LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Piknik Asik di Indonesia – Antar Satu Nyawa untuk Bumi

dya-iganov

On

"Karena tempat tujuan tidak harus selalu yang sudah berupa objek wisata dan travelling tidak selalu diisi dengan foto selfi dan landscape semata. Makna sebuah perjalanan berada pada perjalanan itu sendiri"

“Antar Satu Nyawa Untuk Bumi” kira-kira itulah tagline Piknik Asik di Indonesia yang biasa disingkat PADI kali ini. Apa itu? Piknik Asik di Indonesia adalah sebutan untuk kegiatan traveling dengan menggunakan motor. Semacam touring, tapi yang satu ini cukup unik, karena medan yang ditempuh biasanya sedikit ajaib. Mulai dari jalan batu, tanah, jalur di tengah hutan, nyebrang muara, jalur di kebun teh, bahkan jalan desa tapi yang jauh dari kata mulus. Satu kesamaan dari para piknikers ini adalah semuanya menggunakan motor yang ada, bukan sengaja mempersiapkan motor untuk trail. Dengan sedikit modifikasi di beberapa bagian agar dapat digunakan dalam segala medan, kegiatan piknik seperti ini ternyata sudah menginjak tahun ke-6 tepat 10 Mei 2015 ini. Piknik kali ini bukan sembarang piknik, tetapi sekaligus untuk mengontrol kegiatan pembangunan MCK dan penyediaan air bersih di Kampung Sarijadi, Desa Cisaranten, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang sudah memasuki tahap akhir implementasi. Kegiatan ini diawali ketika kegiatan yang diadakan untuk sebuah SD di Cisaranten yang kondisinya sangat tidak layak beberapa tahun yang lalu. Setelah kegiatan di SD, munculah satu lagi permasalahan di kampung yang tidak terlalu jauh dari lokasi SD tersebut, salah satunya adalah kebutuhan air bersih. Singkat cerita setelah dilakukan survey, penggalangan dana yang dilakukan dengan sumbangan sukarela, belanja kebutuhan pembangunan, hingga tahap awal pembangunan pada awal April lalu, kini, pembangunan sudah sampai di tahap akhir. Jadwal untuk kunjungan berikutnya ditetapkan 1-3 Mei 2015 dengan tambahan satu misi, yaitu membawa satu bibit pohon untuk ditanam di Kampung Sarijadi. Hal ini sekaligus untuk memperingati Hari bumi pada 22 April 2015 lalu. Kelebihan lainnya yaitu, dengan membawa bibit pohon yang menghasilkan (dalam hal ini beberapa jenis pohon buah) diharapkan akan memberikan manfaat bagi warga Kampung Sarijadi dalam jangka panjang. Kegiatan penyediaan air bersih diberi nama “Ride for Indonesia, Water for Life”, sedangkan misi mengantar satu nyawa untuk bumi dimasukan ke dalam kegiatan PADI. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para Indonesian Motorist yang tergabung dalam komunitas bernama ‘Menembus Batas Indonesia’. Jumlah rombongan piknikers kali ini total 22 orang. 17 piknikers dari Bogor, 3 piknikers dari Bandung, dan 1 piknikers dari Yogyakarta, tambahan satu warga SD Cisaranten yang juga murid kelas 6 SD Giri Asih yang kebetulan bergabung dengan kami pada perjalanan piknik kali ini.

JUMAT 1 MEI 2015

Rombongan terbagi tiga, rombongan dari sekitaran Bogor, dari Bandung, dan dari Tangerang yang menyusul di hari kedua kegiatan. Meeting Point disepakati Jumat, 1 Mei 2015 pukul 07.00 di Warung Sumbul. Jalur yang dilewati rombongan utama yaitu Puncak – Cianjur- Cibeber – Campaka – Sukanagara – Pagelaran – Tanggeung – Pasirkuda – Cipelah –Rancabali –Warung Sumbul. Kurang lengkap rasanya lewat jalur ini tanpa mampir di Curug Citambur yang terletak di Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Rombongan pun berhenti sejenak untuk menyegarkan mata setelah berkendara dari mulai pukul 03.37. Setiba di Warung Sumbul, cuaca sedikit tidak bersahabat. Langit biru yang semula menyambut rombongan Bandung sekitar jam 07.30 perlahan berubah menjadi abu, kemudian puncak Gunung Sumbul perlahan-lahan menghilang di balik kabut. Sinar matahari hanya dapat kami saksian di atas Desa Balegede, sebuah desa kecil pertama di Kabupaten Cianjur yang letaknya berada lebih rendah dari tempat kami. Sembari menunggu rombongan utama, mengisi perut dan mengistirahatkan mata sejenak mungkin jadi pilihan yang cocok.

Tidak ada yang spesial di warung kecil di tengah jalur Tanjakan Sarebu ini. Bila sedang ada latihan TNI, warung ini jadi tempat peristirahatan. Ada juga beberapa pengendara motor yang beristirahat di sini. Warung ini mungkin hanya merupakan warung nasi kecil biasa, tapi pemandangan di belakang warung ini cukup luar biasa. Bila beruntung kita bisa melihat Desa Balegede, garis pantai di kejauhan, jalur-jalur jurang, puncak Gunung Sumbul, serta tidak ketinggalan perkebunan teh dan latar belakang Gunung Sepuh, sebutan lain untuk Gunung Patuha. Kabut di daerah ini susah diprediksi, terkadang pukul 10.00 pun sudah gelap, tapi bisa juga seharian bersih dari kabut. Rombongan baru lengkap sekitar pukul 10.30. Sambil beristirahat, sambil mengisi perut, dan tidak lupa mempersiapkan kendaraan untuk melintas di jalur Sumbul yang cukup terkenal dengan lumpurnya terutama di musim hujan seperti sekarang. Kota Bandung sudah hampir seminggu tidak diguyur hujan, sedangkan menurut informasi teman yang tinggal di Soreang, hujan sesekali turun menjelang subuh tetapi tidak terlalu deras. Harapan kami semoga cuaca hari ini tetap seperti beberapa hari ke belakang. Setelah membongkar spakboard seperti yang disarankan salah satu teman kami agar motor tidak stuck kalau harus nyebur di lumpur, tepat pukul 11.00 kami bersiap untuk memulai perjalanan.

