulawesi yang senantiasa berkabut tebal, lembab, dan lumut yang tumbuh sesuka hati di permukaan tanah hingga menggerogoti pohon kecil kokoh yang tumbuh di ketinggian 3000 meter. Pandangan kian terpana, saat langkah kaki yang terbungkus sepatu basah menyeret tubuh semakin jauh masuk ke dalam kediaman babi hutan dan anoa yang berdinding lumut tebal kemerahan di setiap sudut pandangan.

Nenemori, adalah salah satu puncak dari sederetan puncak di Pegunungan Latimojong selain Rantemario, namanya diambil dari legenda yang melekat di masyarakat Enrekang yaitu seorang nenek sakti yang mengasingkan diri ke hutan Latimojong bersama cucunya Mori dan anoa-anoa kesayangannya.

Jalur menuju Puncak Nenemori sama saja dengan jalur menuju Puncak Rantemario, Jika start point pendakian dimulai dari Desa Karangan, jalur pendakian tetap melewati pos 1 di daerah perkebunan kopi warga, kemudian pos 2 dan seterusnya hingga tiba di pos 7. Setelah jalan yang menanjak dari pos 7, akan dijumpai daerah bebatuan yang lapang dan digenangi air jika hujan turun sehingga membentuk sebuah telaga kecil yang merupakan percabangan antara Puncak Rantemario dan Puncak Nenemori.

Dari percabangan, jalur Nenemori berada di sebelah kanan dan terdapat papan kecil yang bertulisan "arah Puncak Nenemori". Sekitar 3 jam berjalan di punggungan gunung, terlihat dari kejauhan tebing batu besar berwarna hitam.

Puncak Nenemori, berada di belakang tebing batu. Namun harus diperhatikan, kurangnya tali penanda yang melekat di jalur karena jarangnya lokasi ini dieksplor oleh pendaki, tentunya harus lebih cermat dan berhati-hati saat berjalan, belum lagi tumbuhan berduri yang berada di jalur dengan senang hati merobek kulit.

Puncak Nenemori dan Jejak Anoa--Travel Feature-kakituli

Puncak Nenemori

Membawa perbekalan logistik dan air minum secukupnya karena tidak adanya sumber air sepanjang jalur menuju Puncak Nenemori, sumber air terakhir terdapat di pos 7 karena air genangan di percabangan hanya ada saat hujan turun.

Sepanjang jalur akan banyak di jumpai jejak babi hutan berupa hamburan tanah seperti tanah yang telah dicangkul dan jejak hewan anoa yang merupakan hewan endemik Pulau Sulawesi, sehingga tidak disarankan untuk mendirikan tenda di daerah ini untuk menghindari serangan babi hutan di malam hari, yang terpenting jangan lupa bawa pulang sampah!

Salam Lestari!

-Kakituli-

Mksr, 2017



0 Comments

Be the first to comment.