LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Menyapa Karimunjawa, Sang Karibia di Laut Jawa

faisal-abidin

On

“The world is a book, and those who do not travel read only one page”

Saat ide traveling berlarian tak tentu arah di dalam kepala, dan sebuah quote traveling favorit “The world is a book, and those who do not travel read only one page” yang selama ini menjadi pegangan dalam menjalankan ‘ibadah’ traveling terngiang-ngiang, muncullah dalam benak saya keindahan alam yang ditawarkan Phi Phi Island di Thailand, Maldives, Raja Ampat, atau Pulau Komodo. Namun saat melihat budget yang dimiliki, rasanya saya ingin menangis karena yang uang masih menjadi masalah utama. Terpaksa saya membuka travel wishlist yang dibiarkan menjadi mitos belaka. Dulu saya tertarik dengan satu destinasi lokal yang lebih aman di kantong, tetapi tidak kalah spektakuler. Karimunjawa, sang “Caribbean van Java”. 

Flashback ke tahun 2009, Karimunjawa pernah menjadi salah satu top travel wishlist saya saat duduk di bangku kuliah. Mungkin saya menjadi korban ‘kenakalan’ sebuah acara jalan-jalan di TV. Saya akui kalau saya adalah tipikal orang yang mudah kepingin akan sesuatu. Tapi, berguling-guling di pantai berpasir putih, berenang di laut berwarna toska, berteduh di bawah pohon sembari minum es kelapa muda, melihat matahari terbenam di pantai—siapa yang tidak ngiler dengan iming-iming seperti itu?

Karimunjawa merupakan salah satu kecamatan berbentuk kepulauan yang masuk dalam wilayah Jepara utara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Namanya saja kepulauan, banyak sekali pulau berpenghuni seperti Pulau Karimunjawa (pulau utama dan terbesar), Pulau Nyamuk, Pulau Kemujan, Pulau Parang, dan Pulau Genting, serta pulau-pulau tak berpenghuni seperti Pulau Menjangan (Besar dan Kecil), Pulau Cemara (Besar dan Kecil) dan pulau lainnya yang sama eksotisnya dengan beberapa pulau tersebut. Tidak heran jika Karimunjawa dijuluki ‘Karibia di Jawa’ oleh para kompeni (penjajah Belanda).

Tak kalah dengan destinasi internasional lainnya, Karimunjawa juga mampu menyuguhkan pengalaman kehidupan pesisir yang tak terlupakan. Mulai dari menjelajah tiap sisi pulau untuk menemukan pantai, duduk di bawah pohon tepi pantai dan membaca buku sembari menunggu ikan bakar matang sempurna, berlarian dengan ombak yang menggulung tenang, menenggelamkan kaki dalam pasir putih lembut dan membiarkan sinar matahari menyeka kulit, sampai menyelam di lautan dengan beragam fauna laut dan warna-warni terumbu karang. Atau, bisa juga sekadar bercengkerama dengan penduduk lokal di pelabuhan sambil menunggu matahari tenggelam.

Dalam artikel ini, saya ingin sedikit berbagi apa yang saya lihat, rasakan, lakukan, dan pelajari di Karimunjawa kepada traveler yang ingin menyapa Karimunjawa secara langsung. Beberapa list where to go dan what to do serta tips yang mungkin berguna bagi traveler yang masih kurang informasi mengenai Karimunjawa.

DI PANTAI NIRWANA, KEINDAHAN SUNRISE MEMBERIKAN ENERGI DI AWAL HARI

Bagi saya, melihat sunrise membutuhkan ambisi dan usaha yang tak sesederhana mengantre tiket nonton film di bioskop. Ada hal penting yang harus dikorbankan—waktu istirahat. Apalagi udara di pagi hari seringkali membuat tubuh terasa kaku dan menggigil. Namun, saya tak pernah menyesal telah memangkas porsi tidur untuk melihat sunrise, terutama saat berada di Karimunjawa.

