LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Magisnya Pesona Tana Toraja

noratrisna

On

Cintai Indonesia, dengan mensyukuri, serta mencintai alamnya, kebudayaannya, keragamannya dan masyarakatnya

Siang itu, Rabu 21 September 2016, gue mengirimkan pesan melalu Whatsapp kepada teman yang sangat gue cintai di Gorontalo. Hasrat hati ingin mengajak dia untuk ikut gue berkeliling kota Makassar dan sekitarnya yang terkenal penuh pesona mahakarya sang pecipta. Dengan ringan, diapun menyetujui dan bergabung dengan gue dikeesokan harinya. Namun sebelum bertolak ke Tana Toraja, gue dan sahabat gue, singgah ke Tanjung Bira yang pesona pantainya sayang untuk dielakkan. Sedikit review, Tanjung Bira yang berjarak 5 jam dari Makassar memiliki pantai yang sangat indah. Pasir yang sehalus bedak bayi, dan laut emerald  yang memukau, membuat pantai ini menjadi tujuan wisata yang mampu membuat semua mata tertegun.

Sepulang dari pantai ini, gue dan sahabat gue, mengunjungi rumah seorang teman yang kami kenal melalui media sosial facebook. Kami bercengkerama dengan keluarganya dan malam harinya kami bertiga bertolak menuju Tana Toraja yang berjarak 9-10 jam dari Makassar. Ohya, kebetulan teman gue ini rumahnya tepat dibelakang Bandara Internasional Hasanuddin, jadi kami pun bisa meninggalkan bagasi kami yang lain dirumah beliau.

Dengan menumpang  bus malam dari Makassar yang saat itu sekitar Rp.150.000,- kami pun menikmati perjalanan malam dengan bercerita dan tentu saja beristirahat karna esok harinya kami akan menghabiskan waktu tanpa istirahat di Kota Toraja itu. By the way, perjalanan gue kali ini tanpa ittenary atau jadwal yang pasti. Alias kami akan menikmati segala macam keadaan yang menunggu di kota yang tidak kami kenal sama sekali.

Berbekal dengan obrolan dengan beberapa Tukang Ojek, kami pun melakukan perjalanan pertama menuju NEGERI DIATAS AWAN, Lolai. Saat itu masih sangat gelap, kami bertolak menggunakan ojek (dengan membayar Rp.50.000,- bolak balik) ini ke atas bukit, dimana objek ini akan memukau ribuan mata penikmatnya. Dan Masya Allah... benar. keindahan Toraja, sekilas bisa kita nikmati dari balik awan yang sedikit-demi sedikit menyingkirkan muatannya hingga menyemburkan pesona Toraja yang menawan.

Setelah puas menikmati sunrise dari atas bukit Lolai ini, kami pun turun kembali ke Rantapao, untuk sarapan dan tentu saja beribadah. Sepanjang perjalanan pun kami nikmati dengan mata yang tetap terpukau. Mata yang harusnya terpejam karna perbincangan yang nyaris tidak membuat kami tertidur semalaman tadi, tidak mampu menolak keindahan alam Toraja yang anggun dan indah. Keramahan orang sekitarpun kepada kami yang Muslim, sangat meninggal kesan yang mendalam. Warga sekitar menunjukan kami dimana tempat beribadah dan tempat makan yang baik untuk kami. Tidak ada sama sekali perbedaan perlakuan yang kami terima. TORAJA kota yang rama dan damai. Indah sekali.

1. Kuburan Goa, Londa
Kami pun menyewa motor dadakan dengan harga yang fantastis. Fantastis murahnya. Hanya Rp. 70.000,- untuk 2 motor seharian. Cukup melampirkan identitas diri. Bahkan dibekali dengan peta/map objek apa saja yang bisa dikunjungi (Pemberi Sewa yang keren :)). Dan kami mulai eksplor Wisata Kuburan yang penuh dengan pesona magisnya.

Londa. Tujuan pertama kami. Kuburan Goa yang didalamnya penuh kejutan. Stalakmit dan stalaktit bukan tujuan utama menikmati Goa ini. Tapi peti-peti mati,  tengkorak berbagai kasta, bisa kita lihat didalamnya. Guide yang menemani kita akan menceritakan sejarah kuburan ini, cara memasukkan mayat dan siapa-siapa aja yang pantas untuk berada ditempat teratas Goa ini. Suasana Mistis pun akan kamu rasakan seketika.

2. Kuburan Pohon, Sangalla
Puas menguak sejarah bangsawan dan beberapa penghuni Kuburan Goa ini, kami beranjak ke Kuburan Pohon yang terletak di Sangalla. ada cerita unik dari perjalanan kami ketempat ini. Gue dan teman-teman gue, merasa sangat horor dilokasi ini. Pasalnya, kuburan ini dijaga oleh seorang nenek-nenek yang sangat tua. Bahkan saat membeli tiket masuk, beliau tidak berbicara, hanya menunjukkan tanggannya. Dan saat berkeliling, tempat yang sangat rimbun, dikeliling oleh pepohonan dan hutan ini pun diguyur gerimis yang cukup rapat. Hingga membuat kami harus berlama-lama didepan kuburan Kambira Baby Grave.

Kambira Baby Grave ini adalah Pohon untuk menguburkan bayi-bayi dibawah 4 bulan. Mayat-mayat bayi itu akan diselipkan di pohon ini. Dan sesuai namanya, kkuburan ini memang dikhususkan untuk bayi-bayi bangsawan yang meninggal dengan kondisi fisik yang kecil dan masih dibawah 4bulan.

3. Kuburan Rumah Patane

Kuburan selanjutnya yang kami singgahi adalah Kuburan Rumah Patane. Kali ini kuburan-kuburan ini, berbentuk Rumah, Tonkonan dan tentu saja ada beberapa yang ditempat di dinding batu. Sesuai dengan keterangan Guidenya, kuburan-kuburan ini tentu memiliki kisah nan cukup menguras air mata kalo diceritakan.

Dan beberapa objek wisata Kuburan lainnya. Ohya, ada beberapa kisah lucu dalam perjalanan kami. Beberapa kali sepeda motor kami Mogok. Bahkan hujan deras mengguyur desa-desa ini, hingga mengharuskan kami menghentikan perjalanan kami sejenak dirumah-rumah penduduk yang ramah. Yang paling menarik adalah, kami tersesat cukup jauh dari lokasi awal kami bertolak. Hingga membuat kami benar-benar hanya menikmati pematang sawah, jajaran Tongkonan yang menawan, dan danau-danau kecil yang menghiasi desa-desa di Toraja ini. Satu lagi yang menarik, di Toraja ada satu sapi yang harganya cukup membuat mata membelalak. Terakhir sih harnya 1 M. Fantantis bukan?

Tana Toraja adalah kota yang ramah, damai dan aman untuk siapa aja. Keragaman yang dihadirkan mampu memikat hati siapa aja untuk mau kembali ke Tana Toraja. Sejuk dan tenang cocok untuk menghabiskan hari-hari yang muak dengan kemacetan kota-kota besar. Selamat mengeksplor Tana Toraja :)




2 Comments

  • amirmahmud - 2 weeks ago
    Pemandaganya keren sekali, yang sawah di atas rumah Toraja itu lho, tampak ada sinar matahari menyorot, kesanya indah sekali