LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

kesejukan di Tanah Merbabu

taufik

On

Musim hujan mulai berhenti, padi di depan rumah mulai menguning dan angin menghempaskan butiran-butiranya menuju panen besar. Musim panas telah datang waktu yang tepat untuk menjelajahi alam nusantara. Perjalanan kali ini menuju tanah Jawa, tempat dimana keramah-tamahan warganya begitu hangat dan alamnya yang menyuguhkan keindahan tiada habisnya. Setiap pulang ke kampung halaman di daerah Boyolali Jawa Tengah, saya selalu melewati gunung yang begitu tinggi berdiri dengan gagahnya. Itulah gunung Merbabu, saya selalu berharap ingin sekali menjumpai keindahanya. Setelah beberapa waktu akhirnya  mendapatkan teman mendaki dan harapan itu terkabul.

Pada Sabtu 6 Juni 2015 bersama kelima teman, mendaki gunung merbabu. Pendakian kami dimulai melalui jalur Selo Boyolali Jawa Tengah. Ada pemandangan menarik yang saya jumpai yaitu rumah-rumah warga yang dijadikan camp sebagai tempat istirahat untuk mempersiapkan mendaki dan para pendaki tidak dikenai biaya sepeserpun. Hal ini tidak akan ditemukan di daerah lain, itulah keunikan pada setiap perjalanan. Menawarkan berbagai macam cerita menarik untuk kita tulis. Pada awal pendakian adalah hal yang paling melelahkan, 15 menit pertama merupakan penyesuaian tubuh kita dengan keadaan sekitar. Tetapi setelah itu keadaann tubuh kita akan normal kembali dan perjalanan pun lancar. Bau aroma pohon dan semak belukar yang khas tercium memenuhi area sekitar. Mungkin inilah obat dari segala penat dan rindu akan candu alam. Kondisi jalur pendakian yang tidak terlalu terjal memudahkan kami untuk mendaki, sampai di tengah perjalanan kita menemukan pemandangan gunung merapi yang terlihat jelas namun sedikit ditutupi kabut.

Gunung merbabu berdekatan dengan gunung merapi sehingga akan saling terlihat bila mendaki salah satu gunung tersebut. Menurut cerita, gunung merbabu pernah dijadikan sebagai tempat bertapanya Bujangga Manik yaitu seorang pangeran dari kerajaan Sunda yang melakukan perjalanan mengelilingi tanah Jawa dan Bali, catatatan perjalanan itu ditulis dalam daun nipah. Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata. Saat ini naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford. Setelah cukup lama melakukan pendakian, sampailah pada pos pertama yaitu sabana I, disini terhampar padang savana yang luas dan dijadikan sebagai tempat untuk mendirikan tenda. Pada saat itu begitu banyak tenda yang sudah berdiri mengisi pos sabana I. Kami beristirahat sejenak melepas lelah dan menikmati pemandangan, disini terdapat tanaman bunga edelweis yang tumbuh menjalar luas ke badan bukit. Pada saat itu cuaca sedang buruk, sehingga pemandangan sekitar dipenuhi dengan kabut.

Bila cuaca cerah di tempat ini kalian akan mendapatkan pemandangan gunung merapi yang sangat jelas. Inilah daya tarik dari gunung merbabu yaitu padang savana yang luas dan gunung merapi yang tampak jelas. Kami lalu melanjutkan pendakian menuju sabana II dengan melewati bukit yang memiliki jalur terjal dan licin, bila melewati jalur ini perlu diperhatikan pemilihan jalur yang tepat karena bila salah kita akan terjatuh karena tanah yang licin. Banyak para pendaki yang hilir mudik bergantian naik dan turun dari puncak, maka jangan heran bila benar kalau mendaki itu kita akan mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah baik dalam dan luar kota. Tidak hanya menikmati keindahanya kita juga bisa mengenal satu sama lain dalam kebersamaan yaitu menuju satu tujuan. Kehangatan yang terjalin satu sama lain merupakan anugerah dari alam itu sendiri dimana kita saling membantu dan mengingatkan untuk sama-sama mensyukuri nikmatnya dengan cara yang baik. Mendaki bukan soal menuju puncak, tetapi lebih memahami dan mengerti antara manusia dan alam. Tak lama melewati jalur yang terjal itu akhirnya sampailah di pos berikutnya yaitu sabana II, dan disinilah letak keindahan gunung merbabu sebenarnya. Kami menemukan padang savana yang lebih luas lagi dari sebelumnya. Hamparan rumput hijau yang menguning dihembuskan angin dari selatan menuju ufuk timur, membawa setiap keluh kesah dunia menuju kesunyian yang fana. Sungguh surga dunia itu, begitu nyata. Tampak perbukitan yang berliku-liku, dari kejauhan hamparan savana itu terus menyebar tiada batas. Keindahan yang patut kita jaga, serasa pada saat itu dalam mimpi indah. Tapi ini nyata, aku sangat bersyukur diberi kesempatan melihat anugerahmu. Saya diam sejenak menghela nafas dan berjalan menelusuri padang savana mengikuti arah angin, seakan menuntunku untuk terus mengikuti jejaknya.