Memulai hari di sisi timur Karimunjawa dengan melihat fajar merekah di atas laut dari sebuah resort eksotis bernama Nirwana Resort mampu memberikan asupan energi bagi tubuh yang masih lemas karena mengantuk. Cukup membayar Rp.10.000 kepada penduduk lokal yang berjaga, saya dapat masuk dan menyusuri tiap sudut resort, dari pantai berpasir putih lengkap dengan gerombolan pohon kelapa tinggi yang menjadi ciri khas pantai ini, sampai mengambil foto-foto kekinian di bangunan resort yang hampir semuanya terbuat dari kayu. 

Meskipun seperti nirwana, kompleks bangunan ini sayangnya terabaikan. Entah ditinggalkan sang pemilik atau ada masalah lainnya. Dan sebagai informasi saja, sebenarnya tidak ada tiket resmi untuk masuk ke area resort. Beberapa pria yang meminta uang parkir dan retribusi kepada kami kemungkinan cuma aji mumpung, parkir liar, dan mungkin saja uangnya masuk ke kantong pribadi mereka.

Jika tujuan utama traveler adalah menyaksikan sunrise, saya sarankan untuk menghemat waktu dengan langsung naik ke balkon resort di lantai 2. Dari lantai 2, penampakan sunrise lebih sempurna karena tak terhalang bukit atau bebatuan, kecuali jika tertutup awan. Bahkan, saat awan menutupi proses terbitnya matahari, pemandangan di depan akan tetap menakjubkan dan ampuh mengobati kekecewaan. Percayalah pada saya :)

PENGALAMAN BERSEPEDA YANG SENSASIONAL DENGAN RUTE EKSOTIS

Bersepeda bisa jadi aktivitas yang biasa saja bagi sebagian orang, terutama di Jogja tempat saya tinggal. Namun, jika bersepeda di sebuah pulau yang terhampar laut biru di sebelah kiri dan perbukitan lengkap dengan pepohonan hijau yang menyejukkan mata di sebelah kanan, mungkin sedikit orang yang pernah mengalaminya. Inilah yang saya alami saat bersepeda di Karimunjawa. Saya dan 2 orang teman saya menempuh rute sejauh kurang lebih 12 km (pulang pergi) menuju Pantai Ujung Gelam dengan rute yang EKSOTIS—naik, turun, dan berkelok—dan terpapar matahari yang menyengat lalu tiba-tiba kehujanan di tengah perjalanan.

Namun, kegiatan itu memberikan sensasi berlipat ganda, khususnya bagi saya yang hidupnya masih minus tantangan. Bersepeda memberi saya kesempatan emas untuk melihat semua hal dengan motion yang lebih pelan, lebih dekat, dan lebih intim. Melihat pertemuan antara laut, pulau, dan langit yang begitu romantis. Merasakan aroma pepohonan yang keluar dari hutan di bawah gunung. Melihat aktivitas penduduk lokal dan membalas sapaan mereka. Semuanya terasa bergerak cukup perlahan, dan pantas untuk dinikmati.

Hal yang paling menyenangkan saat bersepeda di Karimunjawa adalah kondisi jalanan yang tidak terlalu padat dan tidak banyak lubang, serta momen saat saya menemukan spot menarik yang dapat dijadikan tempat beristirahat dan berfoto. Saat kaki lelah mengayuh sepeda, kami secara tidak sengaja menemukan sebuah penginapan atas air, lengkap dengan dermaga kayu dan sebuah penangkaran hiu. Penginapan yang bernama Wisma Apung dan Penangkaran Hiu Asri tersebut terlihat sepi, memberikan kesempatan emas bagi kami untuk melepas lelah sembari mengabadikan keindahan tempat tersebut.

Penasaran seperti apa bersepeda di pulau eksotis ini? Try it and you’ll find out!

