LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung

srijembarrahayu

On

Bila tak mengikuti kata hati, anak-anak tak akan tahu serunya mendaki gunung. Siang itu adalah momen dimana anak-anak bersukacita atas usaha pribadi mereka menaklukkan puncak Mahawu. Maka percayalah pada kebetulan, bisa jadi ia menawarkan kejutan indah.

Beberapa waktu sebelumnya, kami berempat, ayah, bunda, dan dua anak laki-laki kakak beradik berada di persimpangan jalan. Papan petunjuk arah di pertigaan itu melambatkan laju kendaraan kami. Ia mencoba mengaburkan keyakinan.

Rencana perjalanan hari itu adalah Bukit Tingtingon di Desa Rurukan, Tomohon. Di sana ada tempat yang instagramable, begitu kata orang-orang. Melirik pada perangkat peta di smartphone, Bukit Tingtingon benar masih berada di jalur ini. Tapi mengapa ia tak tertulis di papan petunjuk arah itu?

Sebuah pertanda.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Petunjuk Arah Gunung Mahawu

Lurus hingga 500 meter ke depan, kini kami malah jadi buntut dari kemacetan yang mengular. Lagi-lagi, terasa ada hambatan. Sebuah pertanda berikutnya.

Di atas full, tak ada tempat lagi”, seorang bapak warga setempat memberitahu sebelum saya mengucap tanya. Rupanya ia paham betul wajah heran saya saat menurunkan kaca mobil. Tanpa pikir panjang, kami putar balik dengan susah payah. Seperti umumnya jalan di Manado, jalan itu juga sesak, pas sekali untuk dua mobil. Kiri kanannya got yang cukup dalam. Syukurlah Bapak tadi dan warga sekitar yang menonton ular-ularan itu turut membantu.

Siang itu terlalu ceria untuk dilewatkan tanpa jelajah. Masa iya kami pulang kembali ke Manado dengan rasa hampa.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Ladang-ladang petani berbingkai gunung gemunung di Kaki Gunung Mahawu

Menjelang pertigaan dimana petunjuk arah itu berdiri, kami menepi. Ladang-ladang wortel, brokoli dan sawi hijau berpagar gunung gemunung itu membisikkan magisnya. Udara sejuk dan kedamaian yang menguar harus dihirup sedalam-dalamnya dan diabadikan dalam kenangan.

Bukan kami saja yang berpikir serupa, serombongan orang dari arah berlawanan turut berhenti. Sama, ingin berfoto.

Sambil bertukar senyum dan basa-basi, kami mengetahui bahwa jalan kecil beraspal mulus itu telah mengantar rombongan mereka hingga Gunung Mahawu.

Bagus jalannya, mobil juga bisa parkir di dekat puncak, sudah tak jauh dari sini. Bawa anak kecil tak masalah. Pergi saja tak akan menyesal”, begitu rentetan promosi si bapak berwajah bulat itu, tak dapat ditolak.

Indonesia di mana pun tempatnya, masih rumah bagi keramahan. Semoga terus demikian.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Selamat Datang di Gunung Mahawu

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Bisa narsis juga di sini

Gunung Mahawu memiliki ketinggian 1324 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak menyangka, Gunung ini ramah pengunjung. Termasuk pengunjung anak-anak. Siang itu, ternyata Mahawu pun kedatangan banyak tamu.

Tempat parkir yang cukup luas tersedia di ketinggian 1200 mdpl.

Area pendakian dijaga oleh jagawana atau polisi hutan dari Pemerintah Kota Tomohon. Pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu, dicatat berapa orang, dan jam tibanya. Waktu menunjukkan pukul 14.50 WITA, saat itu.

Kami sama sekali tak membawa perlengkapan apapun untuk naik gunung. Pakaian pun amat santai. Untungnya alas kaki yang digunakan nyaman untuk medan pendakian.

Anak-anak tidak menjadi soal, mereka sudah terbiasa melakukan trekking. Saya tak perlu risau.

Persediaan minum dan cemilan selalu siap bila kami melakukan perjalanan. Obat-obatan P3K, Tisu basah dan baju ganti untuk adek kecil siaga tersimpan dalam satu tas. So, let’s go!

Lagipula, kata jagawana, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit jalan kaki untuk tiba di bibir kawah.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Jalur pendakian Gunung Mahawu

Menuju puncak Mahawu, pengunjung dimanjakan dengan jalan berupa tangga yang telah disemen. Terdapat pegangan tangan dari besi, yang juga menjadi pembatas jalur naik dan turun.

Cicit burung, suara serangga dan desir hutan pegunungan, harmonis mengiringi pendakian kami.

Rasanya setelah melewati lebih dari 150 undakan, kami tiba di puncak.

Terdapat dua gardu pandang yang dibangun Pemerintah Kota Tomohon. Pemandangan dari atas gardu pandang tentu lebih lapang dan cantik. Rekahan belerang, batu-batu dan pasir di kawah sedalam 140 meter itu nampak dekat saja.

