LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

‘Sampah, Masalah Siapa?’ Journesia x Teman Rakyat

journesia

by : journesia

On November 5th, 2018

‘Sampah, Masalah Siapa?’ Journesia x Teman Rakyat

Berbicara masalah sampah semacam tidak ada habisnya. Perdebatan seputar polemik sampah terus bergulir, sementara masalah ini kian menjadi momok baik bagi lingkungan maupun ekonomi. Lalu, masalah siapakah sampah ini?

Sampah di Indonesia tidak hanya merupakan persoalan pemerintah, tetapi juga telah menjadi problematika kultural. Ketidakpekaan masyarakat akan lingkungan dan kurangnya disiplin mengenai kebersihan adalah akar muasal polemik ini. Dampak yang ditimbulkan pun beragam, mulai dari pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas hidup.

Tentu sampah bukan perkara mudah. Negara-negara maju pun masih berkutat dengan penanganan pengelolaan limbah/sampah buangan. Namun, perbedaan yang cukup signifikan terletak pada kesadaran kolektif masyarakat di negara maju akan pentingnya pengentasan masalah sampah yang bekelanjutan. Pelbagai inisiatif digalakan guna mengentaskan dan/atau menekan laju peningkatan volume sampah.

source pic : undark.org

source pic : undark.org

source pic : antarafoto.com

source pic : antarafoto.com

 

Dari sisi industri pariwisata, Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat kenaikan jumlah pelancong sebesar 25,68% pada tahun 2017. Per Juli 2018, kenaikan berdiri pada angka 12,10% YoY. Ramainya kunjungan turis tentu memicu geliat pembangunan. Namun, mengamati lebih lanjut hubungan skala pengembangannya dengan daya dukung lingkungan akan sangat berpengaruh pada perluasan dampak negatif yang ditimbulkan. Sejumlah dampak negatif yang dimunculkan termasuk polusi (air, udara, visual, & kebisingan), kerusakan ekologi dan sosial budaya.

Menurut laporan Ocean Conservancy, sebanyak 95% sampah berumah di bawah permukaan. Tak hanya mengancam biota laut, ia juga merusak ekosistem yang ada. Saat ini, Indonesia berada pada posisi kedua di dunia sebagai produsen sampah plastik yang dibuang ke lautan dunia. Pada bulan November tahun lalu, sekitar 300 ton sampah plastik terdampar di garis pantai barat Bali per harinya. Pemerintah lokal mengumumkan status darurat sampah. Mengacu pada artikel Mongabay, sebuah survei yang dilakukan oleh Dr I Gede Hendrawan, peneliti dari Center of Remote Sensing and Ocean Sciences Universitas Udayana, sampah yang tersapu ke pantai Kuta didominasi sampah plastik hingga 75%. Permasalahan sampah ini pun terjadi di Labuan Bajo, destinasi wisata yang tengah digandrungi dalam beberapa tahun terakhir. Ketidaksiapan pemerintah lokal untuk mengantisipasi volume pengunjung menjadi kendala utama. Menurut data dari BHD Kabupaten Manggarai Barat, luasan TPA di Labuan Bajo tidak sepadan dengan limbah sampah yang masuk per harinya. Di kawasan perairan isu sampah turut merongrongi kelangsungan hidup bawah laut. Penelitian lain yang dilakukan oleh Marine Megafauna Foundation, Murdoch-Australia University, dan Universitas Udayanan mengungkap bahwa rata-rata serpihan plastik yang ditemukan di perairan Nusa Penida yaitu 0.34 potong per meter kubik dan di Taman Nasional Komodo 1,11 per meter kubik. Diperkirakan Manta berpotensi menelan mikroplastik 40-90 potong per jam. Ini dikategorikan keracunan dan kelak merusak tatanan ekologi dalam jangka panjang.

Instagram, Pariwisata dan Sampah

Pesatnya perkembangan sosial media memperlihatkan seberapa efektif suatu platform mampu mendorong arus wisata dan mengubah pola kita berpergian. Dengan lebih dari 500 juta pengguna aktif, Instagram menjadi platform medsos terdepan yang mengubah bagaimana kita berlibur, mulai dari perencanaan, daftar tempat yang musti dikunjungi, hingga tipe atau arahan artistik foto liburan yang ingin dihasilkan kelak.