Tips

Jika ingin bersepeda di Karimunjawa, mulailah di pagi hari dan usahakan untuk pulang ke penginapan sebelum petang karena penerangan di sebagian besar ruas jalan masih minim. Bawalah minuman dan makanan yang cukup, serta kenakan topi karena panas yang begitu menyengat. Traveler juga harus bersiap jika hujan turun secara tiba-tiba. Harga sewa sepeda gunung Rp. 25.000 untuk 12 jam.

SNORKELING SEHARIAN DI LAUTAN SEBENING KRISTAL

Tak perlu jauh-jauh ke Maldives jika Nusantara juga punya sederet laut sebening kristal yang sarat akan biota yang mengundang rasa kagum, salah satunya ada di perairan Karimunjawa. Karimunjawa mampu menyuguhkan pengalaman snorkeling dan menyelam yang cukup istimewa di beberapa spot yang berbeda, dan tiap spot memiliki karakteristik yang juga berbeda.

Pengalaman snorkeling dan menyelam di Karimunjawa masih membekas di memori saya sampai sekarang, karena saat itulah kali pertama saya melakukannya di laut lepas. Saya tak bisa melupakan begitu saja aroma laut yang menguap dan menyelinap masuk ke saluran pernapasan saya, rasa asin airnya yang justru mengobati rasa haus akan pengalaman baru, cahaya yang menembus masuk ke air dan membuat warna biru dan hijau laut menjadi lebih hidup, serta, yang terpenting, keberagaman biota lautnya yang membuat saya tak dapat berhenti bersyukur di tengah-tengah kekaguman saya.

Saya mengunjungi 4 spot snorkeling selama 2 hari, dari pagi hingga sore hari. Spot terbaik menurut versi saya adalah di dekat Pulau Menjangan Kecil. Terdapat cukup banyak terumbu karang dengan kondisi yang cukup sehat dan banyak sekali ikan dengan jenis yang berbeda muncul saat saya memberi mereka makan dengan remah-remah roti. Jika menginginkan foto bawah laut dengan ikan-ikan berenang bebas mengelilingi traveler, yang akan membuat feed Instagram disukai banyak orang, spot ini menjadi pilihan yang sangat tepat.

Spot lain yang saya datangi adalah di dekat pulau utama (dekat dengan Tanjung Gelam). Berbeda dengan spot snorkeling di dekat Menjangan Kecil, spot snorkeling ini membuat saya merasa sedikit kecewa karena kondisi karang yang tak terlalu baik sehingga ikan yang muncul dapat dihitung dengan jari. Banyak karang yang patah yang mungkin disebabkan oleh perahu yang ingin berlabuh ke tepi dan kurang memerhatikan kondisi terumbu karang di bawahnya. Terumbu karang yang sudah rusak tentu saja memaksa ikan untuk mencari rumah di tempat lain. Cukup disayangkan.

Tips

Jika datang secara mandiri (tidak melalui open trip atau travel agent), traveler perlu menyewa kapal serta peralatan snorkeling lengkap, kecuali sudah membawa sendiri. Biaya sewa satu kapal sekitar 650.000 dibagi dengan penumpang lainnya, serta 35.000 untuk sewa peralatan snorkeling lengkap. Bawalah makanan dan minuman karena aktivitas laut akan sangat menguras energi. Selain itu, selalu pastikan sampah yang dihasilkan dimasukkan ke plastik atau tas dan tidak diletakkan begitu saja di atas kapal. Terkadang, botol minuman atau sampah lain yang diletakkan di atas perahu tertiup angin dan jatuh ke laut.

MENEPI MENIKMATI SEDIKIT SUNYI DI MENJANGAN KECIL

Saat pulau utama terlalu riuh oleh turis dan penduduk lokal yang sibuk berebut jalan, Pulau Menjangan Kecil dapat menjadi sweet escape yang tepat. Meskipun pulau ini sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan, setidaknya tak sepadat pulau utama. Tak ada suara raungan kendaraan bermotor, jadi kedua telinga benar-benar dimanjakan oleh suara ombak yang menggulung tenang, dan angin yang menggoyang-goyangkan pepohonan.

