LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

NOWCN Trip: Sisi Lain Banyuwangi (PART 1)

elsprim

On

NOWCN?

Sebelumnya, saya mau memperkenalkan dulu apa itu NoWCN. NoWCN adalah sekelompok anak - anak kuliah tahun kedua, yang punya hobi yang sama, yaitu jalan - jalan. Kenapa namanya NOWCN? karena beberapa dari kita punya gengsi yang sangat tinggi dan apabila terbukti WCN alias wacana atau ngomong doang, maka akan dikata katain gitu deh, jadi daripada malu sama nama group, mending langsung berangkat aja liburan. Tapi sebenernya ga gitu juga sih, kita seneng aja bareng - bareng. Gitu ceritanya. Perjalanan pertama kita ke Pulau Dewata pada Agustus 2014 sukses, ga WCN. Dan sekarang kita menginginkan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Ke Bali kemarin naik pesawat, tidur di hotel, makan enak. Sekarang kita mau sok sok an backpackeran walaupun diantara kita ber 14, cuma 1 yang bener - bener definisi backpacker (dan tentu saja bukan saya). Tapi kita yakin bisa, dan terpilihlah BANYUWANGI sebagai destinasi perjalanan kita berikutnya.

Banyuwangi. Kota paling timur di pulau Jawa. Lebih dekat dengan Bali daripada kota lain di Jawa Timur. Perjalanan kesana, kita tempuh dengan menggunakan kereta api ekonomi AC, Jakarta - Malang selama 16 jam, istirahat di Malang selama 8 jam lalu berangkat lagi dari Malang menuju Banyuwangi selama 7 jam. Jadi total perjalanan kita di dalam kereta api adalah 23 jam. Duduk. Senderan 90 derajat. Cerita. Ngakak. Gosip. Ngatain orang. Istighfar. Buka buka tas. Makan pop mie. Makan oreo. oreo. oreo. Ngecharge. Tidur. Antimo. Gangguin sebelah. Cape khanmaendddd. 

Pelajaran pertama yang bisa kita ambil: jadi backpacker itu ga kayak di TV gitu, setiap menit ada petualangannya. Seru. Pengen lagi. Backpacker itu monoton, se monoton itu. Kalo bisa fast forward, udah saya pencet tombol itu daritadi. 

Semua udah keliatan cape, tapi kita belum juga ngapa - ngapain. Akhirnya ketawa - ketawa lagi, sok dibawa asik. 

Jadi, dari 23 jam duduk itu, kita turun di stasiun Karangasem di Banyuwangi. Darisana, kita di jemput sama orang random (ya, beneran random bgt. Gangerti lagi). Jadi si yang jemput kita ini, itu adalah pegawainya seorang Bapak bernama Jarno. Si Pak Jarno ini, kenal sama salah satu temannya Magda yang beberapa bulan sebelum kita, pergi ke Banyuwangi juga naik kereta, dan mereka bertemu di kereta dan ngobrol, lalu si Pak Jarno bilang "Yowes. nanti kalau ada temannya mau ke Banyuwangi nginep saja dirumah saya ya, gratis". Kita gak bisa menyianyiakan kebaikan orang, akhirnya kita nginep ber 13. Agak gatau diri, tapi gimana lagi kan namanya juga backpacker, anti hotel. Sampai kita dirumah pak Jarno, langsung tidur. Udah seperti paduan suara karena suara ngorok kita yang kecapean ini. 

Hari Pertama, kita ke Taman Nasional Alas Purwo. Kenapa Alas Purwo? Karena kayaknya beda aja gitu. Ga ada yang kesini. Waktu kita googling, ini tempat uji nyali gitu. Sejujurnya, kita cuma iseng - iseng kesini tapi ternyata perjalanan dari kota Banyuwangi kesini itu 2 jam.... so, okay. Kita jelajahi aja yang namanya Alas Purwo ini. Pertama masuk, kita lihat pohon jati yang udah gugur. It's really nice. Turun dari mobil, kita foto - foto. Karena kita ber 14 jadi dua mobil gitu kan. Nerisa, dia suka banget foto - foto random, apapun difoto. Sebenernya ga ada yang aneh sama foto dibawah ini, tapi coba perhatikan di sebelah kanan, ada objek putih aneh. Kita ber 14 berdebat tentang objek itu, sampai liburannya udah selesai juga masih aja. Ada yang bilang karung, plastik. Ya, ga ada yang tau. 

NOWCN Trip: Sisi Lain Banyuwangi (PART 1)-Banyuwangi-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-elsprim

objek putih disebelah kanan

Di Alas Purwo ini ada tempat untuk melepas penyu, ada goa yang di dalamnya banyak orang - orang bertapa. Hutan lebat, sepi, gak ada sinyal. Ada savana seperti di Baluran, tapi gak terlalu besar. Kalau sore, bisa lihat hewan - hewan juga di savana nya. Pulang dari sini pun disarankan gak terlalu malam, karena hutan belantara benar - benar gak ada lampu. Tapi kita agak terlalu sore jadi sampai di rumah Pak Jarno jam 7 malam, sedangkan jam 10 malam itu juga kita harus nanjak gunung Ijen untuk melihat blue fire dan sunrise. So. Kita istirahat tidur cuma 2 jam. 

