LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Bertamu ke Rumah Para Dewa Di Dieng

rio-indrawan

On

Setelah sekian lama “menganggur” di blog akhirnya ada juga waktu saya untuk kembali berbagi bersama rekan-rekan (yang tentunya mau membaca tulisan) untuk berbagi pengalaman perjalanan saya mengunjungi, menikmati keindahan alam bumi nusantara.

Seperti yang diketahui sebelumnya niat saya setelah mendaratkan kaki di puncak Gede adalah menyambangi tempat-tempat lan di belahan bumi Indonesia. Namun itu semua terhadang oleh waktu dan biaya tentau saja. Tapi akhirnya liburan semenster kuliah waktu itu memberikan angis ‘surga’ sehingga saya pun muai merencanakan perjalanan baru bersama teman-teman.

Salah satu teman saya Imron dengan perawakan seram anak metal tapi hati melow mengajak saya dan teman lain untuk menyambangi tempat tinggi lainnya di Pulau Jawa di daerah Wonosobo. Saya sempat bertaynya-tanya”ada apa di Wonosobo?”.

Dengan lantang baronk menjawab saat saya tanya, “Kita ke Dieng!”. Tanpa pikir panjang saya pun sumringah dan teringat cita-cita saya saat menonton tayangan TV tentang Dieng. Dieng merupakan salahs atu daerah yang paling saya impikan dan saya ingn datangai (Efek kebanyakan nonton BBC dan jejak petualang dll). Untuk diketahui Dieng itu terkenal seantero bumi, makanya BBC aja suka mampir kesana.

Akhirnya saya, Imron, Rizky, Arie, Diko dan satu teman Imron yag saya lupa namanya berangkat menuju Dieng dengan terlebih dahulu mampir ke Purwokerto. Saang saya lupa kapan saya berangkat, tapi yang pasti di tahun 2010.

Perjalanan dengan kereta api terasa begitu lama sedikit klasik memang tapi ternyata benar, pemandangan sawah hijau banyak mengobati rasa bosan yang mulai menggrogoti.

Sekitar pukul 5 subuh kami tiba di Purwokerto. Benar-benar kota yang bersih asri. Saya sanga kagum dengan stasiunnya yang rapih berbeda sekali dengan stasiun pasar senen atau kota yang semrawut (Saat itu).

Pagi buta kami langsung menuju rumah Rizky. Rizky ini orangnya ‘kuyuk’, kurus, berambut anak band (emang beneran anak band). Tapi jangan tertipu dengan penampilannya, kalau sudah dikasiih gitar dia bisa lupa akan dunianya, jarinya seakan disihir.

Bertamu ke Rumah Para Dewa Di Dieng-Wonosobo-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-Traditional Villages-Rio Indrawan

Rehat di rumah Rizky

Singkat cerita ternyata rumah Rizky di Purwokerto termasuk di perumahan elit, lagi-lagi saya dikaruniai Dewi Fotuna jadi pengeluaran berkurang untuk stay beberapa malam di Purwokerto.

Selain itu ternyata Rizky punya nenek yang bisa dibilang nenek yan sangat menggambarkan nenek-nenek seperti yang diceritakan dalam dongeng. Sangat baik dan lemah lembut, hanya saja kita harus menaikan volume suara saat berbicara dengan nenek Rizky. Belum lagi ternyata Rizky punya kaka perempuan yang mampu membuat kami (saya,ari,diko,imron dan temannya imron) segar di pagi buta, namun sayang, saat mendengar aksen bicaranya kami langsung ngedrop lagi. (intermezo ky)

Kami tidak langsung berangkat menuju Dieng tapi setelah siang kami memutuskan untuk berkunjung ke tempat wisata sangat terkenak di Purwokerto yakni Baturaden. Dengan merogoh kocek sekitar Rp 10.000 kami pun tiba di sana.

Tidak terlalu spesial memang, karena memang batu raden nampak seperti Cibodas versi Purwokerto. Kami tidak lama disana setelah gerimis mengguyur dan kami salah berteduh yakni tepat di depan komplek pemakaman tua di dalam area Baturaden. Suasana berubah drastis saat kami berteduh disana. Kami pun pulang kerumah Rizky dan mempersiapkan keberangkatan untuk besok ke dataran tinggi Dieng.

