LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Istana Tertinggi di Puncak Rengganis

dwimuis

On

Argopuro, mendengar namanya belum banyak orang yang mengetahui keberadaan gunung yang sakral di pulau jawa ini. Banyak tanya yang muncul ketika saya menyebutkan namanya. Tapi tidak untuk para pendaki, gunung ini bak sebuah mimpi indah untuk dijalani, nama tenarnya tidak kalah dengan gunung-gunung lain seperti kerinci, semeru, rinjani, ataupun merapi dan merbabu. Memang tidak setinggi gunung-gunung lain, hanya 3088 mdpl, namun hal ini tidak membuat gunung ini tidak menarik untuk dikunjungi. Hutan yang masih asri, belasan savana terhampar luas, danau taman hidup yang memikat, cerita mistis sang dewi Rengganis, dan hewan-hewan yang riang berkeliaran diantara jalur pendakian merupakan racikan bumbu yang mampu membuat gunung ini tersohor. Tiga puncak yang berbeda pun bisa kita jelajahi keindahannya di gunung yang termasuk dalam salah satu deretan pegunungan hyang ini, Rengganis, Argopuro, dan Puncak Arca melambai-lambai memikat kita dalam lima hari perjalanan.

MENUJU IMPIAN ARGOPURO

Oktober, telat satu hari setelah perayaan paling bermakna untuk semua pemuda di Indonesia. Berangkat dengan tim yang hanya berjumlah bak pemain three on three. Menyandarkan motor-motor kami di terminal besar Bungurasih Surabaya. Ditemani kerir-kerir lumayan besar kami berangakat pukul sepuluh waktu Indonesia bagian barat. Menumpang bus ekonomi jurusan Probolinggo, kami siap tuk menanti saat indah kami. Sekitar 4-5 jam perjalanan melelahkan dengan berganti bus yang melelahkan kami sampai di terminal Banyuangga kebanggaan kota Probolinggo. Sambil beristirahat sejenak kami bertiga mencari info transportasi ke Besuki, terminal kecil sebelum nantinya berlanjut dengan kendaraan umum ke Baderan, dan tepat pukul 4 sore kami melanjutkan perjalanan ke Besuki. Perkiraan kami salah di sini, yang mengira akan bisa menumpang kendaraan pengangkut sayur ke Baderan ataupun mobil angkutan. Ketika magrib menjelang hanya tinggal beberapa tukang ojek yang ada untuk mengantarkan kami ke Baderan, Ya, apa boleh buat, walaupun tarif lumayan, 25 ribu per orang, kami berangkat ke desa perijinan. yang awalnya berpikir dengan tarif 25 ribu itu mahal, kami berpikir ulang, dengan medan yang membuat punggung sakit mehanan beban kerir walaupun naik motor, dan jarak yang ternyata masih sangat jauh dari besuki, merupakan tarif yang lumayan wajar diberikan. Mengingat waktu juga telah menunjukan pukul setengah enam waktu itu. Sekitar setengah tujuh kami bertiga sampai di Pos Lapor Pendakian Gunung Argopuro desa Baderan. Lalu beristirahat untuk keesokan harinya menapaki setapak Argopuro menuju tujuan pertama Cikasur.

CIKASUR MASIH JAUH?

Tak mengindahkan saran dari Pak Sus, pihak BKSDA, untuk beristrahat saja dulu di pos mata air satu yang menempuh perjalanan normal 7 jam atau mata air dua sekitar 10 jam, kami sempat tertatih-tatih menuju Cikasur. Ini bermula ketika kami bertiga berdikusi karena masalah keterbatasan waktu yang hanya mempunyai waktu empat hari saja untuk mendaki Argopuro memutuskan untuk menempuh Cikasur dalam waktu sehari. Melihat peta memang jarak Baderan dan Cikasur memang sangat jauh, hampir setengah perjalanan total. Namun karena tekat sudah bulat, sepakatlah kita untuk meletakan Cikasur sebagai tujuan utama hari pertama ini. 15 jam total perjalanan, ditambah waktu istirhat makan siang di pos mata air 1, kami terseok-seok sempoyongan melewati track setapak argopuro yang kecil dan pijakan yang sulit serta debu yang bertebangan ketika kita melewatinya. Dan melewati malam-malam yang gelap walaupun telah dibantu dengan pencahayaan lampu headlamp kami tak kuasa menahan kantuk dan letih. Putus Harapan, tiada informasi yang kita dapatkan sejauh apalagi cikasur ini, karena memang saat itu gunung ini memang benar-benar milik kita bertiga. Ada dua pendaki juga dari Jakarta namun mereka berada dibelakang kita, entah seberapa jauh. Melewati tiga kali savana yang benar-benar luas, kami sudah hilang asa. Benar-benar tak kuat lagi menjaga mata yang serasa sedari tadi menutup kala berjalan diantara jurang-jurang. Naik turun bukit entah berapa kali kita lalui. Tak tahu berbuat apalagi akhirnya kami mendirikan tenda di savana di samping jalan pukul 10 malam. Dan kami pun beristirahat.