Teman-teman seperjalanan mengabadikan keindahan itu, tak luput dari setiap sudut. Terlihat jalur pendakian yang memanjang jauh menuju bukit berikutnya. Dari jauh para pendaki lain yang turun dari puncak tertutup kabut yang terbawa bersama angin. Tak jauh dari itu kami akhirnya menemukan tempat yang luas untuk mendirikan tenda yang di depan kami terdapat bukit tinggi dan di sisi lainya jurang yang begitu dalam. Saya melepaskan carrier membuka perbekalan dan mendirikan tenda, setelah itu aku berjalan ke bukit mengikuti jalan setapak yang menuju ke punggung bukit. Disana tidak terlihat apa-apa hanya ada rerumputan yang ditiup angin dan satu pohon yang berdiri. Terlihat samar-samar tenda yang kami dirikan tadi tertutup kabut. Saya mencoba menikmati suasana itu dengan berdiam diri merebahkan badan yang lelah seharian mendaki. Sungguh hening hanya terdengar desiran jutaan rumput yang tertiup angin, begitu nyaman berdiam diri sendiri disini. Inilah yang kurindukan, sedikit terlihat bukit hijau dan biru nya langit di depan mata. Inilah Indonesia sesungguhnya tidak hahya melihat di layar kaca saja, tetapi menikmati keindahanya secara langsung.

Tak lama teman sependakian menyusul ke atas bukit mereka ikut bersantai menikmati sore hari disini, di halaman belakang rumah, di tempat terindah, gunung Merbabu. Malam pun datang, angin yang dari sore hari tak berhenti berhembus terus menambrak tenda kami, saya bersama teman-teman memutuskan untuk tinggal di dalam tenda karena cuaca yang semakin dingin. Malam itu selamanya angin tak berhenti, semakin larut semakin besar angin yang berhembus, dan inilah yang terjadi seketika pada waktu itu kami pun dilanda badai.

Walaupun sudah larut ada beberapa pendaki yang baru sampai melewati kami dan ada beberapa yang mendirikan tenda berdampingan dengan tenda kami. Malam yang tidak akan pernah terlupakan sungguh, baru kali ini saya dilanda badai di atas gunung, suasana yang mencekam derau angin yang keras, tenda yang terus bergoyang membuat kami selalu terjaga dan waspada bila mana terjadi sesuatu. Sempat sebelumnya dari pendaki lain kami diingatkan bahwa cuaca di sekitaran puncak sedang tidak bersahabat dan benar yang terjadi kami merasakan dahsyatnya badai itu. Sampai pagi cuaca tak kunjung bersahabat, hanya beberapa detik waktu terlihat cahaya matahari menyinari tenda kami setelah itu pergi.

Selesai sarapan kami langsung berangkat menuju puncak, jalur sepenuhnya ditutupi kabut. Untuk menuju puncak dari tempat camp kami perlu melewati jalur yang terjal dan tanah yang basah karena badai semalam. Semakin keatas angin semakin besar kami menghabiskan waktu satu jam untuk menuju puncak dan akhirnya sampai pada puncak Trianggulasi. Puncak menjadi tempat pertemuan antara jalur thekelan dan selo. Pemandangan pun tak berubah, semuanya ditutupi kabut, hari itu kami kurang beruntung karena bertepatan dengan cuaca buruk, tetapi setidaknya kami sampai disini. Bila cuaca bagus akan terlihat jelas beberapa gunung yang berada di sekitar merbabu, diantaranya gunung Merapi, Lawu, Andong, Sindoro dan Sumbing. Walaupun di atas puncak, ada saja tangan-tangan jahil yang merusak suasana keindahanya. Ada ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab mencorat-coret batu yang dijadikan sebagai simbol. Inilah tindakan kotor beberapa oknum pendaki harus ditindak tegas. Dunia tidak akan mengenal kalian bila bertindak vandal, malah kalian akan dikenal buruk oleh mereka yang melihat ulahmu.

Puncak adalah tempat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dengan memanjatkan doa dan syukuri nikmatnya. Bukan sebagai ajang pamer diri semata. Hal yang disayangkan bagi mereka yang merusak keindahan ini. Di atas puncak ada beberapa pendaki yang dari jalur lain bertemu satu sama lain, temanku mengajak mereka untuk foto bersama. Di sisi lain puncak ada beberapa tenda yang berdiri, bagaimana nasib mereka pada saat malam tadi, kami yang dibawah sudah begitu khawatir tenda kami dilanda badai, apalagi mereka di atas puncak dengan angin berlipat ganda. Selalu ada yang lebih dari kita, ini merupakan pelajaran bahwa sesulit apapun kita ada orang yang lebih sulit dari kita. Jangan menyerah dan hadapilah. Pelajaran dari alam sangat berharga patut kita pahami.

Setelah beberapa lama menikmati puncak, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Saya pun pamit dan berterima kasih atas segalanya yang dapat di nikmati dan rasakan di alam tanah Jawa ini. Perjalanan yang sangat berkesan dan akan menjadi rindu untuk bertemu kembali suatu saat nanti. Kami pun meninggalkan gunung Merbabu dengan membawa pengalaman dan cerita yang dirasakan pada masing-masing individu. Percayalah alam telah membentuk diri manusia untuk tetap tenang dan berusaha walau dalam sesulit apapun. Jadilah seperti hutan yang nampak diam namun menyimpan segala yang manusia butuhkan. Terima kasih semoga catatan ini bermanfaat bagi kalian yang memulai perjalanan.



0 Comments

Be the first to comment.