LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Komersil nya pulau dewata & ke – eksotisan nya

gemdra

On

After the whole stress full weeks !! yes bener bener beberapa bulan kemarin urusan kuliah Dan organisasi Udah seperti kaki di kepala kepala di kaki. Kuliah pontang panting tugas udah jadi temen hidup setiap hari, waktu tidur yang alakadarnya, organisasi udah di ujung puncak puncaknya, deadline laporan dan proposal. Klasik sih masalah engineer student, but its okay, for me I did enjoyed all those damn process karena menurut gue kuliah itu harus susah kalau lo kuliah gampang bukan kuliah namanya dan buktiin bahwa urusan kuliah gue bisa urusan main juga gue oke. Dan effort yang kita lakuin sekarang kelak gak sia sia buat masa depan kita sendiri. Kira kira seminggu sebelum tgl 23 desember 2014 I decide to make a plan for my short sweet escape holiday to treat myself, karena gue berpegang teguh dengan kalimat “Work Hard Play Hard” setelah kesusahan tersebut gue ngerasa butuh senang senang (indeed).

Sebenarnya Gunung Slamet adalah tujuan utama dalam trip gue kali ini karena masih di jawa dan emang memakan “ongkos” yang lebih sedikit di banding gue langsung ke bali. But unfortunately gunung slamet masih di tutup gue dapet info dari @InfoPendaki. Tanpa pikir lama dan modal nekad aja gue memutuskan oke Gunung Agung Bali. 22 desember 2014 sambil menyelesaikan pengumpulan terakhir laporan Kerja Praktek di kampus, gue menanyakan semua info tentang Gunung Agung bali melalui beberapa teman kampus yang memang berasal dari bali dan membaca beberapa artikel tentang Gunung Agung Bali. Dengan tekat yang bulat gue bersama travel buddy gue Ody @Leodyhaz setelah mendapatkan info dan saran. Mulai sore hingga malam hari mempersiapkan semua peralatan untuk pendakian, logistik dan semua peralatan tempur lainya khas pendaki gunung. And Here We Go Gunung Agung Bali !!!..

23 Desember 2014

Pagi itu 09.00 WIB kami berangkat menggunakan bus dengan rute dari Surabaya (Bungur Asih) – Banyuwangi (Pelabuhan Ketapang) - Pelabuhan Gilimanuk – Bali (Termnal Mengwi) It should takes for about 12 hours !!! tapi karena ada suatu masalah di perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk – Terminal Mengwi yaitu terjadi kecelakaan di jalur utama yaah mau gak mau waktu perjalanan bertambah sekitar 17 jam lamanya. Setelah duduk sampai rasanya keram semua (24 Desember 2014) 02.00 WITA sampailah kami (bukan di terminal) tapi di suatu tempat di bali. Kami seluruh penumpang di paksa turun oleh kenek bis dengan alasan mereka harus segera balik ke surabaya mereka telat di akibatkan kecelakaan tadi. Ternyata kami di turunkan di suatu agen travel di mana sudah tersedia beberapa mobil angkutan dengan tujuan berbeda beda di bali. Setelah turun dari bis serentak kami di tawari langsung oleh beberapa driver. Dengan logat bali yang khas dan bahasa inggris yang pas pasan mereka menawarkan ke beberapa turis asing yang kebetulan bersama kami. Langsung kami mengajukan pertanyaan untuk tujuan Kabupaten Karangasem (Pura Besakih). Harga yang di tawarkan ke kami Rp.600.000,- and im just like….. are you fckn lose your mind sir ??. Serentak gue dan ody bilang Gak !! dengan jurus jiwa dagang ody dan debat melas blak blakan dari gue akhirnya bapaknya mau mematok harga Rp.350.000,- untuk gue dan ody. Jujur untuk ukuran backpacker harga segitu masih mahal apalagi gue cuma berdua.

24 Desember 2014

Kira kira pukul 05.30 WITA sampailah kami di Kabupaten Karang Asem Pura Besakih yang merupakan Komplek Pura Terbesar di Pulau Dewata Bali yang terletak di kaki Gunung Agung.

