LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Pesona Danau Toba, Dari Tortor Sampai Maumere

ardasitepu

On

Minggu, 10 September 2017

Siang itu, langit mulai mendung tak seperti tahun sebelumnya yang cerah berbinar saat Pesona Danau Toba di hadiri oleh Presiden Jokowidodo. Walaupun kondisi mendung dan hanya dihadiri beberapa menteri, bupati/walikota dan beberapa artis nusantara tak mengurangi semangat masyarakat Toba-Samosir dan luar daerah untuk hadir melihat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba yang pesertanya berjumlah 2.000 orang.

Tepat di pukul 13.00 WIB langit pecah dan menumpahkan sedikit air di sekitar daerah Tambunan – Kota Balige. Semua warga berharap cemas, apakah karnaval di Pesona Danau Toba 2017 ini akan berjalan lancar atau bubar di tempat. Ternyata, Sang Pencipta hanya memberikan air segar ke bumi Tobasa untuk menyegarkan tanah menyambut karnaval. Tak sampai 10 menit, hujan reda dan semua masyarakat bersorak dan kembali berhamburan ke tepi jalan untuk melihat perhelatan yang diadakan setiap tahun di Kota Balige.

Saya pun tak mau ketinggalan untuk melihat karnaval yang dihadiri dari berbagai kota dan kabupaten di sekitar Sumatera Utara. Seraya menghabiskan Pizza Andaliman yang lagi hits di Balige, saya pun merogoh kantong untuk membayar Pizza yang standar internasional namun citarasa andaliman yang terkenal dengan bumbu surga.

Bunyi hentak kaki Paskibra Balige membuka karnaval ini. Saya pun bergegas dan melewati kerumunan orang untuk melihat dari dekat dan mengabadikan segala prosesi yang terjadi dengan peralatan tempur yang sudah siapkan sebelumnya. 

Karnaval di mulai dari Soposurung (hilir) menuju Onan Balerong (hulu). Onan Balerong merupakan pasar Balige yang dibangun sekitar tahun 1800 an dan merupakan salah satu situs budaya yang sangat indah. Pasar tempat jual-beli masyarakat ini berada di bawah balerong/pendopo besar yang terdiri dari ukiran adat istiadat khas suku Batak Toba.

Perjalanan karnaval Danau Toba kali ini sekitar 3,5 km dan dihiasi dengan kapal-kapal hias dari berbagai instansi pemerintahan, kecamatan/wilayah, sekolah sampai kepada kelompok/lembaga masyarakat.

Kerennya, dalam karnaval kali ini melibatkan seluruh siswa-siswi Balige dengan keahliannya dalam memainkan musik dan DrumBand. Lenggak-lenggok siswa cilik pun terpampang nyata membuat riuh karnaval dengan sambutan tepuk tangan dari ribuan masyarakat yang menonton di sepanjang jalan. 

Wanita-wanita cantik dengan ‘Tandok’/wadah untuk membawa beras pun mewarnai perjalanan karnaval. Tak lupa sasak/sanggul tinggi dan merahnya bibir membuat para wanita cantik Tobasa semakin percaya diri untuk mengikuti perjalanan karnaval tersebut. Becak-becak pun tak mau ketinggalan bergaya. Para becak motor terlihat mempesona dengan ukiran, spanduk dan pernak-pernik yang membuat ‘betor’ eksis di karnaval ini.

Kerennya mulai dari pick up sampai truck disulap menjadi kapal yang cukup besar layaknya bahtera Nuh yang menampung berbagai orang dibalut dengan pakaian tradisional. Tak lupa para peserta karnaval melemparkan senyum yang cukup lebar sehingga menyaingi cerahnya warna baju yang sedang mereka kenakan.

Para penabuh Gong Batak pun terlihat semangat sambil menyanyikan berbagai lagu-lagu batak sambil mengiringi perjalanan tetua-tetua adat dengan kemegahan pakaian adat yang digunakan. Tak lupa para pengawal mengikuti dari belakang, sehingga membuat betapa ‘sakti’ nya budaya Batak terkhusus pada saat karnaval. 

Tak berapa lama berbagai perahu hias berlewatan, tetiba saya dikagetkan dengan Opung/Nenek yang memakai kacamata rayban dan menari dengan semangatnya diiringii dengan musik ‘Maumere’, dengan kepercayaan diri tingkat tinggi sang opung memberikan kemampuan tor-tor dan tarian modern-nya kepada khalayak banyak. Suasana menjadi pecah dan tertawa lebar melihat aksi opung. Itulah karnaval Danau Toba, semua ada di sini.

Jagoan-jagoan egrang pun menunjukkan kemampuannya berjalan dengan bambu-bambu hijau sepanjang 3,5 km tanpa berhenti. Wow, seperti sirkus yang menunjukkan aksi mumpuni. Anak-anak yang duduk di bangku SMP tersebut terlihat semangat dan bahagia saat disambut dengan tepuk tangan.

Sesekali saya curi-curi pandang dengan Roby Purba yang juga hadir untuk mengabadikan acara ini. Namun, apa daya saya tidak dapat ber-foto dengan presenter tampan tersebut. Hanya menatapnya dari sebrang jalan dan dipisahkan oleh penari-penari cilik. 

Waktu sudah menunjukkan Pukul 17.15 WIB dan karnaval yang panjang ini di tutup dengan kapal hias dari Kementrian Pariwisata. Hari mulai gelap, udara mulai terasa dingin. Memang Balige terkenal dengan kesejukannya dan udara bersihnya.

Kota ini menyajikan budaya Toba yang kuat, tempat sejarah yang indah, Danau Toba yang terbentang luas, makam Sisingamangaraja, seribu tugu sampai kepada andaliman sang bumbu surga. Sungguh menarik datang ke daerah ini, karena sekali mendayung tiga pulau terlampui. Tak hanya acara budaya tahunan yang dapat kita saksikan. Kita juga dapat melihat betapa indahnya lukisan Tuhan di Danau Toba. Sungguh bangga dengan Indonesia dengan kekayaan budayanya dari ujung barat sampai timur. Benar-benar Proud Indonesia...

Buat kamu yang ingin datang ke kota ini, karnaval diadakan setiap bulan September/Oktober. Jangan kuatir saat ini ada 2 (dua) bandara yang bisa kamu singgahi. Jika terlebih dahulu ingin mengunjungi kota Medan maka mendaratlah di Bandara Kualanamu. Perjalanan ke kota Balige sekitar 6-7 jam. Nah, jika kamu ingin langsung menuju Balige, maka saya sarankan kamu melalui Silangit. Perjalanan dari Bandara Silangit menuju Balige sekitar 30-45 menit maka kamu langsung disambut pepohonan hijau, udara segar dan indahnya hamparan bukit.

Saya sudah menjejakkan kaki di sini, semoga Pesona Danau Toba 2018 lebih kece dari tahun ini. Jalan bareng yuks...



1 Comments