LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

“Jangan Harap Ada Mistis”

nurul-hidayat

On

Kami berangkat dari rumah 13 orang, hanya saya, kaka saya, agus dan restu yang sudah pernah naik ke gunung gede, sisanya baru pertama kali. Kami berempat berhasil meracuni mereka untuk mendaki. Awalnya kami was-was dengan jumlah kami yang ganjil, dan kebetulan di angka 13, kami semua berharap tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Pertama mendaki saya ajak mereka lintas, naik jalur bunung putri dan turun jalur cibodas. 

“Jangan Harap Ada Mistis”-Cianjur-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-Nurul Hidayat

awal perjalanan

Perjalanan yang akan menguras tenaga bagi pemula seperti mereka. Tiba di base camp sabtu pukul 8 pagi, kaka saya mengurus simaksi ke pos dan kami mengecek perlengkapan kami. Pukul 8.30 kami mulai mendaki, tidak ada kendala selama perjalanan, semua kondoso fisik ok, mental juga baik. Karena banyak yang baru mendaki jadi selama perjalanan kami sering berhenti untuk istirahat. Hasilnya sampai suryakencana yang harusnya bisa sampai dengan waktu 4-5 jam, sekarang harus sampai dengan waktu 6 jam lebih

Sebenarnya kami semua was-was karena kebanyakan dari kami sebelum berangkat selalu baca-baca cerita pendakian gunung gede di google bahkan cerita mistisnya. Tapi untungnya semua itu tidak membuat mental kami semua ciut sampai kami berhasil sampai di suryakencana, tempat terindah dan ternyaman untuk menenangkan jiwa yang di hiasi hamparan bunga para dewa, ya edelweiss. Spontan kami semua mengeluarkan handphone dan berselfi ria dengan bunga abadi itu sampai tak sadar waktu hampir gelap sedangkan tenda belum berdiri. Saya berinisiatif mengajak sebagian teman saya untuk mendirikan tenda sebelum hari gelap dan sepertinya akan turun hujan, benar saja tenda belum berdiri kokoh hujan mulai turun rintik-rintik, teman kami yang dari tadi asik berselfi ria langsung berlarian dan memasuki tenda, padahal tendanya belum berdiri sempurna

“bantuin beresin dulu bro tendanya, nanti bocor” ucap saya, tapi apa daya pas melihat kondisi mereka yang baru pertama kali naik kesini, mereka kedinginan begitu diterpa hujan di atas gunung. Tak apalah, lagipula saya yang bertanggung jawab sudah meracuni mereka agar mau mendaki kesini. Saya dan agus berusaha menyelesaikan tenda agar dapat berdiri dan tak ada genangan air di atas flysheet. Lalu restu membantu sampai semua tenda bisa berdiri sempurna, tapi rasanya ada yang kurang nyaman dengan flysheet. “kita butuh satu tiang di tengah biar air tidak menggenang di flysheet” kata agus, kami bertiga pun mencari potongan-potongan dahan pohon yang tegeletak, kami mencari sampai ke luar area jalur. “hari sudah gelap, kita juga sudah terlalu jauh masuk ke hutan, sebaiknya kita balik lagi” kata restu, dia memnag sedikit penakut tapi ada benarnya juga, karena kondisi sedang hujan cukup deras dan hari pun sudah lewat waktu magrib.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali, dan di perjalanan kami melihat ada tangkai kayu yang sudah patah tapi masih terkait dengan pohon, dengan terpaksa kami mengambilnya untuk di jadikan tiang tengah flysheet kami. “gus gus,,,itu ada dahan patah, kita bawa aja, lumayan panjang, kuat juga, bisa lah buat tiang” ucap saya. “oke bro” tanpa basi-basi dia langsung menghampiri dan langsung mengayunkan pisau di tangannya, tapi sebelum pisau itu mengenai pohon tiba-tiba restu berkata “tunggu, tunggu bro,,,apa gak sebaiknya kita ijin dulu sama penghuni sini, ngedehem, bismillah, atau apa gitu”, “mmm,,,ok ok, sekalian saya minta ijin mau pipis disini” jawab agus. Dalam hati saya berkata,mudah tak terjadi apa-apa atas apa yang telah kami semua lakukan disini. ‘gclek,,,gclek..’ pisau mulai memisahkan dahan dari pohonnya. “udah,,,yuk kita bawa” ajak agus. Kami pun kembali ke lokasi kemah dan memasang tiangnya. Kondisi kemah jadi lebih nyaman, taka da genangan di atas flysheet, dan air langsung mengucur ke sisi kanan flysheet yang disambut beberapa wadah penampungan air.

