LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Go To Puncak Merbabu 3142 MDPL

siti-rochmatun

On

GO TO PUNCAK MERBABU

3142 MDPL

Hari itu tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2017 setelah hari kemerdekaan RI yang ke 72 , Aku bersama teman –teman satu kampus akan mengadakan pendakian di gunung Merbabu. Letaknya di daerah Boyolali, Jawa Tengah dekat sekali dengan gunung Merapi yang ditunggu mbah Marijan. Kami berkumpul pukul 16.00 WIB dan berangkat pukul 17.00 WIB dari kampus. Sebelum berangkat , tak lupa kami berdoa dan mengabsen satu persatu untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan. Berangkat dengan jumlah 19 anggota dengan nama Arifin, Wiyono, Widodo, Dzaka, Basyar, Dzikron, Eko, Lukman, Hijrah, Okky, Agus, Kharisma, Nur’aini, Indah, Septeria, Zahra, Alfi, Nooriskin, dan aku Rochmah. Aku beserta semua teman perempuan naik mobil dengan pengemudi salah satu teman laki- laki kami pula dan yang lain mengendarai motor. Sampai di Pasar Plaosan, Magetan, Kami berhenti untuk melaksanakan sholat Magrib berjamaah di Masjid sekitar setelah itu,melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ini pun aku merasa sudah tersuguhi indahnya daerah pegunungan Magetan di waktu malam dengan lampu-lampu yang indah berkelap kelip. Aku menikmati dengan senang bersama yang lain sekalipun tidak tidur malam itu, karena asik berbincang dan bercanda .

Berkisar pukul 23.30 sampai di daerah Boyolali,nah..dari sini , malam mulai terasa tegang bagiku dan yang lain. Karena jalan yang begitu menanjak dan sangat sepi dibanding jalan yang dilalui sebelumnya. Kami hanya menyebut nama Allah setiap kali dalam tikungan tajam, dan terlalu menanjak karena takut mobil tak mampu berjalan mengingat penumpang mobil cukup banyak. Tiba-tiba mobil berhenti dan sopir atau teman kami Wiyono berteriak pelan bahwa mobil tak dapat naik karena terlalu banyak muatan, sesegera mungkin 4 orang yang duduk dibagian belakang, termasuk Aku segera keluar dari mobil dan mencari batu untuk menyangga ban mobil belakang agar tak tergelincir mundur kebelakang. Setelah sopir berusaha untuk menjalankan kembali namun belum bisa, alhasil kami ber 4 mendorong mobil sekuat tenaga kami, barulah mobil berjalan dan kami kembali ke dalam mobil. Baru beberapa meter dalam jalan landai , kembali dijalan tanjakan. Mobil pun kembali berhenti tepat di daerah pemukiman penduduk. Kembali pula kami ber 4 turun dan mendorong mobil, setelah mobil jalan kami memutuskan tidak masuk ke dalam mobil karena takut kembali mogok. Mobilpun melaju meninggalkan kami ber 4 dan membawa teman-teman yang lain ke lokasi tujuan. Kami ber 4 berjalan pelan dan lumayan terasa capek meskipun baru beberapa meter karena jalan yang menanjak. Sesekali berhenti dan mengambil nafas ditengah sunyinya malam yang dingin ini. Tak lama kemudian, ada beberapa teman yang mengendarai motor turun menjemput kami ber empat. Setelah sampai di jalur pendakian, aku dan 3 teman ku istirahat sedangkan yang lain berdiskusi untuk menentukan pilihan jalur pendakian antara jalur gancik dan jalur selo yang masing-masing jalur memiliki tantangan yang berbeda. Dengan hasil akhir dan persetujuan semua anggota, kami melalui jalur gancik karena lebih dekat dari puncak gunung merbabu. Setelah itu, kami menuju ke basecamp untuk istirahat mempersiapkan esok pagi untuk perjalanan mendaki.

Tanggal 19 Agustus 2017 Pagi itu sangat cerah,dengan keadaan khas daerah gunung yaitu dingin terlihat di salah satu ruang terdapat beberapa pendaki pula yang telah istirahat setelah melakukan perjalanan dan disuguhi pemandangan indah disekitar serta gunung merapi yang terlihat jelas semakin indah saat tersinar matahari pagi dari tempat kami menginap. Sebelum berangkat, kamipun bersiap-siap berkemas mempersiapkan apapun yang perlu dibawa dan tidak. Dalam pendakian ini dibentuk team agar mudah dalam perjalanan.

