LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Keindahan Kawah Ijen, Banyuwangi

restianasyif

On

NOVEMBER 2014

Saya sudah merencanakan perjalanan ke Banyuwangi bersama Mas Dikin, kawan yang pernah menuntun perjalanan saya saat ke Mahameru tahun 2013. Pada awalnya saya hanya akan berdua saja naik kereta api menuju Banyuwangi, namun karena satu dan dua hal maka personil trip kali ini ditemani dengan RiekeFebiansyah, Alfin dan Azmi dengan menggunakan mobil pribadi. Saya sudah menentukan destinasi dan jadwal keberangkatan kami. Kami start dari Malang menuju Banyuwangi pukul 21.00 - 04.30 pagi. Sayang sekali keberangkatan kami sangat terlambat sehingga tidak dapat melihat blue fire terkenal dari Kawah Ijen yang hanya ada dua di dunia. Namun hal ini tidak mematahkan semangat kami untuk menikmati keindahan alam Kawah Ijen. lagipula perjalanan tidak terasa apabila kamu bersama dengan kawan yang menyenangkan. Tracking dari pos menuju puncak ijen hanya memakan waktu dua jam dengan track yang landai dan mudah. So, apabila kamu berencana kesini dan terlambat seperti kami, saya yakin kamu tidak akan menyesal dan akan menikmati setiap sudut perjalanan yang ada. 

Ketika kamu ke Kawah Ijen, kamu akan melihat lalu lintas warga lokal yang mulai berangkat mengumpulkan belerang. Salah satu pemandangan yang bisa kamu lihat selama perjalanan menuju puncak Kawah Ijen, yaitu Gunung Raung. Jangan lupa memakai buff atau masker dan gunakan tracking atau running shoes agar tidak terpleset selama perjalanan.  Sebelum tracking, pastikan kamu telah mengganjal perutmu dengan sedikit karbo seperti roti atau cokelat dan sudah memenuhi panggilan alam. Bawa headlamp kamu dimalam hari. Karena hampir seluruh track berpasir, saya menggunakan double masker, yakni masker biasa dan buff. Sedikit bekal snack perlu untuk dibawa, Jangan lupa siapkan uang minimal IDR20K untuk membeli souvenir belerang yang dibuat oleh penambang belerang.

Beberapa menit sebelum mencapai puncak Kawah Ijen di pagi hari. Track nya cukup mudah. Landai, sedikit berpasir dan terkadang tanah padat, kamu benar-benar akan dimanjakan dengan keindahan alam nya.

Dari perjalanan ini saya belajar untuk benar-benar bersyukur dengan fasilitas dan kehidupan yang mereka miliki. Benar-benar terlihat jelas bagaimana mereka menjaga ritme nafas mereka ketika memikul beban seberat itu. Bagaimana beberapa menit sekali mereka berhenti dan menukar posisi panggul itu. Kemudian saya melihat bagaimana kayu panggul ini membekas di bahunya dengan perpaduan warna merah ke biruan. Tidak jarang juga mereka berhenti dan beristirahat sambil menikmati rokok dan alam didepannya. Beautiful people don't just happen...

Beruntungnya saya ditawarkan untuk berfoto bersama dengan Bapak yang luar biasa ini. Saya sempat berbincang bahwa biasanya beliau mengangkat 60-70kg di setiap harinya dengan maksimal dua kali bolak balik.

Jangan lupa membawa persyaratan standard ketika melakukan trekking. Jika trekking malam gunakan headlamp, memakai alas kaki yang proper, membawa tisu basah dan snack di perjalanan, dan perhatikan musim. Pengalaman saya dua kali trip ke Banyuwangi di musim kemarau dan hujan, keduanya memberikan keindahan masing-masing.

Thanks For reading!



6 Comments