LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Mentawai Island, Pulau yang Belum Banyak Dikenal Orang

indah

On

Saatnya kamu mengenal pulau yang masih asing ditelinga kamu. MENTAWAI !!!

Mentawai adalah satu kepulauan di Sumatera Barat. Letaknya di sebelah barat daratan Sumatera Barat yang terbentang di Samudera Hindia. Kepulauan ini terbagi atas empat yaitu, Pagai, Sikakap, Siberut, dan Sipora. Tuapejat, yang berada di pulau Sipora mendapat tempat yang spesial karena dijadikan sebagai Ibukota Kabupaten dari Mentawai. Sebenarnya, hal itu disebabkan, Tuapejat merupakan kecamatan yang posisinya berada di bagian tengah dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Hal ini akan memudahkan pengurusan pemerintahan mencapai kota tersebut dari Padang.

1. Tempat yang bisa kamu kunjungi dari pulau Mentawai

Sikerei

Menurut para ahli antropologi, nenek moyang Mentawai berasal dari Homo Sapiens yang paling awal datang ke Indonesia. Dan di pulau Siberut masih terdapat suku asli atau bisa dikatakan, orang yang masih terdapat silsilah mentawai asli. Pakaian mereka amat sederhana. Laki-laki memakai kambi (cawat dari kulit kayu). Perempuan bertelanjang dada dan memakai rumbai-rumbai daun pisang menutupi bagian pinggang hingga lutut.. Sekilas, gambaran seseorang pada jaman purba kala terlintas dipikiran. Benarkah ditahun 2017, masih ada hal seperti itu? Saya rasa, masih banyak di pulau lain yang masih memiliki etnis suku aslinya. Hanya saja semua itu mungkin belum terekspos. Lagipula, biarkan mereka mempertahankan apa yang mereka ingin pertahankan. Tidak perlu mengusik kehidupan damai mereka.

Sikerei, nama yang biasa disebut untuk suku etnis tersebut dan biasa dipercaya sebagai tabib. Terkadang, dalam acara tradisi, Sikerei mendapat kehormatan untuk tampil di muka umum. Bahkan di Tuapejat kilometer 9 (penghitungan kilometer dimulai dari pelabuhan = kilometer 0) patung Sikerei didirikan. Ini juga salah satu landmark di Tuapejat. Landmark? Mungkin ada yang bertanya sambil tersenyum, ‘Landmark apa yang terdapat di pulau?’. Kota di pulau ini memang sangat jauh dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya yang berada di Indonesia. Tapi disetiap kota, saya yakin memiliki keunikannya sendiri dan selalu memiliki landmark tersendiri.

Pantai Mapadeggat.

Berada di dekat laut, tidak afdol kalau tidak mencicipi asin nya air laut pantai Mapadeggat. Sebenarnya masih ada beberapa pantai yang tidak kalah cantik dengan Mapadeggat yang berada di pulau Sipora. Pantai Makakang dan Pantai Bosua. Perlu beberapa kali bagi saya untuk beradaptasi dengan masuknya air yang sangat asin itu kedalam mulut saya.

Kalau ingin bermain di pantai, datanglah setelah jam 3 sore. Karena disini sangat panas dan mungkin lebih panas daripada Padang. Oh ya, saat saya seru-seruan bermain di pantai dengan teman yang tinggal di kota ini, tanpa kami ketahui ibu saya menjepret kebersamaan kami. Dan hasilnya sungguh membuat kami merinding. Ini adalah foto asli bukanlah editan. Intinya sih disini, atau dimana pun kita berada, harus bisa menjaga kesopanan dan tata krama.

Kalau kamu menyukai surfing, kamu bisa menggunakan boat. Atau juga menggunakan jasa dari orang lokal dengan cara menaiki perahunya lalu membayar upah yang sudah di negosiasikan terlebih dahulu. Dengan menaiki perahu tersebut, kamu akan diantarkan ke tengah laut dimana gelombang arusnya lebih besar. Perahu dan si empunyanya akan setia menunggu kamu sampai selesai melakukan hobi tersebut, dan kembali membawa kamu ke pantai. Sekedar informasi tambahan, Kepulauan Mentawai terkenal dengan titik-titik spot selancar kelas dunia. Karena rata-rata ombak di Kepulauan mentawai bisa mencapai tinggi 7 meter.

