LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Curug Ciruti

dya-iganov

On

Secara administratif, Curug Ciruti berada di Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°19’35″S 106°29’31″E. Air terjun ini memiliki nama lain yang diberikan oleh warga. Curug Luhur adalah nama pemberian warga di sekitar air terjun ini dikarenakan oleh ketinggiannya. Oleh beberapa pengunjung air terjun ini diberi nama lain karena nama ‘Curug Luhur’ cukup banyak jumlahnya di seluruh Kabupaten Sukabumi. Nama air terjun ‘Curug Luhur’ setidaknya ada lebih dari 3 buah di seluruh Kabupaten Sukabumi. Nama ‘Ciruti’ kemudian menjadi nama yang lebih sering didengar untuk menyebut air terjun ini ketimbang Curug Luhur. Nama Ciruti sendiri diambil dari nama dusun yang terletak tidak jauh dari lokasi air terjun ini. Kabarnya, air terjun ini dapat dilihat dari pinggir jalan di sekitar Dusun Ciruti. Akses masuk menuju air terjun ini sendiri lebih banyak yang mengambil dari Desa Cikangkung. Lokasi Curug Ciruti sebenarnya tidak terlalu jauh dari Curug Cigangsa di Surade, bahkan warga di sekitar Curug Cigangsa sudah banyak yang mengetahui keberadaan Curug Ciruti. Pamor Curug Ciruti masih kalah oleh Curug Cikaso dan Curug Cigangsa yang sudah dibuka aksesnya dan menjadi salah satu objek wisata andalah di Kabupaten Sukabumi bagian Selatan. Curug Ciruti sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata, karena pencapaian dan medan yang dilalui untuk menuju Curug Ciruti relatif mudah. Terdapat tiga pilihan jalur untuk menju Curug Ciruti. Jalur pertama yaitu bila datang dari arah Kota Sukabumi dan Cibadak. Jalur Palabuhanratu – Kiaradua bagi yang datang dari arah Banten Selatan dan Palabhanratu dan jalur bagi yang berasal dari arah Ujunggenteng dan Surade.

RUTE SUKABUMI – UJUNGGENTENG

Jalur ini merupakan jalur utama menuju area wisata Ujunggenteng. Tepat di pertigaan Waluan, tidak jauh dari Polsek Waluran, ambil jalan ke kanan menuju Ciemas. Umumnya kondisi jalan mulai dari Pasar Pangleseran hingga pertigaan Waluran banyak berlubang dan medan akan terus menanjak. Jalur ini sedikit ramai pada siang hari dan bila pada malam hari akan cukup sepi. Tidak banyak lampu penerangan jalan di sepanjang jalur ini. Umumnya lampu penerangan jalan hanya berada di sekitar permukiman ataupun pusat kota kecamatan. Guna lahan di sepanjang jalur ini didominasi oleh areal perkebunan teh, jagung, karet, hutan produksi, hutan pinus hingga area hutan dan pabrik serta lokasi penambangan batukapur di sekitar Jampang Tengah. Selepas pertigaan Waluran (-7.198591, 106.614212 ), ikuti terus jalan utama dan ambil lurus ketika tiba di pertigaan Ciemas (-7.259357, 106.540919). Berikutnya, setelah sampai di Masjid Besar Ciracap, ambil jalan ke arah Jalan Cirangkong (belakang Masjid), ikuti terus jalan utama hingga ke pertigaan dengan Jalan Cidangdeur Dua (-7.331013, 106.498573). Kondisi jalan setelah melewati Pertigaan Waluran hingga perkebunan karet masih banyak berlubang, tetapi setelah itu, kondisi jalan akan kembali mulus karena sudah diperbaiki. Kondisi jalan yang cukup baik pun akan dilalui hingga ke rumah terakhir di Desa Cikangkung, sekaligus tempat untuk menitipkan kendaraan bermotor. Berikut adalah uraian rute yang harus dilalui bila melalui jalur Sukabumi – Ujunggenteng:

Sukabumi/Cibadak – Gunungguruh – Pasar Pangleseran – Jampang Tengah – Lengkong – Waluran – Jalan Ciracap Mareleng – Ciracap (Masjid Besar Ciracap) – Jalan Cirangkong – Jalan Cidangdeur Dua (Desa Cikangkung) – Curug Ciruti.

