LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Amazing Island, Gili Labak!

auliyarp

On

Gili Labak.

Dua kata yang terdengar asing di telinga. Kalau dengar kata "gili" memang identik dengan Lombok seperti Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air dll tapi Gili Labak ini berada jauh dari Lombok. Madura. Iya, Madura tepatnya di Sumenep merupakan tempat keberadaan pulau Gili Labak yang indah ini. Suatu pulau kecil yang sangat indah serta bebas dari polusi dan hanya dihuni sekitar 30an kepala keluarga.

Berangkat dari Malang jam 5 pagi menuju ke Terminal Bungurasih di Surabaya buat janjian sama temen-temen yang lain. Rencana sih jam 7an berangkat ke Sumenep tapi karena ada kendala kendaraan yaitu ELF yamg disewa ga bisa dipakai jadilah ada beberapa teman yang terpaksa naik bus menuju Sumenep. Jadi ada 2 mobil dan sisanya naik bus. Baru sekitar jam 9 dan semua masalah teratasi barulah melanjutkan perjalanan menuju Sumenep. Untuk ke Madura bakalan melewati jembatan Suramadu, keren juga jembatan ini. Dari jembatan ini menuju ke Sumenep membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Sekitar jam 1 siang sampai juga di Sumenep, istirahat bentar dan makan siang dulu. Kemudian menjemput teman yang berangkat menggunakan bus di terminal dan menunggu Elf yang disewa dari Sumenep.

Setelah siap semua maka kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Kalianget buat menyebrang ke Pulau Talango. Jadi kalau mau ke Gili Labak bisa langsung dari Pelabuhan Kalianget dan langsung naik perahu menuju Gili Labak tapi butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan laut. Bisa juga melewati Pulau Talango, dari Pelabuhan Kalianget nyebrang sekitar 5 menit menggunakan tongkang yaitu semacam perahu agak gede yang bisa mengangkut kendaraan juga terus nyebrang ke Gili Labak dari Talango. Setelah nyebrang ke Talango masih butuh waktu 30 menit perjalanan darat untuk sampai ke tempat penyeberangan di Talango terus baru nyebrang pake perahu nelayan dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Gili Labak. Jadi terserah mau milih rute yang mana untuk mencapai Gili Labak.

Rencananya mau nyebrang ke Gili Labak sore jadi bisa menikmati sunset yang indah disana tapi keadaan berkata lain. Kesasar. Iya salah ngambil jalan dan kesasar di Talango jadi waktu yang seharusnya Cuma 30 menit udah sampai tempat nyebrang jadi molor berjam-jam. Bahkan hari sudah beranjak gelap kita masih di Talango, gagal menikmati sunset di Gili labak.

Oke lah kami masih merelakan sunset yang indah itu tapi ternyata ada masalah lagi yang harus kami hadapi. Pak sopir di Elf yang kami sewa ga mau melanjutkan perjalanan karena jalanya memang turun dan curam banget jadi dia ga berani. Terpaksa teman kami yang berada di Elf harus jalan kaki, yang naik mobil sendiri juga jalan kaki karena memang serem jalanya mana udah malam lagi. Untung aja udah mau sampai tempat penyeberangan jadi jalan ga terlalu jauh.

Perjuangan kami berat banget ya, udah dari Surabaya Elf ga bisa dipakai jadi harus ada yang naik bus, kesasar di Talango dan terpaksa jalan kaki juga. Ternyata perjuangan itu belum usai, kami harus nyebrang ke Gili Labak menggunakan perahu nelayan di tengah kegelapan malam. Di laut ga keliatan apa-apa, ombaknya besar dan anginya juga besar. Kami sudah seperti imigran gelap yang naik kapal tengah malam untuk mencari suaka. Rasanya serem berada diatas kapal seperti itu, mulut komat-kamit mengucap mantra eh doa dan rasanya udah pasrah. Pikiran udah ga jelas, mikir kalau kapalnya terbalik gimana, apa yan harus dilakuin, gimana ntar keluarga di rumah, pokoknya mikirnya udah negatif aja. Tapi kami selamat tiba di Gili Labak tanpa kurang satu apapun.

Sampai Gili Labak ya udah gelap, ga tau indahnya pulau ini. Jadilah kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Kami sudah lelah hari ini, fisik dan emosi diuji. Setelah tenda berdiri kami makan malam bersama lalu semuanya tertidur dengan lelap karena sudah lelah.

Akhirnya pagi juga, akhirnya bisa tau indahnya Gili Labak ini. Pasirnya putih dan lembut, lautnya biru dan udaranya bebas polusi. Gili Labak seperti pulau pribadi, sepi banget disini, damai. Pulau ini ga gede jadi kita bisa berjalan memutari pulau ini dan ga bakalan kerasa capek karena pemandanganya emang keren banget. Ada yang foto-foto, main pasir, tidur-tiduran, sarapan dan ada juga yang snorkeling.

Warga asli pulau ini juga baik kok walaupun ga kenal sama kita. Waktu pagi hari menikmati sunrise dan jalan mengitari pulau saya ketemu seorang nenek dan beliau menyuruh untuk mampir rumahnya dan siang hari setelah kami membersihkan diri di dekat rumah warga ada bapak dan ibu yang memberi kami degan gratis. kalau sudah puas main di pantai jangan bingung untuk membersihkan badan, disekitar rumah warga ada sumur dan ada kamar mandi ya walaupun airnya payau, yang penting kan airnya ga asin dan badan jadi ga lengket.

Ga bakalan ada ruginya deh mengunjungi Gili Labak. Semuanya indah dan penduduk asli sana juga ramah. Setelah puas main dan menikmati keindahan pulau cantik ini, sekitar jam setengah 1 kami kembali menyebrang ke Talang. Perjalanan tengah hari gini panas banget dan berhubung kami semua capek jadinya semua tertidur diatas kapal.

Sampai di Talango kami beristirahat dulu di rumah warga sambil menunggu Elf yang datang menjemput. Sudah 1 jam kami menunggu Elf tak kunjung datang dan ternyata karena satu dan lain hal Elf bisa menjemput tapi sangat telat. Untuk kita ada menyewa pickup perjalanan menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Kalianget. Jadi lagi-lagi kita harus bermasalah dengan Elf.

Tiba di Kalianget sudah gelap. Kemudian kami mencari indomaret untuk istirahat sebentar, membeli beberapa makanan dan minuman serta pamitan kepada teman-teman karena harus berpisah disini. Saya dan teman-teman yang berasal dari Malang harus pulang dulu sedangkan teman-teman yang lain kembali ke Surabaya.



1 Comments

  • amirmahmud - 2 months ago
    Belum pernah ngrasain enaknya camping, kayaknya asik banget tuh, apalagi bareng teman teman https://journesia.com/story/ada-taman-surga-di-bukit-pantai-watu-bale-kebumen/