Tepat pukul 10 malam, hujan reda. Langit kembali cerah, awan hitam berganti taburan bintang. Semua pandangan tertuju ke langit, semua terdiam seakan terbius oleh ribuan bintang menghiasi langit malam itu. Warna gradasi langit yang menakjubkan, dihiasi ribuan bintang yang berkelip secara bergantian. Lukisan malam indah ini jadi penawar perjalanan melelahkan kami selama 6 jam, tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, lensa kamera pun tak mampu mengabadikan semuanya, biarkan lukisan indah ini terekam oleh lensa mata dan tersimpan dalam memori kami dan akan menjadi cerita di masa tua. Setelah puas menikmati lukisan malam, sambil menikmati hangatnya kopi kami mulai bercerita kekaguman kami atas suasana malam itu satu sama lain. Aroma kopi dari cangkir semerbak merasuk hidung, hangatnya menyebar ke seluruh tubuh ketika ujung cangkir mengalirkan kopi di ujung lidah. Cangkir demi cangkir kopi telah habis, disusul mie instan yang dipilih untuk mengganjal rasa lapar. Tidak sehat memang apa yang kami makan, tapi kami harus kuat, padahal nasi juga bawa. Hehe…. Tak terasa malam semakin larut dan satu persatu dari kami tertidur karena jam 3 pagi nanti kami berencana untuk summit atau mendaki menuju puncak gede.

Jam 3 lebih 2 menit kaka saya membangunkan semuanya, “banguuuun ngun banguuun….nyooook kita muncak nyooook” kaka saya teriak-teriak sambil mentungin panci bekas memanaskan air. Kami semua terbangun di tengah udara sangat dingin, dingin yang membuat kam isemua malas bergerak. Tapi kami harus bangun, bergerak, dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami semua berkemas, membenahi tenda, menyisir sekeliling area tenda dengan headlamp takutnya ada pancu tenda atau barang yang tetinggal. Setelah semua dirasa taka da yang tertinggal, kami pun berjalan menuju pintu masuk tanjakan puncak dengan sedikit sempoyongan karena masih merasa ngantuk di mata.

Kondisi selama perjalanan cukup aman terkendali, semua mampu melanjutkan pendakian menuju puncak, sebagian dari kami berhasil melihat sang surya terbit di puncak sana bersama kaka saya, sementara saya sampai puncak sang surya sudah tersenyum gagah menyinari bumi ini dikarenakan saya menemani teman saya yang baru pertama kali mendaki dan dengan kondisi badan yang agak besar, jadi sering capek, dan engap. Saya terus memberi semnagat kepada dia agar bisa sampai ke puncak walau tidak bisa melihat matahari terbit. “ayoo….sebentar lagi, tidak apa-apa kita telat, yang penting kamu harus merasakan menginjakan kakimu di puncak sana” ucap saya sambil menunjuk puncak yang sudah di depan mata. Dengan segenap kekuatan dan sisa tenanganya dia kembali semangat untuk berjalan, perlahan, hingga akhirnya sampai di puncak. Tak disangka teman kami yang sudah lebih dulu sampai puncak ternyata menunggu kedatangan kami dan ketika kami dating mereka menyambut dengan bersorak seakan memberi tahu kalau kami terutama teman kami yang berbadan besar itu telah berhasil sampai puncak gunung gede. “horee…selamat datang di puncak gede. Tutup matamu dan hirup lah dalam-dalam udara kebebasan ini” teriak salah satu teman kami. Dia pun menurutinya, dan saya? Tak ada salahnya mencoba lagi walaupun sudah pernah melakukan nya. Berapa kalipun kamu mendaki, berapa kalipun melakukan ini, rasanya tak akan sama, tiap waktu pasti merasakan sensasi yang berbeda, itulah salah satu dari sekian banyak misteri alam dan saya menyukainya.

kami mengabadikan momen ini dengan poto bersama dan berselfi ria dengan pemandangan yang menakjubkan ini. Tapi waktu kami terbatas karena kami akan turun melewati jalur cibodas yang jaraknya 3 jam lebih lama dari jalur gunung putri, waktu normal itu bisa 6-7 jam. Tapi jika melihat kondisi teman-teman, sepertinya akan memakan waktu lebih. Jadi jam 9 lebih kami memutuskan untuk turun, dan disinilah cerita menegangkan bermula.

