LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

1 air terjun 4 cerita

dya-iganov

On

Ketika traveling, bahkan yang sudah direncanakan sebaik mungkin pun bisa saja gagal. Kali ini sedikit cerita mengenai Curug Caweni. Aksesibilitas dan pencapaian Curug Caweni tergolong mudah, tetapi perlu sampai empat kali usah auntuk bisa benar-benar berkunjung ke Cueug Caweni, meskipun sebenarnya masih belum puas juga.

KAMIS, 24 JANUARI 2013, CURUG PAREANG VS CURUG CAWENI

Libur kali ini kami memutuskan untuk mencari dan mengunjungi Curug Pareang dan Curug Caweni di Sukabumi, malah, kalau sempat kami ingin mampir di pantai daerah Tegalbuleud. Kami memutuskan untuk mengunjungi Curug Pareang terlebih dahulu. Selesai dari Curug Pareang, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di Kota Sukabumi. Sebenarnya dari Curug Pareang bisa saja perjalanan diteruskan ke arah Selatan, hanya saja di Surade kami harus mengambil jalan potong ke Cidolog melewati Kalibunder. Berhubung hampir semua belum pernah melewati jalur tersebut, dikhawatirkan malah menghambat perjalanan kami. Maklum, musim hujan kali ini cukup membuat longsor di beberapa daerah di Kabupaten Sukabumi, dan kami tidak mau mengambil risiko, apalagi kami menggunakan mobil.

Makan siang kali ini sedikit lebih lama karena lelah dan ngantuk juga. Kami sudah jalan semenjak pukul 04.00 dari Bandung agar tidak terkena macet dan bisa kembali ke Bandung tidak terlalu malam. Besok sebagian dari kami masih harus bekerja. Perjalanan dari Kota Sukabumi menuju Cidolog dimulai sekitar pukul 13.00. Ini pertama kalinya bagi kami, bahkan saya melewati jalur ini. Jalur yang kami ambil yaitu Baros – Nyalindung – Purabaya – Pabuaran – Sagaranten – Cidolog. Nama Sagaranten sudah tidak asing bagi saya, karena sering saya dengar ketika jaman perkuliahan dulu. Berdasarkan informasi dari teman kami di Sukabumi, beberapa minggu lalu memang ada longsor yang menutup jalan di jalur ini. Untungnya, ketika kami lewat sudah tidak ada, hanya ada jalan amblas ketika akan memasuki Kecamatan Nyalindung. Cuaca yang semula kembali cerah ketika kami meninggalkan Kota Sukabumi kembali berubah menjadi mendung ketika mulai memasuki Kecamatan Nyalindung. Sambil mengecek jalur yang akan kami tempuh dengan keterbatasan sinyal, laju kendaraan pun tidak bisa terlalu cepat, ditambah jalan yang menanjak dan berlubang di sana-sini.

Ketika waktu hampir menunjukan pukul 14.30, gerimis mlai turun dan belum ada tanda-tanda kami akan sampai di tujuan. Setelah melewati objek wisata Gua Buni Ayu, kami pun memutuskan untuk berhenti dan bertanya informasi mengenai Curug Caweni karena, berdasarkan pengalaman teman kami, Gua Buni Ayu pun sudah cukup jauh. Kami mencari supir truk yang sedang beristirahat untuk ditanya. Kenapa supir truk? Karena biasanya rute perjalanan mereka menjangkau hingga ke pelosok, jadi pengetahuannya tentang daerah-daerah di sekitarnya cukup banyak. Kami akhirnya menghentikan kendaraan kami di sebuah warung sate di Kecamatan Purabaya. Saya pun turun dan bertanya pada supir truk yang kebetulan sedang beristirahat.