Bertamu ke Rumah Para Dewa Di Dieng-Wonosobo-Adventure-Mountains, Hiking, and Trekking-Traditional Villages-Rio Indrawan

Baturaden

Esok pagi kemi berangkat menuju wonosobo, tidak terlalu mahal hanya Rp 20.000 saja dengan menggunakan bis seukuran Metromini. Perjalanan Purwokerto-Wonosobo ternyata cukup panjang sekitar 3-4 jam. Cukup waktu untuk tidur sepertinya, tapi niat saya buyar saat ingin tidur karena ternyata bis melaju seperti di track balapan. Bayang kan saja sesama bis jurusan Wonosobo tidak jarang sering adu cepat pus dengan para supirnya yang hanya tertawa riang tanpa memikirkan penumpangnya yang sedang berzikkir memohon keselamatan. Untung saya lebih tenang karena ditemani kenek bis yang lucu dan menemani kami diperjalanan.

Akhirnya kami tiba di Wonosobo pintu gerbang menuju dataran tinggi Dieng. Dari sini kami masih harus naik bis dengan harga Rp 10.000 saja.

Sangat menyenangkan naik bis menuju Dieng, selain bentuknya suasana didalam bis pun berubah seketika saat kita duduk bersama warga lokal. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Disini apa saja dimasukan ke dalam bis alat bertani, hasil bumi dll.

Suasana itu benar-benar jarang didapatkan. Ditambah lagi pemandangan menuju Dieng benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. jalanan berliku nan berbahaya dilalui kami dengan senyum sumringah. Bagaimana tidak awan saja masuk kedalam bis. Kami girang bukan main saat menembus awan dengan bis seperti mimpi memamng tapi itu yang terjadi, sesekali kegirangan kami terusik oleh perasaaan takut jatuh karena ukuran jalan yang kecil.

Bisa dibilang supir-supir menuju Dieng memiliki kemampuan perasa khusus, dengan jalan kecil begitu mampu dilewati dua bis saat berpapasan tanpa adanya pembatas jalan alias langsung jurang.

Perjalanan menuju dataran tinggi Dieng sekitar satu jam. Benar-benar satu jam yang tak akan terlupakan.

Akhirnya setelah kami tertidur sebentar karena hembusan angin dari awan-awan yang melintas membuat ngantuk, kami tiba di dataran tinggi Dieng.

Dieng saat itu masih sepi, sangat nyaman sejuk langit biru cuaca terik tapi anehnya udara begitu sejuk. Kamipun bergegas mencari penginapan. Tanpa membutuhkan banyak waktu kami mendapat penginapan Melati dengan tarif Rp 30.000 /malam. Bukan penginapan yang mewah karena ternyata penginapan Melati adalah yang tertua di Dieng. Agak menyeramkan memang tapi ya masih sangat layak kondisinya, dengan kasur pintu dan lemari yang berderit seram saat digunakan.

Setelah makan siang dan berkeliling Candi Arjuna dan mampir ke Telaga Warna yang eksotis kami memutuskan untuk tidur sejenak. Azan magrib membangunkan saya dan langsung bersiap menuju masjid. Sampai di lantai 1 penginapan saya panik, terkejut karena asap menyelimuti rumah, tanpa pikir panjang saya berteriak ke atas “Imron kebakaran, wooy bangun kebakaran, asep dimana-mana” teman-teman tentu saja loncat bangun, kami sempat panik tapi tidak lama saya sadar kenapa kebakaran dingin? Akhirnya kami sadar bahwa itu adalah awan yang lagi-lagi mampir masuk kerumah. Benar-benar menakjubkan AWAN MASUK RUMAH !

Malam hari sebelum perburuan sunrise di “ dataran para dewa “ kami bersantai di kedai wedang jahe tak jauh dari penginapan. Hingga saat ini dan sampai kapanpu saya akan merindukan suasana tenang nan damai yang saya rasakan saat di kedai itu.

Suasana sepi, angin dingn menyebar luas namun langit cerah, wedang jahe susu menemani kami ditambah pisang goreng hangat. Kami berbincang dengan bapak penjual wedang. Lantunan tembang jawa dan sesekali suara penyiar radio berbahasa jawa yang keluar dari radio kuno. Benar-benar suasana yang sagat susah didapatkan sekarang ini.

Keesokan harinya sekitar pukul 4.30 saya bangun dan langsung menuju masjid untuk berjamaah. Saya pun disambut dengan air es, bukan dingin tapi air es yang keluar dari keran air.

Kami segera bersiap-siap dan langusng menuju tempat perburuan sunrise di dataran tinggi Dieng yaitu bukit Cikunir.

Kami menyewa motor ojek dengan bayaran Rp 15.000 untuk mengantar ke Cikunir dan mengantar kami ke kawah Sikidang setelahnya. 15 menit berkendara 1 motor 4 orang pun kami lalui dengan menembus angin dingin yang menusuk ketulang.

Akhirnya kami tiba di telaga cebong atau pintu masuk menuju bukit Cikunir. Disana ternyata sudah ramai ada yang mendirikan tenda pula. Kamipun diharuskan mendaki bukit untuk mencapai titik tempat terbaik menyaksikan sang surya menyebarkan sinarnya dari ufuk timur.

