LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Keindahan yang Dirasakan Dengan Satu Langkah Kecil Dengan Cinta yang Besar

oktovina-arruan

On

sore itu hujan tak pernah berhenti dari kemarin malamnya membuat masyarakat di desa terpencil itu tidak banyak berlalu lalang. namun semangat kami anak muda desa itu tak dikendurkan karena hujan, tepat jam 2 siang kami berkumpul bersama disebuah penginapan untuk mempersiapkan diri untuk sebuah perjalan yang panjang untuk mengadakan baksos juga menikmati setiap pengalaman dan pemandangan yang menyejukkan hati.

sebuah bus datang menjemput kami, ketua panitia mengintruksikan kami naik satu persatu, menaikkan barang bawaan baik itu untuk keperlukan kami bersama maupun pribadi.  Di bus ada hanya ada kurang lebih 5 orang berbicara santai sampai saking santainya kak bertis tidak sadar minum kopi yang sudah beberapa hari tersimpan diatas mobil. Dia mengumpat dan membuat kami seisi bus itu tertawa.

setelah   5 menit kami sampai di daerah perbatasan desa batupapan  dan bertemu teman lain yang telah menunggu disitu, melanjutkan perjalanan kira-kira 2-3 menit hingga kami harus berjalan kaki. setelah kami turun dari bus hujan mulai gerimis dan perjalanan kami masih jauh, dingin didaerah itu dan kecepatan angin yang berhembus kencang memang merupakan ciri khas kecamata nosu, disana kami bingung mau melanjutkan perjalanan langsung. Namun barang bawaan kami harus bagaimana baik itu yang berupa beras yang sangat berat. Kak patki yang merupakan  ketua umum dan kak aprianus yang merupakan ketua panitia mengatur semuanya baik beras yang harus dimasukkan di tas riki, maupun kedua perempuan yang rempong yang sedang mengurus tas bawaan mereka yang cukup besar, kak bertis dan ferdi yang sedang mengikat pisang dan memikulnya dengan sebuah kayu yang lapuk hingga berapa kali ganti karena selalu patah. persiapan kami untuk jalan kaki memakan waktu yang cukup lama, saya yang hanya membawa 1 tas ransel yang cukup ringan santai saja melihat teman yang mengurus barang bawwan mereka.

setelah semuanya siap kami berjumlah 5 orang perempuan dan 12 orang laki-laki, kami mulai berjalan beberapa laki-laki memikul bahan makanan, maupun membawakan kedua wanita rempong pakaian mereka, dan saya yang  dengan penuh kepercayaan diri  membawa barang sendiri karena memang barang saya memang tak banyak....

 langkah demi langkah kami jalani, menurun melalui jalan yang licin membuat beberapa teman terjatuh, mendaki berapa kali karena jalan menanjak, jalanan yang sangat becek membuat kami sesekali melepas  sendal karena menggangu perjalanan.....  hujan  membuat kami tak pernah lepas menggunakan mantel plastik yang bunyi kresekannya menghalangi pendengaran kita.... berjalan dalam hening  namun selalu saling memperhatikan langkah teman seperjalanan..  kadang kami berhenti untuk menunggu teman yang lamban berjalan sekaligus menggunakan waktu itu untuk beristirahat....

waktu yang terasa sangat panjang, perjalanan yang terasa sangat jauh membuat saya kadang bertanya ke teman apakah masih jauh ? tapi kak aprianus selalu menjawab tempatnya sudah dekat dan dibalik bukit depan itu. tapi setelah sampai balik bukit itu ternyata tempatnya masih jauh....

waktu  1 jam kami berjalan kami sampai di daerah yang  merupakan perbatasan desa mesewe dan kami duduk istirahat sambil bercanda-canda. sekitar 15 kemudian kami melanjutkan perjalanan tapi hujan tak pernah berhenti membuat kami tak bisa melepaskan mantel kami.... karena pada dasarnya kami yang merupakan kaum hawa lebih lamban untuk berjalan kaki jadi tman laki-laki mnyuruh kami brjalan didepan.

saya bersama empat teman yang lainnya, terus berjalan, bibirku mulai memucat karena kedinginan dan kulit jariku mulai mengerut.... berjalan- berjalan terus  hingga teman ku yang selalu saja memiliki ide yang iseng mengusulkan untuk pergi main umpetan dengan laki-laki. sebenarnya saya yang sudah capek bawa  barang sendiri sudah malas tapi karena merasa takut jalan sendiri dan sudah jauh dari teman laki-laki maka saya pun ikut sembunyi, saya yang berada paling terakhir berusah berlari mengerjar  mereka berempat, menyarankan dan mencari tempat yang paling bagus di gunakan untuk sembunyi akhirnya mereka menemukan semak dan jalan yang berada daerah tebing yang baik untuk      tempat bersembunyi, saya yang terakhir berusaha untuk menyingkirkan tanaman paku agar cepat tersembunyi dibalik semak.........

