LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena

dhany-pangestu

On

       Hobiku memang murah, hanya merangkai satu per satu huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi paragraf. Ya, menulis adalah hobiku dari kecil. Selembar kertas dan sebatang pena adalah amunisi ampuh bagi seorang introvert sepertiku untuk mencurahkan benak pikiran. Perasaan sedih, senang, ataupun gundah. Sampai tiba Aku dewasa dan menjadi mahasiswa, ternyata menulis itu adalah hobi yang sangat mahal. Ketika Aku mengetahui berbagai lomba menulis fiksi maupun non fiksi dengan hadiah jutaan rupiah, penghargaan penerbitan jurnal, sampai mendapatkan gelar sarjana dengan kewajiban menulis tugas akhir. Semuanya dibutuhkan keahlian menulis, tidak sekadar keahlian copy paste. Namun bukan uang, penghargaan, maupun gelar semata yang ingin Aku dapatkan. Lebih pada penyaluran hobi, keinginan berbagi inspirasi dan berkontribusi. Aku sangat bersyukur menjadi mahasiswa Bidikmisi Universitas Sebelas Maret (UNS) di Kota Solo/Surakarta. Salah satu universitas besar yang sangat diperhitungkan di kancah nasional. Sebagai mahasiswa Bidikmisi yang kuliah gratis dan mendapatkan uang saku setiap bulan dari pemerintah, Akupun tergerak supaya tidak menjadi mahasiswa Kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang). Sehingga bagaimanapun caranya Aku harus turut berkontribusi untuk negara. Salah satu caranya adalah lewat hobi menulisku. Bagi kalian pembaca, masih banyak cara lain untuk berkontribusi untuk negara lho? So, mari kita bersinergi.

       Kontribusi yang Aku coba berikan adalah dengan mengirimkan tulisan-tulisan ilmiah pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) tingkat mahasiswa. Bagiku awal menulis karya ilmiah tidak mudah, membingungkan, penuh aturan, dan yang paling susah adalah menemukan ide atau gagasan dari tema permasalahan yang ada. Banyak lomba yang Aku coba ikuti dengan mengirimkan tulisan ilmiahku, namun banyak pula yang tidak lolos seleksi. Hampir putus asa dan menyerah, ternyata menulis ilmiah untuk lomba tidak segampang menulis curhatan pada diary book. Sampai suatu ketika ada teman perempuan seperjuangan yang sama-sama ingin sekali mengikuti LKTIN. Walaupun Karyaku belum pernah lolos, namun Aku coba memberanikan diri mengajaknya bergabung dalam satu tim untuk mengikuti sebuah ajang LKTIN di Universitas Udaya, Bali dengan tema besar Green Economy (Ekonomi Hijau). Cocok sekali dengan jurusan temanku Pendidikan Ekonomi. Kami berdua saling bertukar pikiran meski tema lomba bukanlah keahlianku. Setelah berdiskusi kami menggagas tulisan tentang pembuatan lubang biopori di city walk Jl. Slamet Riyadi Solo sebagai solusi pengentasan kemiskinan di Kota Solo bagi anak-anak jalanan dan pengamen berbasis pemanfaatan sampah. Setelah menunggu beberapa hari dari hari kami mengirimkan naskah via pos dari Solo ke Denpasar, tibalah saatnya pengumuman finalis. Akhirnya nama kami berdua terpampang di daftar finalis (10 besar) yang berhak masuk ke babak final dan presentasi karya tulis di Universitas Udayana. Hanya ucap syukur dan tidak percaya yang kami rasakan waktu itu. Kami berdua belum pernah sama sekali ke Bali, hanya pernah mengecap keindahanya dari layar kaca televisi.