Ke esokan hari ketika matahari mulai menyapa, suara-suara merak mengusikku untuk keluar dari tenda. Dan benar saja, seekor merak jantan dengan gagahnya tengah berjalan-jalan di antara savana. Sayang lensaku tak mampu membidiknya. Dan akhirnya aku kembali ke tenda untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Selesai sarapan, kita yang hendak berangkat sedikit lega karena ada warga yang melintas dengan motor, memang banyak warga baderan yang menempuh perjalan motor ke cikasur untuk mengambil selada air. Hal ini juga yang membuat track menjadi susah karena lebar track hanya selebar ban motor. Kami pun bertanya pada warga itu seberapa jauh lagi cikasur itu? Dan apa kata warga itu? "Cikasur tinggal turun satu turunan ini sudah sampe mas". Ya, sedikit lagi padahal. hanya 300 meter, namun karena tidak terlihat apa-apa malam itu kami juga tidak tahu jika ternyata cikasur sudah di dapn mata. Tidak banyak membuang waktu kami pun langsung menuju cikasur dan bermain-main di sungai cikasur sembari beristirahat untuk kedua kalinya hingga siang hari.

PUNCAK DAN MISTIS

Perjalanan ke puncak tidak sebegitu melelahkan ke cikasur. Karena kita memang tidak memburu waktu lagi. Kita jalan dari cikasur selama 4 jam menuju tujuan selanjutnya yaitu rawa embik kemudian beristirahat lagi semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak esok hari. Keesokan harinya kita menuju savana lonceng, sebuah savana tepat di bawah tiga puncak, tempat meletakan kerir kami sebelum summit ke puncak. Puncak rengganis merupakan puncak dengan bebatuan belerang putih yang berada di sisi kiri puncak Argopuro. Dengan beberapa bangunan yang konon adalah bekas bangunan istana dewi rengganis yang diasingkan pada jaman dulu. Ada pula tiga makam kuno dengan batu-batu punden yang entah siapa yang bersemayam disitu. banyak sesaji yang disuguhkan di puncak rengganis ini. Sedangkan Puncak Argopuro adalah puncak tertinggidengan vegetasi yang masih lebat mengelilinginya sehingga kita tidak dapat melihat pemandangan sekitar. hanya ada altar di puncak ini. sedangkan puncak arca, sesuai namanya ada sebuah batu betumpuk yang menyerupai arca.

DANAU TAMAN HIDUP

Tempat camp terakhir sebelum ke desa Bremi, sebuah danau yang indah ditengah-tengah gunung. Tempat beberapa orang dari desa atau kota sekitar bremi berkunjung untuk memancing ikan yang katanya susah dapatnya jika pikiran kita buruk. Entah, aku tidak mencobanya karena memang tidak membawa kail untuk memancing. Berinteraksi dengan warga setelah beberapa hari terisolasi di gunung bertiga tanpa ada siapa-siapa lagi membuat perasaan kami lega dan senang. Menikati dinginnya air, memasak dan beristirahat. Ada kejadian unik ketika bermalam di sini, kedua teman saya bermimpi sayang hampir sama, yaitu keduanya sama-sama didatangi oleh perempuan berparas cantik untuk diajak bercumbu. Walaupun sebenernya mereka kepingin, namun mereka menolaknya karena ada alasan masing-masing. Paginya mereka bercerita hal itu kepadaku, dan aku menceritakan mitos di gunung ini tentang mimpi-mimpi itu dan mereka ketakutan setengah mati hahaha. Anehnya kenapa cuma aku saja yang tidak bermimpi? mungkin karena kelakuan mereka berdua yang aneh-aneh ketika di puncak siang hari kemarin dan malamnya punya mereka langsung bermimpi itu. entah lah, siapa yang tau...

Setelah bermalam di danau taman hidup, kami pun melanjutkan perjalanan ke desa Bremi untuk pulang ke surabaya. Dan lengkap sudah perjalanan kita 4 hari di gunung Argopuro.

FAUNA ARGOPURO

Selama tracking di gunung ini kamu tidak akan kesepian, akan banyak satwa-satwa yang menemani di perjalananmu, seperti merak betina yang terbang dari pohon ke pohon, merak jantan di cikasur, ayam hutan disemak sekitar jalur, burung elang terbang bebas di atas kita, lutung yang sangat berisik menyambut kedatangan kita, dan mungkin kalian akan bertemu beberapa ekor babi hutan seperti kami. Dan yang paling menakjubkan adalah, kalian bisa bertemu macan kumbang hitam jawa, yes we met him. Dengan cepatnya dia lari ketika mengetahui keberadaan kami bertiga. Tidak heran memang, banyak jejak-jejak semacam kucing besar selama perjalanan kami bertiga kala itu.

Ya, kalo kalian suka dengan gunung, suka traveling, kalian setidaknya harus mencoba salah satu gunung yang terletak di situbondo jawa timur ini. Di jamin akan menjadi salah satu traveling terbaik kalian

Happy traveling, happy exploring Indonesian People

Dwimuis



1 Comments

  • amirmahmud - 2 months ago
    Airnya jernih banget Mas, seger banget buat mandi. Camping disana pasti mengasikan