LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

30 hari menyusuri NTB-NTT

joeymono

On

Cerita perjalanan saya kali ini adalah yang paling berbeda. Perjalanan bersama Arinta selama 30 hari mengunjungi tempat wisata dan budaya melainkan berpasangan atau dengan travelmate. Perjalanan di mulai 18 juli dimana saya bertemu Arinta di Lombok dimana meet point kita untuk mengawali perjalanan. Sesamapainya dilombok kami mulai menyusun rencana dan waktu untuk setiap daerahnya yang akan kita kunjungi. Dari lombok kami mengendarai bus dari terminal mandalika menuju bima dengan biaya Rp200.000 per orang perjalanan memakan waktu 11 jam. Waktu menujukan pukul 3 pagi dan kami sampai Bima. Kami langsung melanjutkan perjalan menuju Sape dengan menggunakan bus kecil dengan biaya Rp20.000 per orang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sesampainya di Sape pemandangan yang lumayan penuh sesak dengan bersusun mobil-mobil besar seperti truk mengantri jadwal keberangkatan menyebrang menuju Flores dan Sumba. Lalu saya mengecek tiket untuk keberangkatan menuju pelabuhan Waikelo Sumba Barat, dan beruntung hari itu ada jadwal keberangkatan menuju Sumba. Saya tidak menyianyiakan waktu lagi, saya membeli tiket menuju sumba dengan harga Rp68.000 per orang. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 11 jam(melihat cuaca yang sering berubah).

Kami berangkat dari pelabuhan sape tepat jam 8 malam, kapal bergerak pelan tapi pasti meninggalkan pelabuhan Sape. Pagi yang cerah telah menyambut dengan sinar matahari yang hangat. Suasana tampak cerah dan keramaian yang selalu membuat rindu ketika sesampainya di Sumba dari pelabuhan Waikelo kami menuju Waikabubak menggunakan bus kecil dengan membayar Rp 30.000 per orang. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam, di Waikabubak kami menginap di rumah di teman yaitu bang Mujis dan keluarga.

Sorenya kami mengunjungi Waedabo untuk melihat sunset pertama di Sumba.

Keesokan harinya kami mengunjungi air terjun Lapopu dan pergi ke pantai Lai liang yang berada di selatan pulau Sumba. Seharian penuh kami menikmati dan bermain dengan air, lalu hari berikutnya kami mengunjungi daerah Sumba Barat, kami mengendarai motor dengan jarak tempuh 2 jam dari Sumba Barat.

Destinasi yang pertama kami kunjungi adalah Danau Weekuri yang terletak paling ujung di pulau Sumba. Danau yang terbentuk karena air laut yang terjebak di antara karang karang yang membatasi lautan. Pasang surutnya danau mengikuti pasang surutnya air laut.

Setelah puas menikmati Weekuri, kami berpindah tempat ke Pantai Mandorak yang tempatnya tidak terlalu jauh atau bersebelahan saja. Pantai mandorak adalah salah satu pantai yang unik, pantainya tertutup oleh karang yang membentuk seperti gerbang sebelum memasuki pantai.

Lalu kami beranjak kembali untuk melihat pemakaman orang Sumba dan melihat lapangan yang sering dijadikan perayaan adat pasola yang berada di Kodi. Kami kembali ke Waikabubak sore hari. Hari berikutnya kami menuju Wanukaka untuk melihat lapangan pasola lainya dan berjalan keliling melihat kawasan sekitar Sumba Barat. Kami melanjutkan perjalanan menuju Sumba Timur menggunakan travel dengan harga Rp80.000 per orang. Perjalanan memakan waktu 3-4 jam. Kami menyempatkan mengunjungi bukit Wairinding di Sumba timur walau sudah senja tapi masih terlihat jelas keindahan bukit yang selalu tampak indah melebihi dari momen yang diabaikan kamera.

Lalu kami menuju Waingapu untuk menumpang beristirahat di salah rumah kenalan saya yang bernama bang Dhasa. Malam itu kami merencanakan tempat mana yang kan kami kunjungi, dan kami memutuskan akan mengunjungi air terjun yang baru baru ini mulai dikunjungi oleh teman teman yang di Sumba Timur. Pagi-pagi kami sudah siap untuk mengujungi air terjun Tanggedu yang berada di Matawai Sumba Timur bersama Bang Dex, Meme, dan 2 orang temannya yang saya sedikit lupa namanya.

Perjalanan memakan waktu hampir 3 jam lamanya, Melewati jalan yang kosong hingga menaiki bukit yang indah, Kuda kuda liar berlarian bebas tanpa ada beban dan langit seakan akan berada di atas kepala karena hampir tidak ada satupun awan yang menghiasi hanya warna biru yang cerah sejauh mata memandang.