Sioban.

Perjalanan dari Tuapejat ke Desa Sioban, yang masih dalam satu kecamatan Sipora membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Jarak yang ditempuh hanya 50 kilometer. Hal ini disebabkan perjalanan kesana masih sulit dilakukan, karena sebagian badan jalan hanya selebar roda sepeda motor. Terkadang untuk mengatasi perjalanan ini, dialihkan dengan menyusuri pinggir pantai yang hanya bisa dilakukan dengan memperhitungkan saat surutnya air laut.

Pelabuhan.

Selain dipantai kamu bisa melakukan belajar berenang (Air laut memudahkan badan kamu untuk mengapung, karena kadar garam dalam laut lebih tinggi dibanding dengan air tawar seperti danau atau sungai) Jadi sangat disarankan untuk yang ingin belajar berenang di laut daripada di danau.), kamu juga bisa memancing. Perahu diatas sering juga dipakai untuk memancing ke tengah-tengah laut. Tapi biasa penduduk disini memancingnya di dekat pelabuhan dengan menyewa perahu. Kalau kamu tidak mau capek dan ingin mendapatkan ikannya dengan mudah, kamu bisa datang ke kilometer 0 yaitu dekat pelabuhan. Mulai sore hari, pedagang-pedagang di pinggir jalan akan menyajikan ikan-ikan segar dengan berbagai macam. Semuanya ikan yang baru ditangkap berapa jam lalu.

Disini juga hal biasa untuk memanggang. Selain karena ikan yang didapat dengan mudah, asap-asap dari panggangan juga menjadi alternatif untuk mengusir Agas – sejenis binatang kecil seperti kutu ayam.

2. Benda yang bisa kamu jadikan ole-ole dari pulau ini.

Makanan.

Makanan khas atau ole-ole dari kota ini adalah tepung sagu. Tepung yang diperoleh dari teras batang rumbia atau pohon sagu. Mungkin hampir disemua kota terdapat tepung sagu. Tapi bedanya disini benar-benar tepung yang original. Bukan tepung campuran. Sagu menjadi makanan pokok masyarakat disini selain pisang dan keladi.

Informasi tambahan, Kapurut atau bahan makanan yang terbuat dari sagu merupakan makanan utama masyarakat mentawai dan salah satu makanan khas yang dipamerkan diacara festival yang diselenggarakan Dinas Pariwisata.

Necklace Mentawai

Selain sagu menjadi ciri khas Mentawai, kalung yang berbahan dasar dari manikmanik ini, menjadi salah satu ke unikan dari pulau ini. Satu kalung bisa dibanderol dengan harga Rp. 100.000. Karena pembuatan kalung ini memakan waktu berhari-hari. Dan pada acara-acara tertentu, kalung seperti ini akan banyak dipakai oleh anak-anak maupun orang dewasa. Penjualan kalung ini mudah ditemukan di dekat pelabuhan.

Ukiran

Saat kita menyisiri area pantai, kita akan menemukan kulit atau cangkang kerang. Oleh beberapa orang yang kreatif di pulau ini, benda tersebut bisa diolah menjadi suatu kreatifitas tanpa batas. Misal : dijadikan tirai pintu. Atau kerang yang biasa kita lihat dalam serial anak-anak masa dulu, ‘Jini Oh Jini’, bisa dijadikan asbak rokok. Ini juga biasa dijual di jalan mendekati pelabuhan. Saya tidak tahu apakah pengambilan spesies kerang itu dilarang oleh pemerintah. Atau yang mereka gunakan adalah spesies yang tidak dilindungi oleh hukum Indonesia.

3. Musim yang bisa kamu rasakan saat berkunjung di Pulau.

Musim Kepiting.

Disini terdapat setidaknya lima musim. Jangan berpikir bahwa saya akan mengatakan, bahwa disini akan ada musim salju dan sebagainya. Yang saya maksud musim disini berbeda dengan kota lainnya di Indonesia adalah, adanya musim kepiting. Di bulan tertentu, kepiting kecil atau kepiting besar akan berjalan dari pantai dan memasuki rumah penduduk. Bahkan kepiting akan berjalan sampai dua kilometer jaraknya dari pantai kerumah penduduk. Beruntung bagi orang yang menemukan kepiting yang besar. Itu bisa langsung dijadikan soup. Tapi jangan mencoba memakan kepiting kecil. Kamu tidak akan mendapatkan rasa manis. Karena masih terlalu kecil. Lebih baik dilepaskan kembali kepiting tersebut. Tapi tidak jarang, orang-orang sering membunuh kepiting kecil itu.