Jika traveler sedang malas bergerak, ambil saja buku yang dibawa, buka botol minuman dan beberapa snack favorit, kemudian duduklah di bawah pohon rindang di tepi pantai. Jika mata sudah lelah membaca dan otak lelah berpikir, bermain ayunan di tepi laut akan membantu menyegarkannya kembali. Tempat ini benar-benar seperti surga bagi mereka yang suka membaca. Tenang dan menenangkan.

Setengah pulau ini sudah menjadi area wisatawan dengan beberapa spot bermain dan bersantai, cottage, satu warung, pendopo, dan WC umum. Bagian lain pulau ini masih berupa semak-semak dan perkebunan kelapa. Traveler bisa mengeksplorasi pulau kecil ini, seperti yang saya lakukan. Cobalah untuk membelah semak-semak dan masuk ke area perkebunan kelapa. Pohon kelapa yang tinggi berjajar rapi membuat saya merasa seperti tersesat di Karibia. Yang unik dari pulau ini adalah saya masih menemukan ular yang sedang merayap di pohon, jadi sebaiknya berhati-hati jika ingin blusukan.

Setelah lelah menjelajah semak-semak dan perkebunan kelapa, saya duduk di pantai yang tersembunyi di dekat perkebunan kelapa dan mengabadikan keindahan pantai. Pantai tersebut jarang dikunjungi karena tidak berada di area wisatawan, jadi tidak perlu khawatir kalau foto akan ‘bocor’ oleh pengunjung lain yang tiba-tiba melompat masuk ke frame foto.

TIPS

Jika traveler mengikuti open trip atau melalui jasa penyedia tur, umunya pulau ini masuk dalam daftar destinasi yang akan dikunjungi dalam sesi tur laut. Jika secara mandiri, mintalah sang pengemudi kapal untuk mampir ke pulau ini karena pulau ini dekat dengan pulau utama. Karena terdapat beberapa cottage di pulau tersebut, jangan mengganggu privasi orang yang menginap atau membuat mereka tidak nyaman dengan berfoto-foto di area penginapan mereka.

SANTAI SIANG BERKUALITAS DI PANTAI BATU TOPENG

Pantai Batu Topeng menjadi destinasi saya, kedua rekan saya, serta anggota tur laut lainnya untuk beristirahat siang sejenak. Pantai ini berlokasi di sebuah tanjung di sebelah barat pulau, satu kompleks dengan pantai Ujung Gelam. Traveler dapat dengan mudah menemukannya karena pantai ini sudah cukup populer. Jika mencari Pantai Ujung Gelam, traveler akan menemukan jalan menuju pantai Batu Topeng.

Pasir yang putih dan bersih, air yang jernih, laut yang begitu tenang, pepohonan rindang yang meneduhkan, tidak terlalu banyak orang—pantai ini menjadikan istirahat siang kami begitu sangat menyenangkan dan berkualitas. 2 orang turis mancanegara atau bule benar-benar menikmati waktu santai mereka dengan tiduran di atas pasir hanya beralaskan kain di bawah pohon. Sekelompok pria berambut gimbal membuat siang kami di pantai terasa ‘pantai banget’ dengan lagu-lagu reggae mereka.

Sembari menunggu sore hari, traveler bisa mengeksplorasi setiap sudut pantai, berfoto dari atas bebatuan besar yang ikonik, atau membakar ikan untuk makan siang di bawah pohon. Saya sangat menyukai pantai ini karena memiliki spot foto yang menarik. Setelah blusukan di antara pohon dan semak-semak, saya menemukan sebuah pantai kecil dan sunyi yang bersebelahan dengan Batu Topeng, lengkap dengan sebuah perahu kayu yang tampak terabaikan di bibir pantai. Spot foto yang sempurna! Saat rasa lelah berfoto di banyak spot datang, cukup berteduh di bawah naungan pohon sambil menunggu ikan bakar matang sempurna dan bermain gitar. “Hei, ikan sudah matang!”