RUTE PALABUHANRATU – KIARADUA – WALURAN – CIRACAP

Jalur ini merupakan jalur yang sama bila menuju Pal Tilu menuju Kecamatan Ciemas, lokasi Geopark Ciletuh. Ambil Jalur menuju Citarik dan di pertigaan menuju Kecamatan Simpenan (-7.011172, 106.567065) ambil jalan menuju Kiaradua. Jalur ini akan melewati Kecamatan Simpenan dan Kecamatan Kiaradua melalui Cihaur, tepatnya Jalan Palabuhanratu. Kondisi jalan akan sedikit rusak ketika sudah melewati pusat Kota Kecamatan Simpenan, tepatnya di Cihaur hingga Cigaru, perbatasan dengan Kecamatan Kiaradua. Medan jalan pun akan didominasi oleh tanjakan dan jalan berkelok. Jalan relatif sempit dan merupakan jalur truk, sehingga pengguna jalan harus berhati-hati. Terdapat beberapa titik longsor diantara Cihaur hingga Kiaradua. Ambil jalur menuju Kecamatan Kiaradua menuju Kecamatan Waluran di Pertigaan Pal Tilu (-7.117760, 106.595361). Kondisi jalan akan cukup baik hingga di Pertigaan Kiaradua (-7.131248, 106.622207) yang merupakan pertemuan antara Jalur Palabuhanratu – Simpenan – Kiaradua dengan jalur Jampang Tengah – Lengkong – Waluran. Perjalanan melalui jalur ini akan banyak melewati perkebunan teh. Setelelah mengambil arah ke Kecamatan Waluran dari Pertigaan Kiaradua, jalur yang dilewati akan sama dengan jalur pertama (Jalur Sukabumi – Ujunggenteng). Berikut adalah uraian rute yang harus dilalui bila melalui jalur palabuhanratu – Kiaradua –Waluran – Ciracap:

Palabuhanratu – Simpenan – Cihaur – Cigaru –Pal Tilu – Kiaradua – Waluran – Jalan Ciracap Mareleng – Ciracap (Masjid Besar Ciracap) – Jalan Cirangkong – Jalan Cidangdeur Dua (Desa Cikangkung) – Curug Ciruti.

RUTE UJUNGGENTENG/SURADE – CIRACAP.

Rute ini merupakan rute terpendek dan dapat dikembangkan sebagai jalur wisata. Jalur ini dapat dipertimbangkan agar Curug Ciruti masuk ke dalam daftar objek wisata andalan Ciracap bersama dengan Pantai Ujunggenteng dan Curug Cikaso serta Cigangsa di Kecamatan Surade. Bila dari arah Surade dan Pantai Ujunggenteng, ambil jalan menuju Pertigaan Jampang Kulon – Surade dengan Surade – Ujunggenteng (-7.357368, 106.545438). Ambil arah menuju Ciracap (terdapat papan penunjuk jalan). Jalur kemudian akan melewati Jalan Pasiripis – Ciracap yang keseluruhan kondisinya baik. Dari pertigaan Surade – Ujunggenteng, jarak yang ditempuh hingga tiba di Masjid Besar Ciracap hanya sekitar 4,4 Km melalui jalan utama. Akan banyak persimpangan dengan jalan-jalan kecil di lingkungan desa, tetapi cukup ikuti jalan utama agar tidak bingung. Setelah tiba di di depan Masjid Besar, ambil jalan menuju Jalan Cirangkong kemudian Jalan Cidangdeur Dua seperti yang telah dijelaskan pada dua rute sebelumnya.