Kami pun sampai di tempat penyimpanan motor, karena kami harus trekking lagi sebelum sampai di air terjun. Trekking kurang lebih 1 jam melintasi savana dan perkampungan kecil yang berada disana menaiki bukit, turunan terjal dan melintasi sungai kecil.

Dan akhirnya kami sampai di air terjun, warna air biru tosca, air dari kanan dan kiri mengalir, dan batu berwarna putih yang menjadi lanskap indah terpampang di mata menikmati air terjun dengan duduk dan mengobrol adalah hal yang paling sering kami lakukan.

Lama sekali kami berada di air terjun sampai kami lupa waktu sudah mulai sore dan menandakan kami harus bergegas meninggalkan air terjun perjalanan pulang serasa sebentar karena kami sangat puas dengan tempat baru kami kunjungi. Kami berada di Sumba Timur hanya 2 hari karena kami harus melanjutkan perjalanan menuju Ende menggunakan kapal pelni. Tiket kapal pelni dari Waingapu menuju Ende adalah Rp68.000 perorang. Perjalanan memakan waktu cukup lama kurang lebih 14 jam karena cuaca sedang tidak bersahabat di perairan Laut Flores. Sore hari kami sampai di pelabuhan Ende dan kami dijemput oleh teman saya Bang Ican yang kebetulan sedang berada di ende.

Kami menginap satu malam di tempat Bang Ican dan keesokan harinya kami berangkat menuju Moni dengan keberuntungan mendapat tumpangan mobil. Perjalanan dari Ende menuju Moni kurang lebih 1 jam, sesampainya kami di Moni kami mencari penginapan yang murah setelah mencari kami mendapatkan harga termurah yaitu Rp150.000 permalam. Harga yang semakin naik akibat para wisatawan mulai datang ramai Mengunjungi danau Kelimutu. Kami beristirahat sejenak dan mengisi tenaga sebelum berangkat menuju kelimutu nanti. Lumayan lama kami beristirahat dan akhirnya kami berangkat menuju pintu masuk jam 5 pagi, menggunakan motor yang kami sewa dari penginapan dengan harga Rp100.000 perhari perjalanan kurang lebih 20 menit dengan jarak 13km. Kami berjalan pelan karena dingin yang menusuk sampai sampai terasa hingga tulang. Perjalanan dalam gelap melintasi jalanan yang berkelak kelok hingga kami sampai di tiket masuk Rp5.000 untuk motor dan Rp5.000 perorang karena kami bertepatan pada akhir pekan setelah itu kami menuju tempat parkir dan kami melakukan trekking kurang lebih 45 menit.

Setelah di rumah tamu kami diberi sajian makanan, kopi, dan teh. Lalu kami melakukan registrasi sebesar Rp200.000 perorang (jika tidak menginap) dan Rp325.000 (jika menginap).  Kami memutuskan tidak menginap karena kami menghemat biaya. Setelah makan dan melakukan registrasi kami menikmati segelas kopi hangat Wae rebo dan bercengkrama bersama pengunjung lain.

Waktu sudah mulai sore kami bergegas pulang. Dengan kondisi jalan semakin becek karena hujan yang tak kunjung berhenti.perjalanan pulang hampir sama 2 jam dan kami sampai di bawah kembali jam 8 malam dan langsung kembali menuju ruteng. sesampainya di ruteng yang cuacanya dingin sekali membuat kami cepat terlelap. Siang hari kami baru terbangun, dengan kondisi capek kami melanjutkan perjalan menuju Labuan Bajo menggunakan travel dengan biaya Rp80.000 perorang dengan jarak tempuh kuranag lebih 4 jam lamanya. Jam 7 malam kami sampai di Labuan Bajo lalu menuju ke kampung ujung, Disana terdapat kuliner yang sering dikunjungi oleh wisatawan dari lokal maupun luar untuk menikmati makanan atau hanya sekedar menikmati kopi dengan pemandangan pesisir. Setelah selesai makan, kami bertemu dengan ramzi dan teman dari semarang yang kebetulan baru saja tiba di Labuan Bajo menggunakan kapal ferry. Akhirnya kami mencari tempat penginapan murah yaitu di pelangi dengan harga Rp60.000 perorang.lalu saya bertemu dengan salah satu teman saya yang mempunyai kapal motor dan meminta dia mengantar saya bersama teman-teman untuk berlayar mengunjungi wisata di kawasan taman nasional komodo. Setelah bang Jafri bisa dan mau mengantar kami, saya segera kembali menuju penginapan dan beristirahat dan memberi tahu kepada teman teman bahwa besok pagi kita bisa berangkat berlayar.

