LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Curug Ciputrawangi, Penyegar Setelah Pendakian Gunung Tampomas

dya-iganov

On

Secara administratif, Curug Ciputrawangi berada di Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Curug Ciputrawangi ini merupakan salah satu potensi objek wisata yang berada di kaki sebelah Timur Gunung Tampomas yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) KPH Sumedang Perum Perhutani Unit III Jawa Barat-Banten. Curug Ciputrawangi ini tidak asing lagi bagi para pendaki, karena areal sekitar Curug Ciputrawangi merupakan salah satu posko pendakian Gunung Tampomas selain yang berada di Cibeureum.

Akses menuju Curug Ciputrawangi tidak terlalu sulit dan sudah baik. Kondisi jalan dan medan jalan yang harus ditempuh tidak terlalu sulit dan bisa dicapai dengan menggunakan sepeda motor maupun mobil. Apabila ditempuh dari Kota Sumedang, maka jalur yang diambil adalah jalur utama yang sama dengan yang menuju Cirebon sampai di simpang Legok. Ambil jalur menuju Conggeang melalui Jalan Legok-Conggeang sampai Ciporong kemudian ambil arah menuju Desa Narimbang. Untuk menuju Curug Ciputrawangi tidak terlalu sulit karena sama dengan jalur pendakian Gunung Tampoas, jadi apabila bertanya kepada warga tidak akan terlalu sulit. Secara keseluruhan, medan untuk menuju Curug Ciputrawangi dari areal parkir tidak terlalu sulit, bahkan bila pergi bersama keluarga. Areal parkir memang tidak terlalu luas dan berupa tanah merah yang akan cukup licin dan berlumpur jika musim hujan. Dari areal parkir hingga ke lokasi air terjun, pengunjung harus melewati jalan setapak dan sedikit menanjak. Kondisi jalan setapak tidak terlalu bagus, cukup licin, beberapa ada yang rusak, dan cukup sempit dengan jurang dan aliran sungai di salah satu sisinya. Diantara area parkir hingga lokasi air terjun terdapat areal datar yang cukup luas dengan beberapa saung dan tempat duduk, cocok untk dijadikan tempat bersantai bersama keluarga dan tempat beristirahat setelah perjalanan menuju air terjun. Perjalanan dari areal parkir akan memakan waktu sealma kurang lebih tiga puluh menit dan sekitar lima belas hingga dua puluh menit untuk perjalanan turun. Bila musim hujan, jalan setapak menuju air terjun akan cukup licin, oleh karean itu sebaiknya menggunakan alas kaki yang disesuaikan dengan kondisi medan perjalanan.

Di sekitar areal parkir akan banyak ditemui penjual makanan dan minuman ringan jadi tidak perlu khawatir kesulitan menemukan makanan. Objek wisata ini banyak dikunjungi terutama pada Minggu, baik pengunjung yang ke Curug Ciputrawangi maupun pendaki yang turun dari Gunung Tampomas. Berdasarkan informasi dari pengelola, masih banyak terdapat bintang liar di sekitar Curug Ciputrawangi, terutama yang mengarah ke hutan di kaki Gunung Tampomas. Binatang-binatang sepertu landak, babi hutan, monyet, bahkan macan kumbang sering turun ke Curug Ciputrawangi untuk minum.

Curug Ciputrawangi merupakan air terjun yang tidak terlalu tinggi dan memiliki kolam kecil yang kemudian mengalir kembali menjadi aliran sungai hingga mengarah ke hilir. Keadaan alam di sekitar Curug Ciputrawangi masih sangat alami, masih rimbun oleh pepohonan, airnya masih sangat jernih dan sangat dingin. Di areal parkir hingga dataran tepat sebelum jalan setapak menuju Curug Ciputrawangi akan cukup banyak ditemukan sampah berserakan, padahal pihak pengelola sudah menyediakan tempat sampah. Hal ini cukup disayangkan mengingat keadaan di sekitarnya masih sangat alami. Selain masih banyaknya sampah yang berserakan, coretan-coretan di batu maupun dinding bangunan akan banyak ditemukan.

Curug Ciputrawangi merupakan air terjun permanen yang tidak terlalu tinggi. Curug Ciputrawangi dapat diklasifikasikan ke dalam tipe air terjun ‘Block’, ‘Horsetail’, dan ‘Slide’. Aliran jatuhan Curug Ciputrawangi tidak terlalu tinggi, tetapi sungainya cukup lebar, sehingga berpengaruh pada aliran jatuhan airnya yang akan melebar juga. Aliran jatuhan air yang lebar dan berasal dari aliran sungai yang lebar juga merupakan salah satu ciri dari klasifikasi air terjun tipe ‘Block’. Dinding air terjun Ciputrawangi sudah mengalami proses geologi yang ditandai dengan adanya pola miring dan memiliki beda ketinggian. Dinding air terjun Curug Ciputrawangi merupakan bidang vertikal tetapi juga memiliki sudut kemiringan karena pengaruh dari proses geologi yang terjadi di daerah tersebut. Dinding air terjun yang memiliki kemiringan serta permukaan yang tidak rata mempengaruhi aliran jatuhan air sehingga Curug Ciputrawangi pun memiliki kalsifikasi lain, yaitu ‘Slide’ dan ‘Horsetail’. Aliran jatuhan air Curug Ciputrawangi tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun selama proses jatuhannya dan cukup sesuai dengan salah satu ciri air terjun ‘Horsetail’ selain itu, dinding air terjun yang miring mejadikan Curug Ciputrawangi memiliki kesamaan dengan tipe ‘Slide’. Curug Ciputrawangi merupakan air terjun permanen, sehingga pada musim kemarau aliran airnya tidak akan kering. Meskipun dapat dikunjungi setiap waktu, ada waktu-waktu tertentu yang disarankan untuk mengunjugi Curug Ciputrawangi. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Curug Ciputrawangi adalah sekitar bulan Feburari hingga awal Mei dan sekitar awal Oktober hingga awal Desember. Pada musim hujan, terlebih lagi pada puncak musim hujan, kondisi jalan setapak akan cukup licin sehingga menyulitkan pengunjung untuk mencapai lokasi Curug Ciputrawangi.



0 Comments

Be the first to comment.