Saya, ari, imron serta teman imron berlari teregah-engah karena kami tidak mau melewatkan momen berharga menyaksikan matahari keluar dari persembunyiannya. Namun sayang Diko tiak dapat melanjutkan karena terlalu lelah, dengan jiwa besar Rizky memutuskan untuk turun mendampingi Diko yang sakit.

Kami berempat pun kembali berlari dan tidak lama kami sampai dimana sekumpulan orang telah tiba labih dulu. Banyak juga warga asing disana. Dieng memang sudah terkenal hingga ke mancanegara senagai salah satu pemukiman tertinggi di dunia.

Akhirnya lelah kami perjalanan panjang kamu terbayarkan tuntas dengan menyaksikan sang mentari keluar dengan malu-malu dari balik awan. Sungguh pemandangan sangat indah dimana langit biru bertemu dengan warna emas matahari diikuti background gunung-gunung yang ada disekitar.

Saya pun terdiam, lemas, kagum, bersyukur. Perasaan senang dan bersyukur bercampur dengan takut, takut akan kekuasaan Allah SWT, betapa saya sebagai manusia begitu mudah dibuat. Allah menciptakan alam ini lengkap dengan keindahannya. Betapa saya sadar sangat tidak pantas untuk bersombong ria.

Matahari bersinar cukup cerah saat itu, kami menikmati alam dengan khusyuk. Tidak ada niatan saya untuk berfoto yang ada hanya ingin merekam semua pemandangan yang saya lihat dengan mata, dan saya simpan baik dalam pikran dan hat saya.

Celetukan Ari tentang bagaimana keadaan Diko dan Rizky membangkitkan saya dari keasyikan menikmati sinaran sang surya.

Kami pun bergegas turun dan menjumpai dua sahabat kami masih dalam kondisi utuh sedang menikmati secangkir kopi hangat.

Kami pun langsung menuju kawah Sikidang dengan ojek motor. Sesampainya di sana lagi-lagi saya terbelalak dengan kondisi disana.

Setelah memasuki kawasan kawah saya merasakan seperti sedang berada di planet lain yang tandus bahkan datarannya berwarna putih. Belum lagi saat dibibir kawah , kawah Sikidang masih aktif dan mendidih menyemburkan asap belerang. Kesadaran saya yang menegaskan bahwa masih menginjakan kaki dibumi adalah adanya tumbuhan alang-alang yang hidup disekitar kawah. Aneh memang tapi begitulah Indonesia menyimpan beragam keanehan, keindahan yang lebur menjadi satu.

Suasana kontras antara dataran putih, perbukitan hijau, dan langit biru cerah sangat menakjubkan. Tidak bisa kita melihat keadaan ini ditempat lainnya.

Segera setelah melakukan beberapa sesi foto yang memang sangat teramat wajib dilakukan disana kami memutuskan untuk minggat karena terik matahari sudah semakin menyengat.

Perjalanan kembali ke penginapan sangat berat karena kocek kami menipis kami diharuskan berjalan kaki naik turun bukit. Harapan kami hanyalah mobil warga pengangkut sayur, itu pun jika lewat.

Doa kami dikabulkan , mobil pengangkut sayur yang kosong lewat, namun hanya melewati kami, tapi kemudian selang sekitar 200 M mobil terseut berhenti, saya sendiri mengisyaratkan ini tanda kami boleh menumpang. Tanpa pikir panjang kami pun berlarian ke arah mobil. Akan tetapi ketika kami bersiap naik mobil tersebut tancap gas pergi meninggalkan saya dan yang lain. Tidak ada kata yang keuar dari kami hanya kelelahan dan gelak tawa, aneh memang tapi itulah yang saya sendiri rasakan tertawa. Tawa juga menjadi obat terbaik saat kemi kelelahan.

Akhirnya mobil berikutnya muncul, kali ini tanpa malu-malu saya dan ari menjegat mobil ditengah jalan, dan dengan tampang sumringah pemilik mobil mempersilahkan kami untuk naik.

Akhirnya kami terselamatkan. Di mobil pick up itu kami saling diam. Saya yakin teman-teman saya memikirkan apa yang juga saya pikirkan tentang betapa alam Indonesia ternyata sangat luas, dataran tinggi Dieng adalah salah satu tempat dimana Allah menunjukkan secuil kebesarannya kepada kita. Secuil saja sudah sangat begitu indah bagaimana tempat lainnya?

Saya pun semakin menyadari dan myeakini bahwa tidak ada kata untuk berhenti menikmati keindahan alam indonesia yang telah Allah anugrahkan kepada bumi nusantara ini.



0 Comments

Be the first to comment.