Jalur Gunung Sumbul merupakan jalur terpendek menuju Desa Cisaranten yang sekaligus merupakan perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur. Gunung Sumbul merupakan batas wilayah administrasi alami antara Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung dengan Desa Cisaranten, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur yang keseluruhan wilayahnya merupakan hutan hujan tropis. Peruntukan hutan di seluruh area Gunung Sumbul merupakan hutan konservasi Gunung Sumbul dengan tumbuhan dominan yaitu Rasamala. Sebagian wilayah Gunung Sumbul juga merupakan area latihan militer, yang peruntukan utamanya adalah untuk Paskas AU, tetapi tidak jarang digunakan juga untuk latihan Kopassus dan Kostrad serta beberapa kesatuan lainnya. Terkadang bila latihan, sebagian wilayah ditutup total, untungnya ketika kami melintas latihan belum dimulai seluruhnya dan masih bisa dengan leluasa melintas. Jarak dari pintu masuk Gunung Sumbul di bagian Kabupaten Bandung hingga pintu keluarnya di Desa Cisaranten hanya sejauh 13 hingga 15 Km. Jarak ini merupakan jarak terpendek dibandingkan jalur-jalur lainnya, sebut saja Jalur Cireundeu yang kami beri nama Jalur Belanda, Jalur Cicatang, Jalur Cimaskara, Jalur Muara Cikadu yang relatif lebih memutar. Jalur Sumbul ini merupakan jalur pintas warga untuk ke Ciwidey. Selain Cikadu sebagai ibukota kecamatan, warga banyak yang mengandalkan pemenuhan kebutuhan sehari-harinya di Ciwidey. Perkerasan utama jalur Gunung Sumbul adalah tanah merah, batu, bahkan terkadang tanah merah berubah menjadi kubangan lumpur. Jalur Gunung Sumbul banyak digunakan sebagai trek offroad yang belakang mulai dilarang oleh warga Desa Cisaranten. Alasan utama adalah karena jalur yang mulai ramai digunakan warga karena jaraknya yang relatif pendek ini semakin hancur. Kedalaman kubangan dan jalur air semakin hari semakin bertambah, hal ini tentu menyulitkan dan merugikan warga yang setiap harinya harus melintas di jalur ini untuk keperluan sehari-hari, sedangkan kondisi kendaraan tidak cukup memungkinkan untuk melewati medan yang semakin hari semakin berat. Mungkin bagi pengguna motor trail atau pun mobil offroad, melintas di jalur ini memberikan tantangan dan kesenangan sendiri, tetapi hal ini tidak sebanding dengan kondisi yang harus dilewati warga setiap hari dengan kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksi dengan kegiatan yang mungkin hanya dilakukan seminggu sekali dengan persiapan melihat kondisi cuaca. Meskipun sudah ada pelarangan, tetapi ternyata masih ada saja yang melakukan kegiatan trail, bahkan dilakukan pada malam hari, menjelang tengah malam.

Sambutan jalur Sumbul diawali oleh permukaan jalan yang tertutup lumpur dan beberapa genangan air berwarna cokelat pekat. Beberapa ada yang berusaha untuk mengotori pengemudi di sampingnya dengan cipratan lumpur, begitulah cara kami menikmati perjalanan. Jalan kemudian mulai menurun dan sampailah di gerbang hutan Gunung Sumbul yang ditandai oleh turunan cukup panjang dengan kondisi trek mirip jalur air. Celah-celah jalur air terisi batuan lepas. Mulai ada beberapa motor yang sedikit tersangkut batu, ada juga yang turun dan menuntun motornya, ada juga yang mencoba-coba menerabas jalur lain, semua mengantri dengan sabar untuk bisa menyelesaikan turunan ini. Tepat di sebelah kanan kami, tenda-tenda milik tentara sudah berdiri tegak, tidak ketinggalan para tentara yang sedang beristirahat memperhatikan kami dengan sedikit heran. Lolos dari turunan, kami langsung disambut oleh jalan yang cukup lebar, datar dengan jejeran pohon rasamala di kanan dan kiri kami seperti pilar. Kondisi jalan semakin sulit. Seluruh permukaan jalan tertutup lumpur cukup dalam. Beberapa motor mulai stuck, termasuk motor saya yang akhirnya tergelincir keluar jalur dan akhirnya stuck di jalur penuh lumpur. Perlu bantuan dua orang teman untuk mengangkat dan mendorong motor aga kembali ke trek. Saya memutuskan untuk mulai jalan kaki dari sini. Memang, sebelum pergi, saya sudah sempat mencari info mengenai jalur yang akan kami lalu dengan kondisi boncengan. Ada dua pilihan, yaitu tetap boncengan dengan menggunakan Jalur Belanda tapi pisah dengan rombongan lain, atau tetap bareng dengan risiko mungkin harus sering bahkan total berjalan kaki sepanjang jalur Sumbul sepanjang 15 Km. Saya pilih pilihan kedua dengan segala risikonya.

