LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Ketika Mendaki Merbabu

journalkinchan

On

Sejak kami tiba di basecamp Pak Parman pada Jumat malam itu, belum satu jam pun saya memejamkan mata dan terlelap. Saat itu saya merasa terlalu sayang melewatkan sunrise cantik dari wilayah sabana I sehingga saya memilih untuk tetap terjaga dan berkeliaran di sekitar tenda. Pagi itu memang cerah sekali: langit tanpa awan, Merapi gagah menjulang, dan saya mendapatkan momen matahari terbit paling cantik tahun ini.

Kami sedang mendaki Merbabu setinggi 3142 mdpl yang dikenal sebagai gunung tujuh puncak via Selo. Benar sekali, trek pendakian gunung ini dihiasi dengan puncak-puncak bayangan yang memberikan harapan palsu. Sudah bahagia tiba di satu puncak, ternyata di baliknya ada puncak lain yang lebih tinggi dan curam. Tetapi di sisi lain, Merbabu menawarkan bentang alam yang begitu menawan. Dan tidak salah kami datang pada bulan Juni di saat cuaca senantiasa cerah dan perbukitan masih menghijau subur.

Keputusan saya untuk tidak beristirahat sama sekali itu tentu saja kemudian mempengaruhi perjalanan. Menjelang siang, tim kami terbagi dua dan saya menjadi satu-satunya wanita yang ikut perjalanan ke puncak. Sejak perjalanan dari basecamp Pak Parman pada jumat malam, dengan total waktu 12 jam kami sudah berhasil mencapai Puncak Triangulasi (dikurangi 4 jam waktu untuk nge-camp, makan, dan foto-foto jadi perjalanan ke basecamp - puncak sekitar 8 jam). Saat mendaki kondisi saya masih prima dan stamina senantiasa terjaga penuh. Di dini hari yang dingin itu saya berani tidak menggunakan jaket dan sarung tangan, celana pun hanya pakai jeans semi denim yang tipis. Entah mengapa ada semangat yang begitu menggebu sehingga menjadikan saya tidak peduli pada udara dingin yang menusuk.

Tetapi kemudian tubuh saya mulai berontak saat kami meninggalkan puncak untuk kembali ke basecamp. Ia marah karena tidak diperhatikan.

Perjalanan dari sabana II ke puncak cukup curam, begitupun saat perjalanan turun. Untuk saya, saat mendaki lebih mudah daripada saat turun. Saya harus selalu siap menahan kaki dari gravitasi yang dapat membuat saya langsung menggelinding jika tidak hati-hati. Lutut dan jari-jari kaki mendapatkan tekanan berat untuk menahan tubuh. Sekali-kali saya harus berjongkok untuk bergelesotan di trek yang sangat curam dan licin. Kondisi trek tersebut rupanya membuat saya kelelahan dan kaki ini semakin sulit digunakan untuk berjalan. Apalagi saya tidak mempersiapkan diri dengan latihan fisik sebelumnya, sama sekali.

Dalam satu setengah jam, kami sudah tiba di sabana I tempat anak-anak yang lain menunggu. Saat itu saya sudah tidak lagi ceria seperti saat mendaki. Setelah selesai mengisi perut, kami langsung membereskan barang-barang, melipat tenda dan membersihkan peralatan masak. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk perjalanan turun dan harus bergegas agar tidak tiba terlalu larut di basecamp. Para wanita berjalan ditemani satu orang laki-laki, berpasang-pasangan agar dapat saling membantu. Manis ya :)

Saat turun itulah, saya merasa sangat kepayahan dengan kondisi kaki yang mawut. Saya harus berjalan perlahan sembari menahan sakit setiap jari-jari kaki menahan beban tubuh dan carrier yang saya gendong. Bahkan beberapa kali saya lebih memilih berjalan menyamping atau mundur agar jari-jari kaki tidak tertekan oleh sepatu. Hal yang sama sebenarnya juga dialami teman-teman rombongan puncak sehingga beberapa dari kami memilih berjalan di belakang, hahaha. Barang bawaan yang berat, angin gunung yang berhembus kencang, kaki dan tangan yang sakit, wajah yang terbakar, kelelahan karena belum tidur sama sekali, itulah ujian yang harus dihadapi. Selama belum melewati batas kemampuan diri dan kaki masih mampu melangkah meski tertatih, saya belum ingin menyerah.