Instagram memberikan inspirasi yang lebih personal ketimbang brosur dari agen perjalanan seperti diungkap oleh Johan Lolos (@lebackpacker) untuk National Geographic. Hal senada diutarakan oleh Corey Arnold, fotografer asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa orang mendapatkan inspirasi untuk bepergian dari Instagram. Semakin banyak didapati orang yang bepergian ke suatu tempat setelah melihat unggahan di Instagram. Dilansir oleh National Geographic, dari tahun 2009 hingga 2014, jumlah pengunjung Trolltunga meningkat dari 500 menjadi 40.000 berkat gelombang wisata sosial media. Selain itu, Instagram juga membuka potensi wisata baru. Beberapa tahun lalu, Tebing Keraton di Bandung menjadi terkenal dan incaran pelancong setelah diunggah di media sosial. Hampir semua tempat wisata yang telah diunggah di Instagram turut berkontribusi dalam peningkatan jumlah pengunjung destinasi tersebut.

Namun, seperti halnya koin yang memiliki dua sisi, tren wisata yang dipicu Instagram juga memiliki sisi gelap. Meningkatnya tren gelombang wisata media sosial berbanding lurus dengan volume sampah yang dihasikan di kota-kota wisata. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh zerowasteeurope menemukan hubungan antara pariwisata dan sampah. Mulai dari hotel, restoran dan fasilitas lainnya umumnya menggunakan produk kemasan plastik sekali pakai, misalnya botol plastik sampo dan sabun, kemasan mentega, selai, dan madu dikalikan dengan jumlah tempat tidur hotel dan jumlah menginap. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa turis menggunakan lebih banyak air, listrik dan menciptakan lebih banyak limbah ketimbang masyarakat setempat sehari-hari.

Berangkat dari kepedulian dan luasnya dampak Instagram, Journesia dan Teman Rakyat berkolaborasi guna mengangkat isu sampah ini melalui sebuah kontes foto bertemakan sampah. Bersama menggalakan gerakan sadar lingkungan dalam wadah bertajuk #PasukanCLBK (Cinta Lingkungan Bersih dan Kinclong), Journesia dan Teman Rakyat mencoba mewujudkan sebuah komitmen guna meningkatkan kesadaran masyarakat terutama kaum muda dan millennial akan isu sampah.

source pic : independent.co.uk

source pic : independent.co.uk

Ini saatnya anak muda mengerti permasalahan negeri dan bersama, turut berpatisipasi membangun dan saling menginspirasi. Melalui foto kontes sampah ini, kami bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan peliknya masalah sampah dan betapa ia telah menjadi semacam bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Dan melalui Instagram, kami berharap untuk mensosialisasikan gerakan ini ke khalayak yang lebih luas di jejaring sosial.

Lalu, masalah siapakah sampah ini?

Diperlukan sebuah sinergi kerja antara pemerintah dan masyarakat untuk menuntaskan isu ini. Pemerintah sudah seharusnya meninggalkan sistem landfill dan mencari solusi pengelolaan limbah terintegrasi yang baru dari sejumlah kajian yang telah sukses dipakai negara-negara lain. Sosialisasi dan penerapan disiplin kebersihan seyogyanya sudah digalakan sejak usia sekolah dini melalui institusi pendidikan dan diperlukannya pula kebijakan baru bagi pelaku industri terkait pengelolaan limbah mereka. Dan yang terpenting adalah kita, sebagai ujung rantai, harus berperan aktif, karena perubahan tidak akan terjadi jika tidak dimulai. Perubahan tidak akan terjadi jika hanya menanti. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Perubahan harus dimulai kini. Saat ini.

Ikuti “Kontes Foto Sampah” yang diadakan Teman Rakyat x Journesia dan menangkan liburan gratis ke Flores untuk 5 Pemenang!

0 Comments

Be the first to comment.