saya dan keempat teman diam dan berusaha tidak mengeluarkan suara agar tidak kedengaran oleh teman-teman yang lewat dibagian atas tempat persembnyian kami.... saya dengar salah satu dari mereka mengatakan bahwa kenapa perempuan cepat sekali jalannya.... diam diam hingga mereka berada jauh dari tempat persembunyiaan kami.

teman-teman laki-laki terus berjalan hingga mendapat jalan pertigaan dan juga belum menemukan kami, mereka merasa khawatir kami tersesat karena dari kami berempat sangat jarang ke desa itu atau bahkan tidak pernah..  mereka mulai khawatir ketika tidak menemukan kami dan juga ketika mereka memanggil-mangil,  kami tak ada satupun yang menyahut hingga membuat mereka ingin berpenjar mencari kami .... memakai  pengeras suara dan terus bertanya tapi kami hanya tertawa cekekekan ketika mendengar mereka mulai panik, berjalan mengendap-endap agar mereka tidak melihat kami.... hingga si yeyen mulai merasa takut karena ini sih memang ide dia, takutnya  teman-teman yang laki-laki marah, jadi kami pun langsung lari menghampiri mereka dan dengan tertawa keras dan tanpa perasaan bersalah kami menampakkan diri ke mereka.... mereka marah dan juga tertawa.... yah suprise lah yah kan membuat mereka panik.... yah berjalan sambil bermain lah...

perjalanan kami sudah melewati setengah perjalanan tapi sekarang medan perjalannan semakin parah... jalanannya merupakan tanah merah yang sudah menjadi lumpur yang sangat tebal... lumpurnya membuat jalan semakin licin dan ditambah lagi jalannya yang menurun sehingga membuat beberapa teman kembali terjatuh...saya yang memang dari dulunya lambat jalan ketika jalanannya menurun yah membuat saya berjalan dibelakang kembali.... beberpa teman dengan sengaja main luncur-luncur di jalan lincin itu akhirnya jatuh ke pelimbahan juga hahahhaha..... lucu sih tapi malas juga ketawa karena capek..... setelah kurang lebih 30 menit  tinggal sedikit lagi sampai.... yeyeyyeeeee................ akhirnya sampai juga didaerah yang dingin rumah penduduk yang masih bisa dihitung dengan tangan, langit yang masih berwarna mendung, dan suasana alam  sudah mulai gelap, gereja tua yang pertama kami lihat berada dibagian paling atas bukit, dan rumah penginapan kami berada dibawah gerega..............

Duduk diteras rumah menikmati teh panas yang masih mengeluarkan uapnya membuatku ingin memejamkan mata dan ingin tertidur, menikmati setiap angin yang sanga dingin hingga membuat ku masih merasakan dingin walaupun jaketku tebal

Pada acara pembukaan kami disambut dengan orang yang sedikit , bukan karena mereka yang kurang perhatian tapi memang disana orangnya memang sangata sedikit...

Menjalani setiap program yang telah kami buat disana mulai dari mengambil pasir di sungai ditengah matahari yang terik membuat pipiku merah seperti udang bakar dan airnya yang dingin membuat setiap pori-pori menutup, namun disitulah saya belajar bagaimana keindahan itu bukan dari bagaimana apa yang tampak di mata saja tapi ketika engkau dapat merasakan keindahan sesuatu melalui perasaan....:)

mengumpulkan batu kerikil  ditengah sungah yang alirannya deras membuat kulit disekitar kuku tanganku tekelupas.... setiap aliran sungan membuat      tenang, warna airnya yang keruh akibat tanah yang longsor, setiap ketenggelamkan tanganku untuk meraih batu bajuku pun tercelum kebawa hingga basah.... menikmati setiap detiknya, melakasankannya dengan hati yang iklas maka lelahmu takkan terasa :)

membangun toilet kecil untuk warga jemaat bukanlah hal yang besar bagi mereka namun kami telah melakukan hal yang kecil itu dengan hati yang penuh dengan keiklasan dan sukacita....

untuk saudara-saudaraku yang diluar sana masih banyak yang pelu dibenahi untuk setiap daerah, baik itu didaerah kelahiranku maupun ditempat lain. menunggu pemerintah bergerak bukanlan hal yang tepat ketika kita masih bisa membuat langkah kecil untuk mereka karena dengan langkah kecil itu mungkin bisa membangunkan para pemerintah kita agar lebih memerhatikan daerah yang tertinggal. atau mungkin saja ada satu dua hal yang membuat langkah pemerintah agak lambat.... karena merekalah dengan Tuhan yang tahu...



0 Comments

Be the first to comment.