Ketika sore hari, beranjaklah dari pantai Batu Topeng dan pindah ke pantai Ujung Gelam untuk menikmati senja. Di sana, keindahan senja bukan hanya sekadar mitos.

MENGABADIKAN SENJA JINGGA DI PANTAI UJUNG GELAM

Mengakhiri hari dengan menikmati indahnya senja di atas laut dari tepi pantai—itu mimpi saya selama ini! Apalagi selama ini momen pergantian siang dan malam saya dihabiskan duduk di depan laptop dan bekerja. Pantai Ujung Gelam mampu mengembalikan memori saya akan keindahan senja yang sudah sedikit usang. Pantai ini menjadi salah satu tempat yang tepat untuk menyaksikan sunset karena letaknya di sebelah barat pulau. Pantai ini sudah meraih popularitasnya sebagai salah satu spot sunset di Karimunjawa. Sudah cukup banyak traveler yang mengenalnya, sehingga jangan heran jika tempat ini sudah mulai ramai.

Saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk masuk ke pantai Ujung Gelam. Mungkin pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor akan dipungut biaya parkir, tetapi karena pada saat itu saya dan 2 rekan saya mengendarai sepeda gunung, kami tidak dipungut biaya.

Sembari menikmati saat-saat terbenamnya matahari, traveler dapat membeli beberapa cemilan dan minuman yang dijual di warung-warung yang ada di sekitar pantai, mulai dari gorengan, mie, dan cemilan lainnya. Dan jika waktu matahari terbenam masih lama, menjelajahi pantai juga tak ada salahnya. Keindahannya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Menyantap pisang dan tempe goreng yang masih panas serta segelas es teh benar-benar menjadi penawar dahaga dan lapar setelah saya lelah mengayuh sepeda setengah hari. Dan, melihat matahari bergerak perlahan kemudian benar-benar menghilang, serta kapal-kapal yang berseliweran di bawahnya seolah mengobati jiwa yang lelah karena tuntutan kerja yang semakin gila.

MELIHAT HIRUK PIKUK KARIMUNJAWA DARI ATAS BUKIT

Mari menjauh sebentar dari urusan laut dan naik ke atas bukit. Pulau Karimunjawa juga indah dinikmati dari atas bukit. Ada dua bukit di Karimunjawa yang sedang naik daun di kalangan traveler, Bukit Joko Tuo dan Bukit Love.

Bukit Joko Tuo terlihat lebih sederhana daripada Bukit Love, tidak terlalu banyak hiasan neko-neko, setidaknya pada saat saya datang waktu itu. Namun, pemandangan yang dihadirkan tak sederhana sama sekali--LENGKAP. Mulai dari langit, laut, pulau seberang, pepohonan, jalanan, bangunan permukiman penduduk, hiruk pikuk dermaga, dan aktivitas yang terjadi di area pusat ekonomi warga. Semuanya dapat ditangkap dengan jelas dari tempat itu. Pagi atau sore adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi bukit ini.


Namun, jika ingin befoto di spot yang lebih 'nyeni' dan ‘Karimunjawa banget’, Bukit Love menjadi tempat yang difavoritkan. Banyak spot foto menarik yang dapat digunakan traveler untuk berfoto. Traveler dapat berfoto di atas tulisan Karimunjawa atau LOVE (itulah mengapa disebut Bukit Love), atau sangkar buatan yang dibuat di atas pohon dan berlatar belakang laut dan bukit. Ambil foto, edit sedikit, beri caption, dan upload. Feed Instagram traveler akan mendapat banyak like berkat keunikan spot foto di tempat ini dan, tentu saja, karena keindahan alam Karimunjawa.