Setelah tiba di Desa Cikawung, perjalanan akan diteruskan dengan berjalan kaki. Waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai di Curug Ciruti (tanpa berkunjung ke Curug Badak terlebih dahulu) kurang lebih sekitar 20 menit. Perjalanan akan melewati jalan setapak di kebun warga hingga koordinat -7.326961, 106.493023. Truk pengangkut kayu masih akan ditemui hingga area sawah di ujung jalan setapak (-7.327230, 106.492052). Setelah keluar dari jalan setapak di kebun warga (-7.326961, 106.493023), jalan setapak akan melewati areal sawah. Berbeda dengan trek sebelumnya, trek di area sawah ini akan sangat terbuka, sehingga bila sedang kemarau atau musim penghujan akan sulit menemukan tempat berteduh. Jalur menuju Curug Ciruti memang belum dibuka untuk objek wisata, bahkan wisata lokal pun masih cukup jarang. Pada awalnya, pengunjung yang datang ke Curug Ciruti berasal dari beberpa komunitas yang sekalian bersepeda dan sedikit warga lokal. Lama-kelamaan akhirnya mulai dikenal dan berkembang menjadi wisata lokal.

Jalur menuju Curug Ciruti setelah tiba di areal persawahan adalah yang menuju aliran sungai, cari jalan setapak tepat di ujung area sawah (-7.327230, 106.492052) menuju ke bawah tebing melalui kebun warga. Jalan setapak yang dimaksud letaknya memang cukup tertutup hingga tiba di ujung jalan setapak menurun (-7.326849, 106.491715). Setelah berjalan menuruni tebing, jalan setapak akan kembali masuk di area sawah, dari sini, arahkan jalur menuju sungai. Jarak dari titik ini menuju aliran sungai sudah tidak terlalu jauh. Kendala yang mungkin menghambat perjalanan adalah tertutupnya jalur dan tidak adanya penunjuk arah menuju Curug Ciruti dari desa terakhir, oleh karena itu, disarankan untuk meminta antar penduduk setempat. Secara keseluruhan, kondisi jalur menuju Curug Ciruti bila musim hujan akan berlumpur di beberapa titik, seperti misalnya di area kebun dan sawah warga sebelum menuruni tebing.

Area di sekitar Curug Ciruti tidak terlalu luas. Banyak terdapat bongkahan batu di sekitar pinggiran aliran sungai hingga ke tengah dan di bawah aliran jatuhan Curug Ciruti. Bila musim kemarau, pengunjung dapat mendekati aliran jatuhan Curug Ciruti dengan berjalan di atas bongkahan batu dan mencari pijakan batu yang kokoh di dasar sungai. Bila musim hujan, hal tersebut akan cukup sulit dilakukan karena air sungai akan meninggi sehingga pijakan-pijakan batu akan tertutup oleh air. Area untuk menikmati dan mengabadikan landscape di sekitar Curug Ciruti bila musim hujan akan sangat terbatas, tetapi aliran jatuhannya akan memenuhi hampir semua dinding air terjun. Kekurangan lainnya adalah air sungainya akan berwarna cokelat. Bila musim kemarau, area untuk mengambil landscape Curug Ciruti akan cukup luas, tetapi aliran jatuhannya tidak akan menutupi dinding air terjun dan akan terlihat batuan dinding Curug Ciruti yang cukup menarik. Aliran sungainya pun akan berwarna sedikit jernih bila musim kemarau. Waktu berkunjung yang disarankan untuk ke Curug Ciruti adalah sekitar bulan April-Juli dan November-Maret (tergantung curah hujan).