Mulai dari sini, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai. Jalan datar luas penuh lumpur berubah menjadi jalan kecil dengan kubangan lumpur yang menutupi seluruh permukaan jalan, turunan penuh lumpur, tanjakan yang permukaan jalannya merupakan tanah merah licin yang kami sebut keramik karena saking halus dan licinnya. Di tanjakan yang permukaannya keramik ini satu persatu motor mulai ada yang kehilangan keseimbangan, ban belakang geser ke kanan kiri, ada yang mencoba menembus jalur melalui semak belukar di sisi kanan jalur, ada juga yang menghentikan motornya sejenak untuk membantu yang lainnya. Tenaga mulai dikuras di sini. Menurut informasi dari bapak tentara yang kami temui sebelumnya, rombongan mobil yang merupakan rombongan dari 1000 Guru baru saja lewat. Jeda rombongan mobil masuk dengan rombongan kami masuk sekitar 1 jam, seharusnya mereka sudah jauh di depan. Kami sedikit cemas, kalau jarak kami terlalu dekat, bisa-bisa medan yang harus kami lalui sedikit lebih sulit karena bekas jejak ban mobil. Selepas tanjakan keramik, tanah di permukaan jalan sedikit padat dan kembali melebar. Di sini semua berhenti dulu untuk regroup dan sedikit mengambil nafas. Kabut kembali turun, yang kami takutkan adalah turunnya hujan karena medan yang akan kami lalui akan jauh lebih sulit. Setelah tenaga sedikit kembali, beberapa ada yang mulai bergerak menuruni turunan panjang dengan trek kembali seperti jalur air hanya lebih dalam dan batuannya lebih besar. Saya masih memutuskan untuk trekking sampai beberapa meter di depan bertemu jalan yang datar dengan tanah yang sedikit lebih padat.

Setelah kembali berboncengan, tidak lama, jalur kembali sulit. Kali ini turunan disambung dengan tanjakan yang masih berupa jalur air dalam penuh batu. Kali ini saya pindah motor karena teman yang satu jauh lebih mengenal medan di sini jadi setidaknya bisa lebih cepat, berhubung motor kami sekarang berada di kloter paling belakang. Rombongan lain sudah cukup jauh di depan. Gerimis dari kabut mulai turun, kami pun semakin bergegas. Tidak sampai 3 Km, ternyata kami bertemu dengan mobil terakhir dari rombongan lain dan gerimis mulai turun, bukan lagi kabut. Jalan semakin licin, ditambah beberapa antrian mobil yang harus kami lewati agar lebih cepat, tikungan dan turunan penuh lumpur dan keramik yang ga ada habisnya. Akhirnya, kami sampai di mobil paling depan, tepat ketika gerimis semakin deras dan medan semakin sulit. Ada satu mobil yang slip dan stuck di lumpur, sehingga mobil lainnya di belakang harus cukup bersabar sampai mobil ini bisa kembali di jalur. Bagi kami, ini sedikit keberuntungan untuk bisa menyalip mobil sehingga medan yang kami lewati nanti setidaknya tidak tambah parah bekas mobil. Saya memutuskan untuk berjalan kaki melewati antrian mobil sambil sesekali terdengar celetukan dari penumpang mobi “Loh, ini perempuan ya?” Mungkin mereka heran ada satu perempuan yang ikut dalam rombongan motor, bukannya menggunakan mobil seperti mereka, yang mungkin jauh lebih safety.

Setelah melewati mobil paling depan, ternyata ada beberapa teman yang berusaha melewati turunan panjang ditambah tikungan di bawah gerimis yang semakin deras. Perlu waktu sekitar 5-10 menit untuk satu motor berhasil melewati tikungan. Sementara menunggu teman yang menuruni turunan, perbekalan roti cokelat dikeluarkan. Tidak banyak dan harus dibagi-bagi dengan teman lainnya. Saya pun meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sampai bertemu rombongan di depan kami yang masih berusaha melewati turunan dengan jalur air yang semakin licin dan berlumpur. Setidaknya ada 5-6 orang lagi jauh di depan tempat kami sekarang. Mungkin kalau saya jalan kaki dengan kondisi jalan seperti ini, saya bisa menyusul rombongan pertama dan setidaknya kalau ketinggalan tidak terlalu jauh menyusulnya. Tepat setelah turunan ada jembatan kecil yang seluruhnya sudah tertutup kubangan lumpur bahkan sampai harus disusun beberapa balok kayu untuk membantu kendaraan melintas. Untuk saya yang berjakan kaki pun, cukup sulit melintas di jembatan ini, salah pijakan bisa-bisa saya terjebak masuk ke dalam kubangan lumpur yang entah segimana dalemnya atau jatuh karena terpeleset. Jalur yang saya pilih merupakan jalur paling kiri dan dekat dengan mulut jurang kemudian naik ke susunan balok kayu hingga berhasil sampai di seberang jembatan. Ternyata teman lainnya belum ada yang berhasil sampai di ujung turunan, saya pun memutuskan untuk menunggu sampai ada satu motor yang berhasil baru meneruskan jalan kaki karena jarak kami dengan yang di depan sudah cukup jauh. Cuaca seakan tidak berpihak pada kami, tidak lama setelah saya memutuskan untuk duduk sembari menunggu teman saya berhasil membawa motornya ke seberang jembatan, hujan turun semakin deras. Segera kubangan lumpur yang baru saja saya lewati semakin meninggi, turunan yang sedang dilewati beberapa teman pun semakin licin. Setelah aga lama diam sendiri di seberang jembatan sementara beberapa teman sudah ada yang mengehentikan usahanya menuruni turunan, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke belakang bergabung dengan teman lainnya sambil mencari tempat untuk berteduh.