Saya mulai sedikit khawatir ketika senja menua dan matahari sudah terbenam di ufuk barat. Senter saya habis baterenya dan saya mengidap rabun senja! Hahaha. Transisi dari siang ke malam ini memang menjadi momok sejak dulu karena saya akan kesulitan melihat. Tetiba saya tidak dapat melihat jalan dengan baik dan perasaan panik mulai muncul seperti biasanya.

"Aku mau jalan pelan-pelan aja ya, mataku siwer jhe, haha.. " ujar saya sembari tertawa kepada teman-teman yang berjalan beriringan di belakang saya. Mereka menyetujuinya dan perjalanan pun dilanjutkan dengan saya yang berjalan lambat seperti orang buta. Seorang teman meminjamkan saya senter, tetapi belakangan lampu senter itu meredup dan mati di perjalanan sebelum pos I Dok Malang. Akhirnya saya berjalan dengan mengikuti jejak langkah teman yang di depan, menyusuri jalan setapak yang penuh akar menyembul dan lubang. Semakin lama saya makin kesulitan melihat, dan brak! Tulang kering kaki saya menabrak akar dengan keras. Agak kesakitan tetapi saya masih bisa berjalan beberapa meter dan dug! Kaki saya kembali tersandung akar, hahaha.

Yang kemudian bikin saya terharu, teman-teman ini langsung tanggap membantu saya. Meskipun mereka tahu saya sudah terbiasa mendaki dan punya stamina yang lumayan, saat saya kepayahan mereka tidak menyindir-nyindir atau membiarkan saya berjalan sendirian :') Seorang teman segera mendahului dan menyinari jalan saya dengan lampu senter yang dia bawa. Ia menemani saya berjalan, sementara teman-teman yang lain dengan sabar menunggu di belakang sembari tetap menyemangati. Sepanjang sisa perjalanan, ia tidak lelah mengingatkan saya akan adanya lubang, akar, atau apapun yang mengganggu. Jika trek sedikit curam atau licin, dengan sigap ia membantu saya agar dapat turun dengan selamat. Kami masih sempat bercanda dan tertawa-tawa agar perjalanan tidak terasa begitu berat. Sesaat saya merasa menjadi orang yang paling merepotkan. Hahaha.

Mereka teman-teman tangguh yang super menyenangkan. Kalau boleh jujur, orang-orang seperti mereka adalah teman ideal saya untuk mendaki gunung. Kemarin sangat terasa bagaimana kami dapat saling menguatkan. Lucunya, para lelaki ini sangat gengsi untuk mengeluh. Tidak sekalipun kata-kata keluhan saya dengar dari mulut mereka, padahal jelas bawaan mereka berkali-kali lebih berat. Masih sempat pula membuat guyonan-guyonan yang membuat kami sampai kesulitan berjalan saking seringnya tertawa. Mereka tidak mau kalah dengan kami para wanita yang bisa berjalan cukup cepat. Saya baru mengetahuinya di akhir perjalanan saat mereka curhat.

'Sakjane mau aku kesel banget lo cuuk, tapi ra gelem ngomong, isin e nek njaluk break. Makane pas sing wedok njaluk break aku sing bengok paling kenceng. Hahaha..' (sebenarnya tadi aku capek banget lo, tapi gamau bilang. Malu kalo minta break. Makanya pas yang cewe minta break aku teriak paling kenceng. Hahaha)

Keempat teman wanita saya pun tidak kalah tangguhnya. Beberapa dari mereka bahkan baru pertama kali mendaki gunung, tetapi mereka tetap berusaha untuk terus mendaki dan mengalahkan ego sendiri. Di sinilah saya semakin percaya bahwa kunci sebuah perjalanan bukanlah kemana kita berjalan, tetapi dengan siapa kita berjalan.



8 Comments