Tidak ada yang istimewa pagi itu selagi karena memang masih terlalu pagi banyak toko yang belum buka. Kalau tidak salah beberapa hari sebelum kedatangan kami umat Hindu yang merupakan mayoritas masyarakat bali baru saja selesai merayakan hari raya Galungan. Kami hanya di sambut oleh beberapa anjing kintamani yang ramah pagi itu. Setelah kurang lebih 30 menit setelah kedatangan kami, beberapa penduduk asli mendatangi kami untuk menawarkan jasa guide.

“ Sedikit Info untuk para pendaki, Gunung Agung ialah Gunung yang di sucikan oleh masyarakat bali untuk pendakiannya sendiri harus di wajibkan menggunakan guide untuk mencegah kejadian kejadian yang tidak di ingingnkan.

Namun yang sangat merobek robek hati saya ialah Para pemandu disini merompak kami para pendaki dengan mengatasnamakan organisasi. Harga guide yang di tawarkan oleh kami sampai dengan harga Rp.900.000,- GAK MASUK AKAL !!!! Pagi itu kami sempat tetap bersih kukuh bahwa dengan harga segitu kami tidak punya uang yang cukup. 1 jam lamanya kami tetap di tanyakan lagi lagi dan lagi dan sama kami juga menjawab dengan jawaban yang sama “ Kalau 900 ribu kami tidak punya uang bli “. Akhirnya mereka meninggalkan kami, kemudian sala satu warung buka dan kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sambil bertanya tentang tatacara pendakian. Kami bertanya denga ibu penjual dan dia menyarankan kami agar melapor ke kantor polisi dulu sebelum melakukan pendakian ibu itu juga menjelaskan bahwa memang menjadi suatu keharusan kalau mendaki gunung agung harus di sertai guide. Setelah sarapan kami bertanya letak kantor polisi tersebut sebagai kantor registrasi sebelum melakukan pendakian.

Letak kantor tersebut berada di sebelah kiri Pura Besakih. Kami harus masuk melewati halaman Pura Besakih sebelum akhirnya sampai di kantor Polisi untuk administrasi dan registrasi sebelum mendaki.

Di perjalanan menuju kantor polisi lagi lagi kami ketemu orang yang menawarkan jasa guide. Kali ini namanya Bli David dia mengaku Koordinator dari semua guide Pendakian di Gunung Agung, tidak beda jauh dengan orang yang kami temui pertama kali dia menawrkan dengan mematok harga yang “sedikit” lebih murah yaitu Rp.750.000,- HELL FCK NO !!! that is still too expensive man ! Akhirnya kami memutuskan akan tetap ke kantor polisis dulu dan bli david menegaskan bahwa nanti kita bisa bicara di kantor polisi saja mengenai harga (katanya sambil bergegas).

Kira kira pukul 08.30 WITA kami sampai di kantor polisi untuk melakukan administrasi dan registrasi bahkan pak polisinya pun menegaskan kembali bahwa semua pendaki harus menggunakan guide untuk alasan keselamatan. Akhirnya kami menyelesaikan registrasi untuk pendakian dan kemudian datanglah bli david untuk menawarkan jasa guide, setelah proses tawar menawar yang panjang keluarlah harga Rp.600.000,- dengan perjanjian kami membayar stengah dulu dan kemudian setelah turun baru kami akan menyelesaikan sisanya, dengan berat hati walau harga tersebut masi sangat sangat mahal bagi kami para pendaki apalagi kami yang saat itu hanya mendaki berdua saja !.

Setelah pembayaran jasa guide selesai kami bergegas dan bersiap untuk pendakian. Pada pukul 10.15 WITA guide kami datang, namanya bli kariane dan ternyata bli kariane ialah kenalan dari senior kami di kampus, serentak suasana yang beku cair seketika. Tapi sayangnya bukan bli kariane yang akan menemani kami ke puncak Gunung Agung ternyata kaka dari bli kariane. Setelah persiapan selesai kami di antar menggunakan sepeda motor dulu melalui jalur sebelah kiri belakang pura besakih yaitu pos awal pendakian gunung Agung. Di pos awal ternyata ada pura lagi sebelum akhirnya kami melakukan trakking di jalur menuju puncak Gunung Agung. Sebelum memulai kami sempatkan untuk mengambil foto bersama bli kariane agar kami bisa tunjukan ke senior kami bahwa bertemu dengan bli kariane di pura besakih.