Lereng puncak yang pertama kali kami lalui menuju tanjakan setan, konon katanya dulu di tanjakan ini sering terjadi hilangnya para pendaki, karena kondisi di tanjakan setan itu berupa pepohonan cukup rapat dan banyak jalur yang bisa dilalui, nah karena salah jalur jadi para pendaki tersesat dan muculah mitos di culik setan, jadi dinamai tanjakan setan. Tapi untungnya karena sudah mendengaran arahan dari kaka saya yang sudah lebih 10x bolak-balik gunung gede. 

Selama di tanjakan setan saya, agus, dan teman saya yang berbadan besar posisi paling belakang, ya tahulah kenapa alasannya. Semakin lama berjalan samakin banyak rasa bosan menghampiri, tapi saya punya cara ampuh untuk mengatasinya, saya punya kebiasaan jika mulai bosan, mulailah berinteraksi dengan sekitar. Ya karena saat itu disekitar saya hanya ada pepohonan, saya ngobrol dengan salah satu pohon sambil menunggu teman yang istirahat, dan itu berjalan dengan baik bagi saya. Tapi agus lebih ekstrim dia malah berbagi sebatang rokok dengan pohon, tapi sudah mati tanpa api ya, kebetulan restu melihatnya dan lagi-lagi mistis “wah kamu horror, pohon di kasih rokok, nanti dia murka” keluh restu. Hahaha…Lagi-lagi horor, dia belum tahu kalu ini adalah cara kami menghilangkan penat selama pendakian. kami semua bisa melalui nya sampai pada akhirnya kami tiba di tanjakan rante. Kenapa dinamai tanjakan rante (baca: rantai), 

karena tanjakan ini berupa batuan curam, dan dulu disediakan rantai untuk memanjatnya, kalau sekarang sudah diganti dengan tali webbing yang lebih kuat dan aman digunakan. Satu persatu dari kami menuruni tanjakan suram ini, saya lupa untuk menunggu agus karena dia paling terakhir turun karena saya pikir dia sudah sering lewat sini mana mungkin dia tersesat, dan saya fikir tadi saya lihat dia sempat menyalip saya di sebelum tanjakan rantai. Semua sudah sampai di pos kandang badak menunggu saya dan teman saya si badan besar tapi saya tidak melihat ada agus disana.

Begitu sampai di pos kandang badak saya langsung bertanya “agus mana?”, kaka saya menjawab “loh…kan tadi dibelakang sama kalian berdua”, “hmm…tadi dia nyalip sebelum tanjakan rantai” sahut saya, “sepanjang jalan sampai kami semua duduk disini kami tidak melihatnya” jawab kaka saya. Suasana berubah menjadi tegang seketika setelah salah satu dari teman kami berkata “jangan-jangan dia skip di jalan, soalnya dia bawa tngkat buat bantu dia jalan”, semua saling pandang dan menahan nafas sekejap. Kami coba berfikir positif, dan saya pun berinisiatif untuk melihatnya di kamar mandi (di kandang badak ada kamar mandi lumayan nyaman tapi cukup gelap jika malam hari). “ok sebentar saya cek dulu siapa tahu dia di kamar mandi” usul saya, setelah di cek ternyata dia tidak ada disana. “tidak ada bro” kata saya sambil mengatur nafas. Ketika semua sedang berfikir, lalu tiba-tiba muncul segerombolan spekulasi mistis, ya dari siapa lagi kalau bukan dari restu. “ya alloh bantu kami, ampuni kami” ucap restu sambil mengangkat tangannya, “jangan-jangan agus ‘dikerjain’ sama penghuni sini, soalnya tadi malam dia pipis sembarangan, terus motong ranting, dan menyelipkan rokok di pohon” lanjut restu. “saya harap tidak ada yang seperti itu” jawab saya. Sebagian dari kami memutuskan untuk kembali naik mencari agus sampi titik dimana agus menyalip saya, tapi sia-sia, agus tidak di temukan. Hampir satu jam kami beristirahat dan menunggu, kami memutuskan untuk lanjut turun dengan harapan agus sudah sampai pos berikut dengan selamat.