NOTES

Bukan uang, penghargaan, maupun gelar semata yang ingin Aku dapatkan. Lebih pada penyaluran hobi, keinginan berbagi inspirasi dan berkontribusi.
Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 1. Daftar Finalis LKTIN

     Hari keberangkatan kami sudah di depan mata. Dengan mendapatkan bantuan dana dari pihak fakultas, kami berdua terbang ke Pulau Dewata dari Bandara Juanda Surabaya. Ini merupakan penerbangan keduaku setelah sebelumnya pernah ke Makassar. Tetapi bagi temenku ini merupakan penerbangan perdananya, dia yang duduk di sampingku terlihat sedikit takut. Dan momen yang tak terlewatkan ketika berada ribuan kaki di atas air laut, adalah mengabadikan gambar pemandangan luar dari dalam pesawat.

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 2. Keindahan si Awan Putih

Setelah menembus batas waktu dari Waktu Indonesia Barat (WIB) ke Waktu Indonesia Tengah (WITA), pesawat kami mulai merendah dan terlihat pemandangan sekilas Pulau Bali yang indah.

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 3. Pulau Bali Top View

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 4. Jalan Tol di Atas Laut Bali

Jalan tol di atas laut Bali ini menghubungkan Kota Denpasar-Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua dan merupakan jalan tol pertama di Indonesia yang melintas di atas laut. Jalan ini memiliki jalur sepeda motor di bagian bawahnya. Jalan tol yang diberi nama Bali Mandara juga diklaim sebagai jalan tol terindah di Dunia. Amazing kan? proud deh sama Bali sama Indonesia.

       Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar menjadi tempat pertama kali kaki kami menginjak di Pulau Bali. Bandara ini merupakan bandara tersibuk ketiga di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta Jakarta dan Bandara Juanda Surabaya. Keindahan arsitektur yang berbaur dengan keindahan budaya lokal, membuat setiap yang singgah tidak dapat membendung untuk mengucapkan kata "wow", "wah" atau "amazing". Di pintu keluar sudah ada panitia lomba yang siap menyambut kedatangan kami. Gerimis kecilpun tidak mau kalah, datang bergerombolan menemani kami dalam perjalanan menuju hotel penginapan finalis lomba.

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 5. Bandara I Gusti Ngurah Rai

Setelah sampai di penginapan, sudah ada beberapa finalis lain yang check in terlebih dulu. Sore harinya seluruh finalis mengikuti technical meeting di penginapan, keesokan harinya finalis diberikan waktu untuk persiapan presentasi pada hari berikutnya.

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 6. Keakraban Finalis Lain di Salah Satu Kamar Putra

       Pada hari H presentasi, kami berusaha menampilkan yang terbaik. Jujur, Aku termasuk orang yang percaya diri untuk tampil di depan umum serta mudah gerogi, apalagi pada ajang menegangkan seperti lomba nasional ini. Syukurlah teman satu timku adalah orang yang mempunyai sifat berkebalikan dariku, sehingga dia bisa melengkapi dan menyemangatiku. Menit demi menit presentasi dan sesi tanya jawab dengan 3 dewan juripun berlalu. Berlanjut ke sisi foto bersama. Dari UNS tidak hanya tim kami saja, tetapi masa ada dua tim lagi. Inilah kami tim perwakilan dari UNS berserta dewan juri lomba.


Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 7. 3 Tim Perwakilan dari UNS Berserta Dewan Juri Lomba

       Keesokan harinya tibalah saatnya untuk filed trip. Kami seluruh finalis lomba bersama panitia akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Pulau Bali. Kami melewati Gerbang Tol Benoa dan melintas di jalan tol Bali Mandara. Melintas di jalan tol laut Bali Mandara membuat kita berdecak kagum, kombinasi teknologi beton modern yang kokoh menopang jalan dengan keindahan alam laut yang indah, benar-benar sudah terpampang di depan mata.

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 8. Gerbang Tol Benoa

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 9. Jalan Tol Laut Bali Mandara

      Tempat pertama yang kami singgahi adalah pantai Pandawa. Pantai Pandawa terletak  di Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Mendekati lokasi pantai, kita akan disapa oleh bukit kapur tinggi yang tertata rapi menjulang di sepanjang jalan mendekati pantai. Sehingga pantai Pandawa juga sering disebut Secret Beach karena lokasinya yang tersembunyi di balik bukit kapur. Di dalam dinding kapur terdapat patung para Panca Pandawa yang juga menyambut anda. Patung tersebut mempunyai tinggi masing-masing kurang lebih 5 meter dengan lebar 2,5 meter. Ke lima patung tersebut terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. 

