LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Pawitra, Si Kecil Cabe Rawit

dwimuis

On

Legenda mengatakan jika puncak sesungguhnya dari sang Mahameru adalah dia, dipotong untuk menstabilkan pulau jawa. Orang-orang pun mengatakan bahwa dia adalah sang Mahameru kecil, puncak kembar Mahameru, ataupun replikanya. Pawitra, sebuah nama puncak dari gunung yang berada lokasi di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Terkenal dengan nama gunung penanggungan, gunung yang terlihat ketika kita menempuh perjlanan menuju Malang dari Surabaya. Dengan ketinggian hanya 1653 Mdpl, gunung ini menjadi tujuan bagi para pendaki pemula atau pendaki yang kangen untuk mendaki tapi hanya punya waktu yang teramat sedikit untuk mendaki.

SEDIKIT CERITA

15 Mei 2015, rasa penat menghampiriku yang gatal ingin menjajaki kaki menapak di ketinggian, ingin sekali tidur diantara ilalang dalam hangatnya tenda yang melindungi dari dinginnya udara luar. Merapi, tujuan dalam kepalaku saat itu. Namun apa daya waktu yang membuat niatku mengunjungi puncak garuda. Sudah terpikirkan pilihan lain yang terjangkau oleh waktu dengan memikirkan lama pendakian dan jarak yang dekat. Van der Man di Malang dan juga Penanggungan di Mojokerto. Dan setelah berunding dengan teman-teman yang ingin ikut dalam pendakian kali ini, tujuan pun di tentukan menuju Gunung Penanggungan. Enam orang pun masuk dalam tim pendakian kali ini, lima orang pandawa dan satu srikandi.


Jumat malam, 15 Mei 2015 pukul 20.00 WIB. 3 Buah Motor mengantarkan kami dari Surabaya menuju trawas. Perjalanan normal menempuh waktu sekitar 2 jam, namun kondisi jalan yang macet dan sempat salah jalan serta insiden ban bocor membuat kami menempuh waktu 3 jam dan sampai di pos pendakian sekitar pukul 11 malam. Setelah menyiapkan persediaan air di basecamp kami pun melanjutkan perjalanan untuk memulai mendaki.

JANGAN ANGGAP REMEH

Walau hanya memiliki ketinggian di bawah 2000 mdpl, namun gunung penanggungan memiliki sensasi mendaki yang tidak kalah dengan gunung-gunung lain. Trak awal berupa jalan makadam bebatuan dengan kemiringan yang terbilang sedikit landai, setelah berjalan lebih dari setengah jam barulah sedikit terasa mendaki. Track tanah dengan kemiringan sekitar 30 derajat mulai disuguhkan gunung ini.

Ada keuntungan mendaki di malam hari yaitu kita tidak akan terbebani dengan kondisi terik panasnya matahari namun kondisi jalan juga akan sedikit berbahaya dengan keadaan yang gelap dan juga licin karena embun.

Setelah trek dengan kemiringan 30 derajat, trek gunung ini terus menanjak dari awal hingga akhir dengan sedikit atau bahkan tanpa tanah datar sedikitpun. Bahkan trek yang disuguhkan gunung ini hampir 80 derajat.

Setelah berjuang mendaki selama 3,5 jam sampailah kita ke puncak bayangan, lokasi untuk mendirikan tenda, mengisi tenaga, dan beristirahat sebelum perjuangan selanjutnya menuju puncak Pawitra. 

Dari Puncak bayangan, perjalanan dilanjutkan menuju puncak sebenarnya. Di sini kita bisa meninggalkan barang-barang kita ditenda atau tetap membawanya untuk camp di puncak. Namun saran untuk yang tidak terbiasa mendaki gunung, saran saya adalah meninggalkan barang dengan hanya membawa daypack kecil untuk ke puncak. Hal ini dikarenakan trek menujuk puncak begitu curam dan licin.

Summit menuju puncak kami tempuh dalam waktu 1 jam perjalanan, sedikit lebih awal dari yang kami perkirakan. Namun ada baiknya juga, kami jadi bisa melihat keindahan lampu kota mojokerto dari puncak pawitra. Selagi menunggu momen sakral di puncak gunung, kami pun berfoto dengan background lampu kota.

pukul 5 pagi, sang fajar mulai menampakkan jingganya kami pun bersiap untuk menyambutnya dengan jepretan kamera kami. Dan sungguh takjub luar biasa, keindahan sunrise yang tidak kalah bagusnya dengan gunung-gunung lain. Kami pun terpesona melihatnya. Dari puncak pawitra ini kita dapat melihat gunung welirang dan argopuro (dari puncak bayangan juga sudah dapat dilihat) serta sang megah Mahameru. 

AWAS KEPLESET

Jalan turun lebih berbahaya dari naik, curam dan licin serta berbatu, jika terlalu cepat dan tak mampu mengendalikan keseimbangan saat turun maka kita dapat terjatuh. Sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra saat turun. Banyak pendaki yang meremehkan yang berakibat fatal. 



0 Comments

Be the first to comment.