Selama perjalanan kami terus berdoa agar agus tidak apa-apa, dan bertanya ke tiap pendaki yang kami temui. Kami terus bertanya dan bertanya ke semua pendaki yang kami temui bahkan kami tunjukan potonya. “maaf bang tadi di bawah lihat orang ini ga?” Tanya kaka saya ke pendaki lain, “tidak bang, hilang?” jawab dia, “ya mudah-mudahan sih tidak hilang, tadi kami sempat terpisah, kalo nanti di atas liat orang ini tolong kasih tahu kami menuggu di pos air panas” lanjut kaka saya. Kami melanjutkan perjalanan dengan setengah hati, dan beban fikiran bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Kami bertanya lagi ke pendaki yang kami temui lagi “bang lihat orang ini ga bang tadi dibawah?” Tanya saya, “ooh iya lihat tadi dia berdua jalan dibawah ga jauh ko, iya kan” jawab pendaki itu bersama teman-temannya. Mendengar itu sebagian dari kami langsung berlari mengejar sampai pos kandang batu agus tidak ada. “tidak ada yang turun, tadi saya sudah nanya ke orang yang berkemah itu, katanya tidak ada yang turun berdua” kata teman saya yang mencoba nyusul sambil mengatur nafas. “tuh kan, di hijab (disembunyikan dari dunia nyata)” kata restu. Soalnya dulu pernah terjadi seperti itu, serang pendaki di hijab oleh makhluk lain, jadi dia jalan seperti biasa bertemu pendaki lain, tapi pendaki lain tidak bisa melihatnya. “sudahlah res, jangan mikir mistis terus” jawab teman saya. Kami semakin lemah, rasa capek dicampur khawatir ini merusak semangat kami. Dalam keadaan seperti itu kaka saya yang berpengalaman langsung menghidupkan suasana, “pokoknya kita harus menemukan dia, kalau sampai basecamp cibodas agus tidak ada, baru kita minta bantuan ranger, saya siap naik lagi” ucap kaka saya. Mendengar kalimat seperti itu, kami semua terbangun, kepala kami kembali tegak, dan saya berkata “sya juga siap”, “saya juga” jawab teman saya, “saya juga”, saya juga siap bro”

sepertinya semangat kami mulai datang lagi, kami semua menambah kecepatan langkah kami menuruni jalur itu, Sampailah tiba di pos air panas. Kaka saya lebih dulu sampai dan ketika akan mencuci muka dengan air panas, kaka saya melihat seseorang sedang duduk dengan tongkatnya dan memakai jaket yang sama dengan agus. 

“Jangan Harap Ada Mistis”-Cianjur-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-Nurul Hidayat

agus, teman kami yang sempat hilang


Kaka saya mencoba menghampirinya, dan……… yaa, di agus, agus teman kami yang dari tadi kami cari. Kaka saya langsung menyerang agus dengan berbagai macam pertanyaan, “nama kamu siapa? rumah mu? Kesini sama siapa?”, “tenang bro, saya agus, kamu kenapa?” agus berbalik nanya. “takutnya kamu kesambet” lanjut kaka saya, “amit-amit” jawab agus. Akhirnya agus bercerita kepada kami semua bagaimana semua itu terjadi. Ternyata sebelum tanjakan rantai agus mengambil jalur evakuasi yang landai karena kondisi kakinya yang cedera, dan salahnya dia tidak mengkonfirmasi kepada kami. Agus juga sempat beristirahat di kandang badak cukup lama menunggu kami yang mungkin terlalu lama menuruni tanjakan rantai. Agus memutuskan melanjutkan perjalanan karena terlalu lama menunggu, khawatir suhu badan jadi berbalik dingin, dan beberapa menit dari situ kami tiba di kandang badak dan gundah gulana menunggu agus selama satu jam lebih disitu. Kalau saja waktu itu kami melanjutkan perjalanan, mungkin kami bisa langsung menumakan agus. Setelah agus bercerita panjang lebar, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan turun. Tidak ada kendala apapun atau hal mistis selama perjalanan, dan sampai di basecamp cibodas pukul 5 sore. Jadi tidak ada hal yang aneh disini, jangan harap ada yang mistis disini, semua hanya gara-gara kesalah pahaman diantara kami. Kami semua, 13 orang selamat sampai di rumah kami masing-masing

dan inilah beberapa keindahan gunung gede yang berhasil kami abadikan.

“Jangan Harap Ada Mistis”-Cianjur-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-Nurul Hidayat

Suryakencana Mt. Gede



0 Comments

Be the first to comment.