Setiap team membawa satu alat radio komunikasi untuk menghubungi team lain yaitu walkie talkie atau bisa disebut HT (Handy Talkie). Aku tergabung di team dua bersama dengan Wiyono, Ekko, Hijrah, Dzaka, Indah, Septeria. Tak lupa ,berdoa dan berfoto dengan background gunung merapi dari tempat penginapan seperti harus dan tak boleh ketinggalan sebelum kaki melangkah pergi berangkat. Dengan rasa semangat, kami berangkat setelah team satu lebih dulu mencapai bebeapa meter dari perjalanan mendaki. Setelah perjalanan kami dimulai, tak ku temui sama sekali jalan yang landai dari awal perjalanan dari tempat penginapan sampai beberapa meter kami berjalan. Jalan yang terus menanjak dengan area jalan sudah di cor semen atau diaspal dengan hamparan ladang para petani setempat mengiringi perjalanan awal menuju tempat wisata umum “gancik hill top” .

Go To Puncak Merbabu 3142 MDPL-Yogyakarta-Travel Feature-Siti Rochmatun

gancik hill top

Dari tempat wisata Gancik hill top kami kami melanjutkan perjalananan ke jalan yang semakin menanjak meninggalkan pemandangan ladang dan memasuki area hutan . Kami terus berjalan yang semakin masuk ke dalam hutan hingga ku rasa suasana benar benar hening ,sunyi, sesekali terdengar gesekan dahan dan ranting pohon yang menjulang sangat tinggi terkena hembusan angin. Suara langkah kaki dan sapaan dari pendaki yang beberapa kali mendahului kami hingga candaan yang tak terlewatkan untuk mencairkan suasana perjalanan yang masih benar-benar jauh ini. Kami terus berjalan, sesekali istirahat dan bergantian untuk membawa karier. Beberapa kali pun istirahat hingga sampai pada pos 1, kami tak istirahat dan tetap melanjutkan perjalanan dengan membawa beban karier dan tas yang berisi air minum yang kami bawa dari basecamp. Sesampai pada tempat dimana tempat tersebut bagiku seperti pada turnamen dalam film Harry potter ke 4 yang sisi kanan dan kiri terdapat tananam dan tumbuhan liar yang mengiringi setiap perjalanan dalam lingkungan hutan namun banyak tanaman tanaman berbatang kecil. Berasa itu benar- benar lokasi nya dengan cuaca sedikit berkabut waktu itu. Tiba pada pos dua, kami istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah yang semakin terasa di badan , beberapa kali pula kami menghubungi kelompok satu dan dua yang berada di belakang kami . lebih tepatnya kami mendahului kelompok satu saat menuju pos dua karena dengan bangga kami menang banyak atas kelompok satu haha. Melanjutkan perjalanan dari pos dua menuju pos tiga melalui trek yang lebih menanjak dari sebelumnya, kami berhenti dan yaaa, sedikit berfoto ala –ala karena cukup indah pemandangan yang ku lihat sekalipun sebenarnya sedikit ragu untuk mampu melewati bukit itu.

Bukit ini dinamakan bukit teletubies, dengan jalan menanjak dan ber lubang. Sehingga membuat para pendaki harus berhati – hati untuk melewati jalan tersebut agar tak terjatuh. Juga sangat penting tenaga yang ekstra. Aku mendaki dengan perlahan tapi harus istiqomah agar sampai pada tujuan. Sering berhenti dan mengambil nafas panjang , ketika lelah berjalan. Tapi semangat dari teman –teman juga mengiringi untuk bertahan dan terus berjalan hingga sampai pada bukit yang letaknya diatas pos 3 dan terlihat bukit yang tertutup oleh kabut tebal sekalipun ada sinar matahari. Aku merasa benar – benar lelah , ketika satu team ku memutuskan istirahat di pinggiran hamparan bunga endelweis yang sedang menunjukkan keindahannya di siang itu. Aku sempat tertidur dan tak menghiraukan temanku ngobrol asyik membicarakan perjalanan tadi. 5 menit kemudian,aku di bangunkan karena sudah terlalu lama bagi para pendaki karena jika memulai perjalanan lagi,seperti mengulangi pemanasan dari awal yaitu terasa berat . Setelah aku memulai mengangkat tas dan siap berjalan lagi. Kami dibuat melongo dan takjub akan keindahan yang baru kita jumpai setelah kabut sedikit menghilang dari sisi terik matahari. Terlihat gunung Merapi serta awan putih yang mengelilingi di depan kami. “subhanallah benar – benar indah kuasa mu ya rabb” kata yang selalu keluar dari mulutku , merasa aku berada diatas awan. Tak ingin meninggalkan moment ini, semua satu team pun berfoto di bukit ini bergantian dan tak lupa pose yang cantik itu seperti fardhu ‘ain .hahahah