Baik supir truk maupun pemilik warung ternyata cukup mengenal Curug Caweni. Berdasarkan informasi dari mereka, tujuan kami masih cukup jauh, mungkin masih sekitar 1-1,5 jam lagi bila kami cukup cepat memacu kendaraan di tengah hujan yang semakin deras. Lokasi Curug Caweni tidak terlalu jauh dari jalan raya, bahkan kendaraan (mobil) pun bisa sampai tepat di depan jalur trekking. Ini merupakan suatu kelebihan karena kami tidak harus melalui jalan jelek dan sedikit kesasar karena jalan di perkampungan yang banyak cabangnya. Jalur trekking ke Curug Caweni pun relatif mudah. Beberapa bulan yang lalu sudah dilakukan perbaikan, sehingga bila menuju Curug Caweni dari tempat kami menyimpan kendaraan, sudah ada anak tangga, hanya saja kalau hujan seperti sekarang memang akan sedikit licin.Trekkingnya pun tidak lama, mungkin hanya sekitar 15 meni dan tambahan laiinya, volume air di Curug Caweni sedang besar karena hujan yang turun terus menerus. Saya pun tidak lupa menanyakan mengenai pantai yang ada di Tegalbuleud dan nampak tidak memungkinkan untuk dikejar dalam satu kunjungan sekaligus seperti sekarang.

Setelah berunding dengan teman lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk menunda kunjungan kami ke Curug Caweni. Waktu yang tidak memungkinkan dan kondisi cuaca yang masih hujan deras akan menghambat perjalan kami Terlebih, kami pun tidak tahu jalan di depan kondisinya seperti apa. Perhitungan waktu untuk pulang pun menjadi pertimbangan. Kami menargetkan maksimal pukul 22.00 sudah bisa sampai di Bandung. Akhirnya, meskipun sudah mendapatkan informasi yang cukup, kami pun harus menunda keinginan kami karena hal-hal tidak terduga lainnya.

MINGGU, 10 MARET 2013 TRAGEDI AYAM CIDOLOG

Setelah gagal ke Curug Caweni Januari lalu, kali ini saya dan satu orang teman saya yang kebetulan kemarin ikut ke Curug Pareang iseng memutuskan untuk mencari Curug Caweni. Kali ini kami hanya pergi berdua dan menggunakan mobil, karena motor kami sedang tidak memungkinkan untuk digunakan jauh. Kami berangkat sekitar pukul 04.00 untuk menghindari macet. Perjalanan kami sangat lancar, tapi karena sedikit kebodohan yang kami lakukan, kami tetap saja baru masuk Kota Sukabumi tepat pukul 12.00. Lalu lintas Kota Sukabumi yang cukup padat menyambut kami dan baru berhasil lolos setelah masuk Baros, tepat pukul 12.45. Pukul 13.00 kami sudah masuk di jalur Nyalindung. Sebuah papan penunjuk menuliskan jarak ke Sagaranten 43 Km dan Tegalbuleud 85 Km. Posisi Cidolog, lokasi Curug Caweni, berada di antara Sagaranten dan Tegalbuleud. Perjalanan kami masih panjang. Ternyata, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di Kecamatan Purabaya. Perjalanan kami sebelumnya membutuhkan waktu sedikit lebih lama, bahkan perjalanan kami sebelumnya terhenti sebelum tiba di pusat kota Kecamatan Purabaya.

Perjalanan cukup lancar, lalu lintas tidak terlalu padat. Hanya ada truk pengangkut kayu, angkutan kota, dan pick up yang kami temui sepanjang perjalanan, itu pun cukup jarang kami temui. Cuaca cukup mendung, tapi setidaknya langitnya tidak menghitam. Perjalanan cukup lancar hingga memasuki Sagaranten pada pukul 14.24. Memasuki Sagaranten, kami berhenti sejenak di mini market. Sembari membeli makanan karena sedari pagi ternyata kami belum makan sambil memeriksa ulang GPS mobil. Martabak manis dan gorengan serta beberapa minuman ringan menjadi pengganjal perut kami kali ini karena kami belum menemukan warung nasi. Rencananya kami akan mencari warung nasi di lokasi dekat Curug Caweni saja. Jalan di Kecamatan Sagaranten ini memiliki banyak percabangan jalan, jadi GPS harus kami setting ulang. Ketika kami akan memulai kembali perjalanan gerimis mulai turun. Kami tiba di persimpangan cukup besar di Sagaranten dan tidak melihat papan penunjuk arah. Kami pun mengambil jalan ke kanan. Tidak lama setelah belok, kam melihat papan penunjuk arah dan ternyata kami mengambil arah yang salah. Jalan yang kami ambil menuju Curugkembar, perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Cianjur, sedangkan yang mengarah ke Cidolog adalah yang lurus. Segera kami memutar arah.