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 10. Salah Satu Patung Pandawa di Dalam Dinding Kapur

Dalam setiap travelling jangan melewatkan sedikitpun momen untuk berfoto, kita foto dulu ya sebelum terjun ke pantai. 

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 11. Foto Bersama Sebelum Terjun ke Pantai

This is it ! Ini yang kita semua tunggu-tunggu, The real pict of Pandawa Beach. Pantai Pandawa mempunyai pasir putih yang bersih, halus serta ombak yang tenang dan biru jernih. Mungkin jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Bali pantai Pandawa sedikit terdengar asing,  karena memang merupakan pantai pendatang baru yang mulai dikenalkan sejak tahun 2012. Namun keindahanya tidak kalah saing dengan pantai lainnya. 

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 12. Pasir Putih dan Air Jernih Pantai Pandawa

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 13. Foto Bersama Finalis LKTIN

       Masih kurang puas rasanya menambatkan hati pada pesona pantai Pandawa. Perjalanan field trip kami berlanjut ke Museum Bali. Ternyata pulau Bali tidak hanya menjajakan pemandangan alam yang eksotis tetapi juga beragam adat, budaya, dan kesenian yang diabadikan dalam bentuk museum. Kini waktunya kami  berkunjung ke Museum Bali. Museum Bali merupakan museum tertua di Bali dan terletak  di Jl. Mayor Wisnu, Denpasar. Museum yang berjenis museum ethnografi dengan arsitektur bangunan yang artistik ini mempunyai beragam koleksi dari kebudayaan Bali. 

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 14. Keindahan Bangunan Museum Bali

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 15. Menikmati Museum Bali

       Tempat destinasi field trip terakhir kami yaitu Monumen Bajra Sandhi. ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi yang berada di tengah kota tepatnya di Jalan Puputan Renon, Denpasar. 

Menikmati Pesona Pulau Dewata Melalui Ajang Goresan Pena-Bali-Travel Feature-Dhany Pangestu

Gambar 16. Berfoto di Depan Monumen Bajra Sandhi

Monumen Bajra Sandhi bisa kita sebut Monas-nya Bali. Sama-sama berfungsi sebagai monumen peringatan. Monumen yang diresmikan oleh Presiden Ibu Megawati Soekarno Putri pada tahun 2003 ini merupakan monumen perjuangan heroik rakyat Bali d melawan penjajah serta menjadi lambang untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah seharian field trip, pada malam harinya tibalah waktu pengumuman juara lomba. Timku tidak mendapatkan juara, tidak masalah. Toh, seperti pernyataanku di awal, bukan uang maupun penghargaan yang Aku cari. Dalam setiap kompetisi pasti ada yang menang dan kalah, yang paling penting adalah proses yang telah dilakukan dan pengalaman yang telah didapatkan. 

       Ini adalah pertama kalinya Aku menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Sebuah travelling yang tidak terpikir pernah untuk dialami. Miniatur jelajah Indonesia di luar Pulau Jawa melalui ajang goresan pena. Berjabat tangan dengan kekayaan warisan budaya, sejarah, dan keindahan alam yang membuatku semakin proud terhadap Indonesia. Sungguh sangat bersyukur mendapat pengalaman luar biasa ini. Melalui hobi menulisku yang dinilai murah, kini sudah banyak tempat yang kusinggahi dari dalam Pulau Jawa, luar Jawa, bahkan sampai ke luar negeri. Dan ternyata Indonesia itu indah kawan. Semoga lebih banyak orang lagi menjelajah Indonesia dengan momen yang lebih berkesan melalui berbagai kesempatan. Keep inspiring and keep proud Indonesia.

NOTES

Tulisan berdasarkan pengalaman penulis, dan sumber foto dari dokumentasi pribadi penulis.


0 Comments

Be the first to comment.