LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Kedamaian yang Terasing di Segara Anak

anggita

On

Halo sobat pecinta alam semesta berserta isinya!!! anda merasa lelah, mudah marah, kepala berkunang-kunang, sering gagal fokus?jangan minum sembarang obat dan multivitamin ya, mungkin saja itu gejala anda kurang piknik. Tapi kemana???

.................................

Gak perlu bingung, aku punya salah satu tempat yang keren badai dan bisa jadi rujukan destinasi vitamin jiwa raga kamu. Tempat itu terpapar di Indonesia yang masuk dalam zona waktu bagian barat, yaitu di Pulau Jawa, provinsi Jawa Timur.

Spot favorit yang menduduki peringkat teratas setidaknya versi diriku, yaitu Segara Anak. Terdapat di dalam pulau kecil bernama Sempu, pulau yang berada di selatan pantai Sendang Biru. Untuk dapat menikmatinya, perlu perjuangan yang ekstra terlebih untuk sobat yang bertubuh mungil dan jarang olah raga seperti saya. Di pagi hari sekitar jam 07.00 waktu setempat, dari bibir Pantai Sendang Biru, kami sudah disambut dengan kapal-kapal penangkap ikan yang berwarna warni serta kapal motor yang dengan senang hati mengantar kita menuju pulau idaman. Tentunya jika terjadi kesepakatan harga yang pas antara pemilik dan penyewa kapal, juga kesepakatan waktu antar dan penjemputannya nanti. Tapi tunggu dulu sobat, sebelumnya kita harus mengantongi izin dari polisi hutan disana dan kita dinyatakan “sehat” untuk bertandang kesana.

Setelah sekitar 20 menit perjalanan, kapal ditambatkan pada akar bakau pinggir pulau bagian utara yang dianggap sebagai “pintu masuk”, bukan pintu megah dan untaian bunga yang siap menyapa kami, namun hamparan tanah seolah tak bertuan lengkap dengan pepohonan lebat yang layak disebut hutan. Disana pula kami janjian dengan si empu kapal untuk penjemputan di hari berikutnya. Beruntung aku kesana dengan teman yang sudah tampak kenal dengan kondisi pulau hingga mampu memangkas anggaran sewa tour guide. Perjalanan seru baru saja dimulai sobat!

Pesan moral pertama, hindari berkunjung pada musim hujan. Di luar prediksi, hujan turun deras dua hari berturut-turut sebelum kami tiba, pohon yang rindang menghalau sinar matahari untuk dapat menembus tanah alhasil jalur yang kami lalui masih sangat licin.

Kami berjalan menuju ke selatan, dalam satu jam pertama, kami jatuh terpeleset berkali-kali terlebih pada jalur dengan kontur tanah naik turun dan tidak rata. Satu jam berikutnya, jalur semakin menantang dan berat, dua sepatu teman kami hilang ditelan tanah liat sedalam paha. Pesan moral kedua, bawalah sepatu atau sandal cadangan. Untuk itu, kami memutuskan melepas alas kaki. Namun, itu pun bukan solusi terbaik karena di dasar tanah liat tersebut banyak terdapat potongan akar bakau dan pohon yang siap menyayat kaki. Jadi perbanyaklah doa. Tenaga mulai terkuras, kami ambil rehat sejenak.

Pesan moral ke empat, pamitlah pada sanak keluarga. Serasa berada di jalan antara hidup dan mati, pijakan selebar kaki sepanjang lebih dari 5 meter, kami hanya bisa berjalan miring, menempelkan tubuh kami ke tebing, berpegangan pada celah karang dan akar pohon seadanya. Berharap tidak jatuh dalam dasar tebing sedalam 3 meter, dipenuhi tonjolan akar dan ranting bakau yang tajam yang siap menghujam kami. Namun wangi air laut jelas tercium menyihir rasa takutku. Sampai pada ujung tebing yang menurun hingga hanya berjarak 1 meter dari dasar, tas ransel kami lempar jauh-jauh ke pasir putih bersih, kami melompat turun kegirangan.

Daaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn,,,,,,,,,tadaaaaaaaaaa……

......................speechless........................

Surga dunia, bukan begitu sobat???Pemandangan pantai sekelas VVIP bak film “The Beach” yang dibintangi oleh Leonardo de Caprio ada di sini, di bumi pertiwi Indonesia kita tercinta!!!

Karang yang membentuk dinding lengkap dengan tumbuhan liar terbentang seperti pagar yang sengaja diatur Sang Pencipta untuk menutupi dan menjaga kesuciannya. Air laut biru bermuara pada karang bolong di seberang bibir pantai terlihat dramatis, namun cukup aman dan ramah bagi kita yang haus akan kesejukan air laut, bahkan bagi saya tidak pandai berenang.

Hari mulai gelap, saat yang tepat mendirikan tenda, menyiapkan amunisi pengisi perut dan menyeduh minuman hangat.

Malam menjelma menampakkan kemisteriusannya, ku rebahkan badan pada butiran pasir lembut diiringi suara hening alam, disinari temaram bulan dan bintang. Semua beban hidup seolah sirna, rasa syukur tak terhingga menjadi bagian alam raya nan indah. Kedamaian yang tak terungkapkan….

Bagi kamu sobat yang hobi fotografi maupun yang suka selfie, wefie, banyak spot yang unik dan menarik.

Out off the record ya!!! Disini nih tempat yang sempat aku buat ambil gambar bareng teman yang kini menjadi pendamping hidup, cieeeeeeee…..

Tibalah akhir dari kegiatan jalan-jalan pengobat penat, saatnya kembali ke kehidupan nyata, membawa kenangan manis tak terlupakan….

"...............................Kedamaian yang terasing di Segara Anak."

##So, come and join us!!!!

###soon.

Note : pesan moral kelima dan yang paling penting sobat, biarkan alam tetap lestari, tanpa sampah, corat-coret dan tanpa api.



0 Comments

Be the first to comment.