Berbagai macam topik obrolan kami munculkan mencegah kantuk yang mulai datang. Sedikit bergeser ke Selatan, ternyata hujan sudah turun terlebih dahulu, jadi kami hanya kebagian jalanan yang sudah basah dan udara serta cuaca sore yang khas sehabis hujan. Kantuk pun semakin datang. Jalanan menuju Kecamatan Cidolog dari Sagaranten tidak terlalu banyak tikungan seperti sebelumnya, arus lalu lintas pun jauh lebih sepi, terlebih sehabis hujan dan menjelang sore seperti ini. Kami memasuki Kecamatan Cidolog sekitar pukul 15.15 dengan kondisi lalu lintas yang semakin sepi. Hanya terlihat beberapa warga di depan halaman rumahnya, cuaca pun sedikit mendung tapi udaranya cukup sejuk. Memasuki Kecamatan Cidolog kami mulai mencari-cari jalan masuk menuju Curug Caweni berbekal patokan dari perjalanan sebelumnya. Bila dari arah Sagaranten, jalan masuk menuju Curug Caweni berada di kiri jalan dan ditandai dengan gapura. Baru saja kami memasuki Cidolog, tiba-tiba ada ayam yang nyebrang tepat di depan mobil kami dan teman yang nyetir pun ga bisa ngehindar. Yang saya heran, kenapa teman saya tidak melambatkan kendaraan. Sekilas saya mengintip dari kaca spion dan ternyata benar saja, ayamnya kami tabrak dan masih hidup hanya menggeliat-geliat di jalan. Saya pun menyuruh teman saya berhenti.

Ternyata teman saya tidak melihat ayamnya, dikiranya balik lagi ke pinggir dan memang sedikit ngantuk. Berhubung kami tidak bawa uang cash dan tidak jauh di depan kami ada beberapa warga yang sedang berkumpul, kami sedikit panik. Akhirnya setelah memastikan ayamnya tidak mati (ayamnya pelan-pelan bergerak ke pinggir jalan) kami pun tancap gas. Buyar sudah keinginan kami untuk mencari Curug Caweni. Kami takut kalau pemilik ayam sadar ayamnya luka karena tertabrak mobil, pastilah mobil kami yang akan paling mencolok, karena sedari memasuki Cidolog ini tidak ada mobil lain di depan, di belakang, bahkan yang papasan dengan kami. Kami pun segera tancap gas pergi secepatnya dari sana. Pencarian Curug Caweni pun terpaksa kami tunda lagi, padahal kami sudah sampai di Cidolog dan niatnya kami akan bertanya pada warga. Ap boleh buat, karena kejadian tadi, kami hanya memikirkan menjauh dari sekitar Cidolog secepatnya. Kami bahkan tidak bisa pulang melewati jalan yang sama melalui Sagaranten seperti rencana semula karena masih trauma dan takut gara-gara ayam tadi. Akhirnya fokus mencari Curug Caweni pun berubah menjadi fokus mencari jalan pulang yang pilihannya jatuh pada jalur pesisir Tegalbuleud menyusur hingga Sindangbarang yang belum pernah sama sekali kami lewati sebelumnya.

SABTU, 13 SEPTEMBER 2014 CURUG CAWENI TANPA AIR

Kejadian di Cidolog lalu membuat saya sedikit malas untuk mencari Curug Caweni meskipun masih ada sedikit rasa penasaran. Akhirnya setelah tertunda 1 tahn lebih, akhirnya pencarian ke Curug Caweni pun saya coba lagi. Kali ini saya bersama 5 orang lainnya menggunakan motor. Rute kami kali ini sedikit lebih panjang, karena jalan utama Cianjur-Sukabumi masih dalam tahap pengecoran, macetnya luar biasa. Akhirnya kami pilih jalur terpanjang melalui Ciwidey – Naringgul – Cidaun – Sindangbarang – Agrabinta – Tegalbuleud – Cidolog. Berbekal pengalaman melewati jalur ini pada Maret 2013 dan Desember 2013 lalu, kami pun berangkat dari Bandung sekitar pukul 08.00 pagi. Rute yang cukup panjang dan cuaca yang berubah-ubah membuat perjalanan kami sedikit lama. Ngantuk, lapar, dan badan pegel karena kondisi jalan yang jelek sepanjang Cidaun –Sindangbarang dan sepanjang Agrabinta hingga Tegalbulued membuat perjalanan kami berhenti pukul 13.00 di Agrabinta untuk makan siang. Pukul 14.00 kami baru meneruskan perjalanan menuju Cidolog. Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat dan membeli bensin hingga akhirnya pukul 15.30 kami baru berhasil masih Kecamatan Cidolog. Tidak lupa kami bertanya terlebih dahulu ke supir truk yang sedang istirahat di sekitar Cidolog.

