LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Malang-TEMPAT AWAL MULA (2)

tuhfah-amaliah

On

Perjalanan dimulai lagi, sepanjang sore sampai malam pukul 11 masih dijalan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Parahnya, tanpa tau harus menginap dimana. Rencana awal kami ingin mencoba duduk-duduk saja di warung dekat sana sambil ngopi atau ngeteh menunggu sampai dini hari untuk kemudian summit attack ke puncak Bromo. Ternyata amat sangat tidak recommended. 

Kami mencoba menghubungi kenalan, kebetulan salah satu dari kami adalah anak dosen Fakultas Kehutanan, dan kebetulan juga bimbingannya ada yang sedang di TNBTS, jadi mungkin kami bisa menumpang menginap, atau cuman untuk merebahkan badan. Sayang kamar-kamar sedang dipakai. semua. Sesaat akan sampai disana kami baru dikabari kami akan dipinjami ruang untuk tidur. Semacam ruangan rapat. Sayangnya ga sempat difoto ruangannya. 

Untuk masuk TNBTS sebenrnya per orang dikenakan biaya sebesar 20.000 (2014). Tapi lagi-lagi kami adalah rombongan nekat yang beruntung, setelah dibilang ingin menemui salah seorang disana, (lupa nama abangnya :(() dan membayar, ternyata saat ditempat parkir, uang kami dikembalikkan. Tidak usah bayar katanya. Alhamdulillah. Beruntung banget. 

Ruangan rapat yang kami tempati bukan tempat nyaman untuk tidur, kami sudah mempersiapkan bebrapa jaket tebal, untuk sebagian bagi kami masih kurang, dan menggunakan celana jeans membuat udara dingin makin menusuk. Beberapa dari kami tertidr di bangku-bangku. Yang tidak bisa tidur memutuskan untuk keluar mencari kopi, teh dan mie.

Sebelumnya kami mencarter hardtop. Satu orang dikenakan biaya 50.000. dan akan dijemput sekitar pukul 4 untuk summit attack dan sunrise. Kami memilih untuk sunrise point di puncak Bromo dibandingkan melihatnya di Penanjakkan. 

Pukul setengah lima, hardtop kami baru datang. Sekitar 20 menit kami sampai. Ditempat ini kami masih harus melalui trek menanjak dan berpasir sepanjang kurang lebih 500 meter. Trek dilanjutkan dengan tangga. Dengan berbekal hanya satu headlamp kami mencoba trekking menuju puncak Bromo. Baru mulai trekking sekitar 5 menit mulai terdengar keluhan-keluhan, beberapa atau sebagian besar dari kami tidak terbiasa melakukan perjalanan yang "berat". Tak lama, seorang teman malah memutuskan menyerah dan memilih naik kuda -..- saat itu 50.000 hanya sampai batas tangga. Kami ber-8 masih mengandalkan kaki sendiri. Sampai di batas tangga. Fajar mulai menyingsing. Khawatir gagal sunrise di puncak Bromo, langkah kaki dipercepat.

Lagi-lagi ada drama. "Tinggalin gue disini aja deh, ntar gue nyusul keatas". Lah bagaimana ditinggalin. Mana pernah ada pendaki yang ninggalin temennya #tsaaaah

Ini tinggal beberapa langkah lagi menuju puncak. 

"ga bek, ga ada tinggal-tinggalan, lo bisa kok, itu dikit lagi. kita harus sampai puncak rame-rame"berusaha memberi semangat. dalam hati ngomong : kan tadi dia naek kuda kita mah jalan udah capek lagi aja. Pemberian semangat berhasil. Dia lanjut jalan. 

sayangnya sih ga bisa ngeliat matahari bulat sempurna pas sunrise. Ah itu cuman bonus. bahagianya sampe di puncak Bromo bareng-bareng itu selalu luar biasa. Apalagi sebenernya belum bener-benr istirahat dari Jakarta-Bromo. Merinding kalau inget-inget lagi. Bahkan masih sempet bisa liat Milky Way. #bersyukur

nemu spot foto, gini deh centil-centilan bikin bayangan :)

Di Pasir berbisik, udah bingung mau foto apa , cuman kagum aja Indonesia indah banget gini

Lanjut ke Bukit Teletabis, indah banget disini, banget, kayak di antah berantah. Pengen bisa ke ujung bukit dsana tapi setelah dicoba explore yang keliatan deket itu jauh -..-

Perjalanan hari pertama dan kedua beres. masih akan berlanjut lagi ke dua tempat lain. Batu Night Spectacular dan Pantai Bale Kambang

(to be continued...)



0 Comments

Be the first to comment.