Dinding air terjun Ciruti cukup tinggi dan lebar, tetapi lebar dinding air terjun lebih mendominasi dibandingkan ketinggiannya, oleh karena itu, Curug Ciruti dapat diklasifikasikan sebagai Block Waterfall. Dalam kondisi volume jatuhan air maksimal maupun normal, Curug Ciruti masih tetap dapat diklasifikasikan sebagai Ledge waterfall. Volume jatuhan airnya akan bertambah banyak pada musim hujan, tetapi tidak cukup besar hingga menyerupai klasifikasi Cataract waterfall. Pada musim kemarau, volume jatuhan airnya akan cukup kecil sehingga tidak semua dinding air terjunnya tertutup aliran jatuhan air. Meskipun masih dapat digolongkan sebagai kalsifikasi Block Waterfall, tetapi pada musim kemarau muncul klasifikasi sekunder yaitu Curtain waterfall. Klasifikasi sekunder ini muncul karena ada celah-celah dinding air terjun yang tidak tertutup aliran jatuhan air, tetapi masih ada juga dinding air terjun yang tertutup aliran jatuhan air di keseluruhan dinding air terjunnya.

Tepat di atas aliran Curug Ciruti, terdapat air terjun yang lebih kecil yang oleh warga sekitar diberi nama Curug Badak (7°19’33″S 106°29’35″E). Konon, di tempat ini dulu masih banyak badak yang hidup bebas. Melihat lokasi Curug Ciruti yang tidak terlalu jauh dari Kawasan Geopark Ciletuh (yang kabarnya merupakan daerah yang banyak badaknya juga) hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan. Aliran Curug Badak terdiri dari tiga tingkatan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu tinggi, bahkan satu diantaranya cukup landai dinding air terjunnya. Jalur jatuhan air di Curug Badak relatif sempit dan masih banyak bongkahan batu dan batuan sungai yang belum sepenuhnya terkikis air dan longsor sehingga memunculkan lintasan vertikal. Berdasarkan bentukannya, Curug Badak dapat diklasifikasikan ke dalam Multi Step Waterfall dan Ledge Waterfall meskipun sudut kemiringannya tidak terlalu landai. Volume jatuhan airnya pun tidak terlalu deras. Pada musim hujan, aliran sungainya akan berwarna cokelat pekat. Hal ini karena tingginya tingkat erosi di pinggiran sungai dan tingginya transportasi hasil erosi karena arus sungainya yang cukup kencang.

Jalur menuju Curug Badak jauh lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan yang menuju Curug Ciruti. Ambil jalan setapak ke arah kanan di pertigaan kecil di tengah kebun warga hingga keluar di koordinat -7.326765, 106.493663. Setelah keluar dari kebun warga, ikuti saja jalan setapak yang menuruni area sawah hingga menemukan jembatan bambu. Letak Curug Badak berada di sebelah kiri jembatan bambu. Hal menarik lainnya yaitu, banyaknya bongkahan batu yang tersebar di area kebun warga, bukan hanya di aliran dan pinggir sungai. Bongkahan batu ini sekilas mirip dengan bongkahan batu di perkebunan kelapa di Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, tepatnya setelah spot Bukit Panenjoan. Sayangnya, bongkahan-bongkahan batu yang cukup banyak di perkebunan kelapa ini sudah menghilang ditambang oleh manusia. Mengingat lokasi Curug Badak yang tidak terlalu jauh dari Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, bongkahan batu ini menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Selain Curug Badak dan Curug Ciruti, bila sekilas melihat aliran sungainya, kemungkinan masih terdapat beberapa air terjun lagi setelah Curug Ciruti, hanya saja aksesnya masih belum sejelas menuju Curug Ciruti. Warga di sekitar Cikangkung, Purwasedar, dan Ciruti banyak yang berprofesi sebagai pengasah batu yang kebanyakan diambil dari aliran sungai dan menjadi marmer. Sebaiknya bila mengunjungi Curug Ciruti sebelum sore, karena setelah pukul 17.00 suasana di sekitar Curug Ciruti dan Ciracap akan sangat sepi. Tidak perlu khawatir mengenai logistik, karena sudah ada minimarket dan warung nasi di Kecamatan Ciracap. Sepanjang perjalanan menuju Ciracap dari arah manapun akan melewati beberapa kota kecamatan untuk membeli perlengkapan logistik dan ransum.

FOTO : RAHMAT MUHAMMAD (MANG DADANG)



0 Comments

Be the first to comment.