Pukul 11.12 WITA kami mulai perjalanan traking bersama guide kami yaitu kaka dari bli kariane (bukan yang di foto). Medan dari gunung agung sendiri ialah hutan hujan tropis, di karenakan kami mendaki pada saat musim penghujan hujan badai pun menemani selama perjalanan kami. Kemiringan pada jalur pendakian pun bisa mencapai 75(derajat) dari awal mulai trakking.

Hujan adalah salah satu kendala pagi sebagian besar pendaki, keram pada kaki, basah pada pakaian, licinya jalanan adalah faktor masalah utama kami kemarin selama mendaki gunung agung. Namun semua itu tak mengurungkan niat kami untuk menikmati indahnya gunung agung bali. Di tengah perjalanan kami sempat bertemu dengan beberapa orang bali berpakaian putih mereka datang untuk melakukan sembahyang di sebuah batu besar di tengah tengah lembah gunung agung sebagian dari mereka ada yang membawa sesajen berupa angsa. Dari sekelompok orang yang sembahyang itu mereka di antarkan juga oleh guide, kami bertemu guide mereka yang bernama wayan (16). Mungkin karena cuaca yang kurang baik dan akibat di guyur hujan sejak awal pendakian guide kami yaitu kaka dari bli kariane mendadak sakit, dia meminta wayan untuk menjadi guide kami untuk menggantikannya sehingga dia bisa turun untuk beristirahat.

“ FYI : Guide disini bukanlah porter seperti pada gunung gunung lainya mereka tidak akan membawa tas carier kita yang berat ataupun memasakan kita. Mereka hanya bertugas untuk menunjukan arah jalan saja. Yes that’s it, we pay for about Rp.600.000,- and we got nothing but the directions guide “

Akhirnya perjalanan kami lanjutkan bersama wayan, untungnya wayan masih sangat muda dan bisa ber bahasa indonesia yang lancar karena tidak semua orang bali di Pura Besakih bisa lancar berbahasa indonesia sehingga kami lebih bisa membaur di bandingkan guide kaka bli kariane. Perjalanan terasa lebih hidup kami selalu mengobrol sambil terus melangkahkan kaki mendaki gunung agung, hujan pada siang itu mulai meredah sampai kira kira pukul 16.00 WITA hujan berhenti total namun matahari masih belum memunculkan dirinya hanya sedikit berkas cahaya matahari. Di waktu itu gue bener bener merindukan terik panas nya kota surabaya.

Udara dingin mulai menusuk ke tulang, otot mulai terasa kaku, pakaian yang masih basah akibat hujan melekat di badan di tambah kondisi tubuh yang sudah lelah, menuntun kita untuk terus bergerak agar tubuh tetap membakar tenaga agar tetap terasa hangat. Sepanjang perjalanan kami hampir sama sekali tidak menemukan tanah yang datar untuk beristirahaat atau mendirikan tenda. Menurut para guide ada 2 pos di gunung agung namun pos yang di maksud di sinin bukan lah pos dengan bangunan seperti kebanyakan post di gunung gunung lain di indonesia. Sepertinya masyarakat bali memilih untuk tidak membangun pos pendakian di gunung Agung agar supaya tetap menjaga ke asrian gunung agung itu sendiri dan memang bahwa gunung agung ini bukan sebagai gunung untuk di daki namun lebih ke tempat spiritual dari masyarakat hindu bali untuk urusan ke agamaan.