Sempat kami membuat bivak seadanya dari fly sheet yang ternyata kapasitasnya masih kurang untuk menampung kami. Dengan ngambil beberapa batang kayu yang lumayan banyak tergeletal di pinggir jalan, akhirnya jadilah bivak yang sebenarnya hanya cukup untuk 2 orang saja, sementara kami lebih dari 5 orang. Dengan kondisi seperti ini, beberapa teman memutuskan untuk terus jalan sampai menemukan jalan yang sedikit datar dan enak untuk dijadikan tempat berhenti dibawah guyuran hujan yang semakin deras. Sepakat, satu persatu motor mulai dinyalakan dan bivak pun kembali dirubuhkan seiring dengan motor terakhir melintas di turunan ini. Nasib motor setelah melewati turunan belum membaik, Setelah turunan, teman-teman yang lain masih haru berusaha mencari jalur dan naik ke balok kayu untuk melewati kubangan lumpur yang menutupi seluruh permukaan jembatan. Hujan belum menunjukkan tanda mereda, malah semakin deras. Akhirnya saya pun berfikir, inilah kondisi terburuk yang paling akhir diharapkan terjadi oleh kami semua. Barulah di sini saya teringat hal yang terlewatkan. Bila biasanya setiap bepergian, selalu membungkus nasi untuk makan siang, membeli beberapa makanan ringan, minuma berasa, dan stok air putih, kali ini semua barang tersebut tidak ada di dalam tas saya. Ironisnya, strat perjalanan kami di Gunung Sumbul ini ada di sebuah warung nasi yang lauknya cukup banyak.

Cukup lama sampai semua motor bisa melewati kubangan lumpur. Semua saling membantu. Beberapa yang motornya sudah berhasil sampai di seberang jembatan kembali lagi untuk bergantian membantu motor teman lainnya untuk melewati kubangan sampai berhasil tiba di ujung jembatan, begitu terus hingga motor terakhir. Sampai motor terakhir sampai di ujung jembatan, bisa terlihat muka yang sudah mulai sedikit kehabisan tenaga di bawah guyuran hujan yang malah semakin deras. Saya memutuskan untuk jalan sembari mengencek jalur di depan, siapa tahu kondisinya sedikit lebih baik dan kami bisa memacu motor kami lebih cepat. Tepat setelah genangan lumpur di depan kami, jalan menanjak dan kembali datar dengan permukaan jalan yang tanahnya sedikit lebih padat. Saya memutuskan menunggu di sana. Sempat khawatir karena kondisi motor yang sedang kurang bersahabat dengan genangan air dan guyuran hujan. Kalau sampai tidak bisa nyala dan harus menunggu lama, bisa gawat. Dengan perasaan yang tidak tenang, saya pun akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki melewati medan yang sedikit datar itu. Ternyata medan di depan jauh lebih sulit. Setelah jalan yang aga datar, kami disuguhi turunan cukup panjang dan curam dengan jarak jalur air jauh lebih tinggi, bahkan di sisi kiri beda tingginya cukup lumayan. Jalur yang diambil oleh motor adalah jalur di sisi paling kanan jalan yang berupa keramik, genangan lumpur dan bebatuan besar yang mudah lepas. Di sini pun kami menghabiskan waktu cukup lama agar semua motor berhasil melewati turunan ini di bawah guyuran hujan yang masih semakin deras.

Saya yang sampai di ujung turunan bersama beberapa teman lainnya, sudah merasa cukup kedinginan, kelaparan, dan haus. Persediaan air menipis, ada beberapa yang sudah mulai menggigil karena terlalu lama berhenti di bawah guyuran hujan, termasuk siswa 6 SD yang ikut bersama rombongan kami. Beberapa teman memutuskan untuk jalan duluan. Saya yang melihat medan jalan belum kunjung mudah akhirnya mengajak Rizwan, teman kecil kami untuk berjalan kaki. Selain mencegah semakin menggigil, setidaknya kami bisa menunggu teman yang lainnya di jalan yang sedikit lebih baik dan meneruskan perjalanan dengan kembali naik motor. Ternyata jalan di depan kami kembali berubah menjadi turunan keramik, bahkan saya pun sempat terpeleset saking licinnya. Setelah turunan, lagi-lagi jalan menikung dan kubangan lumpur kembali menyambut. Setidaknya diperlukan waktu hampir 2 jam untuk melewati jalur ini sampai ke titik dimana perjalanan kami tersisa setengahnya. Dengan tenaga yang sudah habis, tidak adanya perbekalan makanan, persediaan air habis, gerimis yang masih terus turun, medan jalan berlumpur dan tanjakan keramik yang tidak ada habisnya, kami pun sepakat untuk mengehntikan perjalanan tepat pukul 17.00.

Posisi terkahir kami berada di sebuah jalan yang sedikit lebih luas dan datar dengan beberapa motor yang ditinggal di jalur di belakang kami karena sudah tidak memungkinkan untuk dibawa. Sementara beberapa teman awalnya bareng dan jalan duluan sepertinya masih belum terlalu jauh dari tempat kami sekarang tapi masih jauh tertinggal dari rombongan pertama. Fix kali ini rombongan kami terbagi 3 dan rombongan terakhirlah yang jumlah orangnya lebih banyak. Dengan jumlah orang yang lebih banyak dan kurangnya logistik serta ransum, otomatis posisi kami paling rentan. Setelah sayup-sayup terdengar Adzan Magrib dari kampung yang entah berapa jauhnya dari lokasi kami, segera kami membuat bivak darurat. Dengan mengandalkan dua buah flysheet yang diikatkan pada motor yang dibuat melingkar dan jas hujan serta dua buah matras sebagai alasnya, kami bisa sedikit berlindung dari gerimis yang mulai turun lagi. Kami pun mencoba untuk berkominukasi dengan siapapun yang bisa dihubugi. Keterbatasan sinyal, batre, dan pulsa menjadikan komunikasi kami sedikit terhambat. Akhirnya kami pun berhasil menghubungi warga Sarijadi. Kami memberitahukan posisi kami, kondisi total rombongan, serta meminta persediaan ransum dan logistik untuk semua rombongan, termasuk rombongan pertama yang kami kira sudah dekat desa dan rombongan kedua yang tidak terlalu jauh dari posisi kami sekarang.

