LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

jembatan ‘kulintang’ di maratua, kalimantan timur

rascyamalia

On

Sunrise adalah menu wajib yang tak boleh terlewatkan saat traveling. Bagi saya, berjalan dan menunggu sunrise selalu punya cerita sendiri. Meski saya suka travelling sebenarnya kekurangan saya cukup banyak. Saya tidak bisa berenang sama sekali, tapi saya suka ikut-ikutan ketika melihat teman snorkeling, kayaknya seru banget. Semangat sebelum terjun ke laut, tapi ketika pelampung dikenakan langsung muncul parnonya. Ini pelampung support ga untuk berat badan 75kg? Haha… Jumbo size. Terus nanti kalau pelampungnya bocor gimana ? dan segala pertanyaan-pertanyaan untuk kemungkinan terburuk. Kekurangan lainnya adalah, saya sangat sulit sekali bangun pagi. Karena sudah terbiasa dari kecil segala sesuatu dimulai dari siang hari. Untungnya saya sudah lahir sebelum jam masuk sekolah mulai jam 6.30 pagi. Selain itu, saya orangnya sangat kikuk sekali, mabuk darat, laut, udara dan mudah panik. Haha… setelah ditulis ternyata banyak banget ya kurangnya 

Nah, meskipun saya banyak kurangnya tapi kelebihan saya adalah, punya kemauan kuat dan selalu berusaha. Jadi, kekurangan itu bisa tertutupi dengan sadar diri dan kemauan untuk mencari solusinya, bukan dengan kata-kata “ya udahlah…” kalau kayak gitu nanti malah tidak jalan-jalan dan berakhir cuman keliling mall aja. 

Pengalaman mengejar sunrise di Maratua, Kalimantan utara menjadi cerita yang seru buat saya. Karena harus bangun jam 4 pagi. Kebayangkan lagi enak-enak tidur, mimpi indah. Tiba-tiba alarm HP mengeluarkan bunyi yang super intimidatif dan bikin bangun jadi sebel. Tapi karena sudah diniatin mau lihat sunrise, akhirnya direla-relain deh bangun pagi.

Oh ya tips dan trik untuk yang susah bangun pagi dan ga pake ribet:

1. Selalu pasang alarm di HP.

Kalau punya HP lebih dari 1, pasang alarm dengan jeda masing-masing 1 menit dengan pilihan suara yang cukup intimidatif. Karena kalau pasang alarm dengan suara mendayu-dayu dijamin ga bangun, malah lanjut tidur dan mimpi indah

2. Persiapkan segala sesuatu di malam hari

Segala keperluan yang diperlukan untuk mengejar sunrise harus disiapkan sebelum tidur. Peralatan yang wajib dibawa seperti, senter, kamera, lensa wide, tripod, botol air minum yang sudah diisi, topi dan tisu. Jangan terlalu banyak membawa barang karena itu akan memperlambat mobilitas dan bikin ribet.

3. Jangan Begadang

Kalau susah tidur, karena insomnia. Mending ga usah tidur sekalian daripada susah bangun nantinya. Buat yang suka ngobrol sampe tengah malam, mending selama perjalan ditahan aja dulu. Masih ada malam berikutnya bisa dibuat ngobrol

Jam 4 pagi keluar dari penginapan dan sangat gelap gulita, bahkan melihat kaki sendiri saja tidak bisa. Untungnya saya selalu bawa senter kemana-mana bahkan baterai cadangan karena saya selalu menganut prinsip “We never know what happen next”.

Ternyata jalan menuju ke jembatan bohe bukut “air punggung” membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari penginapan. Awalnya perjalanan masih biasa-biasa saja, cuman gelap saja. Tetapi ketika sudah sampai di mulut jembatan, masih biasa saja hingga agak ke tengah. Jembatannya kayak kulintang, banyak bolong-bolongnya. Bikin Parno, karena dibawah langsung air laut (kan ga bisa berenang). Malam-malam jam ½ 5 pagi harus ngelewatin jembatan bolong. Melihat teman-teman yang lain kok santai banget ya, kayaknya ga ada gemeter sama sekali. Dalam hati, rasanya mau putar badan terus balik tapi ya gengsi donk sama yang lain.

Selama melewati jembatan yang bolong-bolong itu, saya berkonsentrasi penuh agar tidak jatuh, tidak tersandung atau tergelincir dan setiap detik selalu berdoa memohon keselamatan. Mungkin agak lebay kalau melihat teman-teman cowok yang lain memasang wajah cool 

Akhirnya dengan perjuangan keringat dingin, sampai juga di ujung jembatan. Rasanya lega dan senang. Pagi ini, cuaca memang sedang sedikit tidak bersahabat karena agak mendung. Oh ya, kesulitan lainnya adalah, ketika hendak memasang tripod, agak gemeter karena habis melewati jembatan bolong-bolong tadi dan gelap. Jadi memang harus ada bantuan dari teman untuk pegang senter.

Setelah berhasil foto sunrise, foto selfie, foto sekitar, dan puas foto-foto temen yang lagi serius jepret, saatnya balik ke penginapan untuk siap2 ke perjalanan berikutnya. Keringat dingin dan kaki gemetar pun dimulai lagi.

“God, Please save me”



1 Comments

  • AuliyaRP - 3 years ago
    sama seperti saya, ga bisa berenang juga.hehe tapi kalo travelling apapun bakal dilakuin demi momen istimewa :D