“ FYI: Pos 1 dan Pos 2 di gunung Agung ini hanya berupa tanah kosong/datar yang bisa di dirikan 2-4 tenda saja. Jadi kalau kalian berencana untuk camp kalau mendapatkan tanah datar sebaiknya langsung dirikan tenda untuk amanya karena belum tentu di atas ada tempat datar, aman dan nyaman untuk mendirikan tenda. #GunungAgungPunyaSelera ”

Pada pukul 17.45 WITA kami tiba di tempat yang para guide sebut denga pos 2. Tidak ada sign atau tulisan atau bangunan ataupun gubug sekalipun untuk berteduh hanyalah tanah kosong yang datar dan sisa pembakaran pendaki lain. Tapi kami memutuskan untuk jalan lagi mencari tempat datar di atas agar supaya memudahkan kami nanti ketika bangun pagi untuk mengejar matahari terbit di puncak tertinggi di Gunung Agung. Kira kira 30 menit melakukan perjalanan kami menemukan tempat datar yang bisa kami dirikan tenda untuk beristirahat malam ini sebelum melakukan Summit ke puncak Gunung Agung. Segera kami langsung mendirikan tenda dan mengatur perbekalan dan menyiapkan makan malam. Gue sendiri bertugas untuk mendirikan tenda, Ody bertugas untuk mengatur perbekalan sedangkan wayan sedang sibuk membuat api unggun untuk menghangatkan badan kami.

Pemandangan dari tempat camp kami cukup cantik di mana kami berada di atas awan, pulau bali tertutup oleh awan putih dan di sela sela awan tersebut cahaya sunset dari matahri yang memancar kuning dengan warna latar langit yang berwarna jingga. Sungguh momen yang mungkin tidak semua orang di dunia ini bisa menikmatinya.

Setelah semua sudah beres dan kami sudah menyantap makan malam kami langsung beristiraha untuk mengmpulkan tenaga untuk besok.

25 Desember 2014

Alaram HP kami berbunyi tepat pada pukul 01.00 WITA segera gue membangunkan ody dan wayan. Setelah mempersiapkan perbekalan minuman hangat, camilan, dan juga kompor untuk membuat makanan di puncak nanti a.k.a Indomie seleraku boy. Pukul 02.00 WITA kami mulai traking, di sepanjang perjalanan pulau bali terlihat jelas dan masih tertutup awan hitam di selangi dengan beberapa kali kilatan petir di antaranya. Berbeda dengan kami yang berada di atas awan, pucak Gunung Agung terlihat jelas dan hamparan bintang begitu nyata indah sedap di pandang mata. Malam itu angin tidak begitu kuat berhembus sangat membantu kami untuk segera sampai di pucuk dari gunung Agung. Jangan heran jika di sepanjan perjalana kami menemukan beberapa pura kecil seperti tempat sembahyang khas masyarakat hindu bali. Disatu pura tiba tiba kami di hampiri oleh anjing kintamani berbuluh putih polos, kami tetap melanjutkan perjalanan dan anjing kintamani putih itu tetap mengikuti kami dari belakang sampai akhirnya kami harus memanjat batu besar tanda dari batas vegetasi sampai disitu pula kami tidak melihat lagi anjing kintamani putih itu. Tidak ada perasaan takut malam itu atau virasat buruk pada saat itu krena kami datang dengan tujuan baik dan tidak mempunyai niatan buruk so… show must go on !

Pukul 05.15 WITA Kami adalah orang pertama yang sampai di puncak Gunung Agung pada hari itu. Pagi itu masih gelap segera kami membuat indomie kuah untuk menghangatkan badan kami. Sembari menyantap makanan kami 30 menit setelah itu sudah muncul warna kuning emas di antara awan awan hitam setelah badai kemarin.

Segera kami menikmati matahari terbit / sunrise dari puncak tertinggi di tanah dewata bali. Hampir setiap menginjakan kaki di atas puncak gunung gue selau merasa bersyukur atas apapun dalam hidup.

Thank you for the good and bad in my life it taught me to be more thankful. Thank you for the up and down in my life it taught me to be more patience and mature.

Dari Puncak Gunung Agung juga terlihat jelas puncak Gunung Rinjani yang begitu kokoh kuat berdiri di pulau lombok. Sebelah kanan terlihat jelas pulau nusa penida dengan garis pantai pulau dewata yang terlihat jelas.

Letusan gunung agung pada Tahun 1963 Bali menjadi Pulau Mati tidak ada kehidupan sampai akhirnya pada kurang lebih Tahun 1967 *cmiiw Mulai membangun kehidupan kembali di bali. Akibat letusan tersebut, terbentuklah kawah yang luas atau sering di sebut dengan kaldera. Kaldera gunung agung sendiri Masih sering di gunakan untuk pembuangan sesajen bagi masyarakat bali ketika sembahyang atau dalam ritual tertentu. Bagi masyarakat bali gunung agung adalah gunung yang di sucikan, tidak sembarang yang bisa mendaki gunung ini. Suatu keberuntungan juga bagi kami mendapatkan kesempatan ini !