Kurangnya penerangan dan minimnya logistik untuk tempat beristirahat yang layak tidak membuat kami patah semangat. Tetap ada obrolan singkat dan hangat di tengah kondisi yang serba minim. Beberapa ada yang langsung berganti pakaian dengan yang kering, ada yang langsung tidur, ada yang mengumpulkan kayu, ada juga yang masih sedikit bebenah motor yang ditinggal di belakang. Kabar berikutnya yang kami terima yaitu, rombongan kedua akhirnya berhasil menyusul rombongan pertama dan masih belum berhasil keluar dari hutan. Kabar lainnya yang cukup melegakan adalah Pa RT di lokasi kami, Kampung Sarijadi akan turun langsung membawa bantuan makanan dan logistik beserta dua warga lainnya secepat mungkin. Mendengar teman kami di depan akhirnya bisa barengan dan masih meneruskan perjalanan dan adanya bantuan dari warga Sarijadi, kami pun setidaknya bisa sedikit mengistirahatkan mata di tengah dinginnya Gunung Sumbul malam ini.

Sekitar satu jam dari terakhir kami memberi kabar ke warga Cisaranten sampai akhirnya ga jauh terdengar suara motor mendekat ke arah kami. Suara motornya bebek, berharap banget kalau ini Pa RT dengan warga Cisaranten. Ternyata bener, Pa RT akhirnya nyampe juga, bener-bener kaya dapet harta karun. Segera satu persatu keluar dari bivak sementara Pa RT dan dua orang lainnya menyiapkan alas dari terpal untuk makan malam, ga lupa cari kayu untuk bikin api unggun dan penyangga bivak kedua. Makan malam hanya dengan nasi putih dan telur dadar ditabur garam yang kelihatannya sama sekali tidak istimewa, bagi kami ini jauh lebih nikmat dari makanan di restoran mahal manapun. Setelah makan, tidak lupa isi air minum dari air yang dibawakan Pa RT dan sedikit pisang goreng yang sebelumnya sudah dilahap oleh rombongan depan yang kondisinya pun tanpa ransum. Kabar dari Pa RT, ternyata rombongan depan tetap nerusin jalan ke desa tapi berjalan kaki, sementara motor-motornya stuck di lumpur. Karena udah kehabisan tenaga, tidak ada penerangan, tidak ada ransum dan logistik, akhirnya rombongan depan pun sepakat meninggalkan motornya di tengah hutan Sumbul dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa penerangan yang memadai. Setidaknya masing-masing sudah mengetahui kabar, jadi sekarang tinggal fokus untuk bagaimana caranya agar kami bisa istirahat di tengah hutan Sumbul dengan logistik dan ransum seadanya untuk memulihkan tenaga.

Ga lama setelah semua makan, bivak kedua pun jadi. Ukurannya jauh lebih besar dan terpalnya lebih tebal, tapi tetap angin dingin akan kami rasakan karena tidak ada penghalang di akses masuk layaknya tenda-tenda. Alas tidur di bivak pertama pun masih sama, jas hujan dan matras seadanya, sedangkan di bivak kedua hanya berupa terpal yang dilapis sleeping bag polar satu buah. Untungnya ada sarung yang bisa diandalkan sebagai selimut. Biarpun semakin malam semakin menjadi dinginnya, tapi karena cape jadi setidaknya masih bisa istirahat. Sementara Pa RT dan beberapa orang lainnya masih tetap terjaga sampai menjelang subuh. Tidak sedikitpun terpikir bahwa akhirnya kami harus bermalam di tengah hutan Gunung Sumbul. Sedikit khawatir karena di sini masih banyak hewan liarnya, termasuk ular dan ‘kucing besar’. Teman kami berpesan, jika kami bertemu dengan salah satu binatang yang hidup di hutan ini sebisa mungkin tidak menyebutkan namanya dan kalau kebeneran melihat meskipun hanya sekilas kucing besar, maka kami harus pindah setidaknya minimal 1 m dari tempat kami sekarang. Tidak lama setelah sebagian dari kami terlelap, dari kejauhan terdengar suara motor trail meraung-raung mendekat dari arah belakang kami. Rombongan trail berjumlah 8 orang ini sempat berhenti dulu di tempat kami. Dari mereka, dapat informasi bahwa rombongan mobil di belakang kami pun memutuskan untuk berhenti dan bermalam di Sumbul ketika sudah gelap. Rombongan trail adalah rombongan terakhir yang kami temui malam ini.

SABTU, 2 MEI 2015

Meskipun tidur sedikit tidak nyenyak karena dinginnya udara di Gunung Sumbul, tapi badan masih terasa segar. Segera setelah merapihkan barang, membawa motor yang ditinggal di belakang, serta menyiapkan motor, tepat sekitar pukul 07.00-07.30 kami mulai jalan. Saya dan Rizwan, siswa kelas 6 SD yang akhirnya terpaksa tidak masuk sekolah hari ini karena masih terjebak berasama kami di tengah Hutan Gunung Sumbul ini memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki saja, setidaknya sampai bertemu medan yang cukup aman untuk boncengan. Ga berapa lama kami jalan, ternyata medan malah semakin berat. Turunan panjang dan curam ditambah tikungan tajam dan berakhir di kubangan lumpur yang dalam menjadi hal pertama yang harus kami lalui setelah semalaman beristirahat di Sumbul. Berjalan kaki pun harus berhati-hati, karena bila sampai terpeleset dari susunan balok kayu di sisi kanan jalan, bisa-bisa masuk ke kubangan lumpur yang dalamnnya diperkirakan setinggi paha. Cuaca pagi ini sedikit mengkhawatirkan. Tidak ada awan biru dan sinar matahari, yang ada hanya langit putih dan bahkan sesekali kabut turun.