Pagi telah datang dan jam 9 kami pergi ke pelabuhan untuk segera berlayar. Tempat yang pertama kunjungi adalah pulau kanawa dan kami menikmati bawah lautnya. Lalu pergi ke Pulau Sembilang atau Pulau Ubur-ubur. Disana terdapat ubur-ubur yang tak beracun. Ubur-ubur yang unik dan lucu membuat kami betah berlama lama disana. Selanjutnya kami menuju ke manta point untuk melihat manta yang sangat besar dan bermain bersama. Setelah lumayan lama kami mencari manta dan kami belum bisa menemukannya kami berpindah menuju Pulau Komodo. Kami tidak pergi ke pink beach karena disana terdapat banyak sekali pengunjung lalu kami berpindah menuju pantai yang lainya dan tak kalah sama pink warna pasir pantainya pantai itu bernama kalaki.

Sedikit kecil tapi disana kami bisa menikmati pantai pink yang benar benar masih merah dan sepi, jadi kami merasakan seperti mempunyai pantai pribadi bersama teman teman yang lainya. Perjalanan pertama berlayar kami ditutup di Pulau Kalong sambil menikmati sunset dan melihat kalong berterbangan keluar yang jumlahnya banyak sekali.

Setelah sunset kami menuju kampung komodo untuk beristirahat di rumah teman sebelum melanjutkan perjalanan esok hari keesokan hari kami berangkat menuju pulau padar dan trekking, perjalanan dari kampung komodo menuju Pulau Padar kurang lebih 90 menit. Kemudian kami trekking ke atas Pulau Padar untuk menikmati keindahan 3 pantai yang posisinya saling berpunggunan.

Puas rasanya bisa menikmati keindahan Pulau Padar karena waktu kami datang sedang tidak ada pengunjung lain jadi kami bisa leluasa menikmati atau tidak terganggu. Kami kembali turun untuk malanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Komodo untuk trekking dan melihat komodo. Kami sampai di pintu Taman Nasional Komodo dan segera melakukan registrasi sebesar Rp55.000 perorang dan Rp.80.000 untuk ranger (ranger kita share cost) yang menemani sekaligus menjadi tour guide selama trekking di taman nasional komodo kami memilih short trekking karena kami hanya memiliki waktu yang cukup sedikit. Waktu dan jarak tempuh trekking kurang lebih 45 menit, dan kami bertemu beberapa ekor komodo yang sedang bermalas malasan. Kami tak menyia-nyiakan waktu dengan mengabadikan poto bersama komodo akhirnya kami puas juga melihat komodo dan trekking yang cukup mengeluarkan keringat kami berpindah menuju Pulau Kelor untuk menikmati sunset. Perjalanan lumayan lama hampir 3 jam lamanya. Sampai di kelor langit mulai berubah, dari terang lambat laun berubah orange hangat dan kami begitu puas menikmati sunset terakhir saat sailing mengelilingi kawasan Taman Nasional Komodo. Kami kembali menuju ke Labuan Bajo untuk beristirahat. Keesokan paginya kami berpisah saya dan Arinta kembali menuju sape, dan yang lain mau menuju Wae Rebo. Dan akhirnya kami berangkat dari Labuan Bajo menggunakan kapal ferry menuju Sape jam 4 sore dengan biaya Rp50.000 perorang perjalanan kurang lebih 7 jam. Kami menikmati sunset terakhir diatas kapal ferry. Tepat jam 11 malam kami sampai di Sape, kami turun dan beruntung mendapat tumpangan kendaraan menuju Bima dan kami membayar Rp50.000 untuk berdua. Dengan kondisi mobil bak terbuka kami bisa menikmati pemandangan langit malam dengan jelas dan cerah. Kami sampai di Bima dan pergi menuju taman kota untuk bertemu teman saya Bang Sistim dan Bang Ganja dan mencoba menginap dirumah mereka. Keesokan harinya kami berkesempatan mengunjungi rumah adat Bima yang berada di Wawo.

Rumah adat bernama Uma Lengge, rumah adat yang masih berdiri sampai sekarang. Dan kami merasa puas perjalanan kami ditutup berkunjung ke Tente, desa yang berdekatan dengan Bima, dimana tempat om Arinta dan sekaligus tempat dimana kami bisa beristirahat mengisi tenaga untuk keesokan harinya.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Lombok lalu menyebrang ke Bali dan akhirnya kami menumpang truk hingga Banyuwangi.

Setelah menyempatkan mengunjungi Ijen dan baluran selama 2 hari kami dengan catatan kami kehujanan saat mengunjungi ijen dan tidak mendapatkan apa-apa. Kami melanjutkan perjalanan ke Malang untuk bertemu sahabat lama sebelum akhirnya kami berpisah di Malang, Arinta kembali pulang ke Jakarta dan saya kembali melanjutkan perjalanan saya ke Lombok untuk menyelesaikan perjalanan. Saya kembali ke Lombok menyelesaikan yang sudah saya mulai.



0 Comments

Be the first to comment.