TIPS

Jika ingin berfoto di Bukit Love, sebaiknya datang pagi-pagi sekali. Tempat ini sangat populer sehingga perlu mengantre untuk berfoto di beberapa spot. Jika sudah banyak pengunjung, mengantre lah dan berfoto secukupnya agar traveler lainnya tidak menunggu terlalu lama. Spot foto yang ada milik umum, dan traveler lain memiliki hak yang sama.

TREKKING MENEMBUS HUTAN MANGROVE

Saat merasa lelah dengan aktivitas snorkeling dan sedikit jenuh mengunjungi pantai, trekking di hutan mangrove menjadi alternatif lain yang memberikan warna berbeda pada agenda traveling saya di Karimunjawa. Lagipula, saya belum pernah trekking di hutan mangrove sebelumnya, meskipun sebenarnya di Jogja, tepatnya di Kulonprogo terdapat kawasan mangrove yang kini menjadi wisata andalan daerah. Ini tentu saja akan menambah daftar hal baru yang saya lakukan sebelum menikah.

Hutan mangrove ini berjarak sekitar 12,5 km dari Pelabuhan Karimunjawa, atau sekitar 11,5 km dari Alun-alun Karimunjawa, dan dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor. Tempat ini mudah ditemukan karena berada di tepi jalan, dan dapat dicari menggunakan Google Maps.

Saya merogoh kocek Rp. 10.000 untuk mendapatkan tiket masuk hutan mangrove. Harga yang murah untuk pengalaman dan pelajaran yang tak terlupakan. Yang terpenting bagi saya adalah berapa pun harga tiketnya, pemasukan yang didapat dari pengunjung akan masuk ke pendapatan daerah, digunakan secara semestinya untuk membantu usaha konservasi kawasan hutan mangrove dan mengembangkan fasilitas tempat wisata tersebut, bukan masuk ke kantong perseorangan.

Menyusuri hutan melalui jalur trekking dari papan kayu yang dibuat berkelok sepanjang kira-kira 2 km terasa tak melelahkan sama sekali. Udara pagi masih begitu sejuk dan suasana sedikit redup karena lebatnya berbagai jenis pohon mangrove yang menaungi jalur trekking. Sesekali semburat sinar matahari menyeruak dari balik pepohonan dan jatuh di atas papan kayu. Atraksi dari berbagai jenis satwa seperti ular yang sedang memangsa katak, biawak yang melahap bayi ular, ikan yang sedang bergerombol dengan kawanannya, burung yang hinggap dan terbang menjadikan aktivitas susur hutan lebih hidup.

Di tengah perjalanan, terdapat sebuah gardu pandang tiga tingkat dari kayu yang dapat digunakan untuk melepas lelah sejenak sembari melihat keindahan rerimbunan pohon mangrove yang berlatarkan gunung, serta birunya laut dan langit Karimunjawa dari atas. Pengunjung dapat melihat 360 derajat ke semua penjuru hutan. Saya memanfaatkan bangunan tersebut untuk melepas lelah dan bersantai sejenak sambil membidik beberapa foto keindahan hutan mangrove dari atas, kemudian melanjutkan perjalanan hingga garis finish, yaitu loket pembayaran tiket.

TIPS

Jika traveler ingin mengunjungi tempat ini, disarankan untuk melakukannya pada pagi hari di musim kemarau karena pada musim ini jumlah nyamuk tidak terlalu banyak. Gunakan kaos lengan panjang dan celana panjang, atau gunakan lotion anti nyamuk agar terhindar dari gigitan nyamuk dan hewan lain. Bawalah minuman agar terhindar dari dehidrasi. Karena ini adalah tempat konservasi, jagalah kebersihan dan jangan merusak pohon mangrove yang ada.

