LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Candi Solok Sipin : Peninggalan Sejarah yang Terabaikan

ikraduya

On

“Sejarah itu ingatan, apa jadinya manusia tanpa ingatan”

- Ahmad Mansyur Syuryanegara

Manusia sekarang telah banyak mengalami lupa ingatan. Bukan karena ketidakmampuan manusia untuk mengingatnya, melainkan ketidakpedulian manusia lah yang sering kali membuat mereka lupa.

Berawal dari membantu teman menyelesaikan tugas mata pelajaran sejarah, saya kemudian menyadari betapa minimnya pengetahuan saya tentang Kota Jambi, kota kelahiran saya sendiri. Padahal, Kota Jambi meninggalkan jejak-jejak bersejarah yang sangat banyak melalui peninggalan-peninggalannya.

Ketika saya dan teman saya mencari informasi mengenai tempat-tempat bersejarah di Kota Jambi, kami mendapati temuan yang sangat menarik yaitu Candi Solok Sipin. Awalnya saya terheran-heran karena saya tidak pernah mendengar bahwa ada candi lain di Provinsi Jambi selain candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi yang menjadi kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia. Saya juga menyadari bahwa ketika orang-orang berbicara tentang tempat-tempat bersejarah di Jambi, Candi Muaro Jambi pasti akan selalu disebut, tetapi tidak dengan Candi Solok Sipin. Hanya sedikit orang yang tahu tentang keberadaan Candi Solok Sipin ini. Hal ini membuat saya mempertanyakan alasan ketidaktahuan orang-orang tentang salah satu situs bersejarah ini. Setelah memutuskan untuk menjadikan Candi Solok Sipin sebagai bahan tugas sejarah, kami pun pergi dengan sepeda motor menuju candi tersebut dan dibantu oleh Google Maps sebagai penunjuk arah kami. Candi Solok Sipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Jambi Kota, Kota Jambi. Candi ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari tepi sungai Batanghari.

Setelah tersesat sekitar kurang lebih 1 jam karena masuk ke lorong yang salah, pada akhirnya kami menemukan candi ini. Saya sedikit terkejut melihat areal yang dinamakan Candi Solok Sipin itu. 

Meskipun sebelumnya kami telah mendapat informasi bahwa Candi Solok Sipin terdapat di tengah-tengah pemukiman warga dan mempunyai keadaan permukaan tanah yang tidak rata, namun kami tidak menyangka jika areal candinya hanyalah seluas sebuah rumah. Pada papan informasi, terdapat informasi bahwa areal candi ini berukuran 10 km2¬. Areal candi dikelilingi oleh pagar besi yang di bagian kiri dan kanannya justru digunakan warga untuk menjemur pakaian.

Untuk masuk ke dalam areal candi, kami harus bertemu dengan penjaga candi, yang tinggal di sebelah candi dan mengisi buku tamu pengunjung candi. Ketika saya bertanya mengenai sejarah Candi Solok Sipin ini, penjaga candi mengambil satu bundel kumpulan artikel dan makalah yang disimpan di rumahnya. Tulisan-tulisan yang dikumpulkan itu berisi segala informasi mengenai candi ini. Tidak puas dengan hanya melihat tulisan-tulisan itu, kami masuk ke areal candi langsung. 

Candi Solok Sipin : Peninggalan Sejarah yang Terabaikan-Jambi-Heritage Sites-ikraduya

Rumah Penjaga Candi

Kami masuk ke areal candi melalui pagar yang sudah agak peyot. Di areal candi itu, saya dan teman saya menentukan lintasan yang akan kami lalui untuk perekaman Vlog (video blog) teman saya sebagai tugasnya. Keadaan di situs itu sangat memprihatinkan. Bahkan terbesit di pikiran saya, pantas kah areal ini disebut candi? Terlihat jelas bahwa situs itu tidak terawat dan yang lebih mengejutkan adalah keberadaan kloset jongkok di tengah-tengah situs lengkap dengan pipa pembuangannya. Semen bekas lantai rumah juga masih tersisa di candi itu. Nampaknya di atas situs ini pernah dibangun rumah oleh penduduk sekitar.

Sebuah tembok tinggi di belakang candi membuat saya penasaran. Sepertinya itu adalah sebuah bangunan tanpa pintu jika dilihat dari depan. Selagi asyik mengamati areal candi, ada dua orang penduduk berteriak kepada kami dan mengatakan bahwa di belakang tembok itu ada peninggalan-peninggalan lain dari situs candi. Mereka juga mengatakan bahwa peninggalan berupa artefak itu sebesar lengan mereka. Mungkin itu adalah gedung tempat menyimpan barang-barang peninggalan. 