Tidak jauh dari kubangan pertama, kami berdua menemukan 3 motor yang diparkir di sisi kiri jalan sementara pengendaranya sudah berada di Cisaranten. Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah melewati motor tak berpengendara, lagi-lagi kami harus melewati kubangan yang jauh lebih lebar dan lebih dalam. Kali ini ada jalan setapak di sisi kanan yang juga dialasi oleh balok kayu. Balok kayu yang tersusun tidak terlalu rapat, masih ada beberapa celah kecil yang lumayan bisa bikin kaki kekilir kalau tidak hati-hati. Setelah melewati balok kayu, jalan sedikit menanjak. Tanjakan dan balok kayu penuh lumpur mempersulit langkah kami, bahkan dengan bantuan batang kayu yang saya ambil sebagai pengganti trekking pole. Kami berpapasan dengan warga yang jalan kaki ke arah Ciwidey, sepertinya seorang pedagang dan sudah terbiasa lewat sini. Terlihat dari langkahnya yang cepat serta pilihan pijakannya yang mantap. Kami menemukan satu motor lagi milik teman kami yang ditinggal. Perjalanan tidak banyak berbeda. Beberapa tanjakan dan turunan ringan kami lewati dengan kondisi jalan yang masih penuh dengan lumpur dan lebar jalan yang cukup luas, beberapa kali papasan dengan warga sekitar yang akan mengambil kayu, serta beberapa motor teman kami yang ditinggalkan. Sampai akhirnya kami melewati motor terakhir milik teman kami yang ditinggal, medan jalannya dominan menanjak dan kemudian datar. Sepertinya kami sudah sampai di titik yang lebih tinggi, mungkin punggungan mungkin juga titik tertinggi Sumbul. Vegetasi di kanan dan kiri kami pun sedikit terbuka. Tebing penuh dengan tumbuhan pakis serta pohon-pohon yang tinggi di sisi kanan serta jurang dan jejeran perbukitan di sisi kiri menjadi pemandangan selepas motor terakhir milik teman kami yang kami lewati.

Setelah tempat yang sedikit terbuka ini, medan jalan akan lebih dominan turunan panjang dengan jalur yang penuh batu besar lepas dan jalur air. Bahkan kami sampai di satu turunan panjang, curam, licin dengan tikungan jama, dan pada sisi paling kanan jalur, kemiringan jalannya hampir terlihat tegak lurus dengan dasarnya berupa batuan tertutup lumpur. Mirip seperti longsoran tebing, tapi di bawahnya langsung menyatu lagi dengan trek jalan. Ini adalah titik di mana terdapat pertigaan menuju Danau Cigadung. Pada peta, mungkin Danau Cigadung ini akan bernama Rawa Sumul. Jalannya jauh lebih kecil dari jalan utama dengan batu-batu besar berserakan dan tanah merah. Medannya menurun terus dan jaraknya masih cukup jauh. Sempat terpikir untuk mengunjungi danaunya sejenak sembari menunggu teman-teman di belakang, tetapi saya batalkan. Mengingat kalau mau kembali dari Danau Cigadung harus menanjak dan tidak tahu pasti seberapa jauhnya, bisa-bisa malah kami berdua yang ketinggalan oleh teman-teman kami. Akhirnya setelah berhenti sejenak untuk minum dan mengabadikan kondisi jalannya, kami pun jalan lagi.

Perjalanan kami berdua bisa dibilang cukup cepat, karena hampir tidak berhenti. Kalaupun berhenti hanya untuk minum (itupun tidak sering) atau untuk sekedar membetulkan tali sepatu. Cuaca di Sumbul yang mendung dan medannya yang cukup bersahabat bagi yang berjalan kaki membuat kami berdua jarang merasa haus. Medannya kebanyakan datar, kalaupun ada tanjakan atau turunan tidak terlalu panjang dan curam, tapi tetap permukaan jalannya berlumpur dan licin. Kami masih sering menjumpai beberapa kubangan lumpur yang di pinggir-pinggirnya diberi balok kayu untuk memudahkan pengendara yang melintas. Banyak juga kami temui bagian di pinggir jalur yang longsor dan langsung terhubung dengan jurang yang sangat dalam dan tertutup rapat rimbunnya pepohonan. Setelah 2 jam berjalan kaki, kami melintas di dekat aliran sungai yang cukup deras. Posisi sungai berada di bawah jalan, jadi kami tidak sempat mengisi air minum. Setelah lewat aliran sungai, jalan kembali menanjak, kali ini cukup berat. Sekali, tercium harum cokelat di tikungan. Mungkin di sini ada juga pohon cokelat, tapi meskipun ada pohon cokelat, apa harum buah cokelat yang masih di pohon sama seperti harus cokelat pada parfum?

