LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Curug Orok (Curug Sanghyang Prabu Gebur)

dya-iganov

On

Secara administratif, Curug Orok berada di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan terletak pada koordinat 07°23′13.6″S 107°44′10.3″E. Curug Orok merupakan air terjun yang sudah menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Garut bagian Selatan sejak 21 April 1996. Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata Curug Orok berada di bawah PT Perkebunan Nusantara dan dimiliki oleh PT. Perkebunan Papandayan dan karena sudah dikelola, maka setiap pengunjung diharuskan membayar retribusi sebesar Rp 10.000,00 serta memiliki jam opeasional. Jam operasional untuk berkunjung ke Curug Orok ini adalah setiap hari dimulai dari 09.00 – 16.30. Adapun batas wilayah Curug Orok adalah sebagai berikut

Utara : Gunung Papandayan

Selatan : Gunung Geder

Barat : Desa Cikandang

Timur : Kecamatan Pamulihan

Curug Orok berjarak sekitar ± 5 Km dari pusat kota Kecamatan Cikajang dan sekitar ± 34,4 Km dari Kota Garut. Curug Orok berada pada ketinggian 250 m atas muka laut dan masih berada di kaki Gunung Papandayan. Letak Curug Orok yang berada di kaki Gunung Papandayan tidak langsung membuat Curug Orok berada di wilayah yang seluruhnya curam, ada juga daerah yang ringkat kemiringannya landai dengan konfigurasi umum berupa lahan berbukit. Kualitas dan visabilitas lingkungan di kawasan ini tergolong baik walaupun terdapat sedikit pencamaran sampah dan vandalisme di bebatuan yang disebabkan oleh pengunjung. Terdapat pula papan penunjuk jalan dan sedikit rambu iklan. Sumber daya listrik di kawasan berasal dari PLN dengan 220 volt. Sumber air bersihnya berasal dari air terjun itu sendiri yang debitnya tidak terbatas dan kualitas airnya yang jernih, rasanya tawar dan baunya normal. Sistem pembuangan limbah di Curug Orok yaitu melalui septic tank dan sistem irigasi dalam kondisi yang baik. Sedangkan sistem komunikasi di kawasan ini yaitu berupa handy talkie dengan jumlah 6 buah dalam kondisi yang cukup. 

Untuk menuju Curug Orok jika perjalanan dimulai dari Kota Garut yaitu dengan menuju Kecamatan Cikajang yang berjarak ±25 Km dari Kota Garut melaui Jalan Raya Cimanuk Jalan Raya Bayongbong, Jalan Raya Cisurupan, hingga tiba di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang. Tepat setelah Pasar Cisurupan, ikuti terus jalan utama (Jalan Raya Cisurupan – Cikajang) hingga tiba di Pertigaan Papanggungan. Ambil arah kanan menuju Bungbulang. Sudah ada papan penunjuk arah sederhana buatan warga yang bertuliskan Curug Orok, sedangkan pada papan penunjuk jalan, arah yang ditunjukkan adalah arah menuju Kecamatan Bungbulang. Arus lalu lintas akan cukup padat dimulai dari Jalan Raya Cimanuk hingga pertigaan Pasar Cisurupan, terutama pada akhir pekan. Selepas pertigaan Pasar Cisurupan, arus lalu lintas akan kembali sepi hingga tepat di depan kawasan Kostrad. Selepas kawasan Kostrad, lalu lintas akan sedikit ramai tetapi tidak seramai dari Kota Garut hingga Pasar Cisurupan. Kondisi jalan pada umumnya baik dan jalannya berkelok-kelok selepas Pasar Cisurupan hingga masuk ke area Perkebunan Papandayan. Setelah mengambil kanan di Pertigaan Papanggungan, Kecamatan Cikajang, jalan akan sedikit mengecil dan berkelok-kelok, jika malam akan gelap karena tidak terdapat lampu penerangan jalan dan akan sangat sepi. Pemandangan selepas Pasar Cisurupan cukup menarik, di sisi kanan akan terlihat Gunung Papandayan dan di sisi kiri akan terlihat hamparan perkebunan teh dan Gunung Cikuray. Selepas area Kostrad, kondisi jalan akan sedikit lebih baik dan tidak terlalu berkelok-kelok. Area yang sering turun kabut yaitu selepas Pasar Cisurupan hingga area perkebunan PTPN VIII Kebun Papandayan. Untuk menuju Curug Orok menggunakan angkutan umum, bisa dengan menggunakan ELF jurusan Bungbulang, Pakenjeng, atau Pamulihan dan turun tepat di pintu masuk Curug Orok. Pilihan lain yaitu dengan menggunakan ELF jurusan Cikajang kemudian turun di Pertigaan Papanggungan, Kecamatan Cikajang dan bisa dilanjutkan dengan menggunakan ojek tetapi sedikit mahal atau menunggu ELF jurusan Bungbulang/Pakenjeng/Pamulihan. Mobil atau sepeda motor pun dapat digunakan karena kondisi jalannya cukup baik dan medannya tidak terlalu sulit, bahkan bus ukuran kecil pun dapat digunakan hingga ke parkiran Curug Orok. Akses jalan yang tersedia di kawasan ini yaitu jalan raya sepanjang 700 m dengan lebar jalan 3-5 m, jalan desa sepanjang 200 m, dan jalan setapak berupa tangga yang panjangnya 200 m.