Sebelum mendaki, saya mengorek sedikit informasi tentang Gunung Mahawu dari jagawana. Gunung Mahawu ini bertipe Stratovolcano atau gunung berapi kerucut. Pernah meletus pada tahun 1789, 1994 dan 1999. Dahulu Mahawu memiliki air kawah berwarna hijau kekuningan khas belerang. Letusan terakhir membuat kawah menjadi kering.

Mahawu itu, kalau orang sini bilang artinya sering mengeluarkan abu. Orang Minahasa menyebutnya Gunung Roemengas dari Bahasa Tombulu”  jawabnya ramah, ketika saya tanya kenapa nama Gunung ini Mahawu. “Ingat ya, nanti jangan turun ke kawah, apalagi bawa anak kecil”, pesannya kemudian mewanti-wanti.

Siap Komandan!

Mereka yang lebih mengenal tempat ini, maka sebagai pengunjung kita harus mengikutinya demi keselamatan.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Kawah Gunung Mahawu, terlihat jelas dari puncak.

Bibir kawah Mahawu melingkar eksotis. Vegetasi pegunungan bawah subur menghijau. Perdu dan semak belukar laksana kumis raksasa bermulut besar. Dasar kawah yang berdiameter sekitar 180 meter jelas terlihat dari atas.

Oh, begitu ya dalamnya kawah itu, kerak belerang, pasir, batuan, lapisan tanah…”, ucap anak pertama saya sambil manthuk-manthuk. Senang sekali, anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan secuil ilmu pengetahuan alam, ekosistem gunung dan lapisan tanah. Tidak hanya membaca teori, tapi kini mereka menyaksinya dari dekat.

Di tengah rimbunnya semak dan ilalang, ada jalur hiking dari paving block. Hiking nampak belum menjadi favorit para pengunjung. Mereka lebih asyik berfoto di gardu pandang. Sementara kami, tak kuasa menahan kaki.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Menembus rimbunnya ilalang di jalur hiking Gunung Mahawu

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Jalur hiking di Gunung Mahawu

Jalur hiking ini wajib dicoba. Ia memutari gunung.

Sayang kami datang saat siang terlalu dalam. Kabut gunung turun tiba-tiba. Membawa hawa dingin yang pekat.

Padahal belum ada setengah perjalanan. Namun, jalur hiking ini memberikan banyak komplimen yang menggoda.

Ada spot terbuka yang mengeksplor leluasa bibir kawah. Tonggeret, belalang dan kupu-kupu, beradu kecepatan menghindari gerimis. Bunga-bunga liar, tumbuhan paku, kayu dan belukar memahkotai pegunungan.

Nun di sana, di bawah cahaya syahdu mentari, pemukiman warga berbingkai bentang alam. Indonesia memang surga.

Suara alam, gemerisik angin, suitan burung, pernahkah kau mendengarnya segamblang ini?

Hanya Gunung dan renjana jiwa.

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Lukisan Alam dilihat dari Puncak Mahawu

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Kabut pekat puncak Mahawu

Angin gunung telah membawa bau belerang hingga ke tempat kami berjalan. Bau menusuk yang khas. Gerimis semakin rapat. Memaksa kami lekas-lekas kembali ke gardu pandang.

Pagi hari saat udara cerah semestinya menjadi waktu terbaik untuk menyambangi sisi lain Mahawu.

Kami tak menyesal mengikuti pertanda. Kami pasti kembali.


CATATAN:

  • Gunung Mahawu dapat ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan dari Manado dengan kendaraan pribadi.
  • Meski mendaki Gunung Mahawu relatif mudah dan aman, tetap penting agar mempersiapkan diri dengan baik.
  • Tidak tersedia warung makan, pastikan membawa bekal minuman dan makanan yang cukup.
  • Fasilitas seperti kamar mandi dan tempat sampah sudah tersedia.
  • Tidak dipatok biaya tiket masuk, pengunjung dimohon memberi seikhlasnya.

Gunung Mahawu adalah salah satu dari ribuan tempat di Indonesia yang membanggakan. Secara administratif Gunung Mahawu berada di Desa Kakaskasen Satu, Tomohon Utara, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Akan lebih elok bila kita turut menjaga kelestariannya. Tidak perlu yang muluk-muluk. Mulailah dari hal kecil, semampu yang kita bisa. Seperti masalah klasik sampah. Mengkhawatirkan jika di puncak gunung juga terserak sampah. Ayo, bawa kantong plastik untuk membawa kembali sampah pribadi. Jika kita tak dapat membersihkan, jangan mengotori!

Ini bukan zaman purba. Sudah bukan zamannya kita menorehkan jejak prasejarah, corat-coret di dinding gardu pandang, papan informasi atau pohon. Lebih bermanfaat jika hasrat pembuktian diri itu dituangkan dalam kisah perjalanan. Selain menjadi kenangan pribadi, syukur-syukur cerita kita dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi.

Selamat Berbangga menjadi Bagian dari Indonesia tercinta.


Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Fasilitas Kamar Mandi Umum di Gunung Mahawu

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Papan Informasi yang penuh jejak

Gunung Mahawu Ternyata Ramah Pengunjung-Manado-Guidebook With A Twist-Travel Feature-Srijembarrahayu

Kamu pikir ini keren?



0 Comments

Be the first to comment.