LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Amazing Baluran National Park

restianasyif

On

Sudah dua kali saya mengunjungi Taman Nasional Baluran. Maret lalu saat musim hujan ketika savana berubah menjadi padang hijau dan di bulan November 2014 saat kemarau panjang. Untuk benar-benar menikmati nuansa Africa Van Java, saya menyarankan untuk datang di puncak musim kemarau (Agustus-November). 

Catatan:

Bila membawa kendaraan, usahakan tidak menggunakan city car seperti saya. Walaupun bisa, namun akan memakan waktu yang cukup lama. 

Untuk masuk ke Taman Nasional Baluran dikenakan biaya Weekdays Rp 5.000, Weekend & Hari libur Rp7.500 perorang.

Sedangkan untuk kendaraan bermotor dikenakan Rp 5.000/unit/hari dan Kendaraan roda empat Rp 10.000/unit/hari.

Datanglah pagi hari dan maksimal pukul 12.00 siang agar kamu dapat menikmati keindahan alamnya secara maksimal.

BALURAN IS AMAZING FOR REAL

Julukan Africa Van Java benar-benar terjadi ketika kami datang. Savana nya mencoklat dan pohon-pohon mengering. Saat itu terik sekali sehingga kita menikmati langit yang benar-benar biru hingga sore hari. Perjalanan dari gerbang menuju savana Bekol memakan waktu 2 jam. di sisi kiri dan kanan kamu akan disambut oleh pohon-pohon tinggi, beberapa ayam hutan, monyet hingga kawanan burung. Uniknya adalah, ditengah-tengah suasana kering seperti Afrika, terdapat kawasan evergreen. Saya sangat beruntung mendapatkan cuaca yang cerah di penghujung musim kemarau.

Sesampainya di Savana Bekol, saya menikmat pemandangan padang savana cokelat yang luas dan eksotis. Namun saya sendiri tidak punya nyali untuk pergi jauh ke tengah-tengahnya. Kalau tiba-tiba bertemu banteng? Da akumah apa atuh...

Pohon-pohon kering dan sekelompok rusa. Sepertinya hal ini jarang terjadi, karena pengalaman kedua saya ke Baluran di bulan Maret, saya tidak sama sekali menemukan rusa, burung merah dan banteng.

Savana Bekol memiliki sejumlah penginapan dengan tarif yang beragam, toilet umum dan arena parkir motor dan mobil. Kami berhenti sejenak disana untuk berfoto dengan fosil banteng dan menyantap nasi bungkus yang sudah kami bawa untuk perbekalan kami selama di Baluran. 

MONYET LOE....

Namun ternyata sangat tidak disarankan untuk makan diluar mobil karena apabila kamu makan di luar mobil, niscahya kamu akan diserang oleh pasukan monyet seperti saya dan Rieke. Liat tuh monyet, sadar kamera banget langsung pamer gigi pepsodent!  Karena kami shock diserang dan dirampok monyet, kami akhirnya segera masuk mobil dan ngibrit ke Pantai Bama sambil tertawa geli dan sumpah serapah di dalam mobil. Makanan saya dan Rieke hilang dan akhirnya kami makan seadanya dengan teman-teman yang lain di dalam mobil sambil tertawa mengingat kejadian di Bekol. Lalu saya bersama teman-teman melanjutkan Perjalanan dari Bekol ke Pantai Bama selama 45 menit. 

Pantai Bama sangat sepi saat itu. Hanya ada beberapa turis asing dan dua kelompok turis lokal termasuk kami. Sangat disayangkan manajemen pantainya masih sangat kurang. Padahal Pasirnya sangat putih dan airnya sangat tenang untuk snorkling. Semoga kedepannya pantai ini lebih baik untuk manajemen wisatanya.

PULANG

Setelah bersantai di Pantai Bama, kamu berhenti sejenak untuk hunting foto Burung Merak dan menikmati sunset dengan pemandangan Gunung Baluran. Tidak lupa mengabadikan momen bersama teman-teman. Terima kasih Banyuwangi dengan keindahan alamnya. Trip kali ini sangat menyenangkan karena saya ditemani oleh kawan-kawan yang lucu. Melihat kehidupan para nelayan di Muncar Seaport, panggilan alam di Kawah Ijen, drama dengan monyet-monyet di Bekol dan keramahan keluarga Mas Dikin yang menjadi tempat persinggahan kami selama di Banyuwangi. 

Thanks for reading!

Warm Regards, Mbares



2 Comments