BERBAUR DAN MENIKMATI BERAGAM KULINER LOKAL DI ALUN-ALUN

Tidak seperti Jogja atau kota besar lainnya, di mana warung makan bertebaran di kanan dan kiri jalan, warung makan sedikit sulit ditemukan di pulau Karimunjawa. Namun, saat sore hingga malam hari, traveler tidak perlu khawatir mati kelaparan. Lidah dan perut yang lapar akan dimanjakan oleh berbagai jenis makanan yang dijual oleh penduduk lokal di Alun-alun Karimunjawa. Bisa saya katakan kalau Alun-alun Karimunjawa adalah food court-nya Karimunjawa.

Cobalah berburu makanan khas Karimunjawa, seperti Bakso Ikan Ekor Kuning, Pindang Serani, Lontong Krubyuk, atau Siomay Tongkol. Atau, jika ingin olahan seafood, seperti cumi, kerang, atau hasil tangkapan laut lainnya, para penjaja seafood siap memadamkan rasa lapar yang melanda. Namun, kelihaian dalam tawar-menawar sangat diperlukan jika tidak ingin santapan menjadi over price dan berujung pada over-budget.

Karena sudah terlalu lelah untuk tawar-menawar dan rasa lapar yang tak tertahankan lagi, saya dan rombongan hanya membeli semangkok Bakso Ikan Ekor Kuning dengan segelas teh manis panas. Kuah bakso yang segar, tekstur bakso yang lembut, serta rasa ikan yang kentara tapi tidak amis menjadi kelebihan bakso khas pulau ini. Ditambah penjual yang sangat ramah kepada pengunjung. Sebuah penutup hari yang hangat dan menyenangkan setelah lelah snorkeling dari pagi hingga sore.

TIPS

Jangan sekadar duduk-duduk di tikar yang disediakan penjual jika tidak berniat untuk membeli makanan yang mereka jual atau sembarangan memilih tempat duduk saat sudah memesan makanan. Sebaiknya traveler bertanya dahulu mana tempat/tikar yang disediakan oleh penjual makanan tersebut, sehingga tidak akan salah tempat dan dimarahi si penjual.

ATAU, JIKA MENGINGINKAN SUASANA MAKAN YANG ROMANTIS DAN MENDAMAIKAN, AMORE CAFÉ ADALAH PILIHAN YANG PALING TEPAT

Jika ingin menikmati santap siang atau malam dengan suasana romantis serta tenang bersama pasangan atau sahabat, Amore Café menjadi salah satu opsi yang tepat. Café ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman, dekat dengan dermaga. Amore sangat mudah ditemukan karena berada persis di pinggir jalan.

Saya mengunjungi Amore café pada malam hari. Saat berjalan memasuki area café, lanskap taman dengan lampu temaram, rerumputan, pohon kelapa, dan berbagai tanaman hias menyambut kedatangan saya. Bangunan utama café ini cukup mencuri perhatian, berbentuk rumah Joglo lengkap dengan pintu gebyok dan ukiran-ukiran berdetail tinggi yang mengisyaratkan keindahan seni tradisional Jepara. Benda-benda antik dan artistik menghiasi tiap sisi bangunan, membuatnya tampak lebih seperti galeri dengan nuansa Jawa yang kental ketimbang sebuah tempat nongkrong.

Yang membuat café ini spesial bagi saya adalah letaknya tepat di pinggir laut. Saya tak pernah mengunjungi sebuah café yang berbatasan langsung dengan laut sebelumnya. Café dan air laut benar-benar hanya dibatasi oleh sebuah pagar pembatas setinggi sekitar setengah meter. Terdapat beberapa tempat duduk dan ayunan di area outdoor ini. Duduk di ayunan yang menghadap ke laut, menikmati sajian penghilang rasa lapar dan dahaga sembari menikmati semilir angin dan suara air laut yang begitu dekat—sejauh ini belum ada café yang saya kunjungi yang berhasil menawarkan pengalaman ‘segila’ ini.