Berdasarkan informasi dari bapak supir truk yang ternyata sangat mengenal Cidolog, perjalanan kami tidak akan lama lagi. Sayangnya, informasi yang cukup jelas itu masih belum bisa kami cerna dengan baik. Akhirnya tepat setelah mendekati sebuah mini market, kami baru berhasil bertemu warga yang bisa kami tanyai kembali (jalur ini memang sepi). Akhirnya warga itu pun bersedia mengantar kami hingga ke pintu masuk Curug Caweni yang ditandai dengan gapura. Jalan masuk langsung berubah drastis. Semula aspal yang tidak terlalu mulus, kini berganti menjadi batu dan turunan panjang. Sebagian dari kami memutuskan untuk berjalan kaki berhubung kata warga yang mengantar kami tidak terlalu jauh. Kami akhirnya tiba di ujung jalan yang langsung berada di pinggir aliran sungai yang cukup lebar. Sedikit bingung, kenapa tidak ada tanda-tanda Curug Caweni. Ternyata kami berada di bagian atas Curug Caweni. Sungai ini cukup lebar, tapi debit airnya kecil sekali, bahkan ada beton yang bisa digunakan untuk menyeberangkan kendaraan menuju pabrik genteng di seberang sungai. Banyak juga warga yang mencuci kendaraan, bahakan mandi di aliran sungai ini. Kami pun istirahat sejenak sambil foto-foto sebelum meneruskan perjalanan ke tujuan utama kami.

Perjalanan menuju Curug Caweni tidak terlalu jauh, mungkin hanya 15 menit, tetapi treknya cukup lumayan. Setelah tempat yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan, kami harus berjalan mengikuti anak tangga. Pertama menanjak sedikit melewati bekas villa yang sekarang sudah hancur, kemudian jalan akan turun terus. Jalan setapak sangat kecil, bahkan terhalang oleh pohon tumbang sehingga kami harus sedikit memanjat. Setelah melewati batang pohon yang tumbang, kami harus menuruni anak tangga yang diapit tebing batu dan bongakah batu besar sehingga mirip seperti lorong. Di ujung lorong kami akan disambut aliran irigasi yang hanya menyediakan batang kayu seadanya untuk menyeberang. Setelah saluran irigasi ini, trek mulai tidak jelas. Ada dua cabang jalan setapak yang sangat kecil, satu menyusuri aliran irigasi, satu lagi turus terun ke bawah. Jalan menuju Curug Caweni adalah yang terus turun. Meskipun tidak terlalu curam, tapi treknya cukup sulit. Selain licin oleh lumpur, jalur air, dan tertutup semak belukar, ternyata ada lubang kecil dan longsoran kecil yang cukup berbahaya.

Ujung jalan setapak tanah ini merupakan batu-batu tepat di pinggir aliran sungai. Bila kemarau cukup banyak jalur yang bisa dicoba meskipun sebagian besar sangat licin karena air terus mengalir, tetapi bila musim hujan, sungai di pinggir jalur akan meluap. Jalan kemudian diteruskan melalui celah-celah sempit diantara bongkahan-bongkahan batu. Bila kemarau, kita bisa turun dan seidkit mengambil foto diantara bongkahan-bongkahan batu berjenis breksi ini. Bila musim hujan, seluruh permukaannya akan tertutup air. Ketika kami akhirnya sampai di depan Curug Caweni, kami sedikit kecewa. Air terjunnya kering total. Hanya ada aliran kecil di paling ujung kanan dan kiri. Itu pun tidak cukup deras untuk dikategorikan sebagai air terjun. Padahal, dinding air terjun Caweni ini termasuk yang lebar dan lumayan tinggi. Perjalanan belasan jam dan perjuangan mencari jalur trekking kami ternyata belum memuaskan. Kondisi air yang kering total ini membuat bongkahan batu yang menjadi asal muasal penamaan air terjun ini sangat terlihat jelas. Bongkahan batu tepat di dekat dinding air terjun sangat mirip dengan bentuk seorang wanita lengkap dengan kebaya dan sanggulnya menempel ke dinding utama air terjun. Bila dibandingkan dengan tinggi manusia dimanapun, bongkahan batu yang dianggap sebagai arca Nyi Caweni ini jauh melebihi tinggi manusia normal bahkan manusia tertinggi manapun di dunia. Puas beristirahat dan berfoto-foto seadanya, tepat pukul 17.00 kami beranjak pulang. Meskipun sudah berhasil menemukan lokasi dan melihat langsung bagaimana treknya, tapi masih sangat belum puas. Mungkin ketika puncak musim hujan, saya akan kembali ke sini.