Area di sekitar Curug Orok sudah dikelola, sehingga terdapat fasilitas yang cukup lengkap untuk para pengunjung. Fasilitas yang terdapat di area Curug Orok, diantaranya lahan parkir dengan luas 500 m2 dengan daya tampung 10 bus, 20 mobil dan 50 motor. Terdapat pula sebuah pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik. Di dalam area objek wisata Curug Orok juga terdapat 2 buah toilet yang sekaligus berfungsi sebagai ruang ganti dan sebuah tempat bilas, serta shelter. Pada area Curug Orok juga terdapat fasilitas keamanan berupa pos jaga yang juga berfungsi sebagai pos tiket. Warung-warung banyak terdapat di dalam area Curug Orok dan kebanyakan akan berjualan pada akhir pekan. Pada hari kerja mungkin hanya sedikit warung yang buka. Terdapat juga beberapa unit villa untuk menghabiskan liburan akhir pekan bersama keluarga. Jalan setapak yang sudah dibentuk menyerupai tangga dari area parkir hingga tepat di depan Curug Orok terbuat dari tanah liat dan kerikil. Pada musim hujan, jalan setapak ini akan sedikit berlumpur dan licin. Medan jalan setapak ini bila dari area parkir akan terus berupa turunan dan tidak ada pagar atau pembatas, sehingga meskipun sudah ramah untuk segala golongan masih harus berhati-hati. Pintu masuk menuju Curug Orok ditandai dengan papan bertuliskan “Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Angling Darma: Curug Orok, Ci Kahuripan, Curug Kembar”

Curug Orok merupakan air terjun semi permanen. Pada musim kemarau, volume jatuhan airnya akan mengecil, bahkan beberapa air terjun kecil akan menghilang, tidak seperti pada musim hujan yang bahkan akan memunculkan beberapa air terjun kecil selain rangkaian air terjun utama Curug Orok. Jatuhan air Curug Orok sangat jernih, bahkan pada puncak musim hujan sekalipun hanya jatuhan air pada air terjun utama (yang paling besar dan tinggi) yang akan berwarna cokelat, sedangkan air terjun yang kecil akan tetap jernih. Aliran jatuhan pada air terjun utama melewati lahan perkebunan penduduk, sehingga pada musim hujan akan membawa material tanah. Air terjun kecil di sekitar air terjun utama berjumlah ±4 buah dan pada musim hujan aliran jatuhannya akan tetap jernih karena berasal dari celah-celah bebatuan di tebing sekitar Curug Orok. Secara keseluruhan, Curug Orok dapat diklasifikasikan sebagai tipe Paralel waterfall karena memiliki lebih dari dua aliran jatuhan air yang berdekatan tetapi dari sumber yang berbeda. Klasifikasi Curug Orok bila tidak dilihat secara keseluruhan, maka air terjun utama akan memiliki klasifikasi Ledge Waterfall yang merupakan bentuk klasik dari sebuah air terjun. Aliran jatuhannya akan jatuh langsung secara vertikal tanpa ada tahapan/tingkatan. Pada musim hujan, aliran jatuhan air tidak akan menyentuh dinding air terjun, tetapi pada musim kemarau, bila volume jatuhan airnya masih cukup besar, hanya pada bagian bawahnya saja yang menyentuh dinding air terjun dan membentuk sedikit tingkatan. Air terjun kecil yang berada di sekitar air terjun utama pada musim kemarau yang utama berjumlah empat buah, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya aliran baru dengan volume yang lebih kecil. Klasifikasi utama air terjun kecil ini merupakan Horsetail Waterfall karena aliran jatuhannya tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun. Terdapat pula klasifikasi minor yaitu Cascade Watrfall yang muncul karena jatuhan airnya mengikuti dinding air terjun dan sedikit landai serta berundak.

Asal mula air tejun ini dinamakan Curug Orok karena menurut cerita masyarakat setempat pada tahun 1968 ada seorang wanita muda yang membuang bayinya dari puncak air terjun, sehingga air terjun tersebut dinamakan Curug Orok. Jika dilihat dari bentuknya yang berupa satu buah air terjun besar dan empat rangkaian air terjun kecil, masyarakat setempat menganalogikannya dengan peristiwa pembuangan bayi. Air terjun besar melambangkan sang Ibu, dan empat rangkaian air terjun kecil melambangkan bayi yang dibuang. Sebelum ada peristiwa pembuangan bayi yang menjadikan air terjun ini lebih dikenal sebagai Curug Orok, air terjun ini memiliki nama Curug Sanghyang Prabu Gebur.

Sumber lainnya:

http://travel.detik.com/read/2014/03/15/124900/2523300/1025/kisah-tragis-di-balik-keindahan-curug-orok-garut

http://pariwisata.garutkab.go.id/index.php?mindex=daf_det_wisata&id_wisata=19

https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-orok—garut

CURUG OROK



0 Comments

Be the first to comment.