Jika mengacu pada lama perjalanan teman kami yang berjalan kaki pada malam hari yang menghabiskan waktu selama 3 jam, harusnya kami sudah dekat dengan desa pertama, tapi jawaban Rizwan ketika saya bertanya posisi kami mengatakan kalau kami masih jauh dari desa pertama. Baik saya maupun Rizwan sepertinya cukup menikmati perjalanan yang tak terduga ini. Sama sekali tidak ada perasaan kesal, kecewa, marah, tidak ada kata-kata mengeluh, yang ada hanya ekspresi kaget ketika bertemu jalur yang sedikit ekstrim yang memang tidak ada habisnya. Sesekali berseru ketika menemukan tumbuhan atau mendengar suara binatang hutan. Sesekali kami pun berhenti untuk mengabadikan medan yang kami lalui, terlebih jika pemandangan di kiri atau di kanan kami sedikit terbuka dan terlihat jejeran perbukitan di seberang jurang sana. Hal ini lah yang mungkin membuat kami tidak merasa lapar meskipun belum makan sama sekali dan sedikit tidak sadar kalau ternyata kami sudah berjalan hampir 2 jam.

Terdengar suara mesin pemotong kayu di kejauhan. Sedikit senang karena akan bertemu warga. Sedari tadi kami jalan tidak bertemu satu orang pun (kecuali beberapa warga yang papasan dan sepertinya tidak balik arah lagi). Setelah melewati beberapa tanjakan dan tikungan, akhirnya Rizwan pun bilang bahwa kami sudah hampir sampai di desa pertama. Kami pun makin semangat menambah kecepatan berjalan. Benar saja, ga terlalu jauh, kami mulai papasan lagi dengan beberapa warga, hutan Sumbul yang lebat berganti menjadi kebun, dan ada saung kecil. Kami sempat papasan dengan warga yang ternyata kenal dengan teman saya satu ini. Ternyata salah satu warga tersebut ayahnya teman kami yang rumahnya kami jadikan tempat bermalam di Sarijadi nanti. Medan lumpur berganti menjadi tanah merah. Sebelum sampai di desa, kami masih harus menuruni satu turunan curam dan panjang, yang bagian tengan jalannya dipenuhi batu cadas. Mirip seperti susunan batu di jalur pendakian, sementara jalur motor hanya merupakan sisi paling kiri dan lebarnya hanya untuk satu motor. Lebar turunan ini cukup untuk dua buah truk padahal. Sejenak kami istirahat dan mengambil beberapa foto di turunan ini dan akhirnya kami pun papasan dengan teman kami di rombongan pertama yang sebagian mulai bergerak mengambil motornya.

Kami pun tiba di rumah warga yang ditumpangi rombongan pertama sekitar jam 10.00. Kembali ketemu rombongan, membersihkan sepatu, sarapan sederhana tapi nikmat, ditambah segelas kopi panas sepertinya membayar perjalanan kami berdua selama dua hari di Gunung Sumbul ini. Kondisi Gunung Sumbul ini benar-benar di luar perkiraan, bahkan beberapa teman yang sudah lebih dari 2x melintas di jalur Sumbul pun belum pernah mengalami kondisi terberat seperti yang baru saja kami alami. Beberapa warga Cisaranten membantu teman-teman kami yang di belakang sekaligus mengevakuasi motor-motor yang ditinggal di hutan. Berkat bantuan warga, akhirnya tepat jam 12.00 rombongan kami pun bisa sampai di Desa Cisaranten. Setelah beristirahat sejenak, membersihkan pakaian dan sepatu, sedikit mengisi perut, dan menyelesaikan pembayaran dengan warga yang mengevakuasi kami, sebagian dari kami pun meneruskan perjalanan ke tempat tujuan kami yang masih berjarak sekitar 3 Km dari tempat kami seakrang. Informasi terakhir tentang rombongan mobil, masih stuck di belakang kami karena ada dua mobil yang masuk jurang dan membutuhkan waktu sedikit lama untuk proses evakuasinya. Sementara rombongan lainnya ternyata memutuskan untuk berjalan kaki ke SD Giri Asih, lokasi kegiatan mereka selang 30 menit dari saya pertama kali start trekking.

Sambutan hangat warga Sarijadi sedikit meghilangkan rasa lelah kami setelah terjebak 2 hari 1 malam di Gunung Sumbul. Setelah bebersih, makan siang, dan mengobrol santai, ada beberapa yang memilih untuk mandi, mengecek progress pembuatan mck dan kolam di dekat mata air, serta berdiskusi apa saja yang masih kurang untuk pembangunan mck dan penyediaan air bersihnya. Yang menarik adalah tidak ada satu pohon pun yang tidak sampai di Sarijadi. Meskipun motor udah berkali-kali jumpalitan di lumpur, tapi pohon yang dibawa masih tetap selamat sampai di tangan warga Sarijadi dan ditanam esok harinya di halaman rumah warga Sarijadi. Suasana hari kedua menjadi ajang tukar cerita pengalaman terjebak di Sumbul. Kondisi Sumbul yang benar-benar menunjukkan kehebatannya kemarin menyisakan banyak cerita seru dan pengalaman menarik bagi masing-masing dari kami. Tidak ada kata mengeluh ataupun kesal, yang ada malah banyaknya cerita seru tentang bagaimana cara mensiasati kondisi terburuk di Sumbul kemarin. Tidak ada kata umpatan kekesalan setelah keluar dari Sumbul, tidak ada kata mengeluh dan penyesalan, yang ada hanya cerita-cerita seru dan canda tawa.