Selesai berfoto , karena sudah pukul 12.00 kami memutuskan untuk makan siang saja. Kami membuka pembekalan yang telah di siapkan di karier saat di basecamp dan gagal melanjutkan perjalanan. Walaupun makan di tempat yang mungkin tak seperti di rumah, tetapi cukup menyenangkan karena bersama – sama satu team saling berbagi. Di tegah tengah ayik menikmati makanan sederhana kami, kabut yang menutupi bukit yang akan kami lewati nanti menghilang perlahan – lahan. Seketika kami terkejut melihat bukit tersebut, bagaimana tidak !!! trek bukit tersebut benar – benar menanjak sekali , kemiringannya pun mungkin mendekati 90 derajat. Aku pernah menonton film 5 cm saat mendaki di gunung Semeru , dan ku rasa trek ini lebih parah dibandingkan itu. Terlihat sangat tegak ,berdebu dan banyak lubang pula, bahkan dari tempatku makan yang dari bukit itu terlihat banyak pendaki turun dengan cara perosotan ,dengan debu yang berterbangan . tak lama kemudian, team satu berada di belakang kami dan ikut makan siang. Mereka membawa kabar bahwa team tiga gagal untuk melanjutkan pendakian karena ada yang menyerah dan kembali turun. Sayang sekali mereka tak dapat melanjutkan, yah.. mau bagaimana lagi yang lain harus tetap sampai atas . Tak lama kemudian teamku segera berangkat dan meninggalkan team satu yang masih menyantap bekal makan siang. Dengan perasaan ragu,aku dan team terus berjalan menuju bukit itu, tak lupa pula sholawat selalu aku ucapkan .

Selangkah demi selangkah kami menyusuri bukit itu dengan mencari – cari jalan yang aman di lalui agar tak terpeleset dan tak banyak debu. Di trek ini sangat sulit mencari jalan yang aman , sampai – sampai kami membabat jalan melewati rumput liar, sekalipun susah karena takut tergelincir dan terkadang berpapasan dengan pendaki yang turun sehingga bingung karena hanya satu pijakan yang aman, merangkak dan melompat pun menjadi jalan pintas karena takut terjatuh dari tanjakan. Kami berpapasan lagi dengan team satu yang melewati jalan utama tanpa membabat rumput liar seperti kami dan selanjutnya dua team berjalan bersama. Pada saat hampir sampai di puncak bukit, seseorang temanku bernama Lukman bertanya kepada pendaki yang tengah turun apakah ini bukit puncak dari gunung merbabu, namun dengan tegas orang tersebut menjawab masih jauh dan masih ada tiga titik lagi serta perbukitan lagi yang harus dilalui. Seketika pula semua anggota saling tatap dengan ekspresi terkejut, karena bukit yang dilewati ini saja benar – benar menguras tenaga dan memicu adrenalin. Bagaimana yang selanjutnya?????serasa ingin menyerah dan berhenti di sini saja tanpa melanjutkan perjalanan. Tapi benar – benar disayangkan kalau tidak berjuang lagi, karena sudah sampai setengah perjalanan. Lelah dan putus asa juga bimbang , namun pada akhirnya harus berjalan lagi dan mencapai puncak bukit. Setelah itu, kembali menuruni bukit dengan jalan yang penuh lubang atau jengglongan yang waaawww dah pokoknya..

Sampailah pada tempat yang tak begitu menanjak , kami semua berjalan pelan tapi pasti di kelilingi rumput rumput yang hijau nan indah di pandang.Ya, kami sampai pada lokasi sabana 1 melanjutkan perjalanan menuju sabana 2. Lelah karena dari tadi tak kunjung sampai, sering pula istirahat karena tenaga kami tak sekuat awal mendaki. Jika ada salah satu anggota lelah, maka semua anggota berhenti dan istirahat. Sesampai pada sabana 2 kami dibuat takjub lagi akan hamparan ladang rumput yang luas dikelilingi bukit, rumput yang saat itu sudah kering tapi masih cantik dipandang. Serta berdirinya satu rakitan tongkat pramuka yang diatasnya berkibar bendera Indonesia yaitu merah putih. Berlarilah kami ke tempat tersebut dan berbaring di sana seperti melihat kasur yang empuk di rumah, istirahat serta berfoto lagi ,hehe sudah pasti tak ingin momen ini tertinggal.

