LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

AfterTrip: Little Parts of Padang in Words

azra-zahrah

On

mencuri waktu start, take a trip, leave the 'reality' behind first ..

30 Mei 2015

Finally, welcome to Padang 🙌 #itsmyfirsttime

The real trip will begin tomorrow .. Today just warming up

'Pemanasan' sekitaran jam 2 siang di kota Padang yang ternyata panas sangat.. Tak disangka, panasnya kering melebihi Bogor yg udah mau saingan ama Jakarta. Fine, enjoy it ..

Our 1st destination is ... Museum Nagari Adityawarman.

Tahu mau ke sini, langsung bertanya-tanya.. Mengapa nama museumnya Adityawarman? Adityawarman itu siapa? Tanya ke Uda yang mengantar & menyupiri udah kayak tour leader kami, eh Uda nya cuma bisa nyengir.. sama aja, gak tahu maksud dibalik nama itu. Orang asli sananya aja tak tahu, apa lagi saya yg pelancong ini 😑

Akhirnya, tanya mbah gugel. Kata wikipedia, nama museum itu diambil dari nama salah satu raja besar Kerajaan Malayapura (Pagaruyung) pada abad ke-14 yang semasa dengan Kerajaan Majapahit. 

Bangunan utama museum ini beraksitektur Rumah Adat Minang, yang dikenal dengan sebutan Rumah Gadang. Di kota Padang ini, bangunan dengan arsitektur rumah adat seperti itu tidak sulit ditemui. Selain museum dan gedung2 pemerintahan juga rumah2 makan (resto and so on), ada Bank juga Masjid Raya (masih dalam pembangunan) yang mengadopsi bentuk rumah adat ini. Bahkan, halte tempat nunggu bus kepalanya dibuat dengan bentuk khas atap rumah Minang ini. Benar2 Padang sekali.

Sebelum menikmati kawasan museum Adityawarman ini tentu harus membayar tiket terlebih dahulu, tetapi saya tidak terlalu memperhatikan berapa harganya.. Maklum, dapat gratis alias dibayarin, hhe.

Sebelum memasuki bangunan utama museum, tampak sebuah monumen yang di atasnya seperti ada bola berwarna putih. Entah itu monumen apa, tetapi bila boleh ditebak sepertinya semacam monumen perjuangan. Tebakan itu beralasan dari tulisan yang ada di 'kaki' monumen, yaitu Naskah Proklamasi Kemerdekaan dan di bawahnya ada tulisan lain bertanggal 9 Maret 1950 diikuti akronim PADANG yang 'dimaknakan'. Lagi-lagi saya tak ada petunjuk berkenaan hal tersebut, and as usual.. googling. Dan ternyata, pada tanggal tersebut adalah saat Padang dikembalikan ke pangkuan RI melalui SK Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) No.111, 9 Maret 1950. Hmmm... Dikembalikan ya? Mungkin saat zaman Belanda masuk lagi setelah kemerdekaan '45 kali yaa..

Oh iya di depan monumen ada patung pejuang menggenggam bambu runcing. Dan di sampingnya ada tulisan semacam sebait sajak: "Untuk Kami Nusa Djaja, Kamulah Gugur Derita Sengsara, Kamu Bertugu Didjiwa Bangsa, Lambang Bermutu Selama Masa" .. Hmm, mungkin makna tersiratnya itu mengajak kita generasi setelah kemerdekaan untuk tetap mengingat jasa para pahlawan/pejuang yg rela hingga gugur untuk kedaulatan negara yg diakui oleh negara2 lainnya, dan lebih dari itu untuk keberlangsungan keterjaminan hidup merdeka kita..anak cucunya. Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, sebait itu ingin menyentak kita juga kali ya untuk meneruskan perjuangan di era ini.. Era globalisasi, perjuangannya harus ekstra nih untuk bisa tetap dan lebih dipandang sebagai bangsa negara maju berpikiran cerdas berakhlak baik. Yuuk kita berjuang bersama, mulai dari mencintai negeri ini dengan bijak bisa kali yaaa.. Jangan sampai perjuangan para terdahulu kita merebut kemerdekaan jadi tidak bernilai karena ulah tak sepatutnya dari kita, generasi harapan setelahnya 😊 semangat 45 👍

AfterTrip: Little Parts of Padang in Words-Padang-Adventure-Art and History-Azra Zahrah

entah itu monumen apa, ada di depan 'gedung' museum Adityawarman

AfterTrip: Little Parts of Padang in Words-Padang-Adventure-Art and History-Azra Zahrah

yang tertulis di 'kaki' monumen

Lanjut masuk ke bangunan museum, maka akan ditemukan segala rupa terkait adat budaya Sumatra Barat. Di sana.. ada koleksi2 yang menceritakan adat pernikahan dari berbagai tempat di SumBar, mulai dari pelaminan dan pakaian pengantin hingga 'seserahan' yang termasuk makanan2 khas sana. Ada juga lampu gantung yang entah mengapa jadi daya tarik tersendiri untuk saya.. Terlihat umum sih, mirip dengan yg ada di Jawa .. dan gak tahu jg ada bedanya atau tidak. Sebenarnya, lebih tertarik dengan ukiran penghias lampu itu, penasaran aja.. Itu ukiran seperti bentuk kepala wanita (putri) ama semacam rusa punya makna apa ya? Mengapa harus rusa ya? Jadi ingat istana Bogor. Ada yg bisa bantu jawab?

Di area museum Adityawarman, di halamannya masih ada beberapa koleksi yang bisa dipandang ..

Ada taman juga di sisinya, yg bisa dijadikan tempat duduk-duduk santai di bawah pohon rindang.. Kalo mau makan minum ringan juga bisa, ada para penjaja makanan minuman yg dagangannya bisa dibeli, tp pleaasee banget.. kalo ada sampahnya, tolong dibuang di tempat sampah yg tersedia cukup banyak itu yaa, biar tetap enak dipandang kan ya arealnya museumnya.

Oh iya, kalau mau ada yang keliling kota.. bisa nih menyewa delman/andong yang terparkir depan pagar museum adityawarman.. tapi, waktu itu gak sempat nanya2, biaya sewanya berapa.. gak mencoba juga kami.. hhe

Beranjak dari Adityawarman di Jalan Diponegoro, kita beralih ke jembatan Siti Nurbaya yang tersohor itu. Hari masih terang, menunjukkan sekitar jam 3 siang.. Udah mau sore, tetapi langit dan mataharinya masih seperti tengah hari..

Jembatan Siti Nurbaya saat kami kunjungi, belum begitu "hidup" karena gemerlapnya lampu di sisi kanan kiri jembatan belum menggantikan posisi matahari.. Langit belum gelap, temaramnya lampu belum beraksi. Tak apa, karena kami sudah bisa menyantap jagung atau pisang bakar yang dijajakan para pedagang.. Sambil duduk2 menikmati view sekitar.

And then, di sore hari setelah sebelumnya kembali ke hotel .. Kami langsung menuju tempat berikutnya, Pantai Padang.. Letaknya sangat berdekatan dengan hotel tempat kami menginap.. Jadi, berjalan kaki lah kami. Our goal is to see sunset.. Yup, sudah beranjak petang.. Mengambil posisi menghadap barat.. Dan tadaaa... Mengabadikan sebisanya hanya dgn bermodal kamera hp

Setelah itu menikmati senja bersama es kelapa .. 

See yaa tomorrow, on the real trip 😉



0 Comments

Be the first to comment.