Bagi traveler, terutama yang ber-budget terbatas, mungkin akan sedikit deg-degan dengan harga makanan dan minuman yang ditawarkan saat masuk ke café ini. Pasalnya, café ini memang terlihat eksklusif dari bangunan fisiknya. Namun saat membuka daftar menu, harga hidangannya masih relatif murah. Makanan dan minuman yang ditawarkan pun bervariasi, dari Indonesian sampai Western. Jika menggilai minuman beralkohol, traveler bisa memesan bir atau cocktail. Hidangan yang disajikan pun cukup lezat, meskipun pelayanan lumayan lama.

TIPS

Tempat ini saya rekomendasikan untuk dikunjungi, terutama saat sore hari, mulai dari pukul 4 sore hingga malam hari. Traveler dapat menyaksikan matahari yang perlahan menghilang di balik birunya laut sembari menyantap hidangan lezat yang dipesan.

Tips dan Info Lainnya :

1.  Bagi traveler yang mempunyai waktu yang terbatas seperti saya, sama sekali belum pernah ke Karimunjawa, tapi memiliki uang yang cukup, tak ada salahnya mengikuti open trip atau paket wisata yang diadakan oleh travel agent terlebih dahulu. Saat di Karimunjawa, traveler dapat menyurvei dan mengumpulkan informasi tentang jadwal keberangkatan dan harga tiket kapal, penginapan yang nyaman, persewaan motor/mobil/sepeda yang murah, harga sewa kapal untuk menuju ke pulau sekitar, dan sebagainya. Traveler dapat menggunakan informasi tersebut nantinya saat ingin berkunjung ke Karimunjawa lagi secara mandiri. Ikut open trip atau paket wisata bukan merupakan sebuah dosa yang memalukan, jadi santai saja.

2. Banyak tempat yang bisa dikunjungi di Kepulauan Karimunjawa. Jika mengikuti open trip atau menggunakan jasa trip organizer, carilah paket 4 hari 3 malam. Waktu tersebut lumayan cukup untuk menjelajahi Karimunjawa. Namun, jika traveling secara mandiri, 1 minggu berada di sana mungkin ide yang bagus.

3. Pilihlah waktu yang tepat untuk mengunjungi Karimunjawa, seperti pada musim kemarau di saat intensitas hujan rendah. Hal ini untuk mengantisipasi gelombang tinggi. Namun, hal tersebut tentu saja bukan jaminan. Traveler dapat mencari tahu bulan apa yang berpeluang terjadi ombak tinggi.

4.  Sinyal internet terkuat di pulau Karimunjawa adalah Telkomsel, provider lain tidak disarankan. Jika menggunakan kartu dari provider lain dan belum sempat atau lupa mengganti kartu, ada beberapa gerai atau warung penjual kartu perdana internet di pusat kecamatan Karimunjawa (saya menemukan di dekat Alun-alun).

5.   Sejauh pengamatan saya, ATM satu-satunya di Karimunjawa adalah bank BRI, yang berada dekat dengan Alun-alun Karimunjawa. Sangat disarankan untuk membawa uang tunai yang cukup karena terkadang ATM tersebut tidak dapat digunakan (offline atau dalam perbaikan).

6.  Bila traveler berinteraksi dengan penduduk asli, jangan terlalu cepat men-judge bahwa mereka tidak ramah. Karakter atau pembawaan penduduk asli Karimunjawa cenderung sedikit keras. Setidaknya itulah yang diakui sendiri oleh pemilik penginapan yang saya huni saat berada di sana. Namun, hal tersebut tidak lantas membuktikan bahwa mereka orang jahat, kasar, atau tidak menghargai pengunjung. Penduduk Karimunjawa itu sebenarnya baik dan sisi religiusnya tinggi, dibuktikan dengan banyaknya masjid yang didirikan secara berdekatan.



0 Comments

Be the first to comment.