Berlanjut setelah puas di sabana 2, kami menuju lokasi yaitu watu lumpang yang jarak dari sabana 2 berkisar 30 menit, dengan jalan yang tak se ekstrem sebelum nya. Namun , kami harus meninggalkan barang bawaan dan karier ditempat beberapa meter dari sabana 2 karena tenaga yang tak memungkinkan dan waktu yang terbatas. Dan salah satu dari anggota tertinggal menjaga barang, dan kebetulan Arifin sudah pernah ke tempat ini dan bersedia tinggal  serta akan mendirikan tenda ditmpat tersebut. Berjalan menuju tempat watu lumpang, di tempat tersebut kami melihat satu batu yang ditandai dengan tali berwarna kuning , bertanda pula itu adalah barang keramat yang ada di kawasan gunung merbabu. Tak lama di tempat tersebut kami segera menapaki puncak gunung merbabu di puncak trianggulasi. Oh iya, uniknya gunung merbabu adalah memiliki dua puncak yaitu trianggulasi dan puncak klenteng songo. Tapi kami memilih trianggulasi karena jarak yang kami tempuh rasanya lebih dekat dengan trianggulasi. Menuju puncak trianggulasi, kembali dengan jalan yang menanjak dan berdebu dengan kemiringan yang waw pula. Sampai di tengah jalan aku berhenti, seorang teman menyuruhku menghadap ke belakang dan lihatlah..!! hamparan gunung, bukit, sudah terlihat dari tempatku. Alam ciptaan allah sungguh luar biasa asri, nyaman, dan masih utuh alam ini. Aku melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak tertinggi gunung merbabu. Serentak aku duduk dan tak bisa berkata apa –apa, perjuanganku sampai tempat ini benar – benar hampir membuatku putus asa , tapi karena kuasa allah aku dapat menikmati semua perjalanan ini karena keindahan alam yang tiada duanya. Tepat pukul 16.00 WIB kami sampai dipuncak gunung merbabu trianggulasi . Menikmati indahnya alam, gunung merapi yang sangat jelas dikelilingi awan –awan serta senja yang semakin tak menampakkan diri, mega merah yang mulai muncul .pokoknya indah banget...

Setelah puas kami segera turun karena semakin larut angin semankin kencang dan tak ada barang bawaan yang kami bawa, sesegera kami menuju ke lokasi sabana 2 tempat Arifin mendirikan tenda. Seru nya disaat turun dari puncak, jika takut melangkah maka saya sarankan dengan cara perosotan seperti yang saya lakukan..hahahah. kembali seperti jaman kanak – kanak main perosotan . Setelah sampai di lokasi sabana 2 aku melihat team satu berada di sana, sedikit terkejut dan senang pula mereka sampai di tempat ini. Dan ternyata hanya 2 orang Basyar dan Zahra yang kembali ke basecamp. Kami bermalam di sabana 2, sholat dengan bertayamum ,masak dengan alat dan bahan seadanya, ditemani dingin dan angin yang begitu tak terkendali hembusannya. Sehingga tepat jam 24.00 WIB sampai pagi aku tak dapat melanjutkan tidur karena dingin dan badai angin yang membuatku benar –benar takut tenda akan roboh karena kencang. Benar firasatku, tenda dari salah satu teman kami rusak, patah karena badai semalam.

Dengan pagi dingin yang menusuk tulang para pendaki, aku pun keluar tenda setelah melaksanakan sholat. Ku lihat semua berbondong menuju bukit diseberang. Aku mencari – cari teman – teman yang lain dan akhirnya , akupun menuju ke bukit seberang pula. Dan ternyata di tempat ini indahnya bukan main ku , ini pemandangan golden sunrise.Baru kali ini aku melihatnya...benar –benar ciamik,indah dan waaw banget. Semua orang berfoto dengan gaya masing masing menikmati munculnya matahari tersebut. Momen langka saat mendaki harus selalu diabadikan hehe..selesai itu, Kami menyiapkan sarapan dan dilanjut merubuhkan tenda dan segera turun menuju basecamp dengan trek yang seperti menakutkan pula karena posisi kita turun,setiap kali takut melangkah pasti ambil posisi dengan gaya perosotan lagi. Sempat pula ingin mencari jalan yang aman ,tetapi salah jalan melewati jurang ,hahaha.. yang di pijak bukannya tanah tetapi hanya rumput. Hanya nekat kalau seperti ini, tapi Alhamdulillah sampai basecamp dengan selamat , lelah dan buruk rupa karena penuh debu dan belum mandi dari kemarin. Inilah pengalaman dan perjalanan sangat indah dan mengesankan bagiku. Sekalipun ada dari satu team yang tak sampai puncak . Dan akhir dari perjalanan ini ,kami kembali pada pukul 16.00 WIB dari basecamp menuju kampus.dan di tengah perjalanan sempat mampir di alun - alun Karanganyar untuk sholat di Masjid dan ke warung makan yang enak sekali tempat dan pelayanannya, harga pun juga miring ,hehehe maklum mahasiswa..selesai makan  kami  berlanjut perjalanan yaitu pulang dengan tertidur pulas di dalam mobil.

Go To Puncak Merbabu 3142 MDPL-Yogyakarta-Travel Feature-Siti Rochmatun

turun ke pos 3



0 Comments

Be the first to comment.