MINGGU, 3 MEI 2015

Hari terakhir di Kampung Sarijadi lebih banyak dimanfaatkan untuk mempersiapkan motor. Perjalanan pulang kami akan melewati rute yang berbeda. Kali ini kami akan menggunakan rute Cireundeu, yang diberi nama Rute Belanda. Rute ini merupakan salah satu rute utama menuju Desa Cisaranten. Rute ini dipilih karena tidak sesulit rute Sumbul, ditambah kami harus kembali beraktivitas pada esok hari. Tingkat kesulitan jalur Cireundeu ini memang tidak seekstrim rute Sumbul, tapi jangan anggap mudah. Rute ini sedikit lebih memutar dan seluruh jalur memiliki perkerasan batu. Lebar jalannya pun dominan hanya cukup untuk satu buah truk (mepet), dan mini bus (sedikit aga mepet) dengan beberapa titik yang batunya sudah hilang dan berganti lumpur. Tanjakan di jalur ini sedikit lebih berat karena harus melalui permukaan jalan dengan batuan besar dan lepas, dan terkadang batuannya sudah hilang dan berganti lumpur. Ada satu titik dimana jalur yang dilalui pun merupakan jalur air dan rawan longsor. Perjalanan pulang kami melalui jalur ini bisa dibilang cukup lancar, karena hujan belum turun dan tidak berpapasan dengan mobil. Setidaknya kami semua bertemu kembali dengan mobil rombongan dari teman-teman 1000 Guru yang juga merupakan kloter terakhir. Berikutnya kami berpapasan dengan pick up. Perjalanan sedikit terhambat ketika berpapasan dengan pick up. Bagian bawah mobil sedikit tersangkut batu, sehingga kami harus membantu terlebih dahulu agar bisa meneruskan perjalanan. Jalan yang sempit memang mengharuskan masing-masing pengguna jalan untuk bersabar dan mengalah, bahkan membantu jika salah satu terkena kesulitan. Jalur Cireundeu juga melewati hutan dan jarak antar desa cukup berjauhan, sehingga pastikan bahan bakar dan kondisi kendaraan dalam keadaan baik. Jalur pulang kami lebih banyak didominasi oleh tanjakan. Jalur ini akan keluar di area Perkebunan Teh Cibuni bagian Desa Sukaati, Kecamatan Rancabali yang ditandai oleh sebuah warung nasi. Kami memberi nama Warung Cireundeu. Sekitar 30 menit melewati jalan di perkebunan teh Cibuni yang juga masih berupa batu, barulah kami bertemu dengan jalur utama Rancabali-Cipelah tepat di tengah areal Perkebunan Sinumbra. Beruntung, gerimis baru turun ketika kami menerukan perjalanan dari Warung Cireundeu. Bahkan, hujan deras menyambut kami ketika memasuki Rancabali hingga Bandung.

Sekilas mengenai Desa Cisaranten seperti yang sudah ditulis oleh rekan-rekan Menembus Batas Indonesia, bahwa Desa Cisaranten merupakan desa yang terletak di ketinggian 1000 m atas muka laut dan Kampung Sarijadi merupakan kampung tertinggi di Desa Cisaranten. Desa Cisaranten berjarak 130 Km dari Kota Cianjur dan memiliki 25 KK yang berprofesi sebagai petani. Desa Cisaranten merupakan salah satu desa relokasi bencana gempabumi dan tanah longsor 2 tahun yang lalu. Bahkan, cerita kronologis mengenai kejadian bencana alam serta penanggulangan, evakuasi, hingga ganti ruginya pun kami dengar lengkap secara langsung dari warga yang mengalami musibah tersebut. Desa Cisaranten merupakan desa penghasil gula aren dan sereh wangi yang juga merupakan komoditas utama dari desa ini. Gula aren dan Sereh wangi yang sudah siap dijual, dibawa ke Ciwidey untuk kemudian didistribusikan ke daerah lain, bahkan dijual langsung di Ciwidey. Olahan gula aren seperti wedang, cemilah mirip seperti dodol, bahkan yang sudah sedikit berfermentasi disuguhkan pada kami. Perjalanan menuju Desa Cisaranten dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat khusus maupun angkutan penumpang (ELF) melalui jalur Cireundeu yang merupakan salah satu jalur utama. Jalur Cireundeu hanya merupakan jalan yang hanya cukup untuk dua mobil bahkan satu mobil dengan titik longsor di beberapa tempat, jalur air, genangan lumpur, hingga batu-batu besar yang lepas yang tidak jarang membuat kendaraan nyangkut. Kondisi jalur Cireundeu yang masih kurang layak ini setidaknya jauh lebih mudah dibandingkan jalur Sumbul, meskipun jaraknya sedikit jauh karena memutar. Kendaraan logistik yang masuk melalui jalur ini terdiri dari pick up dan truk. Barang yang diangkut pun bermacam-macam, mulai dari hasil panen, kebutuhan bahan makanan dan keperluan sehari-hari, hingga kebutuhan matrial pun diangkut melalui jalur ini. Matrial pembangunan mck yang merupakan bagian dari kegiatan kami pun diangkut oleh truk dari Ciwidey melalui jalur Cireundeu. Jalur Cireundeu kami namai Jalur Belanda, selain lebih mudah dan tidak tertukar dengan jalur lainnya, ada cerita sendiri dibalik penamaan jalur tersebut. Adapun jalur lainnya kami beri nama Jalur Transmigran, Jalur SS, Jalur Baru dll.

KETERANGAN TAMBAHAN : DOKUMENTASI MENEMBUS BATAS INDONESIA

SUMBER FOTO LAINNYA

– BANG RUSTAM RIJAL( http://lembahhalimun.blogspot.com/)

– OM REVELLINO HENDRA

– BANG IVAN HARDIYANSYAH MALAND

– BANG IRFAN RAHARDIA (IPANK)

GUNUNG SUMBUL, JALUR LINTAS KECAMATAN RANCABALI, KAB. BANDUNG - DESA CIKADU, KAB. CIANJUR, JAWA BARAT



0 Comments

Be the first to comment.