Setelah selesai merekam untuk vlog , kami mengambil beberapa foto di sekitar situs. Lalu muncul keinginan saya untuk membuat sebuah artikel untuk dapat di-posting di blog saya. Kami pun berbincang dengan bapak yang sedang memanggang kerupuk panggang di depan rumahnya. Bukan kami yang bertanya melainkan bapak itu lah yang bertanya pada kami tentang umur candi. Kami pun menjelaskan bahwa, dari apa yang telah kami baca dari kumpulan artikel di rumah penjaga candi, Candi Solok Sipin diduga telah ada sejak sekitar abad ke-7 Masehi. Dari perbincangan kami dengan bapak itu, saya mengetahui bahwa pada tahun 1993, tahun bapak itu pindah ke daerah itu, areal candi itu dipenuhi oleh semak belukar. Tentu saja ini membuat saya bingung karena bagaimana mungkin pada tahun 1993 situs candi masih kelihatan sebagai semak belukar, sementara tulisan di papan informasi menyebutkan bahwa pada tahun 1954 candi ini pernah dikunjungi tim dari Dinas Purbakala. Apakah setelah candi ini ditemukan tidak dilakukan ekskavasi dan dirawat? Mengapa areal candi ini tidak langsung dilindungi dan dimasukkan dalam daftar warisan budaya?

Sebelum pulang, saya menyadari suatu hal yang sedikit mengejutkan, bahwa di sekitaran situs tersebut banyak warga menggunakan bata-bata yang berasal dari candi. Terlihat bata-bata merah berbentuk persegi panjang agak tipis digunakan sebagai pengganti pondasi rumah, dan lain-lain.

Di sepanjang jalan menuju rumah, banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Mengapa kita, termasuk saya, tidak tahu mengenai keberadaan candi tersebut? Apa saja yang telah dilakukan pemerintah selama ini sampai-sampai warisan benda purbakala ini terbengkalai dan hilang dari perhatian kita semua, terutama orang-orang Jambi?. Mengapa hanya Candi Muaro Jambi yang lebih dikenal dari pada Candi Solok Sipin padahal lokasi Candi Solok Sipin berada di tengah-tengah kota? Jika candi ini diperbaiki dan dirawat dengan baik seperti yang dilakukan pada Candi Muaro Jambi, saya yakin ia bisa menjadi salah satu candi yang dikenal luas di Indonesia.

Namun apakah akan semudah itu merawat kembali candi yang telah terlupakan ini? Pada saat akan berpamitan dengan bapak tadi, dia sempat melontarkan sebuah pernyataan yang membuat saya berpikir ulang, “dak tau lah ni bakal kek mano kedepannyo, apo kami bakal digusur atau kek mano? Padahal ini ni kan salah pemerintah, karno dulu dak merhatiin tempat ini sampe-sampe ado orang yang ngebangun rumah disitu” (“tidak tau lah bagaimana ke depannya nanti, apa kami bakal digusur atau bagaimana. Padahal ini salah pemerintah, karena dulu tidak memperhatikan tempat ini sehingga ada orang yang membangun rumah di situ”).

Mungkin ini lah salah satu dilemma bagi Pemprov Jambi. Mereka harus memikirkan warga yang tinggal di areal candi. Menurut pandangan saya, pemerintah dapat mengkaji ulang dan memikirkan kembali matang-matang tentang potensi pariwisata yang terabaikan ini. Jika memang masih ada potensi ditemukannya peninggalan sejarah baru dari situs ini, tidak ada salahnya memperjuangkan penggalian dan perluasan areal candi, kemudian memindahkan penduduk ke tempat baru yang telah disediakan oleh pemerintah. Namun apabila memang sangat sedikit yang dapat dilakukan kepada areal tersebut, akan lebih baik mempertahankan areal tersebut dan terus merawatnya sehingga layak menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat Jambi dan wisatawan. Selain upaya dari pemerintah, mungkin kita juga harus menanyakan di mana keberadaan sejarawan Jambi. Keberadaan mereka padahal diperlukan untuk menghidupkan sejarah, bukan hanya sibuk dengan sejarah daerah lain tetapi juga daerahnya sendiri yaitu Jambi. 

BONUS :



0 Comments

Be the first to comment.