Gunung Agung, salah satu gunung terbaik yang pernah gue daki. Gunung Agung salah satu gunung dengan sunrise terbaik setelah Gunung Arjuno. Gunung Agung Masih sangat sepi dan asri terakhir mendaki gunung dengan jumlah orang se sepi ini yaitu Gunung Welirang cuma 4 orang Pendaki sampai di puncaknya. Di Gunung Agung kami cuma di temani 3 orang bule yang datangnya pun sedikit terlambat. Kalau bisa gini terus aja semoga Gunung Agung terus di jaga ke asrianya. Dari sisi sebelah kiri kita bisa melihat dengan jelas Danau Batur dan puncak Gunung Batur.

Setelah puas menikmati indahnya Pulau bali dari ketinggian kami memutuskan untuk kembali turun hari itu juga.

26 Desember 2014

Gue dan ody memutuskan untuk tinggal sejenak di kuta untuk sekedar menikmati bali sayang aja kalau udah di bali tapi belum sempat makan ayam betutu dan menikmati padatnya kuta bali. Kami memutuskan untuk menghubungi temen kami orang bali yang kebetulan doi lagi kuliah di jakarta Sebut saja Oping, untuk memberitaukan kami refrensi tempat tempat yang mungkin kami bisa kunjungi. Oping memberikan beberapa refrensi tempat hang out yang masih belum sebegitu rame di kunjungi orang orang. Di karenakan kami meminta untuk menjelaskan jalan dan detail tempatnya akhirnya kami di kenalkan oleh pacar dari oping yaitu Ivan ! Thank you guys oping dan ivan udah mau di repotin ama kita berdua hehe gue tunggu di surabaya yaah.

Kami janjian ketemu dengan Ivan di Mcd Jimbaran. Setelah ketemu, Ivan langsung mengajak kami ke salah satu spot untuk Jump Cliff yang masih belum banyak di ketahui orang orang tempatnya dekat dengan salah satu resort ternama di bali Ayana Resort and Spa (Rock Bar).

But Unfortunately again karena airnya siang itu lagi pasang so kita gak bisa renang dan lompat lompat di cliff ini terlalu berbahaya. Pukul 14.00 WITA ivan mengajak kami untuk sekedar duduk menikmati pantai dan sembari menunggu sunset di salah satu sunset spot di bali. Sambil menikmati pemandangan para peselancar sedang asik dengan ombak dan papan mereka. Hari itu di akhiri dengan kami menikmati sunset di pinggiran pantai.

((((((( Kenapa gue sebut Pulau Dewat Komersil ? )))))))

- Gunung Agung adalah Gunung Terkomersil $$$ yang pernah gue daki.

- It spend for about 1 jt rupiah ++ untuk biaya transport ke gunung dan beserta Guidenya !!! Guidenya sih Mahal banget !

- Saran untuk siapa pun yang akan melakukan pendakian di harapkan dalam 1 team lebih dari 5 orang untuk memudahkan ongkos dan meringankan.

- Dilarang keras membawa makanan yang berbahan daging sapi ke atas gunung agung.

- Harus siap plan B jika ingin mendaki gunung agung. Jika tiba tiba ada ritual dari umat Hindu pendakian di Tutup.

- Gunung Agung adalah gunung yang sangat di sucikan masyarakat Bali so Talk No evil, See No Evil, Hear No Evil. (Jaga Sikap Boy)

-  After all gue namain Bali Komersil tapi sebanding dengan apa yang gue dapet. Bali dan alamnya begitu indah untuk di jamah. Will be coming back to explore more.

Buat lo yang mau tau segalanya lebih detail tentang gunung agung bali dan bagaimana cara bisa mendakinya dan peraturan nya ? atau segala info tentang traveling gue ? pop me some message here

More From Me Here

Sekian

Moh Gema Perkasa Drakel

See yaaa on my next post.



3 Comments