Musim mati lampu.

Hal ini dikarenakan seringnya pemadaman lampu dipulau ini. Pemadaman ini disebabkan tidak tersedianya stok bahan bakar minyak, sehingga memaksa pihak PLN untuk melakukan penghematan dengan cara pemadaman secara bergilir. Misal di kilometer satu-tiga, pemadaman dilakukan hanya malam-subuh. Lalu di kilometer empat-tujuh, pemadaman dilakukan pada pagi-sore hari.

Badai.

Lalu musim selanjutnya adalah musim badai. Badai ini yang mirip Tornado di Negara maju. Hanya saja ini dalam skala yang kecil. Saat badai datang (angin sangat kencang) terkadang bisa melumpuhkan jaringan satelit. Disini jaringan operator yang berlaku hanya Telkomsel. Jaringan selain itu tidak terdeteksi. Jadi jangan coba-coba membawa kartu X* yang kuotanya berpuluh-puluh giga, itu tidak berguna disini. Badai bisa datang sendiri atau ditemani hujan. Jika badai disertai hujan terjadi, maka bersiaplah untuk mengurung diri dirumah.

Hujan dan Kemarau.

Selain ketiga badai diatas, tentu saja musim hujan dan kemarau. Oh ya, disini adalah kota yang panas. Jadi saat musim kemarau, kota ini benar-benar sangat kering, gersang. Bahkan ada beberapa rumah harus menggali sumur yang baru dikarenakan sumur yang lama sudah kering.

4. Perlu kamu ketahui biaya hidup di kota ini.

Biaya hidup di kota dengan desa selalu berbeda jauh. Didesa dengan uang Rp. 100.000, bisa membuat kita bertahan hidup minimal 5 hari. Sedangkan di kota, dengan nominal uang seperti itu hanya bisa menopang hidup paling lama 3 hari dengan serba irit. Lalu bagaimana dengan hidup di sebuah pulau?

Biaya hidup di pulau, bisa murah dan mahal. Tergantung dari segi bahan pokok apa yang kita beli. Tetapi secara garis besarnya, biaya hidup di pulau ini terbilang mahal. Karena kebanyakan bahan pokok di kirim dari kota Padang, yang mengharuskan pengiriman dari jalur laut.

Harga goreng yang biasa saya beli di warung pinggiran jalan di tempat saya tinggal, sangat berbeda jauh dengan harga disini. Disini 3 goreng bisa dibanderol RP. 5.000. Lalu, 2 buah jagung rebus yang akan kamu makan dibanderol dengan harga Rp. 5.000.

Tapi hal unik yang saya ingat sampai sekarang adalah, saat dimana rata-rata semua kota penduduk di Indonesia mengalami kenaikan harga cabe merah beberapa bulan lalu. Misal saat itu harga cabe merah sedang naik di kota Padang Rp.45.000/kg. Di Tuapejat, harga cabe merah Rp. 95.000/kg. Minggu berikutnya, harga cabe merah sudah turun menjadi Rp. 30.000/kg. Tapi tetap saja di Tuapejat, harga cabe merah Rp. 95.000/kg.

Menurut saya disini yang murah hanyalah ikan saja.

5. Alat Transportasi

Kapal Mentawai Fast

Saya berangkat dari Padang menuju Tuapejat dengan kapal Mentawai Fast. Ini adalah kapal cepat yang mengangkut sekitar 200 orang dengan biaya Rp.250.000 per orang.