SELASA, 16 DESEMBER 2014 CURUG CAWENI, TERBAYAR SUDAH

Akhirnya 3 bulan kemudian saya dapat kesempatan untuk kembali berkunjung ke Curug Caweni. Kali ini perjalanan dilakukan pada hari kerja, berhubung pekerjaan saya sudah selesai. Perjalanan kali ini masih menggunakan motor dan melewati jalur yang sama seperti September lalu karena jalan utama Cianjur-Sukabumi masih dalam tahap pengecoran. Perjalanan kali ini lebih cepat, meskipun melewati rute yang sama. Hal ini karena kali ini saya hanya pergi dengan 1 orang teman, jadi setidaknya tidak terlalu banyak berhenti dan menunggu yang lain. Ada sedikit perubahan ketika terakhir kali melintas di sini. Jalur Agrabinta yang sebelumnya cukup membuat kami kewalahan, bahkan sampai ada yang tremor sudah sedikit lebih baik. Meskipun hanya bertambah tanah yang sedikit lebih padat dan batu-batu besarnya sedikit hancur (memang ketika lewat September lalu sedang ada perbaikan jalan di sepanjang Tegalbuleud – Agrabinta), mungkin sudah terkenena proyek perbaikan jalan meskipun hanya sedikit. Selain itu, jalan di areal perkebunan kelapa yang September lalu masih setengahnya diperbaiki, kali ini sudah diperbaiki total, sehingga menghemat waktu. Sampai di Tegalbuleud pun masih sekitar pukul 14.00, lebih cepat 1 jam dari sebelumnya. Kami tiba di Curug Caweni pukul 15.30. Kali ini, jembatan kayu di saluran irigasi sudah menghilang, jadi kami harus meloncati dan sedikit nyemplung di aliran irigasi. Bagian sungai yang diantara bongkahan batu pun kali ini sudah tertutup air. Sampah-sampah yang pada kunjungan sebelumnya banyak yang tersangkut di celah-celah batu, kali ini sudah tidak sebanyak dulu. Dan yang paling ditunggu adalah volume jatuhan air di Curug Caweni. Kali ini sudah hampir deras, meskipun masih belum maksimal. Bila sedang deras-derasnya, arca batu Nyi Caweni pun akan tertutup jatuhan air, tapi kali ini hanya berhasil menutupi dinding air terjunnya saja sehingga arca Nyi Caweni masih terlihat.

Perjalanan terakhir kali ini mungkin sudah cukup membuat saya tidak penasaran dengan Curug Caweni. Memang, saya masih ingin melihat Curug Caweni ketika sedang deras seperti foto salah seorang teman, tapi hal itu sudah bukan prioritas lagi berhubung musim pun sudah hampir berganti menjadi kemarau. Cidolog merupakan kecamatan terakhir sebelum pesisir, sehingga curah hujannya terkadang kecil meskipun di Kota Sukabumi di bagian Utaranya curah hujan cukup tinggi. Setidaknya usaha saya sampai 4x mencoba ke Curug Caweni dari mulai mencari dari 0 sampai berhasil tapi salah waktu, memberikan kesan yang cukup menarik dalam perjalanan Ke Selatan Sukabumi ini. Saya sangat berterimakasih sekai pada teman-teman yang terlibat dalam 4x perjalanan menuju Curug Caweni ini, karena kalau tidak ada mereka mungkin saya akan sangat kesulitan untuk mengulang perjalanan ke Curug Caweni ini. Seperti kata teman saya, “Kalau niat, apapun bisa sampai ke tujuan yang kita harapkan, meskipun perlu usaha sampai berkali-kali.”



0 Comments

Be the first to comment.