Mt. IJEN

Blue Fire merupakan salah satu yang menjadi daya tarik di Gunung Ijen, Banyuwangi. Karena satu satunya di Indonesia. Hanya dapat dilihat sebelum matahari terbit dan dengan cuaca yang baik. Karena mengejar sunrise dan blue fire, akhirnya kita mulai trekking jam 1 dini hari. Jarak dari Banyuwangi ke Licin (Pos Paltuding) hanya sekitar 20 km. Kita trekking tidak menggunakan guide yang sebenarnya menyalahi aturan yang ada, tetapi supir yang kita sewa kebetulan sudah ribuan kali naik ke gunung Ijen, maka kita menggunakan jasa si Pak Supir. Trekking dari Paltuding ke tempat melihat sunrise sekitar 2 jam. Karena bukan anak gunung, dan hanya memakai converse saya merasa berat sekali naik keatas. Ditambah lagi, jalanan berpasir dan bau belerang yang sangat menyengat, dan gelap sekali. Saya memakai kacamata sehingga apabila saya menutup hidung dengan masker, maka kacamata saya berembun. Jadi harus memilih ingin melihat, atau ingin bernafas. Saya memilih untuk tidak menggunakan masker.

Sampai diatas, kita harus turun lagi ke kawah, yang memakan waktu 30 menit, melewati batu berpasir. dan berpapasan dengan penambang belerang yang ramah - ramah. Menikmati blue fire, duduk dipinggir kawah, melihat matahari terbit dan menikmati hijau toska kebanggaan Ijen, so priceless. 

Awalnya, saya emang gak pernah naik gunung, kecuali Bromo. Tapi sering banget ke Pantai, jadi mendeklarasikan diri saya sebagai anak pantai. Belum bisa dianggap anak gunung juga sih dengan naiknya saya ke Ijen, tapi kalau ditanya gunung atau pantai, duaduanya memiliki keindahan yang berbeda, jadi kalau ada yang bertanya pilih gunung atau pantai, I'd like to say I love them both. 

Diperjalanan turun ke Paltuding, sekitar jam 6 pagi, pemandangannya se Indah itu. Mataharinya bagus, tidak hujan dan tidak berawan jadi oke banget buat foto - foto. Kita melewati lagi jalan waktu kita trekking tadi malam, dan ternyata pinggir - pinggirnya jurang, dan kalau malam sama sekali tidak kelihatan :") 

Dan di beberapa foto yang saya ambil waktu turun, ada tulisan "Allah"  dari bayangan awan, yang membuat saya amazed sekali dengan adanya tulisan tersebut :)

Saya turun dari Ijen dan semuanya bener - bener cape, jadi ada beberapa agenda yang tidak bisa terlaksana, tapi akhirnya kita memilih untuk istirahat pada siang hari, dan sore harinya kita langsung ke Pelabuhan Ketapang untuk menyebrang ke Bali. 

Pelajaran kedua yang bisa kita ambil: Jangan terlalu maksain ke tempat - tempat yang agak jauh dalam waktu singkat, utamakan istirahat apalagi kalau lewat perjalanan darat. Lebih - lebih kalau gak tau medannya gimana. Terus harus bisa mengukur diri juga jangan sampai sakit. Kalau masalah badan, kita sendiri yang bisa ngukur, jangan maksain dan jangan merasa rugi karena gak sempet ke beberapa tempat, kita pasti bisa balik lagi kesini :)


Cerita selanjutnya akan saya tulis di post yang berbeda, soooooo stay tune :)


F A Q

>> Ke Banyuwangi kapan tuh? 
Pertengahan Januari 2015, tepatnya tanggal 13 - 18 Januari

>> Loh bukannya musim hujan? Di Ijen hujan gak?
Musim hujan banget, tapi kita berdoa biar gak hujan, dan dikabulkan.

>>Lah gak ke Red Island sama Green bay? Sayang banget parah.
Ngga.... karena kita ngukur kondisi badan kita juga sih, terlalu cape nanti sakit sedangkan harus ke Bali untuk kembali lagi ke habitat (pantai). Tapi kita akan atur lagi untuk red island dan green bay di liburan selanjutnya.

>>Berapa kira - kira biaya yang dikeluarkan selama di Banyuwangi?

Tiket kereta Ekonomi AC Jkt - Mlg - Byw (One Way) : 70k+90k = 160k
Sewa 2 mobil + driver : 450k = 65k / orang
Rumah pak Jarno: Gratis
Makan & Minum : gak lebih dari 100k
Masuk ke Ijen : 5k / orang
Masuk ke Alas Purwo: 5k / orang
Dari Ketapang ke Gilimanuk : 8k / orang


Total: gak lebih dari 500ribu lah sama biaya tak terduga.



5 Comments