Kapal ini tidak berangkat tiap hari dari pelabuhan Muara Padang menuju Pelabuhan Tuapejat, Jadi untuk merencanakan traveling ke kota ini, harus tahu jadwal keberangkatan kapal. Misal: hari senin dan rabu adalah jadwal keberangkatan kapal untuk ke Siberut. Hari selasa dan kamis adalah jadwal keberangkatan kapal untuk ke kota Sikakap. Dan hari jumat dan minggu adalah jadwal keberangkatan kapal untuk ke kota Tuapejat. (Ini adalah simulasi contoh bukan jadwal keberangkatan yang sebenarnya.) Kapal ini dikatakan cepat karena hanya membutuhkan waktu 3,5 jam dari Padang ke Tuapejat. Di dalam kapal terdapat bangku bangku yang mirip seperti di kereta api atau bus keluar kota.

Sesampainya di pelabuhan Tuapejat, saya disambut hal yang baru. Taksi ala Mentawai sudah menanti kedatangan orang-orang yang baru turun dari pelabuhan. Jangan samakan dengan taksi seperti di kota. Sesungguhnya itu mobil pick-up yang selalu standby di sekitaran pelabuhan. Bagi masyarakat disini, mobil itu dinamakan angkutan umum. Tapi selama saya berada disana, saya selalu menyebut itu taksi. Karena dengan mobil inilah saya dibawa mengunjungi ke beberapa tempat yang ada di Tuapejat. Jadi saya ingin memberinya kesan spesial.

Kapal Gambolo.

Berbeda dengan kapal cepat, kapal besar ini bisa mengangkut sampai 300 orang. Selain jumlah orang yang bisa diangkut, di kapal ini tersedia matras tempat tidur sekitar 150. Hal ini dikarenakan ada perjalanan satu malam yang ditempuh dari pelabuhan Tuapejat ke pelabuhan Bungus di pinggira kota Padang. Jadi dibutuhkan tempat yang nyaman selama perjalanan jauh ini. Saya menggunakan kapal ini saat pulang.

Kapal Mentawai Fast maupun Kapal Gambolo, sama-sama memiliki jadwal rute pelayaran bergantian selama satu minggu. Selain kedua kapal tersebut, kapal Ambu-ambu juga memberikan pelayanan penumpang. Hanya saja kedua kapal diatas lebih banyak diminati masyarakat untuk rute Padang-Mentawai pergi dan pulang, maupun singgah di empat pulau besar dikepulauan Mentawai.

6. Salah satu titik yang sering terjadi Gempa.

Para ahli Geografi sudah membuktikan, kepulauan Mentawai merupakan puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut yang berada persis diantara pertemuan dua lempeng besar bumi. Wajar jika gempa berkekuatan besar adalah hal biasa bagi warga Mentawai.

Bahkan beberapa minggu lalu, Tuapejat masih merasakan gempa. Tapi dalam skala ringan. Karena terlalu seringnya gempa, terkadang beberapa orang tidak menyadari bahwa satu menit yang lalu terjadi gempa. Karena kondisi yang rawan dengan gempa, semua penduduk disini tidak memiliki kasur yang tinggi. Agar hal itu memudahkan penghuni rumah dengan cepat menyelamatkan diri keluar dari rumah. Masih ada beberapa tempat menjadi saksi bisu saat terjadinya gempa pada tahun 2010. Sisa-sisa puing homestay yang pernah dibangun turis dipulau ini.

Tower yang berada di belakang saya merupakan alat sensor gempa bumi yang berada di pelabuhan Tuapejat. Apabila terjadi gempa bumi dengan kekuatan tinggi dan berdampak bencana tsunami, maka alat tersebut akan memberikan peringatan bunyi berupa sirene untuk mengurangi resiko bencana.

Itulah secara garis besar mengenal pulau Mentawai. Terlepas dengan keunikan, keindahan, terbatasnya sarana transportasi yang ada, saya sangat menikmati berada dipulau ini. Mungkin perkembangan wilayah kota ini terkesan berjalan lambat, atau mungkin kondisinya akan sama untuk beberapa tahun kedepan, tapi biarlah keunikan dan keindahan dari pulau ini yang membuatnya dikenal keseluruh penjuru dunia.

Akan ada saatnya orang-orang merasakan jenuh dengan kehidupan kota dan mencari suatu kehidupan yang terpencil jauh dari hingar bingar modernisasi. Bangga menjadi Indonesia, bukan hanya mengenal kota kota besar dan kota yang sudah terkenal. Tetapi juga mengenal seluruh kota terpencil di balik